LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Bertengkar part 2



Hidup tak selalu berjalan sesuai rencana, ada pepatah yang mengatakan kita hanya bisa berencana, tapi pada akhirnya Tuhan lah yang menentukan, petatah itu benar-benar berlaku untuk Langit hari ini, ingin sekali dia merasakan sambutan hangat dari sang istri ketika dia membuka pintu apartemennya, untuk sekedar melepaskan segala kepenatan yang telah ia lewati hari ini.


Tapi ekspektasi tidak seindah realita, pada kenyataannya dia malah harus siap pisah ranjang dengan istrinya yang kini telah siap untuk pergi meninggalkannya.


"Kau mau kemana Bodoh?"


"Pulang! Aku tidak mau tidur sekamar dengan pria mesum seperti dirimu!" Ucap Kinan sambil menarik koper kecilnya.


"Apa kau sudah tidak menginginkan ini?" 


Langit menunjukan sebuah kotak dengan merek seperti merek tas incarannya. Tapi gengsi Kinan terlalu tinggi untuk mengambil tas dambaan jutaan kaum hawa itu.


Tapi yang keluar dari mulutnya tidak sama dengan apa yang diinginkan hatinya.


"Aku bisa membeli dengan uangku sendiri nanti." Ucapnya dengan nada sombong.


"Silahkan cari keseluruh penjuru dunia! Karena ini adalah tas terakhir." Jawab Langit, tidak berusaha merayu istrinya yang mulai panik.


"Apa kau yakin tidak akan merindukanku nanti?" Godanya. "Pintu apartemenku masih terbuka 24 jam untukmu jika kau berubah pikiran."


"Tunggu hingga otakku pindah ke dengkul!" Jawab Kinan dengan tatapan penuh kebencian. Dia pun pergi.


"Lalu bagaimana dengan sisa barang-barangmu ini? Apa aku harus mengirimkannya atau kubuang saja?" Langit benar- benar sedang menguji kesabaran istrinya.


Mendengar hal itu membuat Kinan semakin murka, dia berbalik badan dan menghampiri suaminya.


"Jangan sentuh barang-barangku! Aku akan kembali untuk mengambilnya."


Raut wajah istrinya yang marah terlihat menggemaskan baginya. Dan akhirnya membuatnya mengecup bibir Kinan.


"Ciuman perpisahan dariku." Ucapnya dan meninggalkan Kinan begitu saja ke dalam kamarnya, tanpa mempedulikan sumpah serapah yang keluar dari mulut istrinya.


🔥Flashback On🔥


Bara, David, dan Langit berkumpul di sebuah restoran untuk merancang sebuah misi pembalasan kepada Kinan, kali ini Langit memimpin langsung kolaborasi untuk menaklukkan hati sang istri.


"Jadi menurutmu aku harus bersikap cuek padanya?"


Bara dan David mengangguk cepat.


"Lalu bagaimana jika nanti aku yang tidak kuat? Aku tidak bisa tidur jika tidak mencium wangi tubuhnya."


Bara dan David mencibir. Ternyata Langit lebih menjijikkan ketika dia jatuh cinta dibanding orang-orang pada umumnya. Pikir mereka.


"Aku yakin itu tidak akan lama Kak, aku yakin juga Kak Kinan tidak kuat lama-lama kau diamkan."


"Bagaimana jika tidak? Aku tidak mungkin memakai bajunya seperti kemarin dia memakai bajuku ketika aku merindukannya." 


Bara dan David terbahak-bahak mendengar ucapan konyol yang keluar dari bibir manusia cerdas di hadapannya. Membayangkan Langit memakai baju Kinan.


Memang siapa yang menyuruhmu melakukan itu?


🔥 Flashback Off🔥


🐣🐣


Ini sudah hari ketiga mereka pisah ranjang. Hal yang sangat sulit untuk Langit lewati, dia harus menahan rindunya setengah mati untuk bertemu sang istri yang terlihat tidak peduli, padahal sebelumnya mereka telah berpisah selama lima hari. Kinan benar-benar cuek bahkan saat bertatapan di kantor pun Kinan seolah tidak melihatnya walaupun teman-temannya sedang menyapa Langit tapi Kinan terus saja berjalan melewatinya dengan angkuh. Hal itu membuat teman-temannya semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.


Hal yang hampir sama pun dirasakan oleh Kinan, setiap malam dia tidur dengan mengenakan kaos suaminya yang sengaja dia bawa pulang. Dia juga belum kembali ke apartemen untuk mengambil barang-barangnya yang tersisa seperti janjinya kemarin. Kinan mulai rindu, tapi untuk mengungkapkan rasa itu begitu sangat sulit untuknya.


"Ini udah hari ketiga kamu kabur dari rumah suamimu. Mama sama Papa udah ga bisa nampung kamu lagi, cepet pulang sana atau keluar dari rumah ini!" Ancam sang Mama sambil menarik-narik tangan Kinan.


"Aku ga mau! Kalo dia masih nganggap aku istrinya biar dia yang jemput aku pulang." Jawab Kinan yang masih tidak mau beranjak dari tempat tidurnya.


"Suami kamu udah ada di depan. Mau ngomong apa lagi sekarang?"


"Beneran?" Mata Kinan berbinar mendengar jawaban dari sang Mama membuat Mamanya mencibir.


Sebelumnya, Papa Kinan menelpon Langit untuk datang menjemput Kinan, dia mengancam Langit akan mengurus sidang perceraian mereka jika Langit tidak datang malam itu juga.


Mendengar ancaman dari sang Papa mertua membuat Langit langsung datang beranjak dari tempat tidurnya, bisa dilihat dia hanya mengenakan piyama ketika datang ke rumah orang tua Kinan.


Kinan datang ke ruang keluarga dengan diseret oleh Mamanya, karena dia masih gengsi untuk menemui suaminya.


Langit tersenyum melihat istrinya yang kala itu hanya mengenakan kaos miliknya yang terlihat sangat kebesaran ditubuh kecil Kinan.


Ternyata dia juga merindukan aku.


"Jadi sekarang mau kalian gimana?" Tanya sang Papa.


Tak ada jawaban dari keduanya, mereka hanya bisa menundukkan wajahnya.


"Mau diselesaikan sekarang apa di pengadilan?"


"PAPA!" Kinan begitu terkejut dengan pertanyaan Papanya. Dia tidak habis pikir Papanya Bakan berkata seperti itu.


"Langit!" 


"Iya Pah?" Jawabnya tanpa mengangkat kepalanya, dia tidak seperti seseorang yang berkuasa ketika berada di rumah mertuanya.


"Bawa istrimu pulang, atau jangan pernah lagi kamu datang ke rumah ini!"


💞💞💞


Langit pulang dengan senyum mengembang di wajahnya, dia berhasil membawa pulang istrinya yang kini sedang pura-pura tidur di kursi penumpang.


"Ckckck, apa kau terlalu merindukan aku hingga kau harus memakai bajuku setiap malam?" Goda Langit.


Tapi Kinan tak bergeming, dia masih pura-pura tertidur, sudah tidak ada kekuatan lagi untuk beradu mulut dengan suaminya.


"Sepertinya mulai sekarang kau harus menggunakan pelindung lutut agar otakmu tidak mudah cedera.!" Langit begitu senang menggoda istrinya yang kini memerah pipinya.


Dia sudah terlalu malu karena ketahuan merindukan Langit dan dia juga termakan omongan sendiri.


"Kita sudah sampai Sayangku. Kau mau aku menggendongmu naik?" 


Mendengar godaan suaminya, Kinan buru-buru membuka matanya. Dia terus berjalan angkuh mendahului suaminya.


Tapi ketika dia sampai di depan pintu dan menekan tombol kunci apartemennya Kinan dibuat kesulitan karena Langit telah mengganti nomor Pinnya.


"Aku tidak mau ada orang asing masuk ke rumahku, jadi aku sengaja mengubah nomor Pinnya." Langit terus-menerus menggoda istrinya.


Kinan berjalan lurus menuju kamar mereka, lagi-lagi dia dibuat kesal karena tidak mendapati sofa bed di kamar suaminya.


Kinan berkeliling kamar mencari tempat tidurnya, tapi dia tidak menemukannya karena Langit telah mengeluarkan sofa bed yang ada di kamar mereka.


"Aku memindahkannya ke gudang, karena aku berfikir kau tidak akan kembali, jadi aku menyingkirkannya dari kamar ini." Langit tersenyum mesum, sambil menepuk-nepuk bantal yang ada di ranjangnya. "Bukankan kau merindukan pelukanku? Sini aku peluk!" 


Walaupun Kinan masih sangat kesal tapi akhirnya Kinan pasrah untuk tidur seranjang dengan suaminya, karena pada kenyataannya dia pun begitu rindu wangi tubuh suaminya.