
Langit sedang menikmati secangkir kopi hitam yang selalu menjadi rutinitasnya sebelum melakukan pekerjaannya yang selalu menumpuk di tiap harinya.
"Tuan, Nona Kinan dan teman-teman kuliahnya akan mengadakan acara reuni di hotel kita malam Minggu besok." Ucap David sebelum membacakan susunan jadwal kegiatannya hari ini.
"Memang apa peduliku? Biarkan saja si Cerewet itu bersenang-senang dengan teman-temannya!" Jawabnya acuh, padahal di otaknya dia sedang menyusun strategi agar bisa ikut menghadiri acara reuni istrinya.
Cih aku yakin otakmu sedang memikirkan cara agar bisa ada di acara itu. Batin David yang telah sangat hafal sifat Tuannya itu.
Setelah itu dia pun kembali disibukkan dengan berbagai kegiatan hariannya yang tak ada habisnya.
Kinan dan Langit sudah kembali ke kondisi seperti sebelum Kinan kabur dari Langit, Kinan kembali ke rutinitasnya hariannya, apalagi kalau bukan menyuapi makan suaminya setiap jam makan siang.
"Aku akan ada reuni dengan teman-teman kuliahku malam Minggu besok." Ucap Kinan disela-sela makannya.
Sedangkan Langit langsung kembali disibukkan dengan dokumen-dokumennya setelah disuapi makan oleh istrinya.
"Apa kau sedang mengajakku untuk datang ke acara itu?" Tanya Langit datar, seolah dia tidak berminat datang.
"Untuk apa aku mengajakmu kesana? Kau cuma akan mengganggu acaraku?"
Langit hanya tersenyum menanggapi ocehan istrinya, dia terlalu sibuk untuk beradu mulut dengan si cerewet itu.
🍂🍂
Seorang Presdir muda perusahaan besar sedang bersumpah serapah di dalam Zet pribadi miliknya. Pasalnya seorang kliennya mendadak mengubah jadwal pertemuan mereka. Sang Klien memajukan jadwalnya dihari tepat istrinya mengadakan reuni bersama teman-teman kuliahnya yang diadakan di hotel miliknya.
Karena pertemuan ini tidak bisa diwakilkan, mau tak mau dia harus memilih untuk menghadiri pertemuan dengan Kliennya yang diadakan di Singapura.
Akhirnya David lah yang kembali jadi sasaran kekesalan Langit. Karena hanya dia orang yang selalu berada dekat dengannya.
"Apa kau ta bisa mengubah jadwal acara reuni mereka?" Pertanyaan konyol itu keluar dari mulut seorang Presdir yang membuat David hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Pertanyaan bodoh apa itu?
"Tak perlu saya jawab pun Anda pasti sudah tau jawabannya Tuan." Jawab David yang tengah berdiri di hadapan kursi Tuannya untuk memberikan dokumen yang harus ia periksa ulang sebelum acara pertemuan penting dengan kliennya itu.
Mendengar jawaban sekretarisnya yang seperti sedang mengejenya membuat Langit melayangkan tendangan ke tulang kering David yang membuatnya mundur satu langkah dari sang Presdir.
🏵️🏵️
Sementara itu, Kinan sedang merayu Fadli untuk ikut ke acara reuni mereka.
"Aku ga mau Kin. Aku males kalo harus ketemu pria brengsek itu lagi disana. Kamu tau kan hotel itu miliknya." Jawab Fadli ketika Kinan terus berusaha mengajaknya datang.
"Gue udah kangen pengen ketemu Desi Fad, lu tau sendiri kita udah lama ga ketemu setelah dia pindah ke Surabaya."
"Maaf aku tidak bisa menemanimu, ada rapat penting di luar negeri. Jangan kecewa!"
Sebuah pesan dari Langit membuatnya mencibir ketika membaca pesan yang masuk ke WA-nya itu.
"Memang siapa yang akan mengajakmu pergi ke acaraku?" Kinan berbicara pada dirinya sendiri.
"Pesan dari siapa?" Tanya Fadli bingung melihat Kinan yang tiba-tiba merubah raut mukanya.
"Rentenir." Jawabnya singkat.
Fadli mengerutkan keningnya, mencoba mencari tahu orang yang Kinan maksud.
"Kayaknya kita ga akan ketemu dia nanti malem. Hari ini dia lagi ke luar negeri." Ucap Kinan semangat. Sambil menunjukan pesan yang baru dia buka kepada Fadli.
Fadli tersenyum melihat nama yang dibuat Kinan untuk Langit, 'RENTENIR' nama Langit di kontak telepon Kinan.
Kinan membalas pesan Langit yang pasti membuat Langit resah.
"Waaaaah sayang sekali ya, padahal tadinya aku akan memamerkan mu pada teman-temanku. Bahkan aku membeli gaun cantik untuk dipakai nanti malam. Selamat bekerja suamiku..😘😘"
🍂🍂
Dan benar saja, pesan dari istrinya membuat Langit uring-uringan di dalam kamar hotel tempat dia beristirahat sebelum bertemu sang Klien.
Untuk kesekian kalinya David yang jadi sasaran kekesalannya.
"Kenapa kau tidak bisa memaksa Mr. Lee untuk datang ke Indonesia? Kenapa kau setuju saja aku yang akan menemuinya?"
"Bukankah anda sendiri yang menyetujuinya kemarin Tuan?" Sanggah David, karena memang benar Langit lah yang mengiyakan permintaan Mr. Lee saat ia telepon kemarin.
"Tapi harusnya kan kau mengingatkanku bahwa hari ini Kinan akan mengadakan reuni!"
Bukankah kau menjawab tidak peduli saat aku memberitahukan hal ini?
Ingin sekali David mengucapkan apa yang dikatakan hatinya. Tapi nyawanya masih sangat berharga dari pada jika harus dikorbankan begitu saja.
"Saya akan menyuruh orang untuk mengambil foto Nona Tuan."
"Aku tidak peduli!" Jawabnya tegas.
Mulut mu selalu berkata yang sebaliknya. Mengapa jatuh cinta membuatmu terlihat bodoh dalam sekejap?
David masih tak habis pikir dengan kelakuan Tuannya akhir-akhir ini