LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Siang Erotis



🍀Karena kata hanya perantara biarkan rasa yang berbicara🍀


Langit sedang memperhatikan istrinya yang tengah sibuk mengemas barang-barangnya ke dalam koper. 


"Apa ya yang kurang?" Kinan berbicara pada dirinya sendiri sambil memperhatikan isi koper yang akan dia bawa. Tanpa memperdulikan suaminya yang tengah menonton kerepotannya sejak tadi. 


"Suamimu!" Jawab Langit ketus. 


Kinan membalikkan tubuhnya dan tersenyum ke arah asal suara. "Jangan rindukan aku ya!" Dengan nada yang sengaja dibuat manja. 


"Bukankah kau juga tidak bisa tidur tanpa dipeluk olehku!"


"Aku sudah memasukkan bajumu untuk kupakai tidur di sana." Menunjukkan koper berwarna merah muda dengan dagunya. "Kau juga bisa melakukan hal yang sama denganku!" Tawa Kinan pecah membayangkan suaminya memakai bajunya. 


Beberapa hari ke depan Kinan dan para karyawan lainnya akan mengadakan gathering di puncak tanpa mengikut sertakan Langit dalam acara tersebut. Karena dia memang tidak pernah menghadiri acara yang dikhususkan untuk karyawan tersebut tiap tahunnya. 


"Haruskah aku memakai ini untuk berenang disana?" Menunjukkan bikini motif Zebra kepada suaminya.


"Hei, memang kau akan menggoda siapa di sana?" Teriak Langit yang ditinggalkan begitu saja di ruang ganti.


🎂🎂🎂


Pagi yang cerah, secerah wajah Kinan yang begitu senang menyambut pagi, senandungnya yang memekakkan telinga terus menggema di dalam apartmen mereka.


David tidak tahu mengapa istri Tuannya se bersemangat itu. 


"Apa Nona mendapatkan lotere semalam?" Tanya David yang terus menutup telinganya dengan jari telunjuknya. 


"Hari ini dia sedang ulang tahun. Dan sialnya aku lupa tidak membeli kado untuknya. Jadi sekarang aku sedang pura-pura lupa." Langit mengetikkan jawabannya di laptop. 


David mengangguk. 


Sepertinya aku lagi yang harus berburu tas untuknya. Batin David sambil memandang tak suka ke arah target yang terus bersenandung. 


Hari itu Kinan sengaja memakai setelan kerjanya yang paling mahal untuk dia kenakan dihari yang penting untuknya ini. 


Setelan kerja berwarna merah menyala dia pilih pagi itu membuat kesan energik dan powerfull di dirinya. Dia terlihat sempurna, terutama di mata Langit.


Kinan mengambil tas kerjanya  di sofa yang sedang Langit duduki. "Aku duluan!" Pamitnya dan mengecup singkat pipi suaminya. 


Langit meraih tangan istrinya hingga membuatnya duduk di sisinya. 


"Pamit yang benar!"


Kinan tidak mengerti maksud dari kata-kata suaminya. "Seperti apa?" 


Langit memajukan bibirnya. 


"Oh." Kinan mengecup bibir suaminya berulang-ulang. "Aku pamit kerja dulu!" Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir Langit. 


Kenapa pasangan ini selalu menodai kesucian mataku? Apa mereka tidak tahu jika aku juga seorang manusia?  


Kantor


Tak ada yang spesial di hari ulang tahunnya tahun ini, tak ada ucapan selamat dari rekan-rekan kerjanya karena mungkin mereka tidak ada yang tahu bahwa Nyonya Langit itu berulang tahun. Itu wajar, sebab dia adalah karyawan baru di kantor itu.


Seperti biasa Fadli adalah orang pertama yang mengucapkan selamat dan mendoakannya selalu mendapatkan kebahagiaan yang melimpah seperti doanya di tiap tahunnya. Orang kedua yang mengucapkan selamat adalah kedua orang tuanya, dilanjut kakak dan teman-temannya. 


Suaminya pun tidak mengucapkan selamat, apalagi memberinya hadiah, tapi Kinan tetap berbahagia hari ini karena dia akan membeli tas keluaran terbaru yang telah jadi incarannya. 


"Pagi semua! Ntar malem kita makan-makan yuk! Aku yang traktir." Sapa Kinan pada teman-temannya dengan senyum seindah mentari di pagi ini. 


Tapi sayangnya tak ada respon dari teman-temannya, mereka bahkan seperti mencari-cari alasan untuk tidak bisa hadir, dan ini sangat membuatnya kecewa. 


Mungkin mereka masih menganggap Kinan adalah perayu suami orang seperti anggapan mereka selama ini.


Siang itu langit tak seindah pagi, hujan deras mengguyur kota, bahkan petir terlihat jelas dari ujung langit. 


Ini jam makan siang, tapi Kinan tak bersemangat untuk pergi ke kantin, suaminya pun sedang ada tamu di ruangannya. Itu sebabnya Kinan  hanya duduk dan membaca ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya yang mereka kirim lewat akun instagram miliknya.


"Apa yang sedang dilakukan si Cerewet itu?" Tanya Langit ketika melihat David masuk ke ruangannya untuk membawakan tas dari merek terkenal yang baru diluncurkan ke pasaran.


David menghela nafas, karena lelah harus pergi mencari tas untuk istri Tuannya di waktu cuaca sedang tak bersahabat.


Bahkan aku sendiri selalu menolak permintaan ibuku untuk dibelikan tas. Dan sekarang aku sepertinya akan sering berbelanja tas. Batin David. 


"Dia tidak ikut makan siang dengan teman-temannya, sekarang dia hanya duduk saja sambil tersenyum memandang handphonenya. Bahkan sepertinya Nona tidak melihat kedatangan saya." Jawab David melaporkan apa yang dia lihat ketika melewati bilik Kinan. Kemudian kembali ke ruangannya.


"Kemarilah!" Pesan dari suaminya membuat dia senang karena dia tidak sendiri lagi. 


Kinan melihat air hujan yang menampar kaca jendela ruangan suaminya, kemudian mendekati kaca jendela besar itu untuk mengintip keluar.


"Hujannya deras sekali. Ckck, bagaimana aku ke toko itu?” Kinan berbicara pada dirinya sendiri sambil mengintip toko yang menjual tas incarannya yang ada di ujung seberang sana, walaupun tak terlihat karena terhalang derasnya air hujan yang menerpa kaca jendela. 


Langit menghampiri istrinya yang terlihat kesal memandang hujan. Dipeluknya Kinan dari belakang. "Apa semua yang sedang datang bulan selalu bertingkah aneh sepertimu? Sebentar senang sebentar marah!"


"Aku sedang memikirkan cara pergi ke toko yang ada di ujung sana! Memang siapa yang bilang padamu jika aku masih datang bulan?"


Langit begitu sumringah mendengar ucapan Kinan yang seperti tidak sadar telah memancing hasrat suaminya. Dia membalikkan tubuh ramping istrinya, dan menciumnya penuh nafsu.


"Kau kenapa sih?"


"Mari kita lanjutkan siang erotis kita yang tertunda kemarin!" Bisik Langit sambil melemparkan blazer Kinan yang telah berhasil dia buka.


Kinan mendorong tubuh suaminya, dia tidak percaya jika Langit meminta hal itu di kantor. "Ini kantor Bodoh! Aku tak mau. Kau mau mengajakku bermain disana?" Kinan menunjuk sofa panjang itu dengan dagunya.


"Akun tidak mau!" Dia menjauhkan tubuh suaminya. 


Langit mengambil remote pintunya tapi mengarahkannya pada dinding bercat putih yang berada dibalik singgasananya. Seketika dinding itu pun bergeser dan menampakkan sebuah ruangan tersembunyi.


"Waaaah, kau memang benar-benar orang kaya sejati." Kinan terkagum-kagum dengan apa yang baru dia lihat, dan seketika dia pun berlari ke ruang rahasia Langit. 


Dia itu sedang mengagumi ruanganku atau sedang menggodaku untuk menghampirinya? 


Kinan melihat sebuah ruangan yang cukup besar dengan dua rak berisi buku-buku dan dokumen-dokumen yang pastinya sangat penting. Juga sebuah kasur besar dengan badan cover berwarna abu-abu senada dengan warna dinding ruangan itu yang memang didesain maskulin. 


Langit yang sudah tak sabar segera menggendong tubuh istrinya. "Ada banyak waktu untuk melihat barang-barang di kamar ini, tapi waktu kita cuma sedikit. Waktu makan siang akan usai sebentar lagi!"


"Tapi,," Langit segera menghentikan ucapan Kinan dengan bibirnya.


Tubuh Kinan gemetaran, jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya.


"Aku takut." Ucap Kinan ketika Langit berusaha membuka kemejanya. 


"Aku janji ini akan jadi siang erotis kita yang tak akan kau lupakan!" Ucap Langit yang kini sudah berada di atas tubuhnya.


Sensasi aneh merangsang saraf Kinan ketika Langit mencium lembut lehernya, sensasi geli yang membuatnya terhipnotis kenikmatan, tubuhnya menggeliat ketika Langit mulai menurunkan ciumannya lebih bawah lagi dan itu membuat Langit tidak tahan untuk segera menerkam istri yang terus menggeliat-geliat di bawah tubuhnya, akhirnya siang erotis itu pun terjadi diiringi derasnya hujan dan kilatan petir.