
Suara alarm di handphone Kinan mulai kembali menggema mengisi kamar tidur apartemen mereka. Perlahan Kinan melepaskan pelukan suaminya yang memang biasa bangun satu jam setelahnya.
"Kau mau kemana?” Ternyata Langit terbangun oleh pergerakan istrinya.
"Siap-siap kerja!" Kinan begitu bersemangat. "Aku seperti hidup kembali setelah lama terkurung di rumah."
"Memang siapa yang menyuruhmu bolos kerja selama aku pergi?" Langit kembali mempererat pelukannya tanpa berusaha membuka mata.
Kinan tidak menjawab hanya wajahnya saja yang berubah raut.
"Kau sudah punya alasan yang tepat jika teman-temanmu bertanya?"
"Aku akan diam saja, biarkan mereka yang berspekulasi sendiri, toh kenyataannya imej aku sudah buruk di mata mereka. Paling mereka akan berfikir aku merayumu untuk ikut denganmu."
Langit tertawa walaupun matanya masih enggan terbuka.
🖥🖱🖨
Tepat seperti dugaan Kinan, mereka semua menyangka bahwa Kinan ikut perjalanan dinas bersama Langit. Mereka masuk kerja di hari yang sama, jadi siapa yang tidak curiga?
Pasti Kinan memaksa Presdir mereka untuk mengajaknya, atau bahkan dia sengaja menyusul Langit. Pikiran negatif pun terus berseliweran di kepala mereka.
"Terserah apa kata kalian, bahkan aku sendiri tidak mendapatkan oleh-oleh apapun dari orang itu!" Jawab Kinan lantang ketika Langit melewati mereka menuju lift.
Langit pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan istrinya, seperti biasa dia terus berjalan lurus tanpa melirik bawahannya yang menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat mereka.
"Kenapa kau tidak membelikan oleh-oleh untuknya?" Langit kesal mendengar istrinya sengaja menyudutkan dirinya.
David menghembuskan nafas panjang. "Bukankah Nona adalah istri Anda!” Jawab David dan berjalan melewati Tuannya dengan angkuh. Membuat Langit semakin geram.
🍛🍲🥤
Hari ini Kinan dan teman-temannya memilih makan siang di kantin karena siang itu Langit sedang ada pertemuan dengan salah satu kliennya di luar.
Rencana perusahaan yang akan bekerjasama dengan para desainer luar sudah tercium media. Sebab itu dia jadi sering buruan para pencari berita.
"Liat Pak Langit, makin seksi aja ya! Bikin gue ngiler liatnya." Komen salah seorang pegawai wanita yang duduk membelakangi Kinan ketika melihat Langit sedang menjadi narasumber di TV.
"Liat senyumnya! Ya Tuhan, kirimkan dia untukku!" Komen salah seorang pegawai wanita lainnya ketika melihat Langit sedikit menerbitkan senyumnya kepada Sang pembawa acara.
"Gue mau kerja seumur hidup disini asal bisa liat dia setiap hari."
"Bikin awet muda."
Komentar-komentar mereka membuat Kinan kesal mendengarnya. Hingga dia sengaja memukul-mukul sendok dan garpunya ke piring.
"Mbak Kinan kenapa? Kok kesel gitu mukanya?" Tanya Siska melihat tingkah aneh Kinan yang kesal tiba-tiba.
"Mbak liat Pak Langit, bukannya cincin yang dia pakai itu cincin kawin ya?" Tanya Febi ketika melihat Langit menutup mulutnya ketika batuk saat wawancara berlangsung.
Hal itu sontak membuat riuh kantin siang itu melihat Langit mengenakan cincin kawinnya.
"Jadi bener Pak Langit udah married? Kok gue jadi pengen bunuh diri ya!"
"Aku patah hati."
"Aku pengen tahu siapa perempuan yang udah ngerampas dia dari kita!"
"Gue yakin dia bukan cewek biasa."
"Pasti cantik."
"Kalo ga cantik sih ga bakal Pak Langit mau."
Kinan tersenyum bahagia mendengar pujian orang-orang itu yang ditujukan untuknya secara tidak langsung.
"Mbak kenapa?" Tanya Febi lagi yang bingung melihat perubahan sikap Kinan.
"Aku lagi seneng aja!" Jawab Kinan sambil terus tersenyum, membuat teman-temannya merinding melihat perubahan sikap yang drastis itu.
"Tapi mungkin aja perempuan itu pake jampi-jampi buat dapetin hati Bosku." Lanjut salah seorang karyawan yang lain.
"Bisa jadi, semua perempuan bakal ngelakuin segala cara untuk dapetin hatinya. Siapa perempuan yang ga mau tidur sama dia?"
"Aku bahkan rela buka baju duluan!"
"Bukannya lelaki itu boleh kan punya istri, dua, tiga atau empat?" Sambung yang lain.
"Pengen diliatin dia!"
Mendengar ucapan-ucapan yang dia dengar dari para penggemar garis keras Langit membuat Kinan tanpa sadar menggebrak mejanya, hal itu berhasil mengalihkan perhatian mereka untuk melihat ke arah Kinan. Kekesalannya sudah tak terbendung, dia pun pergi meninggalkan mereka tanpa permisi.
"Mbak Kinan kenapa sih? Aku jadi takut!"
"Mungkin dia punya kepribadian ganda, tadi aku liat dia kesel banget, terus tiba-tiba senyum-senyum sendiri terus marah ga jelas gitu."
Ketika Kinan sedang menunggu lift tiba-tiba tangannya ditarik oleh Langit, dan membawanya masuk ke lift pribadinya.
"Keluar kau!" Ucap Langit sambil mendorong tubuh David.
Kenapa aku seperti sedang diselingkuhi secara langsung. Memang apa yang akan mereka lakukan di dalam lift hingga menyuruhku keluar? David bergidik.
Komentar-komentar para fans garis keras Langit masih terngiang-ngiang di telinganya, hingga dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya dari Langit.
"Kau kenapa?"
Kinan memalingkan wajahnya ke arah lain agar mata mereka tak saling bertemu. "Aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu!" Jawab Kinan ketus.
Mengapa perempuan yang sedang datang bulan selalu bertingkah semaunya? Bukankah tadi pagi dia masih tersenyum manis kepadaku?
Langit terus menggodanya, dia mengikuti terus arah wajah Kinan berpaling.
Kinan melotot. "Hentikan aku sedang kesal sekarang ini." Pintu lift terbuka, Kinan segera berjalan keluar mendahului Langit menuju biliknya.
Lorong masih sepi, karena para karyawan masih menikmati jam makan siang mereka. Tangan Langit segera meraih pergelangan tangan Kinan, dan dibawanya Kinan ke ruangannya.
Langit mendudukkan Kinan dengan paksa, karena sepertinya Kinan masih berusaha menjaga jarak dengannya.
"Ada apa? Ceritakan kepadaku!" Langit menyelipkan rambut Kinan yang terurai.
Wajah Kinan yang terlihat masih kesal membuatnya terlihat menggemaskan di mata Langit.
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Kinan. Membuat Kinan membelalakan matanya.
Cup.
Kecupan kedua dia berikan kepada istrinya, dengan waktu yang sedikit lebih lama. "Katakan padaku siapa yang membuatmu kesal?"
Langit merebahkan tubuh di sofa dia takut tak bisa menahan hasratnya bila terus menggoda istrinya.
"Kamu!"
Langit menautkan alisnya. "Aku? Memang apa salahku?" Langit bingung.
"Para fans garis keras mu menuduhku menggunakan jampi-jampi untuk bisa menjadikanmu suamiku. Bahkan mereka bersedia menyerahkan dirinya untukmu dan menjadi istri kedua, ketiga ataupun keempat. Konyol." Kinan masih tidak sadar sedang mengungkapkan rasa cemburunya.
Langit tertawa terbahak-bahak. Dia begitu senang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut istrinya.
Mata indah itu kembali menghujaninya dengan tatapan tajam, seolah ingin membunuh Langit yang terlihat begitu bahagia dikagumi banyak wanita.
"Cih begitu senangnya kah kau dikagumi banyak wanita?" Cibirnya.
Langit kembali tertawa, dia bangun dan menarik tangan Kinan agar ikut berdiri. Dan menggiring Kinan ke pintu.
Cup,,, cup,,, cup.
Langit mengecup bibir mungil itu berkali-kali. "Pergi dari ruanganku, aku tak tahan bila terlalu lama dekat denganmu!" Langit mendorong tubuh istrinya keluar.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Kinan tak terima.
Tapi Langit terus mendorong tubuh ramping itu. "Keluar dari ruanganku!" Bentaknya dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya.
Disaat bersamaan teman-teman Kinan melihat pemandangan yang membuat mereka jantungan, hingga menutup mulut mereka bersama-sama.
Kinan didorong paksa dari ruangan atasannya. Hal itu berhasil membuat spekulasi baru tentang seorang Kinan yang kini adalah sekretaris penggoda suami orang.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Kinan terkejut sambil melambai-lambaikan tangan melihat teman-teman memandangnya dengan tatapan merendahkan.
Mereka kembali ke bilik mereka masing-masing dan meneruskan obrolan mereka di grup yang tak mengikut sertakan Kinan di dalamnya.