LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Bertengkar



Kinan berjalan riang menuju biliknya, bayangan akan tas incarannya membuatnya tak hentinya menyunggingkan senyum. Para teman-teman Kinan langsung menghampiri bilik wanita yang sedang bersenandung riang itu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka saling berpandangan melihat lipstik Kinan yang belepotan akibat ulah suaminya, tapi sang objek masih tidak menyadarinya.


"Mbak Kinan." Ucap Febi ragu-ragu


"Apa Feb?" Tanya Kinan yang masih terus tersenyum.


"Itu…" Febi menjawab sambil memegang bibirnya sendiri seolah memberi tahu Kinan ada yang tidak beres dengan bibirnya.


Tahu maksud temannya, Kinan segera berlari sambil menutup bibirnya menuju toilet tanpa mempedulikan teman-temannya yang dipenuhi pertanyaan di pikirannya.


"Si Bodoh itu, kenapa tidak memberitahukan aku?" Kinan berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin melihat lipstiknya yang kini belepotan di bibirnya.


*


"Jangan tanya aku kenapa! Aku masih memikirkan alasan yang tepat untuk ini." Ucap Kinan ketika melihat teman-temannya masih berkerumun di biliknya.


Mereka pun bubar dengan berbagai imajinasi di otak mereka masing-masing.


Bersamaan dengan itu Langit keluar dari ruangannya dengan raut wajah seperti biasanya, membuat orang yang melihatnya menundukkan wajahnya, tapi ada yang membuat mereka tercengang kala melihat ada noda lipstik di Kemeja si pemilik raut wajah dingin.


Lagi-lagi mereka saling berpandangan. Kemudian berburu menuju bilik Kinan untuk melihat warna lipstik yang Kinan pakai pada saat itu.


"Sama." Ucap mereka kompak, dan kembali ke tempat mereka masing-masing dengan berbagai macam spekulasi yang kembali muncul di pikirannya masing-masing


**


Kinan pulang lebih telat dari biasanya, karena harus rapat dengan teman-temannya yang lain untuk acara gathering yang biasa diadakan perusahaan pada awal tahun, tapi pada akhirnya fokus mereka masih kepada bibir Kinan. Karena Kinan tetap tidak buka suara, pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Kinan sengaja merayu Langit agar tidak marah kepadanya.


"Ada apa dengan wajahmu? Mengapa kau jadi bertambah jelek sejak terakhir kali kita bertemu?" Tanya Langit yang sedang menikmati pitza yang masih terlihat mengepul.


Kinan menghampirinya. "Ini semua gara-gara kau menciumku tadi. Hingga teman-temanku berfikiran bahwa aku merayumu." 


Dia duduk di samping suaminya untuk ikut menikmati pitza yang terlihat menggoda untuk digigit.


Langit hanya bisa tertawa membayangkan istrinya jadi bahan bulian teman-temannya. Sebuah akhir hari yang indah bisa ditemani istri cerewetnya.


Untuk kesekian kalinya Langit berusaha untuk tidak menerkam Kinan yang kini telah tertidur pulas disisinya dan menjadikan bahu bidangnya sebagai sandaran.


***


Pagi yang cerah, tapi tidak bagi Kinan dan Langit yang sedang bertengkar hebat. Kinan merasa seperti telah dibohongi dan dimanfaatkan oleh suaminya sendiri. Kinan benar-benar murka, hingga kata-kata kasar berseliweran dari dalam kamar mereka.


"Aku tidak mengira aku telah dengan mudahnya dibohongi olehmu." Kinan mencibir ke arah Langit.


"Hei, aku tidak berbohong. Aku cuma lupa dimana menyimpannya." Bentak Langit.


"Cih dasar mesum!"


"Hei apa maksudmu?"


"Iya kau pria mesum yang memanfaatkan kelemahanku untuk mendapatkan ciuman dariku."


"Aku menciummu karena kau bilang sudah membelikan tas incaranku. Aku menikmati? Bahkan mantan-mantanku lebih lihai daripada dirimu!" Bentak Kinan sambil mencibir.


"Apa kau bilang. Lihat saja olehmu, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku hingga mengemis ciuman dariku!"


"Aku? Jatuh cinta pada pria mesum macam dirimu? Jangan mimpi. Jika kau bisa membuatnya terjadi, aku akan berlutut dikakimu!"


"Aku akan selalu ingat ucapanmu!"


"Dan aku tunggu hari dimana kau bisa membuatku jatuh kepelukanmu secara sukarela!" Tantang Kinan.


Sifat keras kepala dari keduanya membuat tak ada dari mereka yang mau mengalah.


Apa lagi ini? Mengapa mereka mudah sekali berpindah dari surga ke neraka?


Aku menjodohkan kalian agar bisa membuat kalian saling mencintai. Bukan membuatku kesulitan tiap hari.


David masih tak habis pikir melihat Kinan dan Langit yang terlihat bagai dua buah bola api yang ingin saling menghancurkan.


Kinan pergi dan membanting pintu apartemen mereka dengan keras.


"Dimana kau simpan tas wanita gila itu?"


David menjadi pelampiasan kemarahan Langit.


"Di dalam koper Anda Tuan. Bukankah Anda sendiri yang menyuruh saya meletakkannya disitu?"


"Kenapa kau tidak mengingatkanku? Karena kau reputasi ku jadi rusak. Dan karena kau juga aku tidak mendapat pelukan pagiku dari si Gila itu!" 


Silahkan caci maki saya sepuas hatimu Tuan. Karena apapun yang aku katakan akan selalu salah di matamu.


****


Siang harinya Kinan tidak menemui suaminya untuk menyuapinya makan seperti biasa, dia lebih memilih makan siang bersama teman-temannya, walaupun sebenarnya dia masih malu bertatap muka dengan mereka karena kejadian kemarin.


"Gara-gara ulahmu dia tidak menyuapiku makan siang ini!" Caci Langit.


Lagi, lagi dan lagi David menjadi sasaran kekesalannya.


David yang kesal langsung duduk di samping Langit dan membuka kotak makan atasannya yang sedang berubah seperti wanita yang sedang datang bulan.


"Apa Anda mau saya suapi makan siang kali ini untuk menggantikan Nonan?" David seperti sengaja memancing emosi Tuannya.


"APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP?" Langit murka.


"Saya lebih baik mengundurkan diri dari pada harus mati sekarang." Tantang David.


"Permisi Tuan, saya akan menyiapkan surat pengunduran diri saya!" Ancam David dan berdiri seolah pamit kepada Langit dan meninggalkan singa yang sedang marah itu


"Kenapa semua orang jadi gila hari ini?" Langit benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan David dan Kinan.