LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Sebuah Kesalahan



Ketukan pintu membangunkan Langit dari tidurnya. Entah sejak kapan dia tertidur di sofa ruang kantornya. Ternyata Bara, lalu Langit memejamkan matanya lagi, terlalu lelah hari ini, banyak pekerjaan yang tidak berjalan dengan lancar membuatnya pusing.


"Kau sakit Kak?" Bara terlihat khawatir.


Langit menggelengkan kepalanya walaupun matanya masih terpejam. "Aku hanya sedikit pusing dengan urusan-urusan kantor yang tiada habisnya. Aku sudah mengerahkan semua kemampuanku, tapi masih banyak yang tidak berjalan lancar seperti seharusnya." Keluhnya.


Bara mendekat, dia duduk di kursi tunggal yang menghadap Kakaknya. "Jangan putus asa Kak, sejauh ini ku lihat kau sudah berusaha sekuat tenagamu, perusahaan kita semakin berkembang sejak kau ambil alih. Bahkan ku dengar kau sedang merencanakan akan bekerjasama dengan beberapa brand fashion terkenal. Aku sangat menantikan terobosan terbaru mu itu." Bara berusaha menyemangati Langit.


"Itu masalahnya, karena proyek itu aku lagi-lagi harus berpisah cukup lama dengan Si Cerewet. Jika saja kau tidak banyak main-main dulu mungkin aku sudah menyuruhmu terbang ke Milan untuk mewakiliku." Kali ini Langit menatap wajah adiknya dengan raut wajah kesal.


Sedangkan Bara mengalihkan pandangannya agar mata mereka tak beradu pandang.


"Kenapa tidak kau bawa saja gulingmu itu?"


Langit bangkit dan menghela nafasnya. "Karena Si Bodoh itu terlalu cerdas dan berbakat sekarang dia dipilih sebagai penanggung jawab acara gathering nanti. Ckckck,,, dia benar-benar istriku." Langit tersenyum membayangkan wajah Kinan yang selalu serius di depan komputer, membuatnya semakin seksi di mata Langit.


"Aku memang tidak salah menjadikannya istriku." Ucap Langit bangga.


Cih bukankah beberapa waktu lalu dia begitu membenci kakak ipar?


"Ada perlu apa kau datang ke ruanganku? Apa lagi yang ingin kau pinta dariku?" Langit sudah curiga dengan kedatangan Bara, karena semenjak mendapatkan tanggung jawab proyek mall dia seperti menghindari Langit.


Bara tersenyum malu, ternyata Kakaknya yang sangat cerdas sudah tahu maksud kedatangannya.


"Bisa kau kembalikan mobilku? Aku ada kencan dengan pacarku akhir pekan ini."


"Pinta saja pada Kakak Iparmu! Aku sudah menyerahkannya kepadanya." Ucap Langit sambil beranjak dari sofa menuju singgasananya lagi.


"Kaaaak, aku malu. Mau ditaruh dimana wajahku?" Rengek Bara.


Langit melemparkan kunci mobilnya tanpa aba-aba terlebih dahulu, membuat Bara sedikit kesulitan menangkapnya.


"Bawa itu saja, aku bisa memakai yang lain."


Padahal otaknya sedang berpikir untuk mengerjai istrinya lagi.


๐Ÿš—๐Ÿš—๐Ÿš—


Seperti rencana Langit, hari itu dia meminta tumpangan pada istrinya, tadinya Kinan menyuruh Langit untuk memakai mobil Bara, sedangkan dia akan pulang dengan taxi. Tapi Langit mencari banyak alasan agar mereka bisa pulang bersama.


"Malam ini aku diundang makan malam bersama teman-temanku karena hari ini Ajeng ulang tahun." Ucap Kinan yang sedang sibuk menyetir.


"Hmmmm." Langit tak menanggapi omongan istrinya dia merebahkan tubuhnya di kursi penumpang sambil memejamkan matanya, tapi Kinan menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah izin dari suaminya.


"Kita sudah sampai tujuan Tuan!" Kinan mengguncangkan tubuh suaminya yang tertidur di sampingnya.


Langit pun bangun dengan sangatย  terpaksa kemudian menarik tengkuk istrinya, sebuah kecupan pun mendarat di bibir Kinan.ย 


"Anggaplah ini tips dariku!" Ucap Langit dan segera keluar dari mobil.


"Heeeii, dasar kau penumpang mesum! " Teriak Kinan.ย 


๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”


Kinan pulang dari acara makan malam sekitar pukul satu malam, karena setelah acara makan malam mereka memutuskan untuk pergi ke klub malam.


Tercium bau alkohol ketika Kinan melewati ruang tengah, dan benar saja ada botol anggur yang telah habis setengah isinya.


"Aku baru tahu kalo dia suka minum." Kinan berbicara pada dirinya sendiri.


Dia membayangkan suaminya telah tertidur pulas di kamar, tapi dugaannya meleset, dilihatnya Langit sedang duduk di sofa kamar mereka dengan wajah sedikit berantakan.


"Kamu belum tidur?" Tanya Kinan sambil melewatinya menuju kamar mandi.


Tapi Langit tak menjawab dia seperti tidak mendengar pertanyaan Kinan, membuat Kinan sedikit bingung, dan menyimpulkan bahwa suaminya sedang memiliki


beban pikiran yang berat di kepalanya. Mungkin ada masalah di kantornya yang belum bisa ia pecahkan. Pikir Kinan


Kinan keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang ganti seperti biasanya, dengan mengenakan jubah mandinya. Dilihatnya posisi Langit masih sama seperti sebelumnya. Duduk termenung menatap langit-langit kamar mereka.


"Kamu mau apa? Keluar! Aku mau berganti baju dulu." Ucap Kinan ketika melihat Langit berjalan mendekatinya.


Tapi sepertinya Langit tidak menggubris perkataan istrinya dia semakin mendekat, dan memeluknya dari belakang.


"Ada apa? Kamu membuatku takut Langit!"ย 


Kinan meronta dalam pelukan suaminya. Dan lagi-lagi Langit tak menjawabnya. Dengan cepat dia membalikkan tubuh istrinya, dan kembali memeluk tubuh ramping Kinan, hal itu berhasil membuat jantung Kinan berdegup kencang. Langit melingkarkan tangannya di pinggang Kinan dan memeluknya sangat erat membuat Kinan sesak dan kesakitan.


"Langit, apa yang sedang kamu lakukan? Kamu bisa membunuhku!"ย 


Langit masih tidak peduli, kali ini Langit membenamkan wajahnya di pundak Kinan, terasa hembusan nafas yang menggebu-gebu ketika dia berusaha menciumi leher Kinan. Kinan semakin ketakutan dengan kelakuan Langit yang tidak seperti biasanya.


"Apa salahku? Kenapa kamu memperlakukanku seperti seorang wanita murahan?" Kinan masih berusaha lari dari dekapan suaminya.


"Apa salahnya aku meminta hakku sebagai seorang suami?" Bisik Langit sambil sedikit menggigit telinga Kinan.


"Langit! Sadarlah! Ini tidak ada di perjanjian kita!" Kinan mengingatkan perjanjian nikah mereka ketika Langit berusaha melepaskan jubah mandi yang masih melekat di tubuh Kinan.


Tatapan mata dingin itu seperti menghakimi Kinan. Dia terus memojokkan Kinan ke dinding sebelum dia melumut bibir Kinan. "Perjanjian? Perjanjian yang mana? Aku lupa!"ย 


Langit membopong tubuh istrinya ke ranjang, dan hanya dengan satu tarikan dia berhasil membuka jubah mandi yang Kinan kenakan. Kinan berusaha sekuat tenaga untuk kabur dari suaminya, tapi tenaga Langit jauh lebih besar daripada dia, Langit bahkan seolah tidak merasakan pukulan yang dia terima dari Kinan.


Ketika Langit membuka bajunya Kinan berusaha melarikan diri darinya, tapi pintu kamar mereka telah terkunci, dan entah dimana Langit menyembunyikan kuncinya.


"Langit, kumohon jangan lakukan itu padaku!" Kinan terus mengiba, deraian air mata mulai membanjiri pipinya.


"Diam dan nikmati saja. Aku pastikan aku akan memuaskanmu lebih dari lelaki-lelaki yang pernah tidur denganmu sebelumnya." Ucap Langit sinis, dan terdengar kekecewaan dari nada bicaranya.


Mendengar ucapan suaminya yang terdengar merendahkan harga diri membuat Kinan mendaratkan tamparan di wajah suaminya. "Jaga ucapanmu!"


"Jangan sok suci!" Balas Langit dan kembali membopong tubuh polos Kinan ke ranjang.


Melihat kemolekan tubuh polos istrinya membuat Langit semakin liar menjamah apapun yang ada di tubuh istrinya.


Tak terima dengan semua kelakuan suaminya, Kinan kembali mendaratkan pukulan kepada Langit, membuat Langit mengunci kedua tangan Kinan ke atas kepalanya.


Malam panjang mereka pun dimulai dengan penuh deraian air mata dari Kinan.