LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Pertengkaran dan perdamaian



Langit sangat terkejut atas pengakuan istrinya, dia tidak menyangka jika wanita yang dia tolong dan tak tahu berterima kasih bahkan mengatainya b*jingan itu adalah istrinya. Dunia benar-benar terasa sempit untuk kedua orang itu. 


Kinan terus tertunduk malu, tanpa berani melihat wajah suaminya yang pastinya tidak bisa dia artikan, antara terkejut dan marah itulah gambaran perasaan Langit saat ini. 


"Kau serius Kak?" Pertanyaan itu dari Bara.


Kinan hanya menganggukkan kepalanya. 


"Waaaah, aku benar-benar takjub. Ternyata Tuhan telah menjodohkan kalian sedari dulu."


"Tapi dulu aku pernah berfikir untuk menenggelamkan kembali wanita itu." Terdengar nada mengejek pada ucapan Langit. 


"Benar-benar wanita yang tidak berterima kasih!" Langit memandang rendah istrinya saat itu. 


Kata-kata Kinan yang mengatainya ******** tepat setelah dia menyelamatkan nyawanya benar-benar tidak dapat dimaafkan. 


"Hei, sudahlah. Dulu aku masih sangat kecil. Umurku saja baru 19 tahun. Dan lagi aku tidak tahu bahwa kau menolongku." Kinan mulai tersulut emosi mendengar sindiran suaminya. 


"Bahkan anak usia lima tahun saja sudah bisa mengucapkan terimakasih. Dan kau? Anak kecil! Aku tanya bagian mana dari tubuhmu yang kecil?" Nada merendahkan masih terdengar dari setiap kata yang Langit ucapkan. 


"Aku tidak tahu jika kau itu adalah orang yang menolongku, aku kira kau hanya ingin menciumku!" Bentak Kinan. 


"Memang kau memandang dirimu itu siapa hingga aku harus menciummu di sembarang tempat? Kau pikir aku dirimu?"


"Wah, kau benar-benar pendendam. Aku sudah bilang minta maaf tapi kau masih saja terus menyudutkanku. Baiklah. Aku tidak akan lagi mau berbicara dengan orang pendendam seperti dirimu!" Kinan bangkit dari tempat tidurnya.


Bara yang bingung harus berbuat apa hanya bisa menonton pertengkaran sepasang suami-istri yang tidak menyadari kebesaran Tuhan karena telah mempertemukan mereka sejak sepuluh tahun lalu dan dengan kekuasaannya pula Dia menyatukan mereka dengan sebuah ciuman pula. 


"Antar aku pulang!" Kinan menarik tangan adik iparnya. 


Disaat bersamaan David datang untuk memberitahukan nilai uang yang telah dicuri dari oleh pria yang Langit pukuli tadi siang. 


"Kau sudah baikan Nona?" Sapa David tanpa melihat raut wajah kesal Kinan saat itu. 


"Apa urusanmu? Urus saja manusia tak berhati nurani itu! Bilang padanya agar tak memiliki sifat pendendam!"


Drama apa lagi ini?


"Dasar kau wanita tak tahu berterima kasih, sekarang pun kau masih menganggap kau yang paling benar. Cih! Pulang sana, aku tidak akan pulang malam ini. Sampai kau meminta maaf dengan cara yang tulus!" Sahut Langit yang masih duduk di ranjang hotel. 


Pintu kamar itu pun ditutup dengan sangat kencang oleh Kinan. Dia benar-benar marah pada Langit saat itu. 


🐰


Kinan tetap memilih pulang ke apartemen mereka, sore itu. Dan pastinya ditemani oleh Bara. 


"Kak kau benar-benar baik-baik saja?" Tanya Bara yang masih khawatir dengan kondisi kakak iparnya. 


"Pesankan aku makanan, aku sangat lapar." Jawab Kinan yang sedang duduk bersila di atas sofa sambil memilih tonton yang akan dia tonton. 


"Kau mau makan apa?"


"Bagaimana dengan pizza? Pizza sangat cocok jadi teman nonton. Kau juga temani aku nonton ya! Ada drama yang aku ingin tonton." Pinta Kinan. 


Bara pasrah, dia tidak bisa menolak permintaan kakak ipar itu. 


🐰🐰


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat sebuah pesan masuk ke handphone miliknya. 


Ternyata dari Bara. "Kak, istrimu sedang menangis tak henti-henti, aku bingung harus berbuat apa!"


"Kau mau kemana Tuan?" Tanya David melihat Langit akan  meninggalkannya. 


"Pulang!" Jawab Langit tanpa memperdulikan wajah kesal David yang sudah bersusah payah memesankan makan malam untuknya. 


Selalu saja aku yang dinomor duakan. Keluh David. 


Benar apa kata Bara, Langit melihat Kinan sedang menangis tersedu-sedu dengan dua buah kotak pizza yang kosong dan beberapa kaleng soda di meja, tak lupa tisu yang bertebaran menghiasi lantai apartemen miliknya. Benar-benar pemandangan yang menyakitkan mata. 


"Kau kenapa? Maafkan aku!" Langit memeluk erat tubuh istrinya yang masih berderai air mata. 


Kinan pun menyambut pelukan hangat suaminya, karena memang ini adalah saat yang dia butuhkan. Sebuah pelukan untuk bisa menenangkannya. 


"Jangan menangis, aku minta maaf!" Langit mengecup puncak kepala istrinya yang masih berderai air mata. 


"Kapten Ri,,," Kinan sesegukan. 


Mendengar istrinya menyebutkan nama pria lain Langit langsung menjauhkan tubuhnya dan menatap istrinya yang ternyata sedang menatap layar televisi. 


"Kau menangisi siapa?" Tanya Langit melihat ada yang tidak beres dari tangisan istrinya. 


"Dia ditembak. Kapten Ri, mengorbankan nyawanya untuk kekasihnya, sekarang dia tertembak." Kinan  terus saja mengeluarkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti Langit. 


Bara yang sedari tadi melihat kelakuan pasangan aneh itu tak bisa lagi menahan tawanya dan akhirnya tawa Bara pun meledak. 


"Dasar kau b*deb*h kecil. Kuhabisi kau!" Langit menghampiri adiknya yang duduk di sudut sofa. 


"Langit, apa kau juga akan melakukan hal yang sama dengannya? Mengorbankan dirimu untuk melindungi orang yang kau sayangi?" Dia bertanya tapi matanya masih fokus pada layar datar itu. 


"Untuk apa aku menghabiskan banyak uang untuk membayar para pengawal jika aku sendiri yang harus mengorbankan diriku!" Jawab Langit dengan angkuhnya. 


"Dasar pria dingin tak punya hati. Kenapa kau selalu menghancurkan momen romantisku?" Gerutu Kinan. 


Melihat Bara yang hendak kabur Langit langsung menarik tubuh adiknya hingga kembali terjatuh ke sofa dan memitingnya. 


"Kak, aku sudah bosan menemani istrimu, dia terus saja menangisi pria lain yang wajahnya mirip denganmu. Lihatlah, benar-benar menjijikkan." Bara berbicara sambil menahan tawanya. 


"Kau tadi minta maaf padaku kan?" Tanya Kinan saat menyelesaikan drama yang ditontonnya. 


Langit tidak bisa berkata-kata, dia juga tidak bisa lagi menarik kata-katanya yang terlanjur meluncur dari mulutnya. Hingga tanpa sadar dia melonggarkan pitingannya. 


Dengan wajah yang masih penuh air mata, dan hidung yang masih memerah Kinan menghampiri suaminya. "Terima kasih, karena kau aku masih hidup sekarang!" Kinan menghamburkan dirinya ke pelukan suaminya.


Dan aku yakin si Bodoh itu akan luluh hanya karena perkataan dan senyuman istrinya. 


Dan apa yang dipikirkan Bara itu benar, Langit langsung menangkup wajah sembab  dan mengecupnya. "Terima kasih sudah datang dalam kehidupanku." Langit mencium bibir Kinan mesra tanpa mempedulikan Bara yang tengah mencibir mereka.


"Mata ku selalu ternodai karena kelakuan kalian!" 


Tapi kedua orang itu seperti tidak memperdulikan ocehan Bara. "Aku masih hidup dan bernafas!" Lanjutnya. 


Langit mengibaskan tangannya ke arah Bara yang terus mengoceh, menyuruh b*deb*h kecil itu pergi. 


"Baiklah aku tidak akan mengganggu momen romantis kalian! Aku pergi" Ucapan. "Cetak keponakan yang lucu untukku!" Lanjutnya sebelum menutup pintu apartemen mereka. 


Dan malam panjang mereka pun dimulai. 


Hayoooo tebak, Kinan nonton apa coba?????