
Langit tak mengalihkan perhatiannya dari laptopnya tanpa tertarik melihat wajah istrinya yang terlihat murung di sudut ruangannya.
"Aku kesini ingin bekerja, bukannya malah menjadi pelayan pribadi mu!" Rengek Kinan yang kini sedang dalam posisi meringkuk di sofa ruang kantor Langit.
š£Flashback Onš£
Kinan begitu kesal, sejak pagi tak ada satu berkas pun yang mampir ke biliknya untuk dia kerjakan, sedangkan karyawan yang lain terlihat mengeluh dengan berkas-berkas yang terus datang minta untuk segera diselesaikan sebelum akhir tahun ini.
Kinan bahkan mengirim pesan kepada David, mempertanyakan mengapa hanya dirinya yang tidak memiliki pekerjaan, tapi tak ada jawaban dari David, yang mungkin sedang sama sibuknya dengan karyawan lainnya.
Hingga sebuah pesan dari Langit datang membuatnya yang menyuruhnya untuk membelikan makan siang untuk mereka berdua.
"Apa aku sedang dipermainkan oleh Tuan muda itu?" Cicitnya.
Tapi dia tetap mengerjakan perintah suaminya. Berjalan lunglai untuk membeli makan siang mereka.
Kinan kembali dari restoran tepat pada jam makan siang, dan berjalan lurus menuju ruangan Presdir, membuat semua para karyawan terkejut melihat Kinan yang terlihat santai masuk ke ruangan Presdir mereka. Pasalnya, tidak ada seorang karyawan pun yang berani memasuki kandang singa itu, dan kalaupun ada itu adalah untuk pertama dan terakhir kalinya, besoknya mereka tidak pernah melihat dia lagi di perusahaan itu.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia ingin dipecat di hari pertamanya bekerja?"
"Aku saja yang sudah lima tahun bekerja disini belum pernah masuk ke kandang singa itu, bahkan hanya untuk melewatinya saja aku takut." Timpal karyawan lain.
"Sudahlah, ayo kita makan siang!" Natan menghentikan gosip mereka.
š„Flashback offš„
"Ada apa dengan Kakak Ipar? Apa dia sakit?" Tanya Bara ketika melihat Kinan yang masih meringkuk di sofa.
"Entahlah. Mungkin sekarang dia sedang berperan sebagai istri manja." Jawab Langit, melirik sekilas ke arah objek yang mereka bicarakan.
Walaupun sebenarnya dia sangat tahu bahwa Kinan kesal karena harus menyuapinya makan siang tadi.
"Sudah jangan pedulikan dia! Mana laporanmu?"
Kinan semakin kesal melihat Bara dan Langit yang terlihat serius membicarakan tentang proyek baru tanpa mengajaknya bergabung, tentang pembangunan pusat perbelanjaan yang akan mereka bangun di luar kota.
"Bara, apa aku bisa menjadi sekretarismu saja? Otakku yang cerdas ini tidak bisa digunakan dengan benar kalau hanya menjadi sekretaris Kakakmu ini." Rengek Kinan masih dalam posisi yang sama.
Tapi Bara tak menjawabnya. Fokusnya masih tertuju pada proyeknya yang Langit tugaskan untuknya. Karena ini adalah tugas pertama yang dia dapat, jadi dia tidak ingin mengecewakan Kakaknya.
*
Langit menarik senyumnya, dilihatnya Kinan yang sedang tertidur pulas di sudut sofa.
Langit mengusap lembut pipi wanita yang hampir setiap hari meneriakinya.
"Mau sampai kapan kau tidur disini?"Ā
Suara berat Langit berhasil membuat mata Kinan membulat, meski tidak sedikitpun rasa kesalnya berkurang, dia duduk dan melipat kakinya di sofa.
"Aku akan mencari pekerjaan baru yang cocok untukku." Ucap Kinan lesu.
"Kenapa? Tugas-tugas mu akan datang dalam sepuluh menit, David sedang membawanya ke ruanganmu." Jawab Langit yang kini duduk disamping istrinya sambil menikmati kopinya.
Langit hanya mengangguk, seolah tak peduli.
"Terimakasih suamiku." Ucap Kinan dan menangkup wajah suaminya, dan mengecup bibirnya beberapa detik.
Langit sangat terkejut dengan respon Kinan, ingin sekali dia membalas perlakuan istrinya.
"Hei, apa sekarang kau sedang berperan sebagai sekretaris penggoda suami orang?"
"Aku tidak peduli, aku sangat senang." Jawab Kinan dan kembali memeluk tubuh suaminya Kemudian berlalu meninggalkan Langit.
"Dia akan menyesal telah melakukan ini kepadaku." Langit tersenyum miring.
Semua para karyawan yang satu ruangan dengan Kinan sedang berkerumun di biliknya, membuat Kinan berjalan cepat menghampiri mereka.
Kinan dibuat terkejut melihat tumpukan dokumen yang ada di mejanya.
"Apa ini?" Tanya Kinan pada David yang sedang menyimpan dokumen terakhir di susunan paling atas.
"Tugas Anda, selamat bertugas!" Ucap David dan berlalu meninggalkannya.
"Wah, dia benar-benar sedang mengerjaiku rupanya." Dia berbicara pada dirinya sendiri sambil membuka satu persatu dokumen-dokumen yang harus dia selesaikan.
Ucapan Kinan membuat para karyawan yang lain menaikan alis mereka, tak mengerti kepada siapa ucapannya ditujukan.
Kinan memulai pekerjaannya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dia terlihat sangat antusias memulai pekerjaan barunya.
**
"Kamu mau ikut kita makan bersama?" Suara Natan begitu mengejutkan Kinan yang tengah berkutat dengan tugas-tugasnya.
Dia melirik jam tangan di tangan kirinya, sudah pukul tujuh malam. Pantas saja perutnya sudah sangat lapar, tapi dia juga belum melihat Langit keluar dari ruangannya.
"Ayo, aku juga sudah sangat lapar." Jawabnya dan beranjak untuk bergabung dengan karyawan yang lainnya.
**
Kinan duduk bersama yang lainnya di sebuah restoran di seberang kantornya. Mereka mulai saling memperkenalkan diri kepada Kinan yang memang sangat baik dan ramah sebagai seorang pegawai baru, bahkan dia terlihat sangat terampil ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan David untuknya tadi siang.
"Ternyata kalian sangat baik. Aku kira aku akan dibully seperti cerita-cerita novel yang biasa aku baca." Ucap Kinan yang kini sedang menikmati ice cream coklat sebagai makanan penutup.
"Tapi kami sangat penasaran, apa yang kamu lakukan di ruangan Presdir tadi siang?" Tanya seorang wanita cantik yang bernam Siska.
"Hanya sekedar mengobrol dengannya." Jawabnya santai.
Tapi jawaban sangat mengejutkan mereka.
"APA?" Ucap mereka begitu kompak.
"Apa hubungan kamu dan Pak Langit?" Tanya Natan penasaran, karena dia baru mendengar atasannya yang dingin itu mau mengobrol dengan bawahannya. Bahkan Langit tidak pernah menjawab sapaan mereka, walaupun hanya sekedar senyuman.
"Aku cukup dekat dengannya." Kinan mulai gugup, dia takut rahasia pernikahan mereka terbongkar, bahkan selama ini dia tidak pernah memakai cincin kawinnya kecuali jika sedang berkunjung ke rumah keluarga Langit.