
🍀Jika kau tak bisa melihat cintaku maka rasakanlah semua perlakuanku untukmu🍀
Cahaya mentari masuk melewati celah-celah jendela kamar mereka yang kini masih berbalut selimut, dengan tubuh polos dibaliknya.
"Bangunlah! Ini sudah lewat jam bangun biasa kita. Lihatlah mentari sedang mengintip kita dari balik jendela. Apa kau tak malu?" Langit mengecup wajah yang enggan membuka mata cantiknya itu.
"Kau ingin lagi?" Godaan itu biasa langsung membuat istrinya bangun dan berlari ke kamar mandi.
Tapi tidak untuk kali ini, Kinan terus saja menempelkan tubuhnya dengan tubuh suaminya. Entah mengapa hari ini perasaannya begitu aneh. Dia tidak ingin lepas dari pelukan suaminya.
Ini pertama kalinya Kinan merasakan hal yang aneh ini, rasa tak ingin lepas dan selalu ingin bersama. Benar-benar menyiksa.
"Kau sakit?" Langit menempelkan punggung tangannya pada kening istrinya.
Suhu badannya normal, tak ada tanda-tanda dia sakit. Ada apa dengan si cerewet ini? Langit benar-benar dibuat bingung.
"Kau ingin kita seperti ini sepanjang hari?" Goda Langit lagi.
Kinan mengangguk, sebuah respon yang sangat membuat Langit terkejut. "Bisakah kita jangan kemana-mana hari ini?" Kinan menengadahkan wajahnya untuk melihat langsung jawaban suaminya.
"Aku ada dua rapat penting hari ini. Bagaimana kalau besok?"
Cih, baru saja aku berfikir jika dia mencintaiku dan akan memilih bersama denganku hari ini. Ternyata aku salah.
Dengan wajah kecewa Kinan melonggarkan pelukannya. "Pergilah!" Terdengar nada kecewa dari suaranya.
"Kita kencan setelah rapat usai. Bagaimana?" Ucapan Langit membuat Kinan berbinar.
"Aku akan mandi dan bersiap." Ucapnya dan memberikan kecupan bertubi-tubi keseluruh wajah suaminya.
🐣🐣
Langit dan David terus saja geleng-geleng kepala sejak keluar dari apartemen mereka. Tingkah Kinan hari ini benar-benar aneh, dia memilih memakai celana jeans dengan kaos panjangnya dan tak lupa sepatu kets yang disepadankan dengan warna tshirt yang dia kenakan.
Hari ini Kinan berubah menjadi gadis ajaib, tanpa setelan kerja, tas branded, dan sepatu kerjanya, dia benar-benar seperti seorang gadis yang akan pergi kencan. Hanya dengan sentuhan make-up ringan membuatnya tetap terlihat cantik dan segar seperti seorang gadis yang masih duduk di bangku kuliah.
"Wah, Kakak ipar kau terlihat sangat berbeda hari ini. Apa kau akan bekerja dengan penampilan seperti ini?
"Aku sedang bolos kerja, dan akan pergi kencan dengan suamiku hari ini." Jawabnya sambil mengalungkan sebelah tangannya di lengan Bara sedangkan tangan satunya lagi sudah sejak tadi menempel di lengan suaminya.
Pemandangan itu membuat warga kantor iri. Para pria terlihat iri kepada Langit yang memiliki istri Kinan yang benar-benar cantik bahkan terlihat lebih cantik tanpa make-up berlebih. Sedangkan para karyawan wanita, yaaaa,,, seperti itu lah.
Jiwa mereka meronta-ronta saat melihat Kinan menggandeng mesra dua orang makhluk tampan ukiran Sang Pencipta.
Seperti yang sudah direncanakan, Kinan benar-benar tidak bekerja hari ini, dia dengan setia menunggu suaminya rapat di ruangannya. Dan ketika Kinan tengah asik berselancar di media sosial miliknya pintu ruangan itu terbuka, dan ternyata Rianti yang masuk.
"Hai, kamu sedang tidak bekerja hari ini?" Sapa Rianti, dia pun cukup terkejut melihat menampilkan Kinan yang berbeda hari itu, seperti seorang gadis yang akan pergi berkencan dengan kekasihnya.
"Aku sedang bolos kerja hari ini." Kinan tersenyum simpul saat mengatakannya.
"Kamu benar-benar lucu. Kamu bolos kerja dan berkeliaran bebas di tempat kamu bekerja." Rianti sedikit menahan tawanya.
"Karena aku sudah membayar mahal untuk ini." Ucap Kinan malu-malu.
Sudah tak ada lagi kecanggungan diantara mereka, walaupun Kinan tahu Rianti berusaha terlihat ceria di hadapan mereka. Tapi hal ini membuat Kinan memilih untuk mengakrabkan dirinya kepada seseorang yang pernah hadir dan mengisi kehidupan suaminya dulu.
Tiga puluh menit kemudian Langit dan David masuk ke ruangannya.
"Kita ke ruang rapat?" Tanya Langit pada Rianti.
"Aku menunggu di dalam, sekalian aku juga sedikit mengantuk."
Langit melihat jam di tangannya, masih cukup pagi untuk tidur siang, bahkan jam makan siang pun masih dua jam lagi. Apa ini efek dari pertempuran semalam? Ah,masa bodoh. Langit menepis pikiran-pikiran yang tak layak untuk dipikirkan.
Rapat dengan Rianti berjalan baik, tepatnya lima belas menit sebelum jam makan siang usai rapat kecil mereka pun usai.
"Makan siang lah bersama kami!" Ajak Langit tulus.
Dan Rianti pun menerima tawaran makan siang tersebut. Sebagai sopan santun.
"Aku akan membangunkan dia dulu, tunggu saja di lobby."
Langit masuk ke ruangannya perlahan, dan benar saja Kinan sedang terlelap tidur di atas ranjang tempat mereka melakukan siang erotis mereka yang pertama kali. Hingga Langit terlihat tak tega untuk membangunnya.
Ada apa dengan Kinan?
Apa dia sakit?
Ataukah hanya lelah sisa semalam?
Langit tersenyum kecil memperhatikan istrinya yang terlihat sangat lelap dengan wajah yang jadi terlihat menggemaskan.
Sebuah lumatan kecil dia berikan kepada sang pemilik hatinya saat ini yang begitu lelap menikmati tidurnya, membuat Kinan perlahan membuka matanya yang entah mengapa terasa begitu lengket.
"Kita makan! Setelah itu ayo kita berkencan sepuas hatimu!" Langit kembali mengecup singkat bibir istrinya.
Kinan melambaikan tangannya ke arah teman-temannya yang kini sepertinya sedang bersiap untuk pergi makan siang.
"Ckckck, dia benar-benar membuatku iri. Dia bisa kapan saja bolos kerja tanpa kena sangsi apapun." Komen Febi.
"Takdir kita tak sebagus takdirnya. Carilah presdir yang lain jika kau ingin seperti Mbak Kinan!" Jawab Arin.
🐣🐣
"Apa kau sakit Kak?" Tanya Bara ketika melihat Kinan tak terlihat bergairah untuk ikut pergi makan siang bersama mereka.
"Hanya sedikit lelah, mungkin dengan minum suplemen akan kembali pulih." Jawab Kinan yang kini dalam rangkulan suaminya.
Bara sedikit menggigit bibirnya. Dia membayangkan pertempuran yang mereka lakukan semalaman hingga membuat Kinan kelelahan.
"Apa yang sedang mengotori otakmu Bodoh?" Langit mendorong tubuh adiknya dan memandang jijik ke arahnya.
Hal itu memancing David dan Rianti mengulum senyum mereka melihat reaksi Langit yang berlebihan.
"Sudahlah! Sekarang kita tentukan mau dimana kita makan siang ini?" Langit berusaha mengalihkan pikiran kotor mereka.
"Aku pasrah. Apapun yang kalian makan aku makan." Jawab Bara.
"Bagaimana jika kita ke restoran kemarin?" Rianti mengusulkan mereka makan masakan Itali.
"Kau mau makan apa siang ini?"
Kinan sedikit berfikir dan menjawabnya dengan tersenyum manis ke arah suaminya.
"Nasi Padang." Mata berbinar itu memaksa Langit untuk tidak menolaknya.
Dan menu makan siang hari ini pun sesuai permintaan sang Nyonya.