LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Mantan Tunanganku



🍀Semanis-manisnya kenangan dia hanya masa lalu yang tak akan pernah menjadi masa depan🍀


Sejak terbongkarnya hubungannya dengan Langit, Kinan jadi semakin tidak nyaman dengan sikap para karyawan di kantornya. Semua orang seperti menjaga jarak dengannya, setiap berpapasan dengan Kinan semua orang pasti akan menundukkan kepala mereka memberi hormat. 


Selain para rekan di divisinya, taka ada lagi yang mau berbicara dengannya, dia selalu diprioritaskan dimanapun dia berada, seperti saat Kinan hendak masuk lift, tak ada seorangpun yang mau satu lift dengannya padahal mereka semua sedang menunggu lift juga, dan ketika dia hendak mengkopi berkas di ruang fotokopi dan banyak karyawan lain yang juga mengantri disana, mereka mempersilahkan Kinan untuk mendahului mereka. Semua hal ini amat sangat membuat Kinan tidak nyaman. 


"Kau kenapa lagi?" Tanya Langit dibalik singgasananya melihat istrinya meringkuk di sofa. 


"Semua orang seperti menjaga jarak denganku. Aku seperti orang asing di sini. Bahkan teman-temanku kini sudah tidak ada lagi yang mau meminta bantuanku."


Langit hanya melirik sekilas istrinya yang sedang uring-uringan, pekerjaannya jauh lebih penting dibanding harus menanggapi keluhan Kinan.


"Nona Rianti dan asistennya sudah tiba." Ucap David sambil melirik Kinan yang meringkuk di sofa. 


Lagi-lagi mendengar nama Rianti disebut Langit merasakan desiran aneh di dadanya. Walaupun hanya desiran kecil tapi mampu membuat Langit tidak nyaman. 


"Persilahkan mereka masuk!"


Mendengar akan ada tamu yang akan masuk ke ruangan suaminya Kinan bangkit dari tempatnya.


"Aku pergi."


"Kemana?"


"Entahlah, mungkin berleha-leha di toilet." Jawabnya asal. 


Langit menghampiri istrinya. "Beri aku kekuatan!" Menarik tengkuk Kinan dan mencium lembut bibirnya. 


"Kau kenapa?" Kinan menaikan kedua alisnya. 


"Aku hanya ingin menciummu, memang tidak boleh?"


Rianti POV


Rianti melihat seorang wanita cantik yang umurnya dua atau tiga tahun lebih muda darinya keluar dari ruangan Langit, wajahnya yang terlihat kesal tak mengurangi kecantikan yang dia miliki. Dia mulai mengira bahwa wanita cantik itu adalah istri Langit saat David sangat asisten Langit menundukkan kepalanya sambil tersenyum  walau hanya dibalas pelototan tajam dari wanita ber blazer putih itu. 


Rianti menyunggingkan senyumnya dengan terpaksa ke arahnya dan dibalas senyuman dari wanita itu yang membuatnya jadi terlihat semakin cantik. 


Tak salah lagi dia pasti istri dari mantan tunangannya. 


Ini kali pertama Rianti memasuki ruangan kerja Langit, sewaktu mereka bertunangan posisi Langit hanya pemimpin anak perusahaan ayahnya. Ruangan yang dimilikinya dulu terbilang cukup besar dan mewah, tapi tak sebanding dengan ruangannya sekarang ini.


Hati Rianti kembali berdenyut sakit jika mengingat kebersamaan mereka dulu. Langit bukanlah orang yang romantis, tapi Rianti tahu jika Langit sangat mencintai dirinya. 


Rianti dan Langit sedang membahas tentang memilih bahan baku untuk produk mereka ketika pintu di ruangan itu diketuk. 


"Masuk!" Ucap Langit. 


Wanita cantik yang ber blazer putih yang Rianti lihat tadi ternyata. 


"Apa?" Langit hanya melihat sekilas ke arahnya dan kembali ke dokumen yang sedang ia pelajari. 


"Aku akan keluar makan siang dengan Fadli, boleh ya?" Jawab wanita itu dengan senyum merayu. 


Langit mengangkat wajahnya mendengar ucapan wanita yang berdiri di depan pintu. 


"Hmmm, mau diantar supir?" Tanya Langit, kemudian melihat sekilas ke arahnya. 


"Apa aku boleh bilang tidak usah?" Tanya gadis itu dengan mata berbinar. 


"Tidak." Jawab Langit dengan wajah yang biasa dia tunjukkan. Datar. Tanpa ekspresi. 


Tak ada lagi senyum di wajah wanita itu, kini hanya hanya ekspresi mencibir yang dia tunjukkan. 


"Aku naik taxi saja ya!" Masih berusaha merayu. 


"Kau diantar supir atau tidak boleh keluar sama sekali." Jiwa penguasa Langit memang tidak bisa diremehkan. Tak ada seorangpun yang berani melawan perintahnya. 


Dengan menghentakkan kaki wanita itu keluar dari ruangan itu. Tak lupa raut wajah mencibirnya yang sengaja dia tunjukan. Tapi anehnya Langit tersenyum melihat tingkahnya seperti seorang pemenang. 


"Lalu buat apa tadi dia bertanya? Dasar bodoh!" Gerutunya masih terdengar sangat jelas saat dia menutup pintu. 


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat untuk Rianti, jam makan siang berhasil menghentikan waktu diskusi mereka.


Tanpa dia duga Langit menjamu Rianti dan asistennya makan siang. 


"Apakah kau masih menyukai masakan Itali?" Suara itu begitu ramah, tak sedingin saat mereka terakhir bertemu beberapa waktu lalu membuat hati Rianti hangat. 


Dengan senyum malu-malu Rianti menganggukkan sedikit kepalanya. 


Ternyata dia masih ingat makanan favoritnya. Pikirnya membuatnya berharap secercah rasa yang masih tersisa untuknya. 


Langit, Rianti dan tak lupa David dan Asisten Rianti sudah berada di restoran Itali yang berada dekat dengan kantor.


Mata Langit langsung berkeliaran seperti sedang mencari seseorang. Dan benar saja.


"David sudah reservasi tempat, selamat menikmati hidangannya." Langit pamit pada mereka. 


Lagi-lagi gadis berblazer putih itu lagi yang Rianti temui. Dia sedang bersenda gurau bersama seorang pria di seberang mejanya. Pria tampan bermata hazel, dengan wajah lebih kebarat-baratan. 


Ternyata dia sengaja mengajaknya kesini untuk menemui wanita itu. Rianti kecewa.


Tanpa meminta persetujuan dari siapapun Langit duduk tepat di samping wanita cantik itu. 


"Mana makananmu?" Tanya Langit sambil menarik kursinya. 


"Hai selamat siang!" Sapa wanita yang Rianti belum tahu namanya. "Kita baru aja mau pesen makan. Ya kan Fad?"


Langit terperangah melihat Rianti ada di belakangnya. "Kau tidak ikut dengan David?"


Begitu pun Rianti dia yang tidak sadar telah mengikuti mantan tunangannya hingga ikut terkejut mendapati dirinya ada di tengah mereka.


"Oh maaf." Ucap Rianti gugup. 


"Kalo gitu ikut gabung disini aja! Boleh kan?" Pinta gadis itu. Meminta persetujuan dari kedua lelaki yang ada di meja tersebut. 


🍝🍤🍝


Semua yang ada di meja berbentuk bundar itu terlihat canggung terkecuali Kinan yang tidak menyadari ada yang tidak beres dengan situasi yang mereka hadapi.


Setelah berkenalan akhirnya Rianti tahu nama gadis cantik berblazer putih itu, Kinanti. Begitu pun Kinan yang mengetahui bahwa Rianti adalah desainer yang akan bertanggung jawab atas proyek baru yang sedang suaminya kerjakan. 


"Kamu makan apa?" Tanya Kinan pada suaminya sambil memilih menu. 


"Apapun yang kau makan aku makan." Seperti biasanya. 


"Langit, lihatlah game baru yang anak diluncurkan Fadly. Keren kan!" Kinan memperlihatkan sebuah game di gadget milik Fadly.


"Ku kira dia tidak memiliki pekerjaan." Sindir Langit.


"Hist, lihatlah semua karakter di game ini! Semuanya keren-keren." Kinan membanggakan karya sahabatnya kepada Langit.


"Bukankah karakter yang bernama Queen itu lebih mirip denganmu?" Ucap Langit saat melihat salah satu tokoh superhero wanita yang sangat mirip wajah istrinya.


Matanya yang tajam dan dingin langsung menghakimi Fadly yang duduk dekatnya. Fadly yang salah tingkah hanya bisa mengusap tengkuknya.


Kinan yang baru menyadari terlihat sangat bahagia melihat wajah dirinya dijadikan salah satu tokoh superhero yang sangat cantik.


"Iya, Queen benar-benar secantik aku." Wajahnya berbinar membuat Fadly ikut tersenyum.


"Tapi jika diperhatikan lebih jelas wajahnya lebih cantik darimu, sepertinya dia tidak secerewet dirimu, lihat senyumnya sangat manis. Kau tidak punya senyum semanis ini. Kapan kau tersenyum manis seperti itu kepada suamimu? Dan yang terpenting lihat dadanya." Ucapan Langit terjeda kemudian berbisik ke telinga Kinan.


"Dadamu tidak sebesar miliknya, hanya pas di genggamanku saja." Bisiknya, walaupun masih terdengar oleh kedua orang lainnya.


Kinan reflek membandingkan miliknya dengan tokoh superhero buatan Fadly tersebut. "Dasar kau mesum!"


Langit kembali berbisik ke telinga istrinya, tapi kali ini suara tidak terdengar yang lain hanya wajah Kinan saja yang merona sebagai respon dari kata-kata yang Langit ucapkan.


Rianti menyadari banyak perubahan dari diri mantan tunangan, sekarang dia lebih banyak bicara dan tersenyum dibanding dulu saat bersamanya.


Setelah menunggu sekitar 20 menit akhirnya makanan mereka pun tiba keempatnya sepakat memesan Pasta Carbonara Seafood. Entah karena kebiasaan mereka, Kinan terus menyuapi makan kepada suaminya dan Langit pun seperti tak keberatan dengan itu, membuat kedua orang lainnya merasa canggung atas kelakuannya. 


Sudah tak ada harapan lagi bagi Fadly untuk mendapatkan hati Kinan setelah melihat kejadian itu. Sekarang dia yakin bahwa hati Kinan sudah menemukan Tuannya. Inilah akhir dari semua harapannya selama ini. Karena cintanya memang tak layak untuk diperjuangkan. 


"Kamu terus menyuapi makan suamimu. Kapan kamu mau makan? Memang dia tidak bisa makan sendiri?" Sindiran Fadly membuat Kinan menyadari kelakuannya.


"Hissst,,, gara-gara kau terus minta disuapi makan tiap hari, tanganku jadi reflek terus menyuapimu makan." Gerutu Kinan. 


"Kamu makan udangnya juga?" Kini Rianti yang buka suara.


"Iya. Memang kenapa?" Tanya Kinan bingung. 


"Dia alergi udang." Jawabnya dan sedikit menundukkan kepalanya, dan hal itu sontak membuat Kinan terkejut. 


"Tak apa. Aku selalu bawa obat alergi." Jawab Langit, seraya menunjukkan obat di dalam wadah dari saku celananya. 


"Kok kamu bisa tahu dia alergi udang?" Nada suara menyidik terdengar jelas dari pertanyaan yang dia ucapkan.


Rianti bingung harus menjawab apa, saking gugupnya tangannya sedikit bergetar hingga menimbulkan bunyi dari getaran sendok dan garpu di piring. 


"Dia mantan tunanganku." Jawab Langit santai saat melihat wajah pucat Rianti. 


Hampir saja Kinan menyemburkan makanan yang sedang dinikmatinya. Membuat Langit dan Fadly reflek menyodorkan gelas kepadanya.


"Pelan-pelan!" Ucap Langit sambil menepuk-nepuk punggung istrinya dan memberikan gelasnya.


Perlahan Kinan mulai memperhatikan wanita cantik di sampingnya. 


Cantik, cerdas dan mandiri. Itulah kata yang pantas menggambarkan sosok Rianti. 


Dan akhirnya mereka makan dalam keheningan. Dengan gejolak amarah di dada Kinan. Entah karena apa. 


Tapi disalah satu ruang VIP yang sudah Langit pesan sebelumnya, ada sepasang anak manusia yang mulai saling berbagi cerita.