
☘️ Jangan bilang rindu, jika rindumu tak sebanding dengan rinduku☘️
Lima hari yang sangat berat untuk Langit, karena selama lima hari ini jadwalnya dari pagi hingga malam benar-benar padat, tapi itu sudah biasa untuknya yang sudah lama bergelut di bidang itu.
Hal yang paling berat ialah saat malam datang, saat dia rindu wangi tubuh istrinya, semua hal tentang Kinan selalu berkeliaran di otaknya saat malam menjelang. Begitupun ketika pagi hari, Langit yang sudah terbiasa dengan suara dan berbagai kerusuhan yang istrinya buat semakin membuatnya rindu. Bahkan dia tidak sanggup untuk menelpon Kinan karena takut dia akan nekad pulang untuk menemuinya.
Sangat menyiksa. Memang, dan yang paling menyiksa adalah bahwa istrinya tidak merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.
Sang Presdir berjalan angkuh dari sebuah restoran selepas bertemu dengan salah satu kliennya dari luar negeri. Padahal dia sudah merencanakan akan menghabiskan waktu seharian bersama istrinya. Tapi apalah daya, semesta belum berpihak kepadanya.
"Kita ke kantor!" Ucap Langit dari kursi penumpang.
"Sepertinya tidak ada jadwal Anda untuk pergi ke kantor hari ini."
"Ada urusan penting yang harus aku lakukan disana!" Jawab Langit Tegas.
David memutar otaknya, mengingat-ingat kembali jadwal Tuannya hari ini, memang tidak ada jadwal yang dia buat untuk saat itu. Tapi perintah Langit adalah hukum yang tidak bisa dibantah olehnya, David tetap melajukan mobilnya ke kantor.
Setibanya di kantor Langit dengan langkah cepat berjalan menuju lift, hingga David harus sedikit berlari untuk menyamai langkah kaki Tuannya yang lebar.
Pintu lift terbuka, Langit melihat Kinan sedang berjalan bersama teman-temannya untuk kembali ke bilik mereka masing-masing sehabis kembali dari makan siang di kantin.
Langit berjalan dengan angkuh menghampiri mereka, ditariknya tangan kecil istrinya yang sedang tersenyum menanggapi lelucon teman-temannya. Dia berjalan lurus tanpa mempedulikan para karyawannya yang terkejut dengan tingkahnya yang aneh.
"Apa salahku hingga kau menyeretku begini?" Tanya Kinan bingung, karena seingatnya tadi pagi mereka masih saling mengirim kabar via telepon.
Langit tak menjawab, wajah dingin itu terus mencengkram tangan Kinan.
Dibawanya Kinan masuk ke ruangannya, dan tak lupa mengunci pintunya.
Jadi ini urusan penting yang kau maksud? Batin David ketika di tidak bisa masuk ke ruangan Tuannya.
Langit memeluk erat tubuh ramping Kinan yang masih belum mengetahui kenapa dirinya diperlukan seperti itu.
"Ada apa?"
"Aku rindu." Bisiknya.
Kinan meronta, karena Langit memeluknya sangat erat.
"Diam Bodoh! Bersikaplah seperti kau sangat merindukanku!" Bentak Langit, ketika Kinan berusaha melepaskan pelukan suaminya.
*
Sementara di luar sana para karyawan sedang bergunjing mempertanyakan mengapa Langit bersikap seperti itu kepada Kinan.
"Aku ngeri banget liatnya."
"Iya, raut wajah Pak Langit lebih dingin dari biasanya, bikin aku merinding."
"Mbak Kinan bikin salah apa ya kira-kira ampe Pak Langit marah begitu?"
Dan berbagai spekulasi pun bermunculan dari pikiran mereka.
"Kalian jangan kaget ya!" Ucap Natan sambil melirik ke arah David yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Langit, agar ucapannya tidak didengar oleh tangan kanan Presdirnya. "Mereka itu sebenarnya sepupu, aku pernah ketemu mereka lagi jalan bareng di Mall. Dan mungkin aja itu ada hubungannya dengan masalah keluarga mereka." Pernyataan Natan membuat karyawan lain menutup mulut mereka karena terkejut.
"Mungkin aja keluarga Kinan udah nipu Pak Langit." Ucap salah seorang karyawan wanita.
"Mungkin juga Mbak Kinannya yang udah bikin masalah. Bisa jadi dia menggelapkan uang perusahaan. Buktinya Pak Langit sampe marah kayak tadi." Ucap salah seorang dari mereka lagi.
David yang tiba-tiba berdiri di hadapan mereka membuat para karyawan menundukkan kepala mereka. David memberikan kode mengunci mulutnya agar para karyawan tak lagi meributkan masalah Tuannya.
*
Pada akhirnya dia mencium bibir Kinan dengan rakus, membuat Kinan berusaha melepaskan diri dari suaminya yang dia rasa sangat menakutkan.
"Langit, lepaskan aku!" Ucapnya ketika berhasil melepaskan ciuman mereka.
"Tidak bisa, aku masih belum puas!"
Dia kembali menguasai bibir Kinan, kali ini lidahnya bergerilya di mulut Kinan.
Kinan semakin takut, tubuhnya gemetar, ini bukan seperti Langit yang dia kenal. Ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, tapi kali ini ciuman Langit membuatnya sulit bernafas.
Tubuh ini adalah tubuh yang memang dia rindukan, tapi tidak seperti ini. Ini menakutkan bagi Kinan.
Kinan masih berpikir apa yang telah diperbuatnya hingga membuat Langit memperlakukannya seperti itu.
"Langit aku takut." Kinan sesegukan.
Ucapan Kinan menyadarkan Langit atas perilakunya yang membuat Kinan menangis karenanya.
"Aku takut." Ucap Kinan lirih.
"Maafkan aku!"
Langit memeluk tubuh ramping yang gemetar itu. Dia begitu menyesali perbuatannya tadi, ternyata kerinduan Kinan yang dia ucapkan tadi pagi tak sebesar rindunya Langit kepadanya.
"Maafkan aku! Ku pikir kita masih berperan sebagai sepasang suami istri. Anggaplah ciumanku tadi adalah hadiah yang kau berikan kepadaku karena aku telah bersusah payah mendapatkan tas incaranmu." Langit berusaha menggoda istrinya.
"Benarkah?" Kini mata Kinan berbinar mendengar jawaban suaminya.
Sudah tidak ada lagi ketakutan di raut wajah cantiknya.
Langit menganggukkan kepalanya.
Ternyata Si Bodoh ini lebih menyukai tasnya daripada si pemberinya.
"Kenapa kau tidak bicara dari tadi? Kau membuatku takut Bodoh!" Ucap Kinan sambil tersenyum riang membayangkan tas impiannya akan segera ada ditangannya.
"Kalau begitu cium aku sekali lagi!"
Senyum manis itu kembali mengembang di wajah cantik Kinan. "Dengan senang hati."
*
Kinan keluar dari ruangan Langit dengan senyum mengembang sambil bersenandung lagu yang lagi-lagi tak pernah David dengar sebelumnya.
Tak Lama kemudian Langit pun keluar, tapi David langsung mendorong tubuh kekar Tuannya agar kembali masuk.
"Apa maumu?" Bentak Langit, kesal.
David menyodorkan sapu tangan sambil menahan senyumnya.
"Bersihkan dulu lipstik Nona yang sepertinya telah berpindah ke bibir Anda!"
Langit segera berlari menuju toilet yang ada di ruangannya.
"Tertawalah sepuas hatimu!" Teriak Langit dari dalam toilet.