
Langit dan Kinan pamit setelah makan siang kepada semuanya, dan lagi-lagi Bara dan David lah yang direpotkan oleh bermacam pekerjaan yang Langit pindah tugaskan kepada mereka. Seperti perjanjian Langit pagi tadi, mereka berencana akan berkencan hari ini.
"Kita akan kencan kemana hari ini?"
Kinan mulai berfikir tempat-tempat yang biasa ia kunjungi saat kencan dulu bersama beberapa mantan kekasihnya.
"Bagaimana kalau kita ke pantai?"
"Kau ingin mengulang kejadian sepuluh tahun lalu?" Langit tersenyum saat menggoda istrinya.
Kinan mencibir tak menimpali godaan suaminya. Hari ini dia sedang ingin berdamai dengan pria yang sejak pagi membuat perasaan menggelitik di hatinya. Hingga terus membuatnya tersenyum bila melihat si pria dingin yang sedang mengemudi di sampingnya.
Langit siang itu benar-benar terik untuk dinikmati, hingga sepasang manusia itu memilih untuk duduk di kafe yang ada di tepi pantai itu hingga sang mentari bisa dinikmati dengan senyuman.
"Kau benar-benar tak perlu ke rumah sakit? Kau benar-benar terlihat lebih pucat dari sejak pagi tadi?" Langit yang kala itu sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos polos hitam terlihat khawatir kepada istri yang telah menjungkirbalikkan kehidupannya.
Lagi-lagi Kinan tidak menjawab, dia hanya menggelengkan sedikit kepalanya dan menempelkan pipinya di meja kafe sambil memperhatikan deburan ombak yang terlihat berkilauan diterpa teriknya mentari siang itu.
"Aku mengantuk."
Ngantuk? Bukankah dia baru saja bangun tidur? Dan tadi pagi pun mereka bangun lebih telat dari biasa.
"Apa kita menyewa kamar saja untuk kau beristirahat?"
Kembali Kinan tidak menjawab pertanyaan suaminya. Hari ini dia benar-benar tak banyak mengeluarkan kata-katanya.
🐰🐰
Sementara itu di sudut ruangan lain, Bara berlari secepat mungkin ketika turun dari mobilnya.
"Bundaaaaa! Papiiiiiiii! Neneeeeeek!" Bara berteriak mencari para penghuni rumah.
"Ada apa?" Asal suara dari dapur dan teras samping berbarengan.
"Bunda cepatlah kesini, ada berita penting!" Bara berlari menuju teras tempat Neneknya sedang menikmati tehnya bersama Papi.
🐣Flashback On🐣
Sepeninggal kedua orang itu, Rianti terus saja tersenyum. "Bara, sepertinya kamu sebentar lagi akan menjadi seorang Paman."
Bara dan David terkejut mendengar ucapan Rianti. Karena dia masih kesal saat Kinan menyuruhnya makan dengan meja terpisah dari mereka dengan alasan dia mual melihat makan Bara.
Raut wajah kedua pria itu seketika berubah meminta penjelasan yang lebih dari ucapan Rianti barusan.
"Apa dia pernah seperti ini sebelumnya?"
Bara menggelengkan kepalanya. "Dia memang menyebalkan, makanya dia sangat cocok dengan kakakku, tapi ini memang baru pertama kali Kinan seperti itu."
"Dari yang kulihat sepertinya dia menunjukkan gejala wanita hamil, karena aku sering sekali melihat teman-teman wanitaku hamil muda dan rata-rata seperti yang Kinan lakukan hari ini. Malas berhias, mudah lelah, dan mengantuk, juga kadang mual melihat apapun. Ya, kemungkinan besar ponakanmu sudah bersemayam di perutnya." Jawab Rianti panjang lebar.
Wajah kesal Bara langsung berubah menjadi berbinar gembira mendengar penjelasan Rianti, bahkan ekspresi David pun tak kalah dengan Bara. Kedua orang itu seperti mendengar bahwa istri mereka lah yang tengah mengandung.
🐣Flashback off🐣
"Apa benar seperti itu?" Nenek yang berkomentar pertama kali mendengar penjelasan Bara, raut wajah senangnya tidak dapat dia sembunyikan mendengar penjelasan cucunya.
"Apa mereka sudah mengetahuinya?"
" Aku sudah tidak sabar menggendong ponakan lucu dan semoga saja dia seperti ibunya."
"Memang apa kurangnya cucuku? Kenapa kau lebih memilih anak mereka seperti si cerewet itu daripada Kakakmu sendiri?"
"Hissst apa lucunya punya ponakan seperti kulkas macam dia? Coba bayangkan ketika kita berbicara dan bertanya kepadanya dan dia hanya menjawabnya dengan 'hmmm? Apa mau kalian sebenarnya?' apa lucunya anak kecil seperti itu?"
Ucapan Bara mengundang gelak tawa orang-orang yang mendengar termasuk beberapa pembantu yang sepertinya ikut menguping perbincangan mereka.
*******
Cahaya senja sudah mendominasi pantai, warna lembut keemasan membuat suasana romantis untuk semua orang yang menikmatinya, begitu pun sepasang suami-istri yang terlihat tak terpisahkan itu, sang istri terus saja menempelkan kepada suaminya, kini jemari mereka saling bertautan ketika menyusuri bibir pantai dengan deburan ombak yang terdengar lebih menderu dari siang tadi.
Mengapa cinta itu terasa sangat manis sekali hingga aku sulit melepaskannya? Kini Kinan benar-benar sudah mengetahui isi hatinya untuk Langit. Ya ini adalah cinta yang sejak lama ia nantikan.
"Kita pulang?" Ajak Langit yang terlihat khawatir melihat kondisi istrinya.
Lagi, Kinan tak menjawab, hanya menganggukan kepalanya.
"Kita ke rumah sakit dulu ya. Kau sangat aneh hari ini. Aku takut kau sakit." Nada suara memerintah terdengar dari ucapan Langit saat itu.
🐣🐣
Wajah gembira penuh suka cita tergambar jelas dari wajah Langit sejak mengetahui kehamilan istrinya, ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi hidupnya, tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Senyuman terus tersungging dari bibirnya, membuat Kinan merasa malu dengan tingkah suaminya.
"Hei bukan kau saja yang akan punya anak, lihat para pria yang sedang duduk bersama istri buncit mereka!" Kinan menunjuk beberapa pasangan yang sedang menunggu di depan ruang tunggu dokter kandungan.
"Kau benar-benar membuatku malu."
"Aku tidak peduli." Jawabnya dengan dibubuhi sedikit tawa.
Jadi seperti ini rasanya akan menjadi seorang ayah? Langit terus menggandeng tangan istri cantiknya, membuat iri setiap pasang mata yang melihat.
Kabar gembira itu langsung disebar oleh Langit kepada keluarganya, dan tak lupa David. Bahkan dia seperti ingin memberitahukan kepada seluruh dunia tentang berita ini.
Bunda langsung menelpon putra sulungnya saat penerima pesan dan memerintahkan mereka untuk datang ke kediamannya.
Di lain tempat, orang tua Kinan pun sangat gembira menyambut calon keluarga baru. Bagas Kakak Kinan di buat terkejut saat mendapat pesan untuk pertama kalinya dari adik iparnya Langit yang hanya berbunyi. "Kinan hamil."
Sebuah pesan yang benar-benar singkat tapi membuatnya menyunggingkan senyum.
Semua mengucapkan selamat kepada Kinan sesampainya mereka di kediaman keluarga Langit. Ini adalah berita gembira untuk semua penghuni rumah termasuk para pembantu mereka. Karena ini adalah calon bayi pertama yang akan mengisi kediaman keluarga Langit.
"Kak apa kau juga mengirim pesan seperti ini kepada mertuamu?"
Langit mengerutkan kening. Memang apa salahnya dengan pesan yang kukirim?
"Jangan bilang iya!" Bara benar-benar tak percaya bahwa manusia kulkas di hadapannya mengirim pesan yang terlihat seperti memo kepada mertuanya. "Hissst kau benar-benar kaku."
"Apa salahnya? Memang benar istriku hamil." Langit membela diri.
"Sudahlah, orang tuaku akan aneh jika dia banyak bicara. Karena selama ini tidak pernah banyak berbicara jika di rumahku." Kinan melerai pertengkaran kakak beradik yang membuat kepalanya pusing itu.
"Aku sekarang jadi setuju jika bayi mereka nantinya lebih mirip si cerewet itu dibanding cucuku sendiri." Ucapan Nenek membuat mereka kembali tertawa kecuali sepasang suami-istri yang tidak mengerti arah pembicaraan mereka.