LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Cemburu



Bara terus memperhatikan gerak-gerik pria berwajah tampan dan penuh percaya diri yang bernama Rendi. Dia adalah kepala bagian pemasaran yang baru dua bulan menjabat menggantikan Pak Surya yang sebelumnya pensiun. 


Dengan kepercayaan dirinya yang tinggi dia berusaha mendekati Kinan dengan terang-terangan di depan para karyawan yang lain, hingga membuat teman-teman Kinan jadi salah tingkah, bahkan Natan yang selalu berusaha menghalangi mereka pun tidak digubris oleh Rendi.


"Udah berapa lama kamu kerja di perusahaan ini?" Tanya Rendi ketika mereka sedang menikmati cemilan di coffee break mereka sore itu. 


"Baru, beberapa bulan sih." Jawab Kinan apa adanya. 


Rendi tersenyum ke arah Kinan yang terlihat sangat cantik dengan pakaian casualnya sore itu, celana jeans berwarna biru cerah dan T-shirt berwarna hitam yang pas di badannya hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang memang sangat proporsional menjadikannya terlihat segar dan cantik.


Benar-benar cantik nih perempuan. Gue harus milikin nih cewek sebelum keduluan yang lain. Batin Rendi. 


Dia tidak tahu saja jika pemilik tubuh itu adalah Presdir mereka yang dingin. 


"Aku juga pegawai baru sih. Kok aku baru tau ya ada perempuan cantik di perusahaan ini." Ujarnya tanpa mempedulikan Bara yang ikut bergabung bersama mereka. 


"Bisa aja." 


"Pak kok ga ikut gabung sama karyawan di divisi Bapak aja sih?" Feby berusaha menjauhkan Rendi agar bergabung bersama rekan kerja di divisinya. 


"Aku udah tiap hari ketemu mereka. Sekarang aku lagi pengen lebih dekat sama wanita tercantik di divisi perencanaan. Kalian pelit amat sih." Dia memang tangguh dan tanpa basa-basi. 


"Hei Bung jangan sampai kau menyesal ya telah mendekati wanita ini." Ancam Bara. 


Kinan melirik Bara dengan tatapan tak suka. "Kenapa dia harus menyesal berteman denganku? Memang apa kekuranganku?" Kinan cemberut. 


Hei kau sadar tidak sih sikap mu ini akan membuat pria ini semakin mengejarmu?


Apa dia tidak bisa membedakan orang yang benar-benar suka dengan orang yang hanya sekedar ingin berteman? 


Sikap Kinan ini semakin memperteguh hati Rendi untuk mendekatinya. Aku akan berusaha terus mendekatimu cantik. 


Sementara itu.


Setelah menerima telpon dari Bara, Langit terlihat gelisah. Berkali-kali dia menghubungi istrinya tapi tak ada jawaban yang memuaskan dari Kinan. 


"Ckk,,, kenapa si Bodoh itu tidak mengangkat teleponnya?"


Langit kembali men scroll nama di kontak telepon di handphonenya. 


"Siapkan mobil, kita susul mereka!" Titah Langit kepada David. 


Rianti masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Istri? Langit sudah beristri? Takdir mengerikan apa lagi ini?


"Kamu sudah menikah?" Rianti berusaha bertanya hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi. 


Langit menyeringai sambil memamerkan cincin berwarna silver di jari manisnya. "Kalau kau pikir kita dipertemukan karena takdir, itu salah. Ini hanya kebetulan." Jawab Langit dingin. 


Tapi tak bisa dipungkiri masih ada desiran-desiran halus yang dirasakan hatinya ketika menatap mata yang telah menemaninya selama tujuh tahun itu. 


Hati Rianti seperti dicabik-cabik, benar kata Langit saat dia tahu perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja adalah perusahaan Langit dia begitu terkejut. Bahkan dia sempat mencuri pandang kepada Langit saat Langit mendatangi perusahaannya di Milan sebulan lalu. Lalu ketika perusahaan mengutusnya untuk mengerjakan proyek menggantikan desainer sebelumnya yang yang mengalami kecelakaan mobil, hatinya benar-benar bersemangat, dia yakin ini adalah takdir Tuhan untuk menyatukannya kembali dengan pria yang selama ini masih menghiasi mimpi indah sekaligus mimpi buruknya. 


Tapi harapannya musnah ketika mengetahui Langit telah menikah dan terlihat sedang sangat cemburu.


Siapa wanita yang yang telah merebut hati Langit darinya? Apakah dia sangat cantik? Ataukah dia  sangat cerdas? Ataukah keduanya? Rianti semakin penasaran dengan sosok istri mantan kekasihnya. 


🌲🌲🌲


"Kamu kenapa sih Bar? Norak tau, orang mau kenalan sama aku doang. Masa aku ga boleh sih temenan sama orang lain."


Bara bingung harus menjelaskan apa. Haruskah dia bilang jika dirinya telah diutus kakaknya untuk menjaga istrinya yang sangat cerewet itu? Bara mulai kesal, jika bukan karena diiming-imingi mobil baru dia ogah harus berurusan dengan titisan jangkrik ini. 


"Kak, apa kau tidak tahu jika pria tadi itu menyukaimu?" Bara mulai merengek. 


"Memang ada orang yang tidak menyukaiku? Atau jangan-jangan selama ini kau tidak menyukaiku." Kinan menyudutkan Bara. 


"Tapi dia menyukaimu sebagai laki-laki bukan sebagai teman. Dia menginginkanmu untuk dijadikan kekasihnya."


Kinan mencibir, dia benar-benar tidak suka dengan cara berfikir Bara. "Cih, alasan. Dasarnya saja kau tidak suka aku memiliki banyak teman."


Bara gusar, dia tidak tahu lagi harus berkata apa, dan pastinya dia yakin apapun yang dikatakannya pasti tidak akan  diterima oleh Kinan.


Teman-teman Kinan juga ikut bingung harus meyakinkan Kinan dengan cara bagaimana jika Rendi itu sedang berusaha mencuri hatinya. Pasalnya Si Gunung es telah menitipkan Kinan untuk mereka jaga dari para pria yang berusaha mendekatinya. Tapi Rendy bukan hanya sekedar ingin mendekati tapi terang-terangan ingin mendapatkan hatinya. 


"Terserah apa katamu, lihat saja olehmu, pasti saat ini suamimu yang bodoh itu sedang menuju kesini." Bara beranjak dari meja mereka. 


Mendengar Langit akan datang ke acara mereka, Kinan menjadi gelisah, karena dia yakin kedatangan suaminya pasti akan membatasi ruang geraknya nanti.


"Bagaimana ini? Pasti Pak Langit akan memarahi kita juga Mbak."


Kinan terkejut mendengar perkataan Arin. "Kok bisa?"


"Tadi pagi itu kita dikumpulin di ruangannya itu suruh ngejagain Mbak dari cowok-cowok yang mau ngedeketin Mbak." Sambung Febi dengan wajah yang terlihat pucat. 


Kinan beranjak dari kursinya mencari sosok Bara agar merayu suaminya untuk tidak datang ke acara mereka. Dan kemudian menghampiri adik iparnya yang terlihat sedang berusaha mencari-cari perhatian para gadis-gadis cantik yang sedang berkumpul di area kolam renang.


"Bara!" Kinan memasang senyum manisnya kepada Bara. 


Cih sekarang apa maunya? Apa maksud senyuman itu? 


"Hmmm." Bara tak sedikitpun bergerak dari tempatnya dia sudah tahu jika Kinan akan meminta bantuannya untuk merayu suaminya agar tak datang ke tempat mereka. 


"Bara ada yang ingin aku bicarakan." Rengek Kinan sambil menarik-narik tangan Bara, hal itu membuat para gadis-gadis cantik yang sedang berada disana kesal melihat Kinan mengganggu mereka berdekatan dengan pria tampan dan imut yang selalu menjadi incaran setelah Langit. 


"Percuma, jika jalanan tidak sedang ramai mungkin dua jam lagi dia akan datang." Jawab Bara tanpa melirik sedikitpun ke arah Kinan. 


🚗🚕🚙


Langit sedang merutuki jalan menuju puncak yang padat merayap, ini akhir pekan sudah hal lumrah jika perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu dua hingga tiga jam bisa jadi berkali-kali lipat lamanya jika pada akhir pekan. 


"Apakah tidak ada jalan alternatif lain menuju kesana? Mengapa semakin hari kau semakin bodoh saja sih?" David terus-menerus menjadi sasaran kekesalan Langit. 


"Haruskah saya menyewa helikopter untuk membawa Anda kesana?" Sindirnya.


Mengapa selalu aku yang jadi sasaran kekesalannya karena ulah istrinya? 


Akan kubuat perhitungan denganmu Bara, tunggu saja!  David mengumpat Bara.


Lima jam perjalanan Langit tempuh untuk menemui istrinya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kala itu para karyawan sedang mengadakan sebuah permainan di sebuah lapangan hijau di belakang hotel tersebut.


Mata langit langsung memerah ketika melihat Kinan bersama seorang pria dengan jarak wajah yang sangat dekat hanya terhalang oleh sebuah jeruk diantara kening mereka.


"Akan kupastikan kau habis malam ini Bodoh." Cicit Langit sambil mendekati keduanya yang sedang ikut lomba goyang jeruk.