
Kinan bangun lebih awal dari hari-hari biasanya, hari itu dia masih memerankan peran sebagai istri idaman, satu jam kemudian Langit bangun dan tidak melihat Kinan di kamarnya. Dilihatnya sang istri sedang mengepak pakaiannya di kamar ganti.
"Kau sedang apa?" Suara Langit berhasil membuat Kinan terkejut.
"Ngepak pakaian kamu. Aku juga udah nyiapin beberapa jas buat kamu bawa ke sana. Liat sini apa masih ada yang kurang?" Tanya Kinan, sebelum menutup koper suaminya.
Langit tak menyangka istrinya akan melakukan hal itu, dia benar-benar teliti mempersiapkan segala sesuatunya, dari mulai perlengkapan mandi, pakaian dalam, sapu tanga, kaos kaki, hingga berbagai perawatan wajah suaminya sudah dia siapkan dengan sangat baik.
Langit menghampiri istrinya yang masih mengenakan kostum tidurnya kemudian memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kamu ngapain sih? Berat tau!"
"Lagi jadi suami manja."
"Jadi peran kita masih berlanjut nih ceritanya?"
Langit tak menjawab, dia lebih memilih untuk menikmati wangi tubuh Kinan yang pasti akan dia rindukan selama lima hari kedepan.
David tiba di apartemen mereka sepuluh menit sebelum Kinan berangkat kerja. Dia terlihat terkejut melihat koper Tuannya yang sudah ada di ruang tengah, karena biasanya dialah yang menyiapkan segala keperluan Langit jika akan berangkat dinas keluar kota. Dia juga yakin Kinan lah yang telah menyiapkan keperluan Tuannya, tak mungkin Langit, orang itu bahkan lebih memilih membeli baju baru dari pada harus repot-repot menyiapkan perlengkapannya sendiri.
"Aku berangkat dulu ya! Semoga perjalananmu menyenangkan!" Ucap Kinan pada suaminya.
"Hei Bodoh! Bukankah kau masih berperan menjadi istri manja."
Kinan menghembuskan nafas dengan kasar dan berbalik menghampiri suaminya yang sudah berdiri dan melebarkan tangannya.
"Jangan lupa telpon aku Sayang, aku pasti akan sangat merindukanmu." Kinan berbicara dengan manja sambil memeluk tubuh jangkung suaminya.
Sedangkan Langit begitu senang melihat kelakuan istrinya yang dia rasa sangat menggemaskan.
Cih aku seperti sedang menonton drama-drama kacangan. Kalian telah menodai kesucian mataku! David terlihat jijik melihat mereka berdua.
"Sudah, aku harus berangkat kerja dulu!" Kinan melepaskan pelukan mereka.
"Aku akan sangat merindukanmu Sayang!"
Langit menangkup wajah istrinya dan menciumnya beberapa detik.
"Hei lama-lama kau benar-benar jadi suami mesum ya! Aku jadi ngeri membayangkannya." Oceh Kinan yang sedang didorong tubuhnya oleh Langit menuju pintu.
"Selamat bekerja istriku Sayang!" Ucapnya sambil menutup pintu apartemen miliknya.
Dilihatnya wajah David yang terlihat sangat jijik saat menatapnya.
"Kenapa kau menunjukkan raut wajah seperti itu?" Bentak Langit.
Kenapa Tuanku yang cerdas jadi terlihat bodoh ketika dia jatuh cinta?
Tapi tak sepatah katapun yang berani dia keluarkan dari mulutnya.
*
Ini hari ketiga Kinan pulang ke rumah orangtuanya, malam ini dia dan teman-teman yang lainnya berkumpul di rumah Kinan untuk menghabiskan malam akhir pekan mereka dengan mengobrol dan begadang sepanjang malam.
Ada sekitar lima orang sahabat Kinan termasuk Fadli, mereka sedang bersiap untuk mengadakan pesta barbeque untuk menemani malam mereka juga, gitar pun sudah menemani mereka untuk dipetik mengiringi alunan lagu-lagu yang biasa mereka lantunkan.
Entah kenapa dan bagaimana Kinan malam itu mengenakan kaus Langit yang biasa suaminya pakai untuk tidur.
"Lu pake kaos sapa Kin? Kayaknya tuh kaos cowok deh." Tanya Tania salah satu sahabat Kinan.
Kinan yang baru menyadari jika dia sedang memakai baju suaminya dibuat gugup.
Fadli yang mendengar ucapan Tania langsung mengalihkan pandangannya yang sedang memanggang daging ke arah Kinan. Dia yakin jika kaos yang dipakai Kinan adalah milik Langit. Entah mengapa ada rasa sakit di hatinya ketika dia melihat Kinan memakai pakaian suaminya.
"Kaos gue lah. Lu ga liat mereknya sama kayak yang biasa gue pake!" Elaknya.
Siska mengendus-endus Kinan, karena dia mencium wangi parfum pria di kaus yang Kinan pakai.
"Palingan ketempelan sama kalian, jadi baunya jadi gini." Elaknya. "Yuk kita ambil foto dulu. Mau gue posting." Kinan mengalihkan perhatian teman-temannya.
*
"Kak, lihatlah baju yang dipakai Kakak Ipar! bukankah itu milikmu?" Bara yang sedang iseng membuka akun media sosialnya tak sengaja melihat postingan baru Kakak Iparnya yang terlihat sedang berpesta barbeque.
"Jam berapa sekarang?"
Langit terlihat kesal melihat Kinan berfoto dengan teman-temanya tapi bahunya dipeluk oleh Fadli.
"Satu, dia baru saja mempostingnya." Bara sengaja memanas-manasi Kakaknya, dia sudah tahu jika Kakaknya sudah mulai jatuh cinta pada istrinya.
Langit langsung melakukan panggilan telepon kepada istrinya. Tapi Kinan tidak menjawab panggilan darinya.
"Mungkin dia tidak mendengar telepon darimu Kak. Atau mungkin juga tidak mau mengangkatnya karena takut ketahuan oleh teman-temannya."
Sebuah pesan masuk ke handphone Langit
"Ada apa? Aku sedang bersama teman-temanku, sedang berpesta barbeque." Isi pesan Kinan
"Angkat telepon dariku Bodoh!"
Langit pun kembali melakukan panggilan telepon kepada istrinya.
*
"Gue mau angkat telepon dulu ya bentar." Kinan pamit kepada teman-temannya.
Tanpa dia sadari Fadli mengikutinya untuk menguping pembicaraan mereka.
"Apa?" Bentak Kinan.
"Kenapa kau terdengar sangat kesal? Apa aku mengganggu acaramu bermesraan dengan pria lain?"
"Cih, sepertinya pertanyaan itu harusnya keluar dari mulutku. Kenapa kau tidak pernah mengabariku? Apa kau sesibuk itu hingga lupa pada gulingmu ini?"
Terdengar suara Langit yang terbahak-bahak diujung telepon membuat Kinan tanpa sadar tersenyum mendengar renyahnya tawa suaminya.
"Ya, aku banyak dikelilingi oleh para wanita beberapa hari ini. Jadi maafkan aku jika belum sempat menelponmu!"
"Cih, aku tidak yakin ada perempuan yang tertarik dengan pria kasar macam dirimu!" Kinan menutup telponnya dengan caci maki terhadap suaminya.
Fadli semakin kecewa melihat Kinan yang terlihat cemburu kepada Langit.
*
"Apa dia seperti itu setiap harinya?" Tanya Bara pada David ketika menyaksikan Kakaknya seperti dua orang yang berbeda.
Mulutnya sangat kasar saat berbicara dengan Kinan, sedangkan senyumnya tak pernah luntur dari bibirnya.
"Kadang bisa lebih parah dari itu." Jawab David dengan tatapan seperti menyindir Tuannya.
Mereka berdua pun bergidik melihat pria yang biasa terlihat dingin itu sedang tersenyum-senyum sendiri membaca dokumen yang akan dibunuhnya tanda tangan.
"Apa isi dokumen itu sangat lucu hingga kau terus tertawa?" Ejek Bara.
"Tutup mulutmu! Aku tahu kau sudah tahu apa yang sedang aku rasakan! Aku bukan orang bodoh seperti yang kalian pikir!" Jawab Langit.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Elak Bara, pura-pura tidak mengerti.
"Aku tahu kalian selama ini sedang membuatku tergila-gila pada gadis gila itu. Ya kan!"
Bara dan David saling berpandangan. Mereka sekarang mengakui bahwa manusia dingin di hadapannya benar-benar orang yang sangat cerdas.