
"Mau aku antar Nona?" tawar Daffa.
"Nggak usah, biar aku cari sendiri." tolak Syasya kemudian segera pergi entah kemana.
"Non pantrinya sebelah sana." Teriak Daffa saat melihat Syasya kearah lain.
Syasya berbalik, memperlihatkan tatapan tajam dan mengerucutkan bibirnya. Sementara Daffa memegang bibirnya menahan tawa.
"Dasar Om-om, dia pasti sedang menertawakan gue. Apa semua orang dewasa suka mempermainkan anak kecil? ah, siaalan!" batin Syasya.
Dua puluh menit kemudian, Syasya masuk keruangan Moreno dengan secangkir kopi hasil racikannya.
"Bona, kalau mau masuk ruangan orang, ketuk pintu dulu, nggak sopan!" Ketus Moreno, tapi sayangnya Syasya tidak perduli.
"Bodo amat!"
"Kenapa lama sekali? aku menyuruhmu membuat kopi di pantri bukan dirumah kamu."
"Siapa yang buat kopi dirumah? Syasya lama karena cari pantrinya dulu Om, belum lagi dimana gelas, sushu, kopi dan krim, sendok, dan air panasnya. Jangan banyak protes deh Om, diminum aja apa susahnya sih!"
Moreno diam, melirik Syasya yang berjalan menuju sofa, setelah itu melirik Daffa kemudian menyesap kopi buatan Syasya.
"Nggak buruk! enak dan pas."
"Non, masa kopinya cuma satu, buat saya nggak ada nih?" tanya Daffa.
"Buat aja sendiri." ketus Syasya.
"Kopinya kok aneh, kamu nggak nambahin apa-apa selain yang saya sebutkan kan?" tanya Moreno kemudian kembali menikmati kopinya, bahkan sudah tiga kali ia meminumnya.
"Syasya tambain sianida Om!" jawab Syasya dengan santainya tanpa melihat lawan bicara, tangannya yang mungil sibuk membalas pesan WA dari sahabat-sahabatnya.
Prumphhttt
Kopi yang diminum Moreno tersembur keluar, bahkan mengenai jas dan kertas dihadapannya.
"Siaalan!" umpat Moreno.
Hehehe.....
Daffa akhirnya mengeluarkan tawa yang dari tadi ditahannya. Syasya memang gadis unik, selalu memiliki jawaban untuk membalas Moreno. Daffa saja kadang kehabisan kata-kata jika berdebat dengan Moreno dan berakhir memilih diam. Sungguh Syasya sebuah anugerah untuknya.
"Sabar Bos! menghadapi anak kecil memang agak susah." peringat Daffa.
Moreno mendengus kesal, membuka jasnya kemudian menghampiri Syasya yang sedang fokus pada layar ponselnya.
"Nih, cuci yang bersih." Moreno melempar jasnya ke wajah Syasya.
"Apa sih Om?" kesal Syasya.
"Aku bilang cuci yang bersih." bentaknya.
Syasya mendelik tajam, tapi hanya bisa pasrah mengambil jas itu kemudian meletakkan disampingnya.
"Bona!"
"Hmmm...."
"Kamu nggak denger?"
"Denger kok Om!"
"Kalau denger kenapa masih disitu? cuci sekarang!" perintah Moreno tak terbantahkan.
"Oke." Syasya beranjak, tidak lupa mengambil jas dan tas sekolahnya.
"Mau kemana kamu?"
"Kan Om nyuruh Syasya cuci ini! jadi Syasya mau pulang sekarang."
"Bona!" geram Moreno menaikkan nada suaranya, wajahnya sudah memerah saking kesalnya, emosinya semakin bertambah dan sepertinya tekanan darahnya mulai naik. "Cucinya di sana aja, hanu sedikit yang kotor kan? nggak usah dirumah."
"Oooo... bilang dong Om dari tadi." Dengan santainya Syasya melewati Moreno kemudian melewati Daffa, setelah itu menuju kamar mandi yang ada disudut ruangan.
"Hahahaha... sepertinya Anda butuh dokter Bos, terkanan darah Anda pasti naik." Tawa Daffa.
"Siaalan lo! Nggak perlu!" Moreno duduk dikursinya melanjutkan pekerjaannya yang sempat berhenti karena ulahnya sendiri.
"Nih, print ulang." Moreno menyerahkan kertas yang ada kopinya.
"Dasar bos!" Daffa geleng-geleng kepala kemudian membuka file dilaptop Moreno. Tidak lama kemudian dua lembar kertas keluar dari mesin printer.
Daffa mengambilnya kemudian menyerahkan pada Moreno.
"Nih, bos." ujar Daffa setelah meletakkan diatas meja. "Bos, saya ke ruangan dulu, masih ada yang harus saya selesaikan." ijin Daffa.
Daffa keluar dari ruangan Moreno kemudian menutup pintu. Setelah itu menuju ruangannya.
Tok.. tok.. tok..
"Bona.... kenapa lama banget didalam?" teriak Moreno mengetuk pintu kamar mandi.
"Belum kelar Om," sahut Syasya
"Hanya noda dikit, kenapa sampai sejam?" teriak Moreno. Moreno membuka pintu kamar mandi, ia tertegun melihat keadaan Syasya, jas Moreno direndam didalam washtafel berisi busa sabun penuh. Bahkan seragam sekolah Syasya juga ikut basah.
"Ya ampun... apa yang kamu lakukan dengan jasku? sebentar lagi aku meeting diluar kantor, kenapa jasku kamu rendam?" geram Moreno dengan wajah memerah menahan amarahnya.
"Hehehe... Om ini sudah pikun ya? tadi kan suruh nyuci jasnya, gimana sih."
"Aku suruh cuci yang kena noda saja, bukan semuanya?!"
"Trus gimana dong Om? sudah terlanjur basah gini." tanpa bersalah Syasya mengangkat jas Moreno, membuat Moreno semakin geram melihatnya.
Moreno berpikir sejenak, melihat wajah tak berdosa Syasya dengan pakaian basah memperlihatkan kacamata hitam dibalik seragam putihnya membuatnya mulai berpikir liar. Niatnya untuk mengerjai Syasya ternyata hanya membuat dirinya kerepotan sendiri dan tidak tega.
"Arghh... kau selalu merepotkanku. Keluarlah dan ganti pakaianmu," perintah Moreno.
"Ok, Om bisa menggir nggak, Syasya mau lewat." ujar Syasya karena Moreno menghalangi jalannya dipintu.
Moreno menyingkirkan tindakannya mulai tidak sinkron dengan pikirannya.
"Tunggu," Moreno mengikuti langkah Syasya.
"Iya Om?!"
"Kamu mau kemana?"
"Ih, Om pelupa juga ya? barusan suruh gue ganti baju kan? ya mau ambil baju di tas lah.."
"...."
"Ganti bajunya di kamar mandi, jangan disini."
"Iya Om, siapa juga yang mau ganti baju disini? nanti Om macam-macam lagi!"
"Jangan kira aku tertarik dengan kamu, lihat aja sendiri, kecil begitu." Moreno menunjuk dada Syasya yang basa memperlihatkan kacamata hitam dibaliknya.
"Aaaa... Om mesum!" teriak Syasya sambil menutup dada dengan menyilangkan kedua tangannya. Syasya segera berlari menuju kamar mandi, ia harus segera mengganti pakaiannya sebelum Moreno melihatnya terlalu jauh.
Prakk!
suara pintu kamar mandi tertutup dengan keras. Rupanya Syasya sangat kesal karena Moreno baru menyadarkannya jika bajunya transparan karena basah.
"Dasar Om mesum...!" Teriak Syasya frustasi didalam kamar mandi.
"Hahahaha...."
Moreno tertawa puas, ia sangat senang saat melihat pipi Syasya yang memerah karena malu masuk kedalam kamar mandi. Sudah dapat dia tebak jika gadis kecil itu pasti sedang mengumpatnya karena malu.
Lima belas menit kemudian, Syasya keluar da kamar mandi dengan pakaian yang sudah terganti. Baju kaos ketat hitam lengan pendek dan celana jeans robek di dibagikan lututnya.
Moreno melongo, melihat penampilan baru Syasya, layaknya pakaian anak remaja jaman know namun tidak membuat perasaan Moreno tenang.
"Om?" panggil Syasya namun tidak mendapatkan balasan.
"..."
"Om, terpesona ya?" ejek Syasya membiat Moreno jadi salah tibgkah
"Khemmm.." deham Moreno.
"Ayo ngaku..?!" Syasya semakin mendekat, jari telunjuknya kini berputar-putar di depan mata Moreno.
Moreno salah tingkah, menepis tangan Syasya kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Menyingkirlah dari hadapanku." ketus Moreno. Bukannya menjauh, Syasya malah memberanikan diri duduk dipangkuan Moreno, bahkan mengalungkan kedua tangannya dileher Moreno.
Moreno membeku, pandangan mereka bertemu, ia tak menyangka jika Syasya akan menggodanya seperti itu. Sungguh ini diluar ekspektasinya.
Masih dalam posisi seperti itu, tiba-tiba seseorang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dahulu.
"Khemmm... maaf, saya nggak liat apa-apa."
.
.
Bersambung......