Little Wife CEO

Little Wife CEO
Gara-gara Semut



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bi, siapa yang datang?" tanya Wulan menghampiri Bi Siti di dapur. Dia sempat mendengar suara mobil keluar dari halaman rumahnya.


"Oh, itu Tuan Reno, Nyonya. Anterin Non Syasya pulang sekolah, tapi Non Syasya ketiduran dimobil, jadilah digendong ke kamarnya." Bi Siti cengengesan membayangkan bagaimana repotnya Moreno menggendong Syasya naik tangga.


"Hehehe... anak itu selalu saja merepotkan! Tidak saya, Papanya dan sekarang Moreno calon suaminya. Sampai kapan anak itu sadar kalau sekarang dia bukan anak kecil lagi?" Wulan geleng-geleng kepala. Putrinya sampai sekarang masih saja tidak berubah, masih bersifat kekanak-kanakan.


"Tenang aja Nyonya, Nanti juga ada waktunya." Bi Siti mulai mengambil bahan makanan dikulkas untuk dimasak sebagai makan malam.


"Mau masak apa Bi?"


"Ikan gurame, udang asam manis, cah kangkung, dan cumi goreng." jawab Bi Siti sambil mencuci bahan makanan yang akan dimasak.


"Oke Bi, saya bantuin."


Meskipun Wulan memiliki ART, tapi dia tidak pernah diam saja dirumah. Ia selalu menyempatkan diri membantu Bi Siti di dapur menyediakan makanan untuk keluarganya.


Satu jam kemudian semua makanan sudah tersaji diatas meja makan. Wulan kembali kekamarnya membersihkan diri dan menunggu suaminya pulang.


"Bi, Syasya belum bangun?" tanya Wulan menuju meja makan bersama Yudistira.


"Sepertinya belum Nya."


Wulan dan Yudistira menarik kursi kemudian duduk.


"Bi, panggil Syasya makan bareng," perintah Yudistira.


"Iya Tuan," baru saja Bi Siti hendak melangkah, teriakan Syasya dari atas sudah terdengar.


"Aaaaa......" Teriak Syasya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Syasya membuka matanya dengan perlahan, mencoba mengumpulkan nyawanya yang baru saja sadar dari mimpi indahnya.


"Eh, tunggu! kenapa Syasya ada dikamar? bukannya tadi didalam mobilnya Om ya?"


Menyadari keberadaannya dimana, Syasya segera duduk, pakainnya sudah berganti pakaian rumah. Dimana pakaian sekolah dan celana panjangnya? Apa Moreno yang menggantikannya?


Tidak! nggak mungkin! Syasya menggelengkan kepalanya. Bagaimana jika Moreno melihat tubuh polosnya, Kan malu?


"Aaaaa......" Teriaknya dengan kencang membuat Bi Siti buru-buru berlari dari dapur menuju kamarnya.


"Tuh suara Tarzan kota, sepertinya sudah bangun!" ujar Wulan membuat Yudistira geleng-geleng kepala.


"Mah, Masa anak sendiri dibilang Tarzan kota? ada-ada aja kamu."


"Hanya Tarzan Pah yang suka teriak-teriak. Perasaan waktu ngidam tuh anak, Mama nggak pernah teriak-teriak deh, kenapa dia jadi seperti itu? apa jangan-jangan Papa yang kayak gitu waktu kecil?" selidik Wulan menaikkan sebelah alisnya.


"Enak aja, Mama kali?"


"Ih kok Mama lagi?"


"Syasya kan anak Mama."


"Anak kamu juga Pah." Wulan mengingatkan suaminya, mengambil piring laku mengisinya dengan makanan. "Segini aja Pah?" tanya Wulan memperlihatkan isi piring untuk suaminya.


"Iya sayang, cukup!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Non... ada apa?" Bi Siti langsung masuk kamar tanpa mengetuk pintu. Ia begitu menghawatirkan keadaan Syasya.


"Ini.. siapa yang mengganti pakaian Syasya?" tanya Syasya sambil memegang bajunya.


Bi Siti bernapas lega, dia pikir Syasya kenapa-napa. "Itu Bi Siti, Non."


"Kenapa nggak bangunin Syasya? trus yang membawa Syasya ke kamar?" Syasya mengernyitkan keningnya.


"Tuan Reno, habis Non Syasya tidurnya sangat pulas. Masa digendong nggak nyadar. Hehehe...Tuan Reno sampai ngos-ngosan naik tangga," Bi Siti mengingat bagaimana perjuangan Moreno membawa Syasya kekamarnya.


Syasya diam dan bernapas dengan lega. Untung bukan Om yang ganti baju gue.


"Sekarang turun makan Non, sudah ditunggu dibawah."


"Ia Bi, sebentar lagi Syasya turun, mau cuci muka dulu, masih ada ilernya, hehehe....." Syasya cengengesan memperlihatkan giginya yang putih kemudian beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Bi Siti kembali turun ke dapur.


Dikamar mandi Syasya menatap wajahnya yang sedikit berbeda. "Sepertinya ada yang aneh, tunggu! kok bibir Syasya bengkak? apa digigit semut ya?"


Syasya memegang bibirnya yang bengkak dan sedikit kebas, baru kali ini ada semut yang mengigitnya pada saat tidur.


"Syasya harus cari tuh semut, mungkin masih nempel di bantal."


Setelah cuci muka dan sikaat gigi, Syasya keluar kamar mandi. Disibaknya selimut kemudian mencari semut yang suudah berani menggigitnya. Tapi anehnya Syasya tidak menemukan semut itu.


"Kok kamu lama sih Sya? Makanan Mama, Papa sudah mau habis nungguin kamu," tanya Wulan begitu Syasya datang, menarik kursi lalu duduk disamping Wulan.


"Syasya cari semut Mah." Syasya mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk, setelah itu mulai menyantap makan malamnya.


"Semut?"


"Ya, liat bibir Syasya, bengkak kan? pasti gara-gara digigit semut Mah!"


"Dapat nggak semutnya?" kini Yudistira yang bertanya.


"Nggak, Pah!" Syasya menggelengkan kepalanya kemudian kembali menyuap nasi.


"Berarti semut gajah tuh!" ujar Yudistira sambil geleng-geleng kepala. Berani-beraninya Moreno mencium putrinya yang sedang tidur. Padahal sebelumnya Moreno menolak perjodohan mereka, tapi sekarang belum apa-apa Moreno sudah nyosor duluan. Wah.. kalau kayak gini pernikahan harus dipercepat.


"Maksud Papa?"


"Sudah, jangan banyak nanya lagi, lanjutkan makanmu."


"Nggak usah dicari, semutnya sudah pergi." ujar Wulan membuat Syasya mengernyitkan keningnya.


"Kok Mama tau kalau semutnya sudah pergi?"


"Bibi yang mengantarnya, Non." jawab Bi Siti kemudian menutup mulutnya.


"Maksudnya, Bibi yang membuangnya?"


"Ya begitulah kira-kira, Non."


Syasya mengangguk seakan mengerti. Lihat saja bagaimana polos dan menggemaskannya Syasya dihadapan keluarganya.


"Sya, gimana hubungan kamu dengan Reno? dia baik kan?" tanya Wulan setelah mereka selesai makan.


Sudah kebiasaan setelah makan, mereka sekeluarga menyempatkan mengobrol dimeja makan.


"Baik apanya Mah, orang dia nyebelin gitu! hobby banget buat Syasya marah. Kita itu nggak cocok, suka berantem. Pokoknya Syasya minta Mama Papa batalin aja perjodohan ini ya? Syasya masih kecil, belum berbakti pada kalian, masih mau kuliah dan meniti karir. Ya.. please..." Syasya memegang tangan Wulan sembari memohon. Siapa tau aja kali ini orangtuanya luluh dan berubah pikiran.


Hehehe....


"Syasya... Syasya..." Yudi tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Semuanya bisa kamu lakukan setelah menikah. Apapun cita-cita kamu, kami semua mendukung termasuk Reno. Kami sudah bicara masalah sekolah dan kuliah kamu, dan kamu tetap bisa melanjutkannya. Intinya, pernikahan kalian tidak akan menghambat pendidikanmu."


"Intinya nggak bisa dibatalin nih Pah?"


"Nggak sayang...!"


"Ah... Syasya kerjain PR aja kalau gitu. Mama Papa nggak asik!" kesal Syasya merajuk, bibirnya mengerucutkan seperti biasanya. Ia menghentakkan kakinya kemudian segera menuju kamar.


Begitu masuk kamar, ia mengeluarkan buku PR dan mulai mengerjakan tugasnya. Satu jam kemudian semua tugasnya selesai meskipun ia sempat kewalahan mencari jawabannya.


"Ahh... akhirnya selesai." Syasya menghela napas lega kemudian memasukkan kembali buku-bukunya didalam tas.


Drrtt.. drrtt.. drrtt...


Suara ponsel Syasya berbunyi.


Syasya segera melihat panggilan yang masuk dan ternyata panggilan grup bersama Fira, Dea dan Syifa.


"[Halo.]" jawab Syasya.


"[Sya... lo baik-baik aja kan?]" Tanya Fira.


"[Baik apanya, gue ketangkep polisi.]"


"[Trus, sekarang kamu dikantor polisi?]" kini Fira yang bertanya.


"[Gue sudah pulang.]"


"[Siapa yang keluarin lo?]" tanya Syifa.


"[Om gue.]"


"[Syukurlah ada Om lo, apa Papa lo tau?]" tanya Fira


"[Nggak lah, mana berani gue, bisa-bisa gue dipecat jadi anak kesayangannya. So, kalau kalian ketemu orangtua gue, jangan sekali-kali bahas masalah balapan, Oke?]" pinta Syasya.


"[Okey...]" serentak ketiganya.


"[Kali ini lo beruntung Sya karena bukan Axel dan Rico yang menang balapan, tapi siapa laki-laki yang memenangkan balapan ya? gue penasaran banget tuh cowok, gentlemen banget deh pokoknya.]" ujar Fira.


"[Gue apalagi.]" ujar Syifa


"[Sama gue juga penasaran.]" ujar Syasya.


"[Sya.. PR lo sudah selesai belum?]" tanya Dea.


"[Kalau sudah mau nyontek lagi?]"


"[Hehehe.... tau aja lo kebiasaan kita. Banyak yang gue nggak ngerti. Dari dua puluh pertanyaan, gue cuma bisa jawab lima.]" ungkap Fira.


"[Kalau gue sepuluh.]" ungkap Dea.


"[Trus, masalah buat gue?]" kesal Syasya yang sudah tahu maksud kedua sahabatnya.


"[Masa lo tega sam kita sih Sya? disuruh berdiri di depan kelas lo, kalo nggak selesai.]"


"[Bilang aja kalau mau nyontek.]"


"[Hehehe... lo memang sahabat yang baik dan pengertian.]"


"[Ya udah gue email deh.]"


"[Thanks Sya, We love you....]"


"[Ini nggak gratis ya? kalian harus bantuin gue nanti.]"


"[Siap Bos! apapun perintah Ratu akan kita laksanakan, ya nggak De.]"


"[Yoi...]"


"[Oke Bay....]"


"[Bay...]"


Setelah menutup telepon, saya mengirim tugasnya lewat email. Temannya yang berotak pas-pasan selalu mengandalkan Syasya. Tapi mereka selalu care pada Syasya, selalu membantunya disaat Syasya butuh.


.


.


Bersambung....