
Wajah cantik itu kembali berseri, sudah tidak ada lagi kesedihan di raut wajah cantiknya. Beberapa hari lalu dia terlihat sangat terpuruk, air mata tak henti mengalir di pipinya ketika menceritakan malam pertamanya yang direnggut paksa suaminya. Tapi kini dia sudah kembali seperti sedia kala, tak ada lagi kesedihan di hatinya.
Fadli terus memperhatikan wanita cantik yang kini tengah menyeruput jasmine tea favoritnya.
Matanya terlihat sedikit sembap, mungkin sisa tangisnya semalam, tapi sepertinya tangis itu lah yang kini telah menyembuhkan hatinya.
"Kamu baik-baik aja Kin?"
Kinan tersenyum ke arahnya. "Seperti yang lu liat sekarang."
Senyum indah itu menjawab semuanya. Bukannya dia tidak senang melihat senyum indahnya lagi, tapi yang dia inginkan adalah dialah yang membuat wanita yang begitu dicintainya itu tersenyum.
"Kamu bahagia banget." Fadli berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
Lagi-lagi dia tersenyum manis ke arah Fadli membuat hati Fadli semakin tersayat melihat senyumnya.
"Kamu cinta sama dia?" Fadli berusaha sebaik mungkin menyembunyikan perasaannya.
"Entahlah, gue belum bisa nyebut ini cinta. Gue belum bisa ngerasain getaran hati kayak yang orang-orang ceritain. Tapi yang jelas perasaan benci gue hilang gitu aja setelah dipeluk dia." Jawab Kinan apa adanya.
🌤🌤🌤
"Apa kau tidak bekerja hari ini?"
Tak ada jawaban dari Langit, membuat Kinan sedikit mengguncangkan tubuh besar yang sedang terlelap di ranjangnya.
"Kau sakit?" Kinan panik mendapati suhu badan suaminya yang lebih tinggi dari biasanya.
Langit mengeliat meluruskan badannya di ranjang. "Aku hanya terlalu lelah. Setelah tidur aku akan kembali baik." Jawab Langit dan menarik pinggang istrinya yang duduk di tepi tempat tidur membuatnya terjerembab jatuh ke sampingnya.
"Aku rindu, benar-benar rindu. Marilah kita seperti ini terus! Kita boleh bertengkar,tapi sebesar apapun pertengkaran kita ptetaplah kembali padaku!" Ucap Langit yang kini memandang wajah Kinan dari jarah yang begitu dekat, bahkan hembusan nafasnya yang hangat bisa dirasakan Kinan.
Kinan memandang lekat mata selalu menciptakan aura dingin itu. Kinan tak mengiyakan ucapan Langit, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri, apakah ini cinta ataukah hanya sekedar kebiasaan? Dia masih belum bisa membedakan. Bukankah cinta akan menciptakan getaran yang bergemuruh dihatinya? Bahkan getaran kecil pun tak terasa olehnya. Tapi masa bodoh lah, apapun rasa ini dia sangat menikmatinya.
📝📝📝
Di waktu yang sama David sedang disibukkan dengan berbagai laporan yang datang silih berganti.
Belum lagi dia juga harus mengurus izin cuti Kinan yang sudah bolos kerja selama suaminya pergi.
"Kenapa kalian benar-benar sangat merepotkan aku? Apa mereka pikir aku ini robot yang hanya butuh baterai baru?" David berbicara pada dirinya sendiri.
"Aku baru tahu jika kau suka mengomel."
"Bahkan aku jadi sering mengutuki mereka berdua." Jawabnya kesal. David menghembuskan nafas lega setelah menyelesaikan salah satu dokumen. Tapi dokumen yang berhasil dia selesaikan tidak sebanding dengan banyaknya dokumen yang masih mengantri untuk segera diselesaikan.
"Bahkan sekarang aku sedang bingung untuk apa uangku yang begitu banyak ini aku habiskan? Liburan? Tak mungkin, untuk meminta izin cuti sehari saja aku harus mengeluarkan sejuta alasan. Belanja barang-barang mewah? Bahkan barang-barang mewah yang Tuan hadiahkan untukku saja masih banyak yang belum aku buka dari kotaknya. Aku seperti istrinya yang hanya dia manfaatkan tenaganya, sedangkan dia memilih bercinta dengan istrinya yang cerewet itu."
Bara kembali tertawa mendengar ocehan David. Bara menyilangkan kakinya kedua tangannya dilipat kebelakang sambil merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Apa mereka sudah berbaikan sekarang?"
"Kita tidak akan setenang ini jika Kakakmu tidak bisa mendapatkan maaf dari Nona." David bergidik membayangkan dirinya akan jadi bulan-bulanan Tuannya yang sedang marah.
Bara kembali tertawa. "Dan mungkin sekarang mereka sedang sibuk mencetak ponakan untukku."
💞💞💞
Kinan mendorong dada bidang suaminya agar bisa lepas dari pelukannya yang kini sudah tertidur setelah Kinan memaksanya minum obat. Tapi Langit malah menarik tubuh Kinan untuk kembali ke pelukannya.
"Aku mau membuatkan bubur untukmu makan nanti." Kinan kembali mendorong tubuh suaminya.
Langit mengerutkan keningnya. "Apa kau sedang berusaha melenyapkan suamimu?" Langit kembali menggoda istrinya.
"Cih, aku sedang tidak berselera perang mulut denganmu!"
"Bagaimana jika kita berperang dengan versi yang lain?" Langit menyipitkan matanya sambil tersenyum mesum.
"Seperti apa?" Tanya Kinan yang tak mengerti maksud kode dari suaminya.
Langit berpindah posisi, kini tubuhnya berada di atas Kinan, dia menahan berat tubuhnya dengan bertumpu pada lututnya. "Mari kita ulangi malam pertama kita dengan siang kita yang erotis!"
Langit mencium bibir yang selalu mencacinya itu. Tak ada perlawanan dari Kinan, membuatnya semakin rakus menjelajahi setiap sudut mulut Kinan dengan lidahnya, Kinan pun menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan suaminya, bahkan desahan kecil berkali-kali berhasil keluar dari mulutnya setiap kali Langit mencium area sensitifnya. Hingga kemudian Kinan mendorong tubuh kekar itu dengan kasar.
Kenapa? Apakah Kinan masih belum siap untuk 'itu'? Apa dia trauma untuk mengulangi hal 'itu'? Ataukah Langit melakukan hal yang telah membuatnya Kinan tak suka? Banyak pertanyaan yang berputar di otaknya saat itu.
"Aku sedang datang bulan." Kinan tersenyum malu.
Langit mengacak-acak rambutnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. "Kau seperti sedang membunuhku dengan cara halus."
Langit melemparkan sebuah boneka beruang kecil yang ada di kasur Kinan.
"Pergi menjauh dariku!"