LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Barbeque



Akhir Pekan ini Kinan dan Langit pergi berkunjung ke rumah keluarga Kinan, karena semenjak menikah Langit belum pernah berkunjung ke rumah orang tuanya, berkali-kali Mamanya menanyakan keberadaan Langit ketika Kinan pulang untuk sekedar main atau mengambil sesuatu di kamarnya.


Hari ini mereka berencana untuk mengadakan pesta barbeque di halaman belakang rumah. Semua anggota keluarga Kinan tampak canggung saat harus bertatap muka secara langsung dengan Langit, kharisma yang dimiliki membuat orang yang melihat akan menundukkan wajahnya.


Tanpa sepengetahuan Langit Kinan mengundang Fadli juga. Karena biasanya Fadli lah yang biasa membakar ikan dan daging ketika mereka mengadakan barbeque.


Begitupun Fadli dia tidak tahu jika Langit ikut ke rumah Kinan. Karena dia berfikir bahwa Langit tak akan pernah mau datang ke acara keluarga Kinan.


"Untuk apa dia kesini?" Tanya Langit sinis, ketika melihat Fadli berjalan menghampiri Kinan yang sedang mengoles jagung bersama Langit.


"Dia adalah juru bakar pesta ini, Fadli sangat tahu kematangan yang pas untuk daging ataupun ikan, aku yakin kau juga pasti akan suka." Jawab Kinan


"Gimana kabar lu Fad?" Tanya Kinan ketika Fadli mengulurkan tangannya.


"Baik. Kamu kesini sama dia?" Fadli pun bertanya dengan sinis.


"Saya suaminya, harusnya saya yang bertanya untuk apa kamu datang kesini?" 


Belum sempat Fadli membalas ucapan sinis Langit, Bagas memanggilnya untuk meminta bantuan menggotong alat pemanggang.


"Tidak perlu cemburu, Fadli itu teman Kinan sejak SMP. Dia sudah kita anggap saudara sendiri." Ucap Mama Kinan yang melihat ketegangan di antara Fadli dan Langit.


Langit hanya tersenyum mendengar perkataan mertuanya, karena dia bisa lihat sendiri kalau Fadli begitu mencintai istrinya.


"Kin, bikinin kopi sana buat suamimu!" Ucap Sang Mama, karena dia baru ingat belum menyediakan minum untuk menantunya.


"Jangan! Aku tidak mau kopi yang berasa asin. Karena aku tidak yakin jika kau bisa membedakan mana gula dan mana garam." Ejek Langit.


Geram mendengar ejekan suaminya Kinan membalas ucapan suaminya dengan sebuah cubitan di perut Langit membuatnya mengaduh kesakitan, hingga membuat semua orang berpaling kepadanya.


Melihat gelagat Langit akan membalasnya, Kinan segera berlari ke dalam rumah disusul Langit yang ingin membalas perlakuan istrinya.


"Ampuuuunn! Mamaaaa tolong aku!" Lengkingan Kinan yang sedang dikelikitik Langit dari ruang keluarga terdengar hingga halaman belakang.


"Hentikan Bodoh! Kau membuatku sulit bernafas!" Bentak Kinan karena lelah tertawa yang kini sudah terkapar di lantai.


Tawa Kinan membuat hati Fadli terasa teriris-iris, dia masih tidak rela wanita yang dicintainya tertawa renyah dengan pria lain, walaupun dia tahu bahwa Langit adalah suaminya.


"Kin, lu mau ikut bakar-bakaran apa mau langsung ngamar?" Teriak Bagas yang memang selalu menggoda adiknya.


Mendengar suara Bagas membuat Langit menghentikan aksinya.


"Lihat ulahmu!" 


Langit mengeluh sambil mengangkat sedikit kaos yang dia kenakan. Ternyata cubitan Langit menyisakan memar di kulit perutnya.


"Wah, kau sedang menggodaku?" Ucap Kinan mengusap-usap hasil karyanya seolah dia tertarik dengan bentuk perut seksi suaminya.


"Awas! Jangan sentuh aku. Kau akan membangunkan yang lain dari tubuhku nanti."


Langit meninggalkan istrinya yang tak hentinya menggodanya, dia kembali ke halaman belakang, dilihatnya seorang seorang wanita yang tengah hamil besar duduk disamping Mama mertuanya. Dia adalah istri Bagas yang tengah hamil delapan bulan.


"Mbak Sisil? Kapan dateng?" Kinan menghampiri wanita cantik yang tengah membuncit itu.


"Baby, how are you? Do you Miss me?" Kinan bertanya pada bayi yang ada di perut Kakak Iparnya.


"Boro-boro kangen, malu dia punya Tante macem lu!" Cibir Bagas.


"Aku doain kamu juga cepet hamil ya Kin." Ucap Sisil tulus.


Seketika Langit tersedak air jeruk buatan Mama mertuanya yang sedang diminumnya mendengar ucapan istri kakak iparnya.


Kinan yang tahu alasan Langit tersedak, kembali menggoda suaminya.


"Pelan-pelan Sayang, sepertinya kita harus bekerja lebih keras lagi, aku yakin kamu bisa Sayang, semangat!" Kinan mengelus-elus punggung suaminya.


Ucapan Kinan membuat Langit tak menghentikan batuknya, bahkan kini wajahnya terasa panas hingga  memerah menahan rasa malunya. Dia memilih pergi menjauhi istrinya yang entah sedang berperan sebagai apa sekarang.


Kelakuan pasangan itu berhasil membuat orang-orang sekitarnya menyunggingkan senyum mereka. Kecuali Fadli yang sudah sangat tidak tahan melihat Kinan yang begitu senang menggoda Langit.


Akhirnya semua menu siap disantap tanpa dibantu oleh pasangan aneh itu. Karena tak ada seorangpun dari mereka yang berani meminta bantuan Langit, sedang Kinan mereka memilih untuk tidak mengikutsertakannya karena tidak ada yang bisa dia lakukan selain makan.


Mereka duduk melingkar di meja berbentuk bundar, Kinan duduk diapit suaminya dan Fadli.


"Suamimu suka makan daging atau ikan?" Tanya sang Papa yang melihat piring Langit yang masih kosong.


"Dia pemakan segala Pah, Langit memakan apa yang aku suapi ke mulutnya."


Langit menatap tajam wajah istrinya agar Kinan berhenti mengumbar aibnya.


"Apa? Memang kenapa kalau mereka tahu aku menyuapimu setiap hari?" Balas Kinan dengan tatapan menantang.


Tahu ini bukan daerah kekuasaannya, Langit memilih diam. Bahkan ketika Kinan sengaja menyuapi dia makan pun Langit hanya bisa pasrah.


"Ini adalah ikan bakar yang benar-benar aku rindukan. Lu hebat Fad, beruntungnya cewek yang bakal jadi istri lu." Puji Kinan.


Fadli hanya tersenyum, karena wanita yang diinginkan untuk dijadikan istri telah diperistri pria lain. Miris.


"Beruntung itu Fadli, karena dia tidak punya istri seperti mu." Timpal Langit.


"Betul itu, kalo lu kawin sama Fadli bisa-bisa kalian bertukar peran. Lu yang kerja nyari duit, Fadli yang jadi Bapak Rumah Tangga." Sambung Bagas.


Kemudian Langit menceritakan tragedi pertempuran di dapur mereka saat hari pertama mereka pindah ke apartemen.


Semua orang dibuat tertawa mendengarnya sambil membayangkan tragedi mencekam itu.


"Berhenti menceritakan aibku Bodoh!" Bentak Kinan dan menutup mulut suaminya agar berhenti bercerita.


Sebuah akhir pekan yang begitu membahagiakan untuk Langit bisa berbagi tawa dengan wanita yang selalu mengganggu hidupnya.