
🍀Senyummu selalu bisa mencairkan hatiku yang telah lama beku🍀
Pintu bel kembali berbunyi, ya ini adalah orang yang sebenarnya kedua orang itu tunggu. Bara begitu terkejut melihat para karyawan kantornya sedang duduk berbaris rapi di ruang tamu. Dia merapatkan mulutnya agar tidak tertawa melihat mereka duduk tapi seperti sedang melakukan wawancara kerja.
"Hai!" Sapa Bara berusaha mencairkan suasana yang membeku karena kehadiran Kakaknya yang seperti gunung es diantara mereka.
"HAI!" Sapa mereka juga kompak tapi raut wajahnya masih begitu tegang.
Kinan yang bingung harus bagaimana menyikapinya berusaha memulai acara yang akan mereka adakan untuknya, karena Kinan melihat ada topi berbentuk kerucut, hiasan pesta dan beberapa bungkus balon yang mereka bawa tadi. "Gimana jika kita mulai acara ini!" Ajak Kinan.
Bara mengangguk menyetujui ide Kakak iparnya. Tapi beda dengan Langit, dia hanya duduk di sofa tunggal yang menghadap langsung ke arah mereka, membuat para karyawannya menundukkan kepalanya secara otomatis.
"Sudah jangan anggap orang itu ada! Anggap saja dia itu pajangan di rumah ini!" Ucap Kinan sambil memelototi suaminya.
Bagaimana mereka bisa menganggap orang itu tidak ada? sedangkan aura mencekam sudah menyelimuti ruangan itu. Kenapa bisa dia tidak terintimidasi dengan tatapan suaminya? benar-benar hebat. Pikir mereka
Kinan mengambil beberapa plastik yang mereka bawa tadi. Ternyata banyak yang mereka bawa mulai dari cemilan, minuman, juga beberapa bungkus stik kentang yang tinggal digoreng.
Mereka mulai mempersiapkan dekorasi pesta yang akan mereka adakan di ruang tengah. Tak ada yang Langit lakukan, dia hanya memperhatikan mereka dengan raut wajah yang biasa dia pakai di kantor.
Kesal melihat tingkah suaminya, Kinan sengaja menginjak kakinya saat melewatinya.
"Hei apa yang kau lakukan padaku Bodoh?" Bentak Langit pada Kinan.
Tapi ucapan Langit membuat semua orang menghentikan aktivitas mereka. Kaki mereka gemetar, mereka takut telah melakukan kesalahan terhadap atasannya yang seperti gunung es itu.
"Jika kau tak mau ikut acara kami, tolong jangan pasang muda datar mu disini. Lihat teman-temanku ketakutan karena melihat tatapan matamu! Pergi sana!" Rengek Kinan.
Langit bangkit dari duduknya tapi bukan untuk berpindah ke tempat lain, melainkan mengambil dekorasi pesta dan berusaha membantu mereka memasangnya. Tapi hal itu semakin membuat teman-temannya gugup. Bahkan Anton salah satu teman pria yang hadir tak henti-hentinya minum tiap kali melihat wajah Langit.
Bara hanya menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang selalu bersikap dingin di hadapan karyawannya.
"Sambil nunggu dekorasi selesai, gimana kalo kita goreng stik kentang ini!" Ajak Kinan pada teman-teman wanitanya yang terus-menerus mencuri pandang kepada suaminya.
Mendengar istrinya akan ke dapur Langit langsung melompat dari sofa ketika dia sedang menempelkan tulisan 'HAPPY BIRTHDAY' ke tembok.
"Jangan! Kau mau reputasimu jatuh ketika mereka melihatmu memporak-porandakan dapur lagi!"
"Diam bodoh! Kau baru saja mengumbar aibku." Kinan sangat jengkel dengan kelakuan Langit yang seperti ingin mengacaukan pesta mereka.
"Kalau begitu biarkan mereka saja yang menggoreng, kau temani aku saja disini." Langit mengunci leher istrinya dengan lengan kekarnya. Membuat teman-teman wanitanya iri berharap merek berada di posisi Kinan.
Satu jam kemudian pesta pun siap di mulai. Ruang tengah apartemen Langit sudah dihiasi balon-balon dan dekorasi pita lainnya.
Semua makanan dan minuman telah tertata rapi di meja, dua buah tart berbeda bentuk dan ukuran sudah terpajang juga di meja satunya.
"Langit, lihatlah ternyata adik iparku begitu pelit. Dia hanya membelikanku tart berukuran mini!" Sindir Kinan melihat perbandingan dari kedua tart yang sangat jauh.
Bara mengendus kesal. "Sudahlah, aku tidak tahu akan ada banyak tamu yang datang, jadi aku hanya membeli kue untuk ukuran kita saja."
Semua teman-teman Kinan kembali duduk dengan tertib, pasalnya Langit kembali duduk di hadapan mereka.
"Apa yang kau lakukan? Turun! Berani-beraninya kau menggodaku di hadapan mereka!" Bentak Langit. Tapi Kinan tak peduli dia benar-benar tak menghiraukan suaminya.
Acara pun dimulai, semua orang telah memakai topi kerucut berwarna-warni yang dibawa teman-teman Kinan. Terkecuali Langit. Tapi Kinan tak peduli, dia kan tak lebih hanya pajangan pesta.
Suasana mulai mencair, karena mereka berusaha tidak melihat atasannya yang memang terhalang oleh Kinan. Tawa mereka mulai mengisi ruangan itu.
"Maaf Mbak kita ga bawa kado, abisnya kita baru tahu kemaren kalo hari ini Mbak ulang tahun." Ucap Febi.
"Ga apa-apa, jangankan kalian orang yang tiap malam tidur denganku saja tidak memberikan apa-apa." Jawab Kinan sambil melirik suaminya yang melingkarkan tangannya di perut Kinan.
Tak Terima dengan sindiran istrinya, Langit memerintahkan Bara untuk mengambil kotak berisi hadiah di dalam kamar mereka. Padahal tadinya itu akan dia jadikan umpan agar istrinya mau melakukan hal itu lagi.
"Apa yang ini?" Tanya Bara sambil membawa sebuah kotak yang tadi Langit bawa di kantor.
Langit mengangguk dan memberikan kotak itu kepada Kinan. "Buka!"
Dengan sangat bersemangat Kinan membuka kadonya, sebuah tas cantik keluaran terbaru yang menjadi incarannya menjadi kado dari Langit untuknya.
"Terimakasih!" Ucap Kinan dengan mata berbinar.
Cup,,, cup,,, cup,,,
Kinan menghujani Langit dengan ciuman di seluruh wajahnya. "Aku suka." Kemudian mencium bibir suaminya.
Tanpa dia sadari kelakuannya telah menodai mata dan fikiran orang-orang yang ada di ruangan itu. Bahkan beberapa orang teman wanitanya berkali-kali menelan ludah karena ingin bertukar tempat dengan Kinan.
"Hei, apa kalian tidak bisa untuk tidak menunjukkan kemesraan kalian di depan kami. Kalian benar-benar tidak punya rasa prikemanusiaan!"
Ucapan Bara dibalas pelototan tajam dari Langit karena mengganggunya.
Salah mereka kenapa berada di rumahku? Aku ingin menghabiskan malam ini bersama istriku. Seperti itulah isi pelototan tajam Langit untuk Bara.
"Langit bisa tolong ambil foto kami?" Kinan memberikan handphonenya kepada suaminya.
Akan kuhabisi kau setelah ini. Berani-beraninya kau memerintahkan ku di depan para bawahanku.
Kinan duduk di lantai menghadap kedua kuenya sedangkan teman-temannya dan Bara duduk di sofa panjang. Tanpa Langit sadari sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang tidak pernah dilihat oleh para karyawannya ketika melihat istrinya begitu bahagia dengan pesta kecil yang dipersiapkan untuknya.
"Kak sekarang biarkan aku mengambil foto kalian." Usul Bara.
Dengan terpaksa dia duduk bersama istrinya di lantai sedangkan para karyawannya masih duduk di sofa, hal itu membuat mereka kembali canggung. Tadinya mereka akan pindah ketika melihat atasannya duduk di lantai, tapi Kinan melarangnya dan menyeret suaminya agar duduk tenang di sampingnya.
"Kak, mana senyummu?” Bara sangat kesal melihat Langit memasang wajah datarnya ketika difoto.
"Tersenyumlah seperti yang tadi kau lakukan tadi siang!" Rengek Kinan.
Mendengar ucapan Kinan membuat Langit, mengingat kembali siang basah dan erotis mereka, hal itu berhasil membuatnya tersenyum dan membayangkan malam panjang yang akan mereka lakukan setelah ini.
Sebuah momen langka yang menegangkan bagi para karyawannya bisa berkumpul dan melihat wajah atasannya yang dingin secara dekat. Momen yang mungkin tak akan pernah terulang kembali di hidup mereka.