
"Om, kenapa kita kesini sih! kenapa kita nggak pulang aja," protes Syasya ketika mobil memasuki pelataran sebuah restoran jepang.
Padahal Syasya sudah lelah dan mengantuk tapi Moreno malah mengajaknya ke restoran.
"Ini Restoran milik Andre sahabatku, kita hanya mampir sebentar karena besok pagi, dia akan kembali ke Jepang." ujar Moreno kemudian membuka seat beltnya.
Syasya ikut membuka seat beltnya kemudian keluar mengikuti Moreno masuk kedalam Restoran.
Saat masuk direstoran, semua karyawan menunduk hormat pada Moreno.
"Sudah kayak Raja aja disambut dayang-dayangnya." bathin Syasya.
Syasya mencoba tersenyum, tapi para karyawan hanya diam menatapnya. "Kenapa sikap mereka berbeda? awas saja kalian, gue ada kejutan untuk kalian." gumam Syasya kesal dalam hati.
"Aduh... Om kakiku sakit," lirih Syasya, kakinya memang sakit, namun masih dapat ditahannya. Ia sengaja berpura-pura untuk menarik perhatian Moreno.
Moreno berbalik melihat Syasya sedang meringis sambil memegang kakinya. Moreno menghela napas berat, ia kembali pada Syasya kemudian menggendongnya ala bridal style. Syasya langsung melingkarkan tangannya dileher Moreno karena takut jatuh. Moreno melangkah melewati karyawan kembali, mereka kembali menunduk kemudian mengangkat wajahnya setelah Moreno lewat. Mereka heran kenapa sikap Moreno tiba-tiba berubah, dan baru kali ini melihat Syasya dibawa kesana dan langsung bersikap manja pada Moreno.
Weeekkk...
"Rasain kalian biar nya'hoo..." rutuk Syasya dalam hati.
Syasya menjulurkan lidahnya pada karyawan. Syasya sengaja memberikan sedikit pelajaran agar karyawan jangan hanya hormat pada bos dan sahabatnya, tapi pada semua orang. Puas rasanya melihat wajah ketakutan mereka. Takut jika Syasya mengadu pada bosnya tentang sikap mereka.
"Siapa suruh mau ikut," kesal Moreno berbisik.
"Yang nyuruh ikut Papa ya? bukan gue," sergah Syasya ikut berbisik.
"Sama aja Bona! intinya kamu ikut! buka pintunya," titah Moreno saat mereka didepan pintu ruangan Andre.
Syasya memutar gagang pintu kemudian mereka masuk.
Andre yang sedang sibuk mengecel laporan di laptopnya mengalihkan pandangannya.
"Reno!" pekik Andre.
"Iya, lo pikir siapa?" ketus Moreno.
"Hehehe.. maksud gue, lo nggak salah masuk ruangan kan?" tanya Andre.
"Maksud lo?" Moreno mengernyitkan keningnya sambil meletakkan Syasya duduk disofa.
"Kali aja lo pikir ruangan gue kamar hotel."
"Ck, Siaalan lo!" decak Moreno.
"Habis, kalian masuk keruangan gue seperti pasangan yang sedang bulan madu." ejek Andre.
"Ck." decak Moreno.
Andre berdiri kemudian berlajan menuju sofa. Ia penasaran melihat gadis cantik yang datang dengan Moreno.
"Hai cantik, kenalin gue Andre, sahabat Reno," ujar Andre sambil mengulurkan tangannya.
"Syasya," ujar Moreno membalas uluran tangan Andre.
Moreno dan Andre berjabat tangan membuat Syasya menahan tawa. Coba aja dia sudah lama kenal dengan Andre, pasti dia akan tertawa terbahak-bahak.
"Pelit amat sih lo! sama sahabat sendiri juga," kesal Andre menarik tangannya kemudian memukul lengan Moreno.
Andre menyingkirkan Moreno kemudian duduk disofa depan Syasya.
"Dasar licik!" kesal Moreno sambil duduk diaamoing Syasya.
"Sya.. kok mau sih nikah sama dia? Reno itu bukan cowok romantis alias kaku, pelit dan suka memerintah, pemaksa, dan jahil, sudah tua, pokoknya nggak ada baik-baiknya deh.." jiwa propokator Andre mulai keluar.
"Terpaksa Kak! kalau Syasya nolak, dia nggak laku-laku dong, cuma Syasya yang rela dijadikan istri sama Om." ujar Syasya membuat Andre melotot tidak percaya.
"Hahahaha.... lucu banget sih kamu, pengen bungkus pulang deh..." puji Andre.
Moreno memutar bola matanya malas. Andre memang suka bercanda dan kali ini pasti cocok dengan sifat Syasya.
"Istri orang Kak!" Syasya mengingatkan tapi dibarengi dengan lirikan pada Moreno. Laki-laki itu hanya diam tanpa ekspresi.
"Hahahaha... Ren, dimana sih lo dapetin anak ini? sudah cantik, imut, lucu, dan hambel, paket komplit deh..." puji Andre.
"Artinya Om sering ke kolong jembatan dong?" ejek Syasya.
"Hahahaha... kamu panggil Reno Om? Sungguh ajaib! Ren sepertinya lo harus jagain Syasya baik-baik deh. Istri lo sangat menggemaskan." Andre tertawa begitu mendengar nama panggilan Syasya. Baru kali ini ada yang memanggil Moreno dengan sebutan Om.
"Diem lo! kalau nggak gue pulang aja." Kesal Moreno.
"Santai Men... jangan buru-buru pulang, Didit lagi dijalan dan gue sudah pesenin makanan buat kalian," ujar Andre. Andre berdiri mengambil wine didalam lemari. aia membukanya lalu menawarkan pada Moreno.
"Minum bro," tawar Andre dengan gaya serius.
Moreno mengambilnya lalu meletakkan dimeja. Tidak mungkin ia minum dihadapan Syasya. Bisa ngamuk kanjeng Ratu jika Syasya melaporkannya.
"Gue nggak pengen minum," tolak Moreno.
"Hehehe, lo takut sama istri lo?" ejek Andre.
"Maag gue kambuh," Moreno memegang perutnya tapi Syasya merasa curiga.
"Perasaan tadi Om baik-baik aja, kenapa tiba-tiba kena maag?" tanya Syasya.
Moreno melotot memberikan kode agar Syasya diam. Namun Syasya tidak mwngerti maksudnya.
"Jangan cari alasan lagi, Sya... Reno boleh minum nggak?" tanya Andre meminta ijin.
"Terserah Om saja. Tapi Syasya boleh minta jus nggak? Syasya haus, dari tadi duduk disini tapi nggak ditawarin," sindir Syasya.
"Hehehe, sorry Sya, kalau kamu mau minum dan makan, aku suruh pelayan antar sekarang aja." ujar Moreno kemudian berdiri kedepan pintu, Ia menyuruh karyawannya membawakan semua menu spesial restorannya.
Setengah jam berlalu, pelayan datang membawa banyak makanan. Syasya sampai melongo menatap semua makanan itu. Bagaimana tidak semuanya adalah makanan favoritnya.
"Enak banget nih!" seru Syasya. Tanpa dipersilahkan langsung minum kemudian mengambil piring dan sendok serta garpu.
"Bukannya kamu sidah makan Sya..." tanya Moreno, kini memanggil nama Syasya. Jika memanggil Bona atau Bocil pasti Andre tidak akan berhenti mengejek dan menertawakannya.
"Memang sudah, tapi kalau makanan enak kayak gini dianggurin, mubazzir." balas Syasya tanpa sedikitpun rasa malu. Sepertinya Syasya tidak lagi canggung atau jaim pada Andre.
"Nggak usah didengerin Reno, Sya..! makan aja apa yang kamu suka.
Syasya mulai mengambil makanan. Tapi tangannya berhenti saat Moreno dan Andre hanya bicara.
"Kalian nggak makan?" tanya Syasya.
"Makan duluan aja, kita biar tungguin Didit," jawab Andre.
"Baiklah, Syasya makan ya..? selamat makan.." ujar Syasya tanpa menunggu jawaban, Syasya langsung menyendok makanan kemulutnya.
Moreno ingin menegurnya tapi Andre menahannya. "Biarkan aja Ren, dia pasti bete jika mendengar kita ngobrol terus," ujar Andre.
"Bodo amat lah! yang penting perut kenyang hatipun senang," lirih Syasya sambil tersenyum.
"Enak banget ya Sya?" tanya Moreno.
"Mmm.. enak banget Om, om harus cobain semuanya. Restoran Kak Andre rekomended banget deh pokoknya. Kalau nanti Syasya kesini dan temen-temen Syasya, ada diskon lan Kak?" tanya Syasya.
"Untuk kamu semuanya diskon seratus persen!" ujar Andre.
"Sumpah Kak?" tanya Syasya antusias.
"Ya tentu saja, nanti billnya Kak Andre kirim ke suami kamu." canda Andre tapi wajahnya begitu serius.
"Jangan dong Kak. Masa Syasya yang makan Om yang bayar. Itu nggak adil namanya." tolak Syasya.
"Hehehe... istri lo polos banget Ren! gue jadi bepikir mencari yang polos juga. Sangat menggemaskan," puji Andre.
"Berhenti memujinya terus. Dia bisa besar kepala karena pujianmu itu," kesal Moreno, Andre selalu saja mengambil kesempatan untuk bicara dengan istrinya.
"Iri... bilang boss!!" ejek Andre.
.
.
Bersambung.....