
Langit menggeliat meluruskan tubuh di ranjang yang berada di ruang kantornya, hari yang sangat melelahkan dan menggairahkan untuknya dan Kinan yang telah mereka lalui beberapa jam yang lalu. Benar-benar siang basah dan erotis. Ditatapnya wajah istrinya yang masih terlelap di sampingnya yang terlihat lelah setelah melakukan olahraga berat bersamanya, walaupun sedang tidur dia tetap terlihat cantik, pikir Langit. Ingin sekali dia melakukan hal itu sekali lagi, namun sial, ternyata waktu sudah hampir petang ketika dia melirik ke arah jam. Entah sejak kapan hujan mulai berhenti, kini hanya menyisakan titik air yang masih menempel di kaca jendela dan embun yang menghalangi sinar mentari yang terlihat sangat ceria. Sore itu Langit begitu cerah secerah hati Langit yang berhasil mendapatkan kado di hari ulang tahun istrinya.
Langit membangunkan Kinan dengan sebuah kecupan, perlahan dia pun membuka mata. Lelah, itulah yang dia rasakan saat pertama membuka matanya. Senyuman suaminya mengingatkannya kepada hal erotis yang mereka lakukan beberapa jam lalu membuat semu merah di pipinya.
Langit tersenyum melihat Kinan yang terlihat merona di balik selimutnya. "Mau sampai kapan kau tidur? Ini sudah hampir petang! Aku menggajimu untuk bekerja di perusahaanku bukan untuk menggodaku!"
"Diam! Aku lelah sekali, aku seperti sudah maraton sejauh sepuluh kilometer." Keluh Kinan.
Bagaimana tidak lelah, mereka bercinta tak hanya sekali tapi berkali-kali.
"Turunkan aku! Kita mau kemana?" Teriak Kinan yang sedang digendong Langit.
"Keliling kantor!" Jawab Langit asal sambil membawanya ke kamar mandi.
Kinan berusaha menutupi dadanya dengan tangannya karena saat itu dia tidak mengenakan apapun.
"Apa yang mau kau sembunyikan dariku?" Langit begitu senang melihat semburat merah di pipi istrinya lagi.
💗💗💗
"Apa yang harus aku katakan pada teman-temanku nanti jika mereka bertanya?" Kinan kembali mengintip keluar.
"Bilang saja kau habis memberikan service kepada Presdir mereka!" Langit sengaja mendorong tubuh istrinya keluar dari ruangannya yang dibalas pelototan tajam oleh Kinan.
Kinan berusaha berjalan dengan santai walaupun hatinya bergemuruh. Pasalnya dia belum kembali ke biliknya sejak jam makan siang tadi. Matanya melihat sekeliling, ternyata teman-temannya masih sibuk di biliknya masing-masing. Dia pun duduk berusaha tak mengeluarkan suara sedikitpun agar kedatangannya tidak diketahui teman-temannya.
"Kamu dari mana?" Suara Natan berhasil membuatnya melonjak dari kursinya.
Kinan begitu gugup. "Mmm, anu aku ada keperluan tadi di luar."
"Kenapa rambutmu basah?"
"Tadi aku kehujanan, jadi sekalian saja aku cuci rambutku." Jantungnya berdebar sangat kencang ketika menjawab pertanyaan dari Natan, dia berdoa agar Natan segera menutup mulutnya dan kembali ke aktivitasnya.
Beberapa menit setelah Kinan sudah bisa mengontrol detak jantungnya, Langit keluar dengan rambut yang juga basah untung teman-temannya tak memperhatikannya. Tangan kanannya membawa sebuah kotak yang cukup besar. Entah apa yang dia bawa Kinan tak tahu.
Sebuah pesan masuk ke handphone Kinan bersamaan dengan masuknya Langit ke dalam lift.
"Jika kau ingin tahu kado apa yang akan aku berikan di hari ulang tahunmu ini, kejar aku sekarang!"
Melihat pesan dari suaminya membuat Kinan bersemangat, dia segera pergi dari biliknya tanpa pamit kepada teman-temannya.
"Apa kita gak terlalu kelewatan ke Mbak Kinan?" Tanya Febi selepas Kinan pergi yang sejak tadi berusaha menahan nafas.
"Yuk kita siapin semuanya sekarang!" Ajak Natan.
💕💕💕
Ternyata Kinan telah terlambat, dia tidak melihat mobil suaminya di parkiran, pasti dia sudah pulang. Kinan segera mengendarai mobilnya agar sampai di apartemen mereka lebih awal dari suaminya.
Tapi lagi-lagi dia terlambat, lampu apartemen mereka telah menyala.
"Mana hadiahku?" Teriak Kinan sambil menyimpan tasnya di ruang tengah dan segera berlari ke kamar mereka.
Dia begitu senang ternyata suaminya tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Kinan melihat suaminya sedang merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Mana hadiahku?"
Kinan langsung memasang wajah tidak sukanya kepada Langit. "Itu kado untukku apa untukmu?" Bentak Kinan.
Langit tertawa. "Baiklah jika yang tadi itu kado untukku, bagaimana jika kita melakukan itu lagi sebagai kado untukmu!" Goda Langit.
Kinan cemberut tanpa mengatakan apapun tapi memasang wajah protes kepada suaminya.
"Dasar pelit, ini adalah ulang tahun terburukku, bahkan aku tidak punya lilin untuk aku tiup." Kinan mengiba.
"Sepertinya aku akan menemui teman-temanku saja untukku ajak pesta. Mungkin saja mereka akan mengadakan pesta kecil-kecilan walau hanya sekedar menyediakan kue tart untukku tiup." Lanjutnya seolah dia sangat terpuruk di ulang tahunnya ini.
Kinan pun pergi ke kamar mandi, tapi dia tidak tahu jika Langit mengekorinya. Dan pertempuran mereka pun terulang lagi.
Bel pintu terus berbunyi ketika sepasang anak manusia itu keluar dari kamar mandi yang berada di kamar mereka.
"Mungkin Bara, tadi aku menyuruhnya membelikan kue tart untukmu. Dia tidak tahu pin baru kita." Jawab Langit dan keluar untuk membukakan pintu untuk adiknya.
Orang-orang begitu terkejut melihat pemandangan langka yang menyegarkan mata lelah mereka. Langit berdiri setengah telanjang di depan pintu apartemen yang mereka datangi. Natan hampir saja menjatuhkan kue tart yang sudah dihiasi angka dua dan sembilan. Berkali-kali para wanita menelan ludah melihat pemandangan yang begitu menggoda iman.
Ya mereka adalah rekan kerja Kinan di kantor yang juga para bawahan Langit yang datang berniat memberi kejutan ulang tahun untuk Kinan.
"Se, se, sepertinya kita salah a, a, alamat." Febi begitu gugup melihat atasannya yang dingin itu berdiri di hadapannya dan mempertontonkan tubuh seksinya. Pastinya pemandangan ini akan terus berputar-putar di kepalanya selama beberapa hari kedepan.
"Mana kue ku?" Ucap Kinan yang keluar dari kamar mereka juga hanya mengenakan jubah mandinya dan handuk yang dililit di kepalanya.
Dia juga sangat terkejut melihat kejutan ulang tahun dari rekan kerjanya.
Melihat para teman-teman wanitanya seperti tergiur ingin memangsa suaminya, Kinan segera berlari dan menarik lengannya.
"Tutup mata kalian!" Bentak Kinan sambil memeluk Langit untuk menutupi tubuh seksinya itu.
Beberapa menit kemudian Kinan kembali ke ruang tamu tempat teman-temannya berada.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Ucap Kinan masih berusaha menyembunyikan pernikahan mereka.
Waktu Natan tahu jika mereka sepupuan saja dia begitu syok, apalagi jika tahu jika mereka adalah sepasang suami-istri, bisa terjadi stroke masal urusannya.
"Kamu mau membohongi siapa?" Ucap Langit sambil menunjuk bingkai ukuran besar yang memajang foto pernikahan mereka di ruang itu dengan dagunya.
Ingin memberikan kejutan ulang tahun kepada Kinan tapi kenapa jadinya mereka yang dibuat terkejut? Otak mereka masih mencerna semua fakta yang baru mereka dapatkan. Ini seperti mimpi, tidak ini pasti mimpi, ya pasti mimpi. Pikir mereka. Sambil terus memandang foto pernikahan Kinan dan Langit kemudian berpaling pada kedua orang yang berdiri di hadapan mereka.
Benar-benar situasi yang sangat canggung. Saking canggungnya bahkan mereka tidak menyadari jika posisi duduk mereka seperti seorang murid yang sedang berada di ruang guru BK karena tertangkap basah membolos. Mereka duduk dengan sangat tertib, kedua kakinya merapat, sambil memangku tangan dengan posisi menggenggam angin.
Kinan menghembuskan nafas pasrah. Sekarang siapa yang mau berteman dengannya di kantor? Pasti teman-temannya akan canggung jika bertemu dengan Kinan nanti.
"Bisakah kau tinggalkan kami? Kau membuat mereka ketakutan." Ucap Kinan pada suaminya yang berdiri di sampingnya.
Langit memandang istrinya bingung. Memang apa yang dia lakukan? Bukankah dia hanya berdiri saja bahkan bersuara pun tidak.
"Memang apa salahku?" Ini adalah kata-kata yang pertama Langit ucapkan di hadapan mereka. Dan itu berhasil membuat jantung mereka kembali berpacu kencang.
"Tatapanmu itu seperti ingin menelan mereka hidup-hidup Bodoh!" Bentak Kinan.
Hampir saja mereka memuntahkan jantungnya yang melonjak ke tenggorokan tak percaya dengan pendengarannya bahwa Kinan dengan mudahnya mengatai si pemilik mata es itu 'Bodoh'.