LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Fakta yang mengejutkan



Melihat kakak iparnya terlihat suntuk, Bara meminta Kinan menemaninya untuk bertemu dengan produsen keramik yang akan menyuplai keramik untuk lantai hotel yang sedang Langit bangun dalam beberapa bulan terakhir ini di pulau Bali. Dia dipercaya oleh Langit untuk menerima tugas ini, karena pemilik pabrik keramiknya adalah ayah dari teman kuliah Bara, jadi kemungkinan besar akan lebih mudah menyelesaikan urusan mereka tanpa berbelit-belit. 


Keramik adalah bahan baku penting dalam pembuatan sebuah bangunan, terutama fasilitas publik seperti hotel ini. Semua harus seragam, baik dari segi ukuran dan warna oleh karena itu mereka harus memesan dari pabriknya langsung. 


"Ternyata kau hebat juga ya Bar!" Kinan terlihat takjub melihat hasil kerja Bara. Dia menjadi orang lain saat bekerja, dia tidak seperti anak yang selalu bermanja-manja kepada kakaknya ketika bertemu dengan kliennya. 


Bara membusungkan dada dengan bangga sambil menepuk-nepuknya. "Sekarang kau lihat betapa hebatnya aku kan! Sebentar lagi suamimu akan mempunyai saingan yang sepadan." Ucap Bara sombong. 


"Kalo boleh aku tahu, keramik-keramik itu akan dipakai untuk pembangunan apa? Mall baru kah?" Tanya Kinan. 


"Bukan mall, tapi hotel baru yang sedang masa proses pembangunan di Bali. Memang kau tidak tahu?"


"Bukannya proyek itu batal? Bukankah investornya tidak jadi menginvestasikan uangnya untuk proyek itu?" Kinan terkejut mendengar pertanyaan Bara, karena seingatnya proyek hotel itu adalah proyek Kinan buat gagal hingga membuatnya harus mempunyai hutang sebanyak 50 milyar kepada suaminya dulu. 


"Gagal? Aku tidak pernah mendengarnya. Setauku Kakakku tidak pernah gagal dalam merencanakan suatu apapun." Jawab Bara apa adanya. Dia tak menyadari ucapannya akan jadi bencana untuk Langit. 


Jadi selama ini aku telah ditipu olehnya? Kinan murka. 


"Kak, sepertinya suamimu sedang ada di hotel ini. Aku tadi seperti melihat David." Ucap Bara yang tidak melihat kobaran api di mata kakak iparnya tersebut. 


Kinan langsung mengalihkan pandangannya mencari sosok David. 


"Kau mau kemana?"


"Menemui suamiku." Jawaban Kinan yang tiba-tiba ketus membuat Bara bingung. 


Maksud hati ingin mengejutkan suaminya dan mengeluarkan semua kekesalannya, tapi Kinan dibuat terkejut melihat seorang pria tua sedang bersimpuh di kaki suaminya dengan wajah penuh luka pukul, dan Kinan pastikan itu adalah luka yang dibuat oleh suaminya. Karena terlihat darah di punggung tangan suaminya


Melihat ketegangan di wajah istrinya Langit segera menghampiri istrinya. 


"Singkirkan dia dari ruangan ku!" Titah Langit pada


David yang juga terkejut melihat kedatangan Kinan yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu dahulu. 


Dan itulah kalimat terakhir yang Kinan dengar dari Langit sebelum dia pingsan. 


"Aku dimana?" Kinan bingung saat mendapati dirinya terbaring di sebuah ruang dengan nuansa peach yang elegan. 


"Kamar hotel." Jawab Langit yang juga sedang merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya.


"Orang lain yang kupukul kau yang pingsan. Aneh." Langit memberikan segelas air untuk istrinya. 


Kinan pun mengambil gelas karena memang dia juga merasa tenggorokannya kering. 


"Aku takut. Aku tidak pernah melihatmu memukul orang lain." Ucap Kinan gugup.


"Itu tidak seberapa Kak, bahkan dia pernah membuat orang dirawat selama satu bulan karena mengalami patah tulang rusuknya." Jawab Bara yang duduk di sofa suite room hotel tersebut. 


"Aku saja pernah kena pukul olehnya." Lanjutnya, terdengar nada kesal saat Bara mengucapkan kata-kata terakhirnya. 


"Kan aku sudah bilang, ujian itu bisa disusul. Kau tahu aku baru saja putus dari pacarku, jadi mana bisa aku mengerjakan soal ujian sekolah ketika otakku sedang galau." Jawab Bara dengan nada sedikit tinggi. 


"Cih, masih SMA saja kau sudah cinta-cintaan." Cibir Langit. 


"Karena aku punya hati yang lembut, jadi sangat mudah mencintai seseorang apalagi dia itu wanita cantik." Bara tersenyum simpul. 


Sedangkan Kinan hanya bisa menonton adu mulut kakak beradik itu dibalik selimutnya. 


"Tapi ada untungnya kan kau karena menyusulku ke sana kau jadi bisa berciuman dengan gadis cantik itu." Goda Bara. 


🐣Flashback On🐣


Langit yang sudah tahu keberadaan Bara di Bali, langsung mencari adik semata wayangnya untuk dia beri pelajaran. Tapi ketika sampai di hotel, dia diberitahukan bahwa Bara baru saja keluar dan sepertinya menuju pantai.


Langit yang memang sudah sangat kesal langsung mencari keberadaan adiknya di pantai dengan mengerahkan beberapa orang suruhannya yang dia bawa kesana. 


Tepat saat Langit menemukan adiknya yang kala itu terlihat sedang bersenda gurau dengan beberapa orang turis berbikini, tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan wanita minta tolong karena terseret ombak. Entah mengapa Langit yang biasa apatis merasa terpanggil untuk menolong gadis berambut pirang tersebut. 


Karena melihat kondisinya yang tak sadarkan diri Langit langsung memberikan nafas buatan untuknya. Hingga akhirnya gadis itu pun sadar. 


"What are you doing to me, Bastard?" Ucap sang gadis ketus ketika dia sadar dan melihat wajah Langit yang seperti hendak menciumnya.


Hal itu membuat Langit benar-benar murka. 


"GO to hell, you b*tch!" Balas Langit sambil berlalu.


🐣Flashback off🐣


"Cih, gadis cantik yang tak beradab. Bisa-bisanya dia mengatakan ******** setelah apa yang kulakukan untuknya?" Langit mengingat kejadian sepuluh tahun silam itu.


"Tapi aku baru melihat turis asing secantik dia. Waaaah!" Bara kembali mengingat wajah wanita asing yang telah ditolong kakaknya itu. 


"Tapi firasatku dia bukan turis asing, hanya rambutnya saja yang dia cat pirang. Aku bertahun-tahun tinggal di Amerika, jadi aku tahu bahwa dia Pribumi."


Entah mengapa Kinan jadi salah tingkah mendengar cerita mereka. Dia pun jadi teringat kejadian yang dialaminya saat kabur dari rumahnya, saat orang tuanya menyuruhnya meneruskan kuliahnya di luar negeri, karena saat itu Kinan benar-benar belum siap untuk berpisah jauh dari keluarganya, jadi dia berusaha kabur tepat di hari dia akan mengirimnya pergi. Dia sengaja mengubah warna rambutnya agar tak dikenali oleh orang-orang suruhan ayahnya. Dan ketika dia melihat orang suruhan ayahnya mendekat, dia tanpa berfikir panjang langsung berenang menjauh dari pantai dan akhirnya dia terseret arus ombak. 


"Kapan kejadiannya?" Tanya Kinan gugup. 


Bara sedikit berfikir. "Sekitar sepuluh tahun lalu saat aku sedang ujian nasional di sekolah. Ya kan kak?"


Langit mengangguk, sambil membantu istrinya duduk. Dan tak lupa mengecup kening wanita yang telah membuatnya khawatir beberapa saat lalu. 


Langit melihat ada yang tak beres dengan istrinya, dia melihat Kinan terlihat gugup dan pucat menjadikannya tambah khawatir. "Apa kau pusing lagi? Kau pucat sekali. Kita ke rumah sakit ya!" Langit menempelkan punggung tangannya di kening istrinya.


"Wanita yang kau tolong sepuluh tahun lalu itu…" Kinan menggantung ucapannya. 


"Itu aku." Lanjutnya dengan wajah menunduk menatap jemarinya yang saling bertautan dengan wajah yang sangat merah.