
Kinan memeriksa handphonenya ketika Langit memesankan makanan untuk mereka.
Ini adalah kali pertama bagi seorang Langit memesan masakan di sebuah restoran cepat saji.
"Mau pesan apa Mas?" Tanya seorang pramusaji yang terlihat terpesona melihat pria tampan yang sedikit canggung ketika memesan menu makanannya.
"Ayam goreng renyah, kentang goreng dan cola. Masing-masing dua."
Wanita yang melayaninya kala itu tersenyum mendengar jawaban yang tidak biasa dari mulut pria tampan dihadapannya. Karena biasanya mereka akan memilih paket makan yang tertera di menu. Kemudian dia memilih menu paket sesuai pesanan Langit.
"Tunggu sebentar!" Ucap sang Pramusaji ketika melihat Langit hendak pergi.
Kinan tersenyum melihat Langit membawa semua menu yang dia inginkan dan itu membuat rasa kesal Langit yang harus menunggu antrian dan juga harus menunggu pesanannya hilang seketika, sepertinya semua terbayarkan hanya dengan sebuah senyuman dari istri yang selalu membuat onar.
"Apa kau mengangkat telepon dari Fadli tadi sore?" Tanya Kinan di sela-sela makannya.
"Hmm."
"Apa dia bilang sesuatu kepadamu? Dia sudah berjanji akan menemaniku malam ini."
"Dia hanya bertanya dimana dirimu. Lalu aku jawab kau sedang tidur dengan ku." Jawab Langit tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Kinan tersedak soda yang dia minum dan tanpa sengaja menyemburkannya ke pakaian Langit yang pastinya harganya jauh, jauh,, dan jauh lebih mahal dibandingkan pakaian yang dipakai manusia pada umumnya.
"Apa yang kau lakukan?" Bentak Kinan.
"Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan kepadaku?" Langit berbicara dengan nada yang tak kalah tinggi dari Kinan, sambil membuka blazer berwarna hitamnya yang telah ternodai soda yang muncrat dari mulut Kinan, yang kini menapakkan kaos hitam yang terlihat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Dan memperlihatkan otot-otot lengannya yang seperti sebuah pahatan Tuhan yang sangat sempurna.
"Kau bisa membuatnya berfikir yang tidak-tidak tentang kita!"
"Apa peduliku, salahnya mengapa dia bisa berfikiran yang aneh-aneh." Masih dengan nada bicara yang sama tanpa menunjukkan penyesalannya.
"Pasti sekarang dia sangat khawatir dengan kondisiku." Kinan yang berbicara pada dirinya sendiri.
"Apakah sekarang dia adalah kekasihmu?" Langit menjadi bingung melihat reaksi Kinan yang berlebihan itu.
"Memang siapa yang bilang dia kekasihku? Fadli adalah sahabatku sejak kecil, dan aku tidak memiliki perasaan yang lebih kepadanya."
"Bukankah selalu ada cinta yang bersemi diantara persahabatan pria dan wanita?" Ejek Langit.
"Fadli!" Kinan berdiri dan memanggil Fadli yang tengah berdiri mencari keberadaannya di restoran cepat saji yang sedang padat pengunjung kala itu.
Setelah sebelumnya Kinan melihat banyak chat masuk dari Fadli, karena sepertinya Langit menon-aktifkan Handphonenya setelah mendapat telepon dari Fadli. Kemudian Kinan mengirim pesan dan memberitahukan keberadaannya agar Fadli tidak khawatir.
"Kinan kamu baik-baik saja?" Fadli terlihat cemas kemudian memperhatikan tubuh Kinan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kinan hanya bisa mengangguk karena pipinya ditangkup oleh kedua tangan Fadli.
"Kamu sama dia?" Tanya Fadli ke arah Langit yang duduk memperhatikan kelakuan mereka.
"Hmmm." Kinan mengangguk.
"Aku suaminya, jadi apa masalahmu?"
***
Kinan kembali menangis menceritakan kejadian pemecatan dirinya, melihat Kinan menangis membuat Langit kesal.
"Berhenti menangis! Kau sangat jelek ketika menangis!" Bentak Langit
"Tapi hanya kau yang sangat terlihat menjijikkan ketika menangis, air mata, ingus, dan liurmu bercampur, ditambah dengan riasan mata mu yang luntur. Aku jadi menyesal memelukmu tadi. Sepertinya aku harus membuang jas ku yang penuh ingusmu tadi."
"Apa?" Bentak Kinan, tapi dia kembali memeluk tubuh suaminya, dan sengaja menempelkan wajahnya yang sudah bercucuran air mata ke dada Langit dan membersihkan wajahnya di kaos yang dipakai suaminya itu.
"Hei, apa yang kau lakukan padaku pengangguran Bodoh? Hari ini aku jadi harus banyak membuang pakaianku karena mu." Langit berusaha menjauhkan tubuhnya dari Kinan.
Tapi Kinan tetap berusaha menempel pada tubuh suaminya.
"Aku akan mengotori semua pakaian mu dengan ingusku."
Fadli sangat cemburu melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu, Kinan seperti tidak mempedulikan keberadaan dirinya. Bahkan dia sudah tidak perlu lagi memeluk Kinan untuk menenangkannya.
****
Pagi yang sangat cerah untuk memulai aktivitas. Tapi tidak untuk Kinan, dia terlihat murung melihat suaminya yang sedang memakai pakaian kerjanya. Dia baru menyadari bahwa Langit begitu tampan, dia memperhatikan setiap lekuk wajah suaminya yang sedang memakai dasi.
"Hei, istri pengangguran bisa tolong ambilkan jas ku yang tertinggal di kamar ganti? Dan sekalian cocokan sepatu yang sesuai dengan setelan kerjaku hari ini!" Ucap Langit, melihat istrinya masih berleha-leha di atas ranjangnya.
"Cih, sombongnya." Tapi dia tetap bangun dan menuruti permintaan suaminya.
"Apa sekarang aku sedang berperan sebagai istri yang baik?" Ucapnya sambil memilih sepatu kerja suaminya.
"Mana sepatuku istri pengangguranku sayang?" Teriak Langit dari ruang tengah.
"Cih. Jangan panggil aku Kinan kalau aku tak mendapatkan pekerjaan dalam satu minggu ini." Ucapnya pada dirinya sendiri.
"Pagi Nona!" Sapa David yang sedang melaporkan pendapatan akhir tahun perusahaan pada suaminya, seperti hari-hari biasanya.
"Bisa kau pakaikan sepatuku sayang?" Lagi-lagi Langit menyindir istrinya.
"Bukankah biasanya kau memakai sepatu sendiri?" Bentak Kinan.
"Aku hanya khawatir kau bosan karena tidak punya pekerjaan."
"Hei David, apa perusahaan sedang membuka lowongan kerja?" Dia tidak mempedulikan sindiran Langit.
"Sepertinya ada posisi yang cocok untuk Anda Nona. Kami sedang membutuhkan kepala staf keuangan yang baru."
"Benarkah?" Tanya Langit dan Kinan kompak tapi dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Kinan terlihat bersemangat saat mendengarnya, sedangkan Langit terlihat terkejut, karena dia tidak pernah mendengar perusahaannya sedang mencari kepala staf keuangan.
David hanya mengangguk mendengar jawaban mereka berdua. Dan memutar otaknya untuk menempatkan posisi itu kepada Kinan, pasalnya saat ini kepala keuangan di perusahaannya bekerja dengan sangat baik.
Hari ini Kinan memilih untuk berperan sebagai istri yang baik, dia memakaikan sepatu Langit dengan tidak komplen sedikitpun.
"Aku berangkat." Ucap Langit, dan memberi kode kepada istrinya untuk memakaikan Jas kerjanya.
Lagi-lagi Kinan melakukannya dengan tidak bersuara.
"Cepat pulang suamiku, bawa uang yang banyak untuk istri pengangguranmu ini. Karena ada tas yang sedang aku incar." Ucap Kinan yang sedang menikmati perannya sebagai istri yang baik.
"Baiklah Sayang, baik-baik di rumah ya. Jangan rindukan aku." Langit menimpali peran istrinya, kemudian memeluknya dan mengecup singkat bibir istrinya.
"Hei, itu tidak ada dalam skrip BODOH!" Teriak Kinan walaupun dia lihat suaminya sudah berlari meninggalkannya.
Apa lagi yang sedang orang-orang cerdas ini lakukan?