
Melihat noda darah di sepreinya membuat Langit benar-benar menyesali perbuatannya, dia tidak menyangka bahwa istrinya masih perawan. Karena setahunya banyak pria yang telah mengencaninya, bahkan ketika kuliah di Amerika dia juga beberapa kali bergonta-ganti kekasih. Sekarang dia merasa dirinya seperti baj*ngan yang telah merenggut kesucian wanita yang dicintainya.
Mata itu terus menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas di ranjang mereka, sepanjang malam Kinan terus menangis hingga bmembuat matanya bengkak.
Langit berkali-kali meminta maaf dia sangat menyesali perbuatannya, tapi Kinan tetap tidak bisa menerima perlakuan yang dia terima. Dia terus menangis hingga akhirnya lelah dan terlelap tidur.
🌥🌥
"Siapa yang bertugas mengikuti istriku semalam?" Tanya Langit pada David lewat sambungan telepon.
Mendengar suara Langit yang tidak biasa membuat David curiga ada yang tidak beres dengan Tuannya.
"Alex Tuan!"
"Kirim semua laporannya padaku secepatnya!" Sambungan telepon diputus.
Langit kembali ke kamar mereka, dilihatnya Kinan masih tertidur yang hanya ditutupi oleh selimut.
🔥Flashback On🔥
Seperti biasa Langit sedang duduk di depan TV sambil menunggu kedatangan Kinan, dia berleha-leha di depan TV dengan cemilan yang biasa dimakan istrinya ketika menonton TV.
Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Membuat Langit cemas karena Kinan hanya meminta izin untuk makan malam bersama teman-temannya. Dia pun mengambil handphonenya untuk menanyakan keberadaan Kinan sekarang, tapi sebelum dia menekan tombol hijau, sebuah email masuk ke handphonenya.
Langit kira itu adalah email dari David karena tidak biasanya ada email masuk pada malam hari.
Langit begitu terkejut melihat Kinan sedang berpelukan bersama pria asing yang belum pernah Langit lihat sebelumnya.
"Bukankah dia adalah istrimu?" Sebuah pesan dari salah satu pemegang saham terbesar di perusahaannya yang selalu ingin merebut posisi Langit mengirim beberapa foto Kinan yang terlihat mesra merangkul pria yang tidak nampak wajahnya.
Melihat foto tersebut membuat Langit tersulut emosi. Berkali-kali dia berusaha menelpon Kinan, tapi nomornya tidak aktif.
Rasa cemburu mengalahkan akal sehatnya malam itu, dan pikiran-pikiran negatif tentang Kinan pun mulai mendominasi otaknya. Amarah telah mengalahkan logikanya.
🔥 Flashback Off🔥
David begitu terkejut melihat kondisi apartemen Tuannya yang porak-poranda, Langit terlihat begitu terpuruk di sudut sofa, sebotol wine menjadi sebuah jawaban bahwa Tuannya sedang dalam kondisi yang tidak baik.
"Saya membawa Alex Tuan."
Seorang ajudan yang tinggi besar sudah berada selangkah di belakang David.
"Ceritakan semua kegiatan istriku semalam!"
Sang ajudan pun mulai menceritakan semua kegiatan Kinan dari restoran hingga ke klub malam, dia pun membawa beberapa bukti foto Kinan disana yang dirasanya tak ada hal penting yang harus dilaporkan.
"Siapa pria itu?" Langit memperlihatkan beberapa foto di handphonenya, terlihat Kinan yang sedang memeluk seorang pria dan berdiri di depan sebuah kamar hotel.
"Bukankah itu Kakaknya Nona?" Jawab David.
Langit memijat pelipisnya sambil mengibaskan tangannya menyuruh sangat ajudan pergi.
"Tuan malam ini saya sudah membuat jadwal Anda ke Milan. "
Mendengar ucapan David membuat perasaannya semakin berkecamuk, dia begitu marah pada dirinya sendiri. Bahkan dia berharap ada yang bisa memukulnya saat ini.
Langit tidak menjawab, dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Apa Anda memaksa Nona melakukan 'itu'?" David sangat berhati-hati bertanya masalah pribadi Tuannya.
Langit menghembuskan nafas kasar, dia merebahkan tubuhnya di sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit tapi pikirannya entah kemana, terlihat raut wajah kesal dan menyesal.
"Aku bodoh! Aku merindukan pukulan Papi saat ini. Sebuah pukulan yang bisa membuat pandangan mataku kabur dalam sekejap."
David tak bisa berkata- kata, dia tidak menyangka Langit akan bertindak seceroboh itu. Dia tahu saat ini kondisinya sedang dalam keadaan tak baik, tapi jadwalnya ke Milan tidak bisa ditunda. Perusahaan akan rugi besar karena harus membayar penalti jika terjadi pembatalan kontrak.
Disaat itu Kinan keluar dari kamar mereka dengan mata sembab.
"Kau mau kemana?" Langit meraih tangan istrinya.
Kinan tidak menjawab, ditepisnya tangan pria yang telah merenggut kesuciannya.
"Izinkan aku mengantarkanmu pergi!" Langit kembali menarik tangannya hingga mau tak mau Kinan harus menatapnya, bibirnya kembali bergetar menahan, dia berusaha menahan air matanya, tapi usahanya sia-sia.
"Biar saya yang mengantar Nona!" David berusaha menjadi penengah diantara mereka.
"Iya, kau boleh pergi jika David yang mengantarkanmu."
Langit tak ingin terjadi hal yang mengerikan terhadap istrinya.
🍃🍃🍃
Ini hari kesepuluh Langit berada di Milan, proyeknya saat ini memang cukup memakan waktu. Ini proyek pertama bagi perusahaannya bekerja sama di bidang fashion. Hingga Langit harus banyak mempelajari sistem kerja proyeknya tersebut.
Setiap ada kesempatan otaknya secara otomatis langsung bekerja untuk mengingat wajah istrinya. Semua hal tentang Kinan selalu berputar-putar di kepalanya.
Perpisahan kali ini begitu menyiksa bagi Langit, karena perpisahan kali diakhiri dengan sebuah kesalahan besar yang Langit lakukan.
Sebelum berangkat ke Milan, Langit menitipkan Kinan kepada kedua orang tuanya. Dan seperti biasa dia juga mengirim seorang ajudan tanpa sepengetahuan Kinan.
Selama Langit di Milan selama itu juga dia tidak berangkat kerja ataupun keluar rumah, Kinan seperti mengurung diri di rumah karena tak ada laporan Kinan keluar dari rumah selama ini.
Tapi tidak untuk hari ini, ajudannya mengirimkan laporan bahwa Kinan sedang berada di dalam kafe bersama Fadli dengan mengirim beberapa bukti foto.
Wanita cantik itu terlihat menangis di hadapan Fadli. Dan itu kembali membuat hati Langit terluka.