
Dibalik kebahagiaan kadang tersimpan pengorbanan besar yang harus dilewati. Ini yang terjadi pada Langit saat ini. Mood ibu hamil yang berubah-ubah setiap menitnya membuat Langit kewalahan mengahadapi teman tidurnya itu. Kinan pernah menangis tersedu-sedu hanya karena Langit lupa membelikan pesanan yang ia inginkan atau kadang dia terlihat sangat bahagia hanya karena Langit membuatkannya susu hamil untuk dia minum sebelum tidur.
Seperti malam ini saat Langit salah membelikan pesanan pizza untuk istrinya, Kinan terlihat sangat murka.
"Kau memang tidak peduli padaku!"
Apa tidak peduli? Lalu semua yang aku lakukan selama ini untuknya itu apa?
"Biar aku dan bayiku akan pergi dari kehidupanmu!"
Langit yang lelah dengan pekerjaan di perusahaannya terlihat menurunkan bahunya dengan suara helaan nafas kasar.
"Kau mau pergi kemana? Kau juga tidak boleh menyebutnya bayiku, karena aku sangat berperan penting dalam proses pembuatannya." Kali ini nada ucapannya sedikit lebih tinggi.
"Baiklah aku minta Maaf. Aku akan memesan kan lagi pizza untuk kalian, oke?" Langit benar-benar menekan emosinya mengahadapi wanita di hadapannya.
Langit berusaha membujuk Kinan dengan sebuah pelukan. Tapi apa yang dia dapat? Kinan malah mendorong dada bidang penuh kehangatan itu.
"Aku akan pergi dari sini. Aku sudah tidak mau lagi satu atap dengan pria egois seperti dirimu!" Dia pergi ke kamarnya, mengambil tas dan tak lupa kaos Langit yang ia selipkan ke dalam tasnya.
"Ayo aku antar!" Ucapanya lesu, bahkan untuk mengganti pakaian pun dia belum sempat karena ulah istrinya yang tiba-tiba berubah jadi seekor singa yang lapar.
******
Orang tua Kinan terlihat terkejut melihat kedatangan calon orang tua di kediaman mereka pada larut malam ini.
Kinal langsung menangis dipelukan Mamanya setibanya mereka disana, membuat tanda tanya di benakmu orang tuanya.
Apa yang terjadi pada putri mereka?
Apakah suaminya telah berbuat kasar pada putri kecil mereka?
Seperti itulah gambaran yang bisa dibaca Langit dari raut wajah kedua orang tua tersebut.
"Ada apa?" Tanya Mama.
"Dia sangat egois!" Jawab Kinan di pelukan Mama.
Wajah lelah terlihat jelas dari raut wajah menantu milyardernya, tak ada kata-kata sanggahan yang dia ucapkan. Langit terlihat pasrah.
Papa mengajak si calon ayah itu untuk duduk di teras depan, sekedar menikmati sejuknya udara dan hembusan angin malam.
"Ada apa?" Papa mulai mengorek permasalahan diantara keduanya yang terlihat cukup serius. Karena ini kali pertama Kinan menangis dipelukan istrinya dan dia berfikir masalah ini lebih berat dari masalah sebelumnya ketika Langit menitipkan putrinya saat pergi ke Milan.
"Aku salah membeli pizza pesanannya." Langit tertunduk malu sambil menghisap rokok yang selalu jadi pelampiasan saat dia merasa kesal.
Jawaban Langit sungguh di luar ekspektasi sang mertua. "Ckckck, wanita hamil itu memang ajaib. Dia bisa sangat berkuasa dari seorang pemimpin negara, lebih ganas dari seekor macan lapar dan lebih kejam daripada hukum yang ada di negara ini. Kau harus sabar. Mereka itu seperti itu." Pria itu telah melewati masa-masa itu selama dua periode, saat istrinya hamil Bagas dan Kinan
Si pria yang memang tak banyak bicara itu pun hanya mengangguk menyetujui semua pendapat mertuanya. Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Hanya asap yang tercipta dari hisapan rokoknya saja yang bisa dia nikmati saat itu.
"Biarkan malam ini dia tidur di sini, kau tak perlu khawatir. Kami sudah biasa direpotkan oleh berbagai macam permintaan istrimu." Ucap Papa.
*****
Tak ada jawaban, hanya bunyi nada panggilan yang membuat malamnya semakin sunyi. Kembali dia memanggil nomor kontak suaminya dan hasilnya sama saja tak ada jawaban. Air matanya luruh seketika, tangisan yang diiringi detak jam dinding malam semakin membuat hatinya merasa sakit. Mood yang diciptakan seorang wanita hamil memang sangat luar biasa.
Tok, tok, tok.
Kinan mengetuk pintu kamar orang tuanya dengan wajah sembapnya. Butiran air mata masih terlihat menggenang di pelupuk mata wanita cantik yang baru menemukan manisnya cinta.
Mama yang membukakan pintu terlihat terkejut melihat penampilan anak gadisnya yang seperti telah lama menangis.
"Kenapa? Mual?" Mama menggiring putrinya masuk ke kamarnya.
Kinan mengangguk, dia kini sudah jarang bicara, karena setiap kali bicara dia akan merasa mual.
"Duduk di sini dulu Mama bikinin teh anget dulu buat kamu ya!"
Ternyata Papa juga ikut bangun. Dia dengan sabar mengelus-elus punggung putri kecilnya yang entah sejak kapan berubah menjadi wanita dewasa yang cantik. "Sabar ya! Mama kamu juga ngalamin apa yang kamu rasakan saat ini."
Dia tidak tahu jika anaknya sedang merindukan pelukan hangat si pemilik dada bidang yang selalu menghangatkannya setiap malam.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Mama. "Ngemil buah mau? Ada jeruk di kulkas."
Kinan menggeleng. "Aku mau pulang." Air matanya kembali tumpah saat mengucapkan hal bodoh itu.
Mama dan Papanya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka serempak mendengar pengakuan Kinan. Si Angkuh dan si Hati batu telah menemukan pawangnya.
"Ini pulang. Bukannya tadi kamu minta pulang kesini sama suami kamu." Mama pura-pura tak mengerti dengan ucapan putrinya.
Kinan semakin menangis, tak ada yang mengerti dirinya, yang dia butuhkan saat ini hanya suaminya.
"Kamu mau ke suami kamu?" Papa mengulum senyum saat bertanya. Dia berusaha untuk tidak menertawakan kelakuan anaknya.
"Tapi tadi aku telpon ga diangkat. Aku kesel." Kinan memukul-mukul bantal yang tidak bersalah.
"Palingan hp nya ga dibawa."
Kinan melirik ke arah Papa yang mengucapkan jawaban yang menggantung itu.
"Suami kamu kayaknya lagi pules di kamar tamu." Lanjut Mama.
Mendengar jawaban Sang Mama Kinan langsung berlari keluar kamar mereka.
Langit memilih untuk menginap di rumah mertuanya, dengan alasan dia tidak mau jika nanti istrinya memaksanya datang tengah malam. Hingga dia lebih memilih tidur di kamar tamu malam itu.
Kemeja kerjanya masih menempel di tubuh pria yang terlelap dengan posisi tidur asal, satu kakinya menjuntai ke lantai. Jas yang senada dengan celana bahan tergeletak di lantai samping tempat tidurnya, mungkin jatuh bergeser saat Langit mengubah posisi tidurnya.
Merasa ada pergerakan di samping tempatnya tidur, Langit perlahan membuka mata dan menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamar. Istrinya tertangkap basah tengah memandang wajahnya.
"Mau peluk?" Langit membentangkan kedua tangannya.
Dan akhirnya si pemilik tubuh dan hatinya kini tidur nyaman dalam pelukan hangat Langit.