
Hening...
Semuanya terkejut, termasuk Syasya yang tidak tahu apa-apa.
"Kenapa tiba-tiba? apa kamu nggak betah tinggal bersama Mama? atau Syasya?" tanya Vina dengan raut wajah sedih. Berat rasanya jika harus berpisah dengan Syasya. Baru juga merasakan rumahnya hidup karena ada Syasya dan Moreno kembali tinggal disana. Tapi kenapa secepat itu mereka ingin pergi.
"Eh, Syasya sangat betah Mah tinggal disini. Apalagi Mama sayang banget dengan Syasya," sergah Syasya secepatnya agar Vina tidak bersedih. Syasya tidak habis pikir kenapa Moreno tidak bicara dengannya sebelumnya.
"Mmm.. kamu manis sekali sayang. Kalau begitu pasti gara-gara kamu Ren, ingin menguasai Syasya sendiri. Kamu mulai pelit ya sama Mama? Iya kan? ngaku aja," tuduh Vina.
"Aduh mulai deh dramanya," gumam Moreno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Bukan begitu Mah, Reno hanya ingin hidup mandiri bersama keluarga kecil Reno. Lagian Mama bisa kerumah ketemu Syasya kapan saja. Mama yang kerumah Reno, atau Syasya yang kesini. Gampangkan?" lanjut Moreno.
Vina berpikir sejenak, benar juga yang dikatakan Moreno. Mereka bisa bertemu kapan saja. Tapi, kenapa rasanya tetap sedih?
"Biarkan saja Mah, mungkin Reno ingin berdua saja dengan Syasya, dengan begitu mereka bisa belajar lebih dekat lagi," sela Dipta.
"Papa benar, Mah," ujar Moreno.
"Baiklah," pasrah Vina.
"Kamu yakin ingin segera pindah Ren? atau jangan-jangan ini hanya akal-akalan kamu aja agar jauh dari pengawasan kami, hem? atau kamu nggak mau diganggu?" tanya Dipta waspada.
"Jangan curiga seperti itu Pah, ini murni keputusan Reno sebagai kepala keluarga. Sebenarnya ingin besok pindahannya, tapi rumahnya masih dalam tahap finishing. Jadi, sekitar seminggu lagi baru selesai." jelas Moreno.
"Tuh kan, makin jelas jika kamu pengen berduaan terus dengan istri kamu," Dipta geleng-geleng kepala. Tahu saja apa isi kepala anaknya. Padahal sebelumnya ia sangat khawatir jika Moreno tidak bisa menerima Syasya sebagai istrinya.
"Like father like son, begitulah Sya.. mereka berdua. Nanti kamu juga terbiasa dengan sikap posesifnya Reno." ujar Vina.
Syasya hanya cengengesan. Ingin protes dengan keputusan Moreno, tapi ada Vina dan Dipta dihadapannya.
Moreno menyeringai, ia melirik Syasya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Syasya memutar bolanya malas, entah apa yang dipikirkan Moreno saat ini membuatnya waspada.
Drrtt.. drrtt...
Ponsel Moreno berbunyi, Moreno mengambilnya kemudian berjalan ke halaman belakang.
"Reno angkat telepon dulu ya," pamit Moreno.
Memangnya itu siapa yang telpon sih! kenapa harus pergi jauh-jauh? wah perlu diwaspadai nih! jangan-jangan bibit bibit pelakor. Awas aja lo Om, meskipun gue nggak cinta, tapi gue nggak mau ada orang ketiga, keempat, atau kelima dalam pernikahan gue." gumam Syasya dalam hati.
"Kamu kenapa liatin Reno begitu?" tanya Vina sambil mengikuti arah pandangan Syasya.
"Nah, nah, ketahuan kan liatin Om!"
Jika sudah ketahuan begini, Syasya tidak bisa mengelak lagi. Mama mertuanya sama persis dengan Mamanya. Pandai membaca pikiran Syasya.
"Iya..." ujar Moreno
"..."
"Aku kesana sekarang."
"..."
"Iya, jangan berbuat apa-apa sampai aku datang," ujar Moreno kemudian menutup teleponnya.
Rasa khawatir nampak diwajah Moreno membuat Syasya dan kedua orang tuanya heran.
Moreno segera kekamar, tidak lama serelahnya ia kembali keluar dengan kunci mobil ditangannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Dipta.
"Mau keluar sebentar Pah," jawab Moreno.
"Ketemu siapa?" tanya Dipta kembali.
"Pah, Reno sudah dewasa, kenapa Papa masih curiga dengan Reno?" Suara Moreno naik satu oktaf. Dia tahu jika Dipta pasti akan melarangnya.
"Biarkan aja Pah, biarkan Mas Reno selesaikan masalahnya," sela Syasya.
"Tuh, Syasya aja nggak keberatan, kenapa Papa yang marah. Reno hanya sebentar, sudah Reno mau pergi,"
"Kamu boleh pergi asal Syasya ikut, titik."
Moreno menatap Papanya dengan tajam. Ia tidak menyangka jika seperti itu keputusan Papanya. Menit kemudian dia melirik Syasya yang sedang menunduk.
Moreno menghela napas kasar. Terpaksa mengajak Syasya meskipun hatinya ingin menolak.
"Aku ambil tas dulu Mas," Syasya beranjak dari kursi. Ingin kekamar namun Moreno menahan tangannya.
"Nggak usah, begitu saja." ujar Moreno sambil menarik tangan Syasya keluar rumah.
Bukannya takut dan panik Syasya malah kegirangan dan mendukungnya.
"Wah... Om Bear sangat hebat!" puji Syasya sambil menaikkan jempolnya.
"Ayo Om lebih kencang lagi..." teriak Syasya dengan senyum lebar di bibirnya membuat Moreno meliriknya sekilas. Syasya semakin cantik saat tersenyum apalagi rambut panjangnya yang tergerai melayang-layang diudara terkena angin. Tidak lama kemudian akhirnya mereka sampai di basemen hotel.
"Lho, Om kenapa kita kehotel?" tanya Syasya waspada.
Bisa jadi kan, Moreno berubah pikiran dan ingin berbuat mesum dengan Syasya.
"Jangan bilang Om mau nina-ninu disini," ujar Syasya tanpa filter.
"Mau bulan madu," ketus Moreno.
"Jangan macam-macam deh Om. Serius nih, kita mau ngapain disini? Ooo gue tau, pasti temen Om ada disini iya kan?" tebak Syasya.
"Cerewet,"
"Syasya cuma nanya Om, kenapa harus marah."
"Diem nggak? ayo turun!" titah Moreno.
"Iya, iya.." Syasya membuka seat beltnya dengan kasar. "Kan bisa bilang baik-baik, Syasya.. kita sudah sampai, ayo turun," Gumam Syasya dengan nada suara lembut pada dirinya sendiri.
"Bona! kenapa bengong? mikirin mesum lagi?"
"Otak Om tuh yang gresek!" Syasya menunjuk Moreno dengan dagu.
Mereka kemudian berjalan menuju lift. Setelah lift terbuka Moreno segera masuk.
"Mau masuk tidak?" tanya Moreno.
"Iya, iya.." kesal Syasya.
Didalam lift mereka hanya berdua menuju lantai dua belas. Moreno menekan pelipisnya berkali-kali.
"Om ini kenapa sih! kalau ada masalah bicara aja dengan fue, kali aja bisa bantu," tawar Syasya namun Moreno hanya diam.
"..."
"Biarpun Syasya masih kecil menurut Om, tapi pikiran Syasya sudah dewasa," Syasya memuji dirinya sendiri karena Moreno tidak pernah memujinya.
"..."
"Setiap ada masalah, pasti ada jalan keluarnya kok, percayalah," Syasya menatap Moreno.
"...."
"Hanya kita sendiri yang menentukan, mau diselesaikan secepatnya atau biarkan berlarut-larut," lanjut Syasya.
"..."
"Usahakan mengambil keputusan disaat tidak emosi, biar keputusannya tidak membuat kita menyesal nantinya, dan...."
"Mmmphh...." Mulut Syasya langsung diam karena dibungkam oleh bibir Moreno. Moreno mengerangnya begitu cepat, bahkan ciumannya agal kasar namun terasa nikmat. Syasya ikut terbuai hingga memberi celah pada Moreno, membiarkan lidah mereka saling membelit dan merasakan. Sungguh bibir Syasya sudah bagai alkohol yang memabukkan.
Ting...
Pintu lift terbuka membuat dua orang paruh baya yang hendak masuk tercengang. Moreno dan Syasya segera menjauh. Setelah itu kedua orang tua itu masuk dan geleng-geleng kepala. Anak jaman sekarang apa seperti itu? tidak tahu tempat dan melakukan hal yang senonoh.
Malu..
Canggung...
"Nah kan, malu banget gue, wajahku pasti sudah merah nih. Air.. air... tolong siram wajah gue karena panas. Ingin rasanya terjun didasar sungai biar nggak ada yang liat," gumam Syasya dalam hati.
Syasya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Syasya sangat malu ketaguan orang lain, sedangkan Moreno memasang wajah dingin dan datarnya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Dasar Om nggak tau malu, liat aja wajah tak berdosanya. Ingin aku cakar-cakar saking ngeselinnya." rutuk Syasya dalam hati.
Ting....
Pintuk lift terbuka dan kedua paruh baya itu keluar. Tapi sebelum mereka menjauh, Moreno tiba-tiba bersuara.
"Dia istri saya," Tegas Moreno, tentu saja dia tidak mau jika orang lain berpikiran yang tidak tidak dengannya.
.
.
Bersambung.....