LOVE IS SO SWEET

LOVE IS SO SWEET
Makan siang



Kinan sedang duduk di ruang tengah sambil memperhatikan para pekerja rumah tangga yang sedang membersihkan apartemen milik suaminya. Mereka adalah pembantu yang bekerja di rumah keluarga Langit, biasanya mereka datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah Tuannya. Tapi semenjak kedatangan Kinan mereka jadi datang setiap hari. Mereka biasanya datang setelah Kinan dan Langit berangkat ke kantor.


"Bi, sudah berapa lama Bibi bekerja di rumah Langit?" Kinan bertanya ke salah satu pembantu yang usianya lebih tua dari yang lainnya.


"Sejak Tuan masih sekolah dasar." Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tugasnya yang sedang menyedot debu di ruangan itu.


"Bagaimana dia sehari-harinya?"


"Tuan orang yang sedikit tertutup bertolak belakang dengan Tuan Bara yang ceria, dia jarang terlihat tersenyum apalagi tertawa, dia juga tidak pernah membicarakan masalah pribadinya kepada siapapun. Dari kecil Tuan sudah dididik untuk menjadi penerus perusahaan, jadi dari dulu dia lebih sering belajar daripada bermain, hari-harinya selalu dia habiskan dengan berbagai les. Sampai akhirnya Tuan meminta izin sekolah di luar negeri, dan sejak itu sifatnya mulai berubah seperti sekarang ini, mungkin karena dia bertemu dengan Nona Rianti yang ceria,jadi sifatnya juga ikut sedikit berubah, dia jadi terlihat sering tersenyum dan bercanda terutama dengan Tuan Bara." Jawab si Bibi panjang lebar.


"Siapa itu Rianti?"


"Mantan tunangan Tuan." Jawab Si Bibi ragu-ragu takut menyinggung perasaan Kinan.


"Oh, lalu sekarang dimana dia?"


" Saya kurang tau Non, semenjak Non Rianti memutuskan pertunangan mereka. Kita sudah tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Tapi yang saya dengar sekarang dia tinggal di luar negeri, yang saya dengar dia itu seorang Desainer Non."


"Kenapa mereka putus?" Kinan mulai penasaran dengan cerita cinta suaminya di masa lalu.


"Tuan tak pernah bercerita. Dia menutup rapat cerita cintanya." 


Kinan hanya ber oh ria, dan pergi mengambil kunci mobilnya untuk keluar.


*


Baru sehari jadi pengangguran Kinan sudah merasa sangat bosan, dia melajukan mobilnya ke arah salon langganannya untuk creambath menghilangkan kejenuhannya.


Taka ada yang bisa dia lakukan di rumah, tak ada yang bisa diajak mengobrol di apartemennya, para pembantunya seperti menjaga jarak kepadanya saat bicara, Langit yang biasa diajak bertengkar pun tak ada.


"Kau sedang apa?" Sebuah chat dari Langit masuk ke akun WhatsApp-nya


"Creambath. Aku sedang menikmati masa-masaku jadi pengangguran."


"Sudah makan?" 


"Belum. Apa kau mau mentraktirku makan?"


"Aku juga belum makan. Sekalian saja kau mampir ke kantorku dan belikan makan siang untukku juga. Aku sedang sibuk tidak sempat keluar." 


Pesan terakhir dari Langit itu benar-benar membuatnya geram.


"Apa aku masih harus bersandiwara menjadi istri yang baik? Aku kira dia mengkhawatirkan keadaanku. Dasar bodoh!"


Sekitar satu jam kemudian, mobil Kinan sudah terparkir di parkiran perusahaan suaminya. Ini bukan pertama kalinya dia memasuki kantor suaminya, dia pernah datang bersama Fadli sebelum acara pernikahan mereka.


Hampir semua mata pegawai melirik ke arah Kinan yang saat itu hanya memakai celana jeans dan t-shirt dengan brand terkenal, dia terlihat sangat cantik hari itu, dan juga terlihat sangat segar. Rambut panjangnya dibiarkan digerai begitu saja. Dia terlihat seperti anak perempuan yang masih duduk di bangku kuliah.


"Bar!" Ucap Kinan ketika melihat Bara yang baru keluar dari lift.


"Sedang apa kau di sini Kakak Ipar?" Tanya Bara setengah berbisik takut ada yang mendengar. Karena tak ada seorangpun pegawai kantornya yang tau hubungan Kinan dan atasan mereka.


"Menjadi istri yang baik." Jawab Kinan dengan berbisik juga. Mengangkat tangan kanannya yang membawa kantong plastik berisi makanan untuk suaminya.


"Kalo begitu mari aku antar." 


"Ayo."


Kinan melingkarkan tangannya di lengan adik iparnya. Hingga semua yang melihat kejadian itu menyangka bahwa Kinan adalah kekasihnya Bara.


Kinan dan Bara sudah sampai di depan ruangan Langit. Seperti biasa Bara masuk begitu saja tanpa permisi.


"Mana laporan keuangan yang ku minta?" Tanya Langit tanpa menoleh ke arah Kinan ataupun Bara.


"Aku belum mengambilnya Kak. Aku mengantar Kakak Ipar dulu kesini." 


"Cepat kau ambil laporan yang ku minta!" 


"Kak, santai lah! Aku bisa mengambilnya setelah makan siang bersama kalian." Rengek Bara.


Langit membenarkan letak kacamatanya, lalu berdiri dan memasukan tangannya ke dalam saku celana. Ditatapnya Bara dengan tatapan mengancam tanpa bersuara. Melihat raut wajah Kakaknya yang berubah dingin membuatnya beranjak dari duduknya.


"Baiklah! Aku akan  ambil laporan yang kau mau sekarang." Ucapnya sambil berlalu.


Langit menghampiri Kinan yang sedang membuka bekal makan siang mereka dan duduk disampingnya.


"Kau mau makan ikan apa ayam?" Tanya Kinan melihat suaminya masih sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Apapun yang kau suapkan ke mulutku aku makan." 


Jawaban Langit membuat Kinan menaikkan sudut bibir atasnya.


"Apa maksudmu kau minta aku suapi?" Bentak Kinan


"Kau tak melihat aku sedang sangat sibuk?" Suara Langit mulai meninggi, dia seperti sedang memancing perdebatan dengan wanita cantik yang ada di hadapannya.


"Memang salah siapa kau begitu sibuk?" Balas Kinan tidak kalah tinggi.


"Memang siapa yang membuatku kehilangan investor ku hingga membuatku jadi sesibuk ini?"


Ucapan Langit membuat Kinan membisu, dan mengingatkannya kembali dengan tragedi pertemuannya dengan Langit yang membuat Kinan harus terikat pernikahan dengan Presdir muda yang menurutnya sangat menyebalkan.


Langit mulai membuka mulutnya, tanpa melihat istrinya yang sedang memasang wajah kesal.


Mau tak mau Kinan menyuapi Langit dengan sabar.


"Seharusnya kau berbuat baik kepadaku agar diterima melamar pekerjaan di perusahaanku." Ejek Langit ketika dia selesai menyantap makanan yang Kinan bawa dan kembali ke mejanya yang penuh dengan dokumen.


Tak lama Bara dan David masuk ke dalam ruangan Langit.


"Ini laporan yang kau mau. Aku akan makan siang yang Kakak Iparku bawakan untukku dulu. Jangan ganggu aku sampai makan siangku beres!" Ucap Bara yang terlihat kesal, karena hari ini Kakaknya seperti sengaja membuatnya sibuk.


"Ayo makan bareng. David aku juga membawakan makan untuk mu juga." Kinan mengeluarkan kotak makan dan memberikan kepada mereka masing-masing.


Ketiga orang itu makan dengan diselingi banyak canda dan tawa, sedangkan Langit hanya memperhatikan mereka dari balik meja kerjanya dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.