
Sejak tragedi mematikan beberapa hari lalu, Langit sudah tidak pernah lagi menyuruh Kinan memasak. Bahkan sekarang dia seperti fobia setiap melewati dapur, dia jadi selalu teringat tragedi mencekam yang mereka lakukan pagi itu.
Ini adalah hari pertama Kinan bekerja setelah seminggu cuti. Dia mengambil cuti dengan alasan berlibur ke luar negeri, oleh sebab itu dia sengaja memesan pernak-pernik dari negara Jepang untuk dia bagikan kepada rekan-rekan kerjanya.
"Langit!"
"Hmmm?"
"Anterin aku ke rumah orang tuaku!" Pinta Kinan pada suaminya yang pagi itu terlihat tampan dengan setelan kerjanya.
"Kau pikir aku supirmu?" Jawabnya asal.
"Aku harus kerja, tapi aku tidak membawa pakaian kerjaku, mobil aku juga masih di rumah Mama." Rengek Kinan.
"Apa peduliku?" Lagi-lagi Langit tidak mempedulikan rengekan istrinya.
"Kau itu Presdir terbodoh yang aku kenal." Ucap Kinan menantang perkelahian dengan suaminya.
"Apa maksudmu?" Bentak Langit.
"Kau seharusnya menyediakan baju-baju cantik, tas branded, sepatu mahal dan perhiasan-perhiasan indah untukku! Apa kau tidak pernah membaca novel-novel romantis yang tokoh utamanya adalah seorang Presdir?" Sindir Kinan.
"Dan kemudian mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya. Apa itu yang kau harapkan? Kalau itu yang kau mau, menikahlah dengan salah satu Presdir yang kau kenal itu!" Balas Langit.
"Cih, aku lupa bahwa posisimu di hidupku adalah seorang Rentenir Mesum!" Kinan keluar dari walk in closet, meninggalkan suaminya yang sedang memilih jam tangannya.
"Mau kemana kau bodoh?" Tanya Langit yang ikut menyusul Kinan.
"Pulang!" Jawabnya.
"Bawa tas dan dompet mu jangan lupa!" Ucap Langit ketika melihat Kinan meninggalkan dompetnya di kamar.
"Nih untuk uang jajanmu hari ini!" Langit mengeluarkan selembar uang kertas lima puluh ribu kepada Kinan. Dan meninggalkannya pergi, dia tak mempedulikan Kinan yang mencaci makinya dengan kata-kata kasar.
*
Sulit sekali pagi itu Kinan mendapatkan taxi, setiap yang lewat pasti sudah terisi penumpang. Tak lama Kinan melihat mobil mewah Langit keluar dari apartemennya. Hari itu dia membawa mobilnya sendiri tanpa disupiri David.
"Apa aku harus memintanya mengantarkan aku sekali lagi? Ah tidak, tidak, pasti dia akan mengajakku perang lagi. Aku sudah lelah." Kinan berbicara pada dirinya sendiri.
Langit berhenti di depan Kinan dan membuka kap mobil mewahnya.
"Selamat pagi cantik, selamat bekerja! Semangat!" Ucap Langit, sengaja mengejek istrinya. Kemudian melajukan mobilnya membelah jalan raya yang mulai terlihat ramai kendaraan.
"Dasar Rentenir sialan!" Teriak Kinan yang kesal dengan ulah suaminya.
Pada akhirnya, Kinan memilih untuk membeli setelan kantornya di butik dekat kantornya, karena jika dia pulang ke rumah orang tuanya dulu, akan dipastikan dia akan telah datang ke kantor.
Karena tak seorang pun dari mereka yang mengetahui berita pernikahan Kinan, mereka hanya meminta oleh-oleh kepada kepala cabang cantik itu. Dan untungnya dia sudah siap dengan oleh-oleh yang dia pesan dari temannya yang tinggal di Jepang.
Setelah seminggu cuti, banyak pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya.
Jika saja aku benar-benar cuti berlibur, mungkin aku akan sangat semangat mengerjakannya.
Tak terasa waktu jam makan siang pun tiba, Kinan beranjak dari kursinya, dia berniat makan siang dengan para rekan kerjanya, tapi disaat yang bersamaan sebuah pesan dari Fadli masuk ke Handphonenya.
"Kin aku tunggu kamu di kafe seberang kantor kamu."
"Ok, gue cabut ke situ sekarang." Jawab Kinan santai.
**
"Muka lu kenapa Fad, lusuh amat? Lu kayak orang abis patah hati." Ucap Kinan ketika melihat Fadli yang terlihat sedikit berantakan dan tak bersemangat. Dia tidak tahu bahwa dia lah penyebab Fadli seperti itu.
Fadli hanya tersenyum mendengar perkataan Kinan, ingin sekali dia memeluk wanita cantik di hadapannya sekarang ini. Dia sudah sangat rindu kepada Kinan, rindu cara dia berbicara, cara dia tersenyum, semua hal tentang Kinan membuatnya semakin rindu.
"Gimana pernikahanmu?" Ucap Fadli lirih.
"Hahaha, pernikahan? Itu lebih mirip pertempuran dibandingkan sebuah pernikahan." Jawab Kinan sambil membayangkan tragedi pertempurannya di dapur beberapa hari lalu.
"Apa dia memperlakukanmu dengan kasar?" Fadli begitu khawatir mendengar jawaban Kinan.
"Lu kayak gak kenal gue Fad, mana bisa gue ngebiarin diri gue ditindas orang lain?" Ucap Kinan dengan seutas senyum yang tidak dapat diartikan maknanya oleh Fadli.
"Gue akan bikin dia kesal setiap hari, jadi dia bakalan ngelepasin gue secepatnya bukan begitu?" Lanjutnya, dia pun menceritakan misi yang akan dia lakukan untuk membuat Langit kesal kepadanya selama pernikahan ini.
Tapi Fadli memiliki firasat lain, dia takut wanita yang dicintainya itu bisa jatuh cinta kepada Langit, ataupun sebaliknya. Atau lebih parahnya lagi mereka akan saling mencintai.
Wanita mana yang tidak tergoda oleh seorang Langit, dia seperti seorang pria yang dapat menggenggam dunia, ketampanan, dan kemapanan ada di genggamannya. Juga laki-laki mana yang tidak akan terpesona melihat kecantikan Kinan, kecerdasan yang dimilikinya bahkan sangat jelas terpancar dari aura wajahnya, dan juga dibalik sifat angkuh dan sombongnya, Kinan memiliki jiwa penyayang, dan selama ini pun banyak laki-laki yang tertarik kepada Kinan dan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya.
Fadli tersenyum getir, membayangkan mereka akan menjadi pasangan suami istri seutuhnya. Di masih belum merelakan jika Kinan akan menjadi istri pria lain, dia masih mendambakan Kinan.
***
Hari yang begitu melelahkan, itu yang dirasakan oleh sepasang suami istri yang baru memulai aktivitas kerjanya setelah cuti beberapa hari lalu, bahkan Kinan harus pulang sangat terlambat dari biasanya.
Kinan berjalan keluar kantornya yang sudah sangat sepi, bagaimana tidak sekarang sudah pukul sembilan malam, dan dia baru keluar dari kantor, memesan taxi online untuk mengantarkannya pulang.
Kinan pulang dengan kondisi kelelahan, ingin sekali dia segera merebahkan tubuhnya. Dilihatnya Langit sedang bersila memangku laptopnya.
"Selamat malam Nona. Sepertinya harimu sangat menyenangkan." Ucap Langit ketika melihat Kinan melewatinya. Dia terkejut melihat penampilan Kinan yang terlihat berbeda dengan setelan kerjanya.
Kinan terlihat sangat cantik, inner beauty yang dipancarkannya sangat berbeda dari biasanya.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" Tanya Kinan bingung saat Langit menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
"Tak kusangka setelan kerjamu bisa menutupi kebodohanmu. Kau terlihat seperti wanita cerdas dan berbakat di balik kostum mu itu. Kau tidak seperti wanita yang telah memporak porandakan dapurku." Ucap Langit dengan nada menyindir.
Kinan sudah sangat lelah untuk sekedar menimpali perkataan suaminya, dia berjalan begitu saja melewati Langit. Dia sudah sangat merindukan kasur.
****
Langit kembali terkejut ketika masuk ke kamarnya dan melihat istrinya sudah terlelap dengan setelan kerja yang masih menempel di tubuhnya, dan berita buruknya dia sudah tertidur pulas di atas singgasana kebanggaannya.
"Hei Bodoh! Bangun! Apa yang kau lakukan di kasurku?" Langit terlihat sangat geram.
Tak ada respon apapun dari Kinan, dia mengguncang-guncang tubuh Kinan agar dia membuka matanya.
"Bangun Bodoh!"
"Aku lelah, bahkan untuk mengangkat tanganku saja aku tak sanggup. Izinkan aku tidur di ranjang malam ini. Aku sangat membutuhkan tidur yang berkualitas untuk merefresh semangatku lagi." Ucap Kinan dan meregangkan otot-otot tubuhnya, kemudian kembali meringkuk.
"Apa kau bilang? Kau semakin membuatku kesal setiap hari. Pergi dari kasurku!" Langit tetap teguh pada pendiriannya untuk mengusir Kinan dia kembali mengguncang-guncang tubuh istrinya.
"Diam, atau aku akan menciummu!" Ancam Kinan.
Apa? Bukankah itu seharusnya ancaman yang keluar dari mulutku?
Dia benar-benar wanita gila.