LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Pesta Ulang Tahun



Kinan dan Langit turun satu jam sebelum acara dimulai, ternyata disana sudah ada Fadli yang sengaja atau lebih tepatnya terpaksa Langit undang untuk datang ke acara pesta ulang tahunnya. Sebab Kinan tiba-tiba ingin makan daging yang dipanggang oleh Fadli.


"Junior ingin makan daging panggang yang dibuat Fadli. Bolehkan?" Seperti itulah Kinan membujuk suaminya dengan tatapan mata memelas. 


****


"Apa tadi hujan?" Bara menggoda pasangan yang baru datang dengan rambut yang masih lembab. 


Langit tidak menjawab pertanyaan konyol adiknya dia hanya mengarahkan sebilah pisau ke arah Bara agar membuat mulutnya berhenti menggoda Langit. 


Sementara itu di sudut ruang tamu ibu, nenek dan Rianti sedang dalam kondisi yang teramat canggung. Tanpa sepengetahuan dan persetujuan Langit dan Kinan, Fadli membawa Rianti untuk datang bersamanya. 


"Bunda bagaimana kabarmu?" Ucapan Rianti terdengar sangat basa-basi. 


Bunda tersenyum canggung. "Kami baik-baik saja disini. Bagaimana denganmu?" 


"Untuk apa kau datang lagi ke rumah ini? Apa kau mau menjadi pengganggu rumah tangga cucuku? Karena kau menyesal telah meninggalkannya beberapa tahun lalu?" Nenek segera memotong acara basa-basi kedua orang yang duduk berdampingan. 


Rianti tersenyum kecut. Dia memang telah bersalah terhadap keluarga ini. Bahkan untuk menatap wanita tua di hadapannya pun dia tidak mampu. Jika bukan karena Fadli yang memaksanya untuk datang dan meminta maaf secara langsung sampai kapanpun dia tak akan mampu menginjakan kakinya ke rumah yang dulu selalu menyambut hangat dirinya. Tapi apa yang dia dapatkan saat ini? Nenek yang dulu selalu tersenyum bahagia saat menyambut kedatangannya seperti terlihat jijik saat menatap wajahnya. 


"Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian, harusnya aku melakukan hal ini sejak lama, tapi aku malah lari dan kabur tanpa mengucapkan salam perpisahan." Ucap Rianti penuh penyesalan. 


"Sudahlah kami semua bahkan sudah melupakan semua yang terjadi atas kalian dulu. Dan sekarang kau bisa lihat bukan langit tengah berbahagia dengan pernikahannya dan kami juga sedang antusias menyambut bayi mereka." Kata Bunda sambil mengelus punggung Rianti yang duduk di sampingnya.


"Aku benar-benar kecewa kepadamu, kukira dulu kau benar-benar mencintai cucuku. Tapi hanya karena kurangnya perhatian darinya yang saat itu sedang disibukkan dengan jabatan barunya, kau tega meninggalkannya begitu saja." Ucap Nenek masih terdengar sinis. "Kau tahu kau adalah wanita dengan kriteria yang pas untuk Langit. Dibandingkan dengan istrinya yang tidak punya sopan santun itu, aku jauh lebih suka jika dia menikah denganmu."


Ucapan Nenek membuat Rianti tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata. "Maaf Nek!"


"Tak perlu minta maaf, karena aku sekarang tidak menyesal menikahkan mereka berdua. Banyak perubahan yang wanita itu bawa untuk Langit. Dia kini sudah seperti manusia pada umumnya, yang memiliki ekspresi, dia lebih sering tersenyum bahkan menyapa para pekerja di rumah ini. Dan hal itu tak luput dari peran istri manjanya." Lanjut Nenek. Karena Nenek beberapa kali pernah memergoki Kinan  sedang marah-marah kepada cucunya saat Langit tak menjawab sapa dari para pekerja di rumahnya ataupun terlihat datar saat berbicara dengan mereka. 


"Sudahlah. Lupakan apa yang terjadi pada kalian biarkan itu hanya jadi kenangan untukmu dan Langit! Aku berharap kau bisa menemukan pria yang akan mencintaimu." Kali ini Nenek berkata dengan suara lembut.


Mendengar ucapan Nenek Rianti langsung memeluk tubuh renta di hadapannya. Rianti menumpahkan segala rasa penyesalannya selama ini. 


****


"Kak, kau seharusnya belajar memanggang seperti Fadli! Apa nantinya jika Junior wajahnya jadi mirip Fadli daripada wajahmu?" 


Langit kembali mengancam adiknya itu dengan pisau. "Jaga ucapanmu! Kau sudah bosan hidup?"


"Memang apa salahnya jika junior mirip Fadli? Wajahnya juga tampan, hidungnya sangat mancung, aku suka. Juga warna mata yang hazel selalu menenangkan jika ditatap." Kinan ikut menggoda suaminya yang terlihat masih cemburu dengan Fadli. 


Sedangkan Fadli sedang tersenyum dengan pose bak seorang model. 


Langit membanting pisau yang ia pegang ke meja membuat bunyi gaduh saat pisau itu menyentuh piring. 


"Wah kau sedang menguji emosiku." Langit berlari mengitari meja berbentuk besar dan menghampiri istrinya. 


"Berhenti berlarian seperti anak kecil! Kalian lupa kalian sebentar lagi akan memiliki seorang bayi!" Suara Nenek berhasil membuat Kinan berhenti dan akhirnya ditangkap oleh suaminya. 


"Aku harap Junior tidak malu melihat kelakuan orang tuanya." Bara menimpali saat melihat Langit sedang memberikan hukuman berupa ciuman bertubi-tubi keseluruhan wajah istrinya.


Acara makan malam pun berlangsung dengan suasana ceria, ini pertama kalinya acara ulang tahun Langit diselenggarakan dengan acara barbeque yang diadakan di rumahnya. Karena biasanya mereka akan makan malam di restoran hotel dengan tak banyak kata yang keluar dari mereka. 


Kinan memang mampu membuat perubahan besar di keluarga ini. 


"Kau ingin Junior berjenis kelamin apa?" Tanya Fadli yang duduk bersebelahan dengan Rianti. 


"Aku ingin punya anak laki-laki yang tampan berhidung mancung dan berambut pirang sepertimu." Kinan masih menggoda suaminya. 


"Hentikanlah! Apa aku tidak cukup tampan untukmu? Bahkan aku ingin Junior berjenis kelamin perempuan agar seperti dirimu." Langit mulai merajuk. 


"Aku kan sudah memilikimu. Suami yang begitu tampan dan seksi, sekarang aku ingin memiliki anak dengan level ketampanan yang berbeda." Kinan tersenyum melihat wajah suaminya yang cemberut. 


"Apa lucunya punya anak seperti dirimu. Begitu kaku, tak banyak bicara, sombong. Hiiii… aku tak sanggup membayangkan memiliki anak seperti itu." Kinan benar-benar sedang menguji kesabaran sang pemilik pesta malam itu. 


Semua orang tidak bisa menahan tawa mereka melihat pasangan itu. 


"Bukankah kau bilang kau mencintaiku?"


"Aku sangat mencintai Langit yang ada dihadapanku." Kinan mengecup mesra bibir suaminya. 


"Kak. Hentikanlah! Kalian membuatku jijik. Bukan begitu David?" Bara meminta dukungan David yang duduk di sampingnya. 


"Mataku sudah terbiasa dikotori oleh tingkah mereka. Aku kadang berfikir apa mereka berdua menganggapku manusia atau hanya sekedar hewan peliharaannya?" Keluhan David memancing gelak tawa yang ada di halaman belakang rumah keluarga Langit. 


****


Pesta pun usai dua jam kemudian, satu persatu orang-orang meninggalkan halaman belakang seusai acara makan malam, kini semua orang tahu jika Rianti dan Fadli sedang dalam masa pendekatan. Bahkan Kinan langsung menyuruh mereka segera menikah. 


"Langit, aku ngidam ingin menghadiri pesta pernikahan Fadli dan Rianti." Kinan berkata dengan manja kepada suaminya. 


Ucapan itu langsung diamini suaminya. "Aku juga. Aku ingin melihat pria itu menikah di hadapanku langsung, agar hidupku lebih tenang saja saat mengetahui pria bodoh itu sudah memiliki istri."


"Hei, apa ada ngidam yang seperti itu? Kalian ada-ada saja." Ucap Rianti sambil tersipu malu. 


"Ide bagus." Jawab Fadli sambil menatap wajah merona wanita cantik di sampingnya. 


Maaf upnya lama... 🙏🙏🙏


Abisnya si Ilham jarang menghampiri diriku selama puasa ini... 🤗🤗


Makasih udah setia menanti.. 🙏🙏