LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Mata Arin kembali ternodai



Tak ada pergerakan dan suara dari siapapun, hening. Hanya terdengar suara mikrofon yang tertiup angin malam. Dunia seperti berhenti berputar saat menyadari kedatangan Langit diantara mereka.


Bara yang menyadari kecanggungan ini segera mengambil alih acara. 


"Mari kita dengarkan sepatah dua patah kata dari pemimpin perusahaan yang menyempatkan hadir di acara kita." Bara berbicara dengan nada riang. Walaupun hatinya sendiri ketakutan, ada tiga pasang mata yang menatapnya dengan tatapan ingin menerkam dirinya. Langit, Kinan dan David. Tunggu, David? Mengapa dia begitu terlihat marah kepadanya? Apa salahnya? Bara masih bertanya-tanya dalam hatinya. 


"Saya tidak akan berbicara banyak, hanya akan mengucapkan selamat menikmati acara ini. Dan silahkan lanjutkan acaranya." Ucap Langit begitu singkat dan terdengar malas. 


Acara selanjutnya adalah perlombaan memasak. Sudah ada lima kelompok dari masing-masing divisi berkumpul di stand nya masing-masing. Pemenangnya akan mendapatkan uang tunai sebesar lima juta rupiah, dan yang kalah akan di hukum untuk tidur di tenda yang telah panitia siapkan malam ini. 


Langit hanya tersenyum dia sudah bisa menduga siapa kelompok yang akan tidur di dalam tenda, siapa lagi kalo bukan kelompok istrinya dari divisi perencanaan. 


Seperti dugaan Langit Kinan menjadi pengacau di kelompoknya. Tak ada yang bisa dia kerjakan bahkan untuk mengupas bawang pun dia tidak bisa. Kinan seperti menampilkan kebodohannya di depan para karyawan lainnya, gelak tawa sering tercipta ketika dia melakukan kesalahan. Walaupun tak bisa dipungkiri dia masih terlihat cantik dengan segala kebodohannya. 


Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika satu persatu para manusia masuk ke kamar mereka untuk beristirahat, begitu pun Kinan yang kini bersiap masuk ke dalam tendanya. 


"Feb bisa tolong tutup sekalian tendanya?" Ucap Kinan pada Febi teman satu tendanya.


Kinan begitu terkejut ketika mendapati suaminya yang masih mengenakan kemeja kerjanya yang masuk ke dalam tenda. 


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" Bisik Kinan. 


Langit lebih mendekatkan tubuhnya. "Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan dengan laki-laki berwajah kampret tadi?" Nada suara seperti merendahkan Rendi. 


Tau bahwa suaminya sedang cemburu Kinan sengaja menggodanya. "Memang kau pernah lihat kampret yang setampan dia?" Kinan tersenyum simpul.


Tanpa Kinan duga tindakan suaminya membuatnya reflek menjerit. 


"Apa yang kau lakukan? Ini bisa disebut tindakan pelecehan!" Bentak Kinan. 


"Silahkan kau laporkan sana, tuntut aku sekalian ke pengadilan." Ancam Langit dan kembali merem*s dada istrinya lagi. "Ini hukuman untukmu." Sebuah ciuman pun didaratkan ke bibir Kinan.


Langit mencium Kinan dengan rakus seperti orang yang sedang benar-benar kelaparan mambuat Kinan sulit mengatur nafasnya. 


"Aku bisa mati karena ciumanmu!" Ucap Kinan yang berhasil melepaskan panggutan mereka. 


Entahlah, sejak pertemuannya dengan Rianti otak Langit seperti terbelah dua. Kenangan-kenangannya bersama Rianti terus berputar-putar di pikirannya. Kekecewaan itu kembali muncul setelah mereka bertemu, Langit takut hatinya akan berpaling lagi kepada wanita yang menemaninya mendapatkan pengalaman melihat dunia luar dengan berbagai macam warna di dalamnya. Tak bisa dipungkiri peran Rianti amat penting untuk Langit yang dulunya sulit bergaul dengan dunia luar, kesan dingin yang dia timbulkan membuat orang lain enggan bergaul dengannya. Tapi Rianti dengan sabar mengajarkan Langit arti sebuah kebersamaan dan cara bersosialisasi dengan orang sekitar.


"Aku memang akan menghabisimu malam ini." Ucap Langit yang kembali mencium bibir ranum istrinya yang selalu berkata kasar dan mengejek dirinya.


"Kau ingin kita main disini?" Tanya Kinan yang baru tersadar bahwa mereka sedang berada di dalam tenda. 


"Kau mau membangunkan semua orang karena suara desahanmu yang berisik?" Langit kembali mengancingkan kemejanya yang sudah Kinan buka. 


"Diam kau, bukankah kau juga sama berisiknya seperti aku?"


Sementara itu Bara, David dan kedelapan rekan kerja Kinan yang sedang berjaga di luar tenda menjadi salah tingkah dengan obrolan erotis pasangan suami istri yang tidak tahu tempat itu. 


"Hei, David! Apakah kau sedang membayangkan apa yang aku bayangkan?" Tanya Bara dengan wajah merahnya. 


David hanya menelan ludah sambil menggelengkan kepalanya. 


"Tapi wajahmu berkata lain." Bara terus menggoda David yang juga merah wajahnya. 


"Kalian kenapa diem aja?" Tanya Arin kepada teman-temannya yang wajahnya tak kalah merah dengan Bara dan David.


"Kamu juga pasti tau jawabannya." Jawab Natan yang sudah berkeringat padahal udara malam sangat dingin. 


Malam itu Langit menepati janjinya untuk menghabisi istrinya, Kinan benar-benar dibuat kelelahan dengan serangan-serangan memabukkan yang diberikan suaminya. 


Langit sengaja menyusul mereka kesana bukan hanya karena rasa cemburunya tapi untuk memantapkan diri untuk berlabuh kepada siapa hatinya kelak. Tapi setelah melewati malam panjang mereka, dia bisa sepenuhnya menyadari Kinan lah tempat pelabuhan terakhir cintanya.


Dan setelah bangun nanti Langit bisa memastikan bahwa akan ada kemarahan yang akan meledak dari istrinya setelah dia menatap cermin besok. 


🐣🐣🐣


Kinan duduk dengan melipat kedua tangannya di dada, ret seleting jaketnya dia pasang hingga menutupi leher dan tak lupa wajah cemberutnya yang dia pasang ketika menonton games perang bantal yang sedang berlangsung di kolam renang. 


"Mbak Kinan kenapa?" Tanya Febi kepada Arin. "Sakit?" 


"Dia lagi marah sama Pak Langit karena gak bisa ikut acara ini." Jawab Arin sambil berbisik. 


"Emang kenapa?" Kali ini pertanyaan dilontarkan oleh Siska. 


"Lehernya penuh sama kissmark karya suaminya." Arin cekikikan. 


Dia kembali mengingat betapa marahnya Kinan ketika memasuki kamar hotel sekembalinya dia dari kamar suaminya. Wajahnya merah padam karena kesal. Tak lama Langit menyusul masuk ke dalam kamar dengan senyum merekah yang baru pertama kali Arin lihat.


"Keluar kau, aku benci dirimu!" Kinan mendorong tubuh suaminya dengan semua tenaga yang dia miliki.


"Hei Bodoh ini masih pagi dan kau terus saja marah-marah sejak bangun tidur." Langit pura-pura tidak mengerti mengapa istrinya marah. 


"Jangan pura-pura bodoh! Apa yang kau lakukan sewaktu aku tidur?"


Langit hanya mengangkat kedua bahunya, seolah tidak mengerti apa yang istrinya maksud. 


"Lalu aku harus menyalahkan siapa karena leherku penuh stempel bibirmu?"


Langit terbahak-bahak ketika Kinan menunjukkan banyaknya tanda yang dia buat ketika istrinya sedang terlelap. 


"Bukankah kau tidak menolak waktu aku melakukannya?"


"Aku masih sadar betul kau hanya mencetaknya di dadaku bukan di leherku." Bentak Kinan dengan memasang wajah jijik kepada suaminya. 


"Sudahlah jangan marah. Kau jadi tambah cantik kalau sedang marah." Langit terus saja tersenyum melihat betapa marahnya istrinya. 


Mereka benar-benar tidak memperdulikan Arin yang sedang menonton mereka di ranjangnya. 


"Diam kau suami mesum!"


"Memang sudah seharusnya aku mesum kepada istriku. Bukankah kau juga begitu menyukai kemesumanku?" Langit benar-benar sedang menguji kesabaran istrinya.


"Diaaaaam!" Jeritan Kinan benar-benar memekakkan telinga.


"Ku bilang jangan marah-marah terus, kau jadi semakin membuatku ingin menerkammu sekali lagi."


"Ma,, ma,, maaf. Sepertinya saya harus keluar dulu." Arin memberanikan diri mengeluarkan suaranya dia benar-benar sudah tidak kuat lagi melihat kelakuan mereka.


"JANGAN!" Bentak Kinan. "Kalau kau berani keluar aku tidak akan membantu pekerjaanmu lagi." Ancam Kinan.


"Pergi kau Bodoh!" Ucap Kinan pada suaminya yang kini telah melingkarkan lengannya di pinggang kecilnya. 


"Morning kiss!" Pintar Langit. 


"Cih, tak sudi!"


"Oke aku akan terus begini." Kini wajahnya sudah menangkup di leher Kinan. 


Tak ada pilihan lain, akhirnya Kinan pun memberikan morning kiss yang Langit inginkan dan lagi-lagi mata Arin harus ternodai kelakuan mereka.