Little Wife CEO

Little Wife CEO
Tugas Sekolah



Setelah makan malam selesai. Moreno menuju ruang kerjanya yang letaknya berdampingan dengan kamarnya dilantai dua. Sedangkan Syasya masuk kedalam kamar.


Syasya mengambil tas sekolahnya kemudian mengerjakan tugas sekolahnya. Besok Syasya mulai masuk sekolah kembali.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya tugas sekolahnya selesai. Syasya membereskan buku-bukunya kemudian memasukkannya kedalam tas, setelah itu ia kekamar mandi, cuci muka dan sikat gigi. Setelah selesai ia menuju meja rias. Ia sampai tidak percaya ternyata skin carenya juga sudah ada disana. "Ini siapa yang nyiapin? nggak mungkin Om Bear kan? ah, bodo amatlah!" gumam Syasya.


Syasya mulai memakai skin carenya kemudian mengoles lip-balm berwarna pink dibibirnya. Setelah itu mengganti pakaiannya dengan baju tidur celana pendek bergambar hello kitty.


Saat Syasya hendak naik ketempat tidur, ia teringat sesuatu.


"Astaga... gue hampir lupa buat surat kontrak pernikahan," monolog Syasya sambil menepuk keningnya.


Syasya kembali ke meja belajarnya, ia mengeluarkan laptop dari tasnya. Syasya kemudian mengetik dengan serius. Entah apa isi surat itu hingga Syasya tidak sadar jika Moreno sudah masuk kedalam kamarnya.


"Serius amat tuh bocah," gumam Moreno dalam hati. Moreno berjalan menuju kamar mandi dibelakang Syasya. Moreno sempat melirik Syasya tapi dia tidak jelas melihat isi laptopnya.


"Apa itu?" tanya Moreno,


Syasya langsung berbalik karena kaget. Ia mendelik kesal karena jantungnya hampir saja copot karena Moreno.


"Kepo!!" Balas Syasya.


Tidak lama kemudian Syasya sudah selesai.


"Om, ada print nggak?" tanya Syasya.


Moreno menaikkan kedua bahunya tanpa menjawab, kemudian berlalu menuju kamar mandi.


"Oiya, diruang kerja Om Bear pasti ada print. Gue kesana ahh...."


Dengan semangat empat lima Syasya keluar kamar. Syasya menunduk melihat kelantai bawah mencari Paulina atau Rosalinda.


"Paulina..." panggil Syasya.


"Iya Non," sahut Paulina dari bawah. Ia mengangkat kepalanya melihat Syasya sedang berpegangan dibesi pembatas lantai.


"Ruang kerja Om Bear dimana?" tanya Syasya.


"..." Paulina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berpikir. Siapa yang dimaksud Syasya dengan Om Bear.


"Mmm... maksud gue, ruang kerja Mas Reno," ralat Syasya.


"Ooo, itu Non, yang disebelah kamarnya Non." jawab Paulina sambil menunjuk pintuk ruangan disamping kamar Syasya.


Syasya menoleh melihat kearah yang ditujuk Paulina.


"Oke," Syasya menaikkan jempolnya.


Tanpa ijin dari pemilik ruangan, Syasya ke ruang kerja Moreno dengan membawa laptopnya.


"Ini dia nih yang gue cari-cari." monolog Syasya.


"Om, gue pinjem printernya ya..? cuma selembar kok, hehehehe..." lanjut Syasya seolah ada Moreno disana.


"Iya pakai aja Bona," jawabnya sendiri.


Syasya meletakkan laptopnya diatas meja kerja Moreno kemudian memprint surat yang telah dibuatnya. Setelah selesai, Syasya membacanya ulang, mungkin saja masih ada yang kurang menurutnya.


Syasya kembali kekamarnya kemudian menyimpan laptopnya di atas meja rias dekat tas sekolahnya.


Tidak lama kemudian Moreno keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk dipinggangnya. Syasya segera ke walk in closet, mengambil baju tidur untuk Moreno.


Moreno mengernyitkan keningnya, "Tumben anak ini baik," gumam Moreno dalam hati, dan setelah itu dia tersenyum karena sepertinya Syasya mulai perhatian padanya.


"Om,"


"Hm.."


"Pakai bajunya bisa nggak jangan dihadapan gue?"


"Kenapa?"


"Emangnya Om nggak malu kalau gue liatin?"


"Nggak masalah, kamu akan terbiasa nanti, kalau mau menyentuhnya juga boleh, nih!" Moreno berjalan menghampiri Syasya.


Syasya waspada dan mundur selangkah demi selangkah. Bagaimana tidak takut, jika mata suci Syasya disuguhkan pemandangan yang baru dua kali dilihatnya namun sangat menggoda, handuk sebatas pinggang, perut sixpeck dan lengan berotot serta rambut yang sedikit basah. Sungguh Moreno semakin tampan dan seksi dimata Syasya, membuat Syasya menelan salivanya dengan kasar.


"Menurutmu?"


Moreno semakin mendekat hingga mereka hampir tak berjarak. Moreno menarik pinggang Syasya karena jika Syasya mundur satu langkah lagi, maka dia akan jatuh di tempat tidur.


Moreno tidak berkedip menatap mata bening Syasya yang indah. Baru kali ini ia melihat dengan jelas mata itu ternyata mampu mnghipnotisnya untuk berbuat lebih. Satu tangan Moreno digunakan untuk membelai wajah Syasya, sedangkan satunya lagi menahan pinggangnya. Detik kemudian....


CUP...


Moreno melabuhkan bibirnya tepat dibibir ranum Syasya. Menikmati bibir berwarna pink yang sedari tadi menggodanya. Ah.. rasanya Moreno tidak ingin melepasnya. Apalagi Syasya tidak melawan ataupun memberontak, bahkan ia membuka mulutnya begitu lidah Moreno mendorong memaksa masuk. Kini mereka saling membelit dan menukar saliva. Tangan Moreno tidak tinggal diam, ia mulai memegang gundukan kembar milik Syasya yang masih terbungkus baju.


Syasya semakin terbuai dengan permainan Moreno, semakin pikirannya ingin berhenti, semakin tubuhnya menginginkan lagi dan lagi.


"Bernapas bodoh!" kesal Moreno melepaskan pagutannya.


"Hahh.. hahh... Om mau bunuh Syasya ya?" tuduh Syasya sambil memegang dad@nya untuk menetralkan detak jantungnya.


Moreno menghela napas kasar kemudian menuju walk in closet, hampir saja ia tidak bisa manahan diri untuk tidak menyentuh istrinya. Setelah pakaian, Moreno menuju tempat tidur. Matanya terus menatap Syasa yang sedang membalas chat sahabat-sahabatnya.


Moreno geleng-geleng kepala, terlalu banyak fantasi liar dikepalanya bersama Syasya saat ini. Tapi sayangnya dia takut Syasya belum siap jika dia meminta haknya saat ini. Moreno laki-laki normal yang tidak akan tahan sekamar dengan wanita tanpa melakukan apa-apa.


"Kalau minta jatah sekarang, boleh nggak ya?" gumam Moreno dalam hati.


"Bona..." panggil Moreno.


"Ya..." sahut Syasya tanpa menoleh, masih bercanda ria dengan sahabatnya. "Hehehehe...."


"Bona..." panggil Moreno kembali.


"Sebentar Om, lagi seru nih..." balas Syasya.


"Ck," Moreno berdecak kesal. Ia membaringkan tubuhnya membelakangi Syasya kemudian mearik selimut.


Syasya menoleh saat merasakan ada pergerakan diatas tempat tidurnya, rupanya Moreno sudah mau tidur dan untuk malam ini dia selamat.


Ahh... Syasya bernapas dengan lega, setidaknya malam ini Moreno tidak meminta haknya. Meskipun Syasya masih kecil, tapi dia juga tidak terlalu polos, dia sudah banyak membaca novel, nonton sinetron, dan pelajaran biologi disekolah. Dia juga tahu apa saja tugas seorang istri dan tidak boleh istri lakukan. Hanya saja dihadapan suaminya dia harus pura-pura agar Moreno tidak terlalu menuntut haknya. Syasya belum siap karena takut hamil disaat dirinya masih duduk dibangku SMA. Apa kata teman-temannya jika sang primadona sekolah hamil sebelum lulus. Syasya bergidik ngeri membayangkannya.


"Om..."


"..."


"Ihh... Om pura-pura tidur kan? Syasya mau ngomong serius nih..." melas Syasya.


"...."


"Idih... Om ngambek ya?" ejek Syasya.


"..."


Syasya mendekatkan wajahnya, ingin memastikan Moreno benar-benar tidur atau belum. Begitu wajahnya diatas wajah Moreno. Moreno langsung berbalik dan menarik tengkuknya.


CUP...


"Mmmm.." Syasya terkejut bukan main. Dia tidak menyangka jika Moreno akan menatiknya secepat itu.


Moreno tidak melepaskan Syasya, dia mencium Syasya lebih dari sebelumnya. Kini posisi Syasya berada diatasnya, bahkan kedua gundukan Syasya menempel di dad@ bidang Moreno. Moreno semakin mengeratkan pelukannya dan semakin dalam mencium Syasya, mengekspos setiap inci didalamnya dan saling mencecap.


"Itu hukuman kamu karena sudah berani mengabaikanku," ujar Moreno setelah melepaskan pagutannya.


Syasya segera menjauhkan tubuhnya. Ia beringsut turun kemudian mengambil selembar kertas yang sudah dibuatnya lalu menyerahkan pada Moreno.


"Apa ini?" tanya Moreno dengan mata menyipit.


"Baca aja," jawab Syasya.


"Surat perjanjian pernikahan," ujar Moreno sambil membacanya.


Moreno mengangkat wajahnya menatap Syasa, ternyata Syasya serius membuat hal yang tidak penting itu menurutnya.


Syasya hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu Moreno kembali membacanya.


.


.


Bersambung......