
CUP!!
Jangan ditanya bagaimana detak jantung Syasya saat ini. Rasanya sudah copot saat itu juga.
Moreno benar-benar melakukannya, dan sialnya lagi, ia mencium Syasya cukup lama. Syasya mencoba mundur namun dengan gerakan cepat tangan Moreno menahan kepalanya. Ah, Syasya hampir lupa jika kamera masih tidak berhenti menyala mengabadikan momen ini. Atau jangan-jangan ini hanya modus Moreno saja agar lama menciumnya?
"Udah dong Ren, nanti dilanjutkan dikamar aja." Suara pembawa acara membuat para tamu tertawa. Sontak membuat wajah Syasya memerah karena malu.
"Dasar, gara-gara Om mesum nih, main nyosor seenak jidatnya, bikin malu gue aja, pasti wajahku sudah blushing nih?"
Selanjutnya Syasya dan Moreno diarahkan untuk berfoto sambil memperlihatkan buku nikah dan cincin, kemudian berfoto berdua dengan berbagai gaya yang membuat Syasya malu karena lagi-lagi wajahnya terasa panas jika bersentuhan dengan Moreno. Tangannya terpaksa bergelayut di lengan Moreno karena paksaan Wulan atas arahan fotografer. Setelah itu baru berfoto bersama keluarga dilanjutkan acara sungkeman.
Akhirnya sesi akad telah selesai. Begitu sangat mengharukan bagi kedua orang tua dan keluarga mereka, tapi tidak dengan pasangan pengantin, begitu membosankan dan melelahkan.
Syasya terpaksa memasang senyum meskipun hatinya tidak ingin, sedangkan Moreno wajahnya tetap datar dan dingin meskipun Tante Vina sudah memaksanya tersenyum. Dasar beruang kutub!
Yang paling Syasya tidak suka adalah berdiri disini, diatas pelaminan menunggu para tamu untuk bersalaman memberi ucapan selamat. Kaki Syasa sudah pegal, bagaimana tidak jika dia memakai high-heels yang tingginya lima senti. Kata Moreno 'jangan dilepas biar pendeknya aku ketutup' sangat menyebalkan kan? seharusnya dia itu peka dengan pasangannya, mengganti dengan sepatu atau apa kek! "Sepertinya gue dimata Om nggak ada kelebihannya deh, semua kekurangan gue dia ucapkan terang-terangan tanpa perduli perasaan gue. Awas aja lo, Ren! gue sumpahin lo bucin sebucin bucinnya ke gue, biar nyahooo...."
Syasya mulai meringis, sesekali mengangkat kalinya secara bergantian.
"Kamu kenapa?" tanya Moreno.
"Nah, sadar juga manusia batu ini, orang gue dari tadi kesakitan, san sepertinya tumit gue sudah lecet deh!"
"Kaki gue sakit Om," keluh Syasya.
"Tahan aja, sebentar lagi juga acaranya selesai." balas Moreno dengan santai.
"What?! jawabannya cuma itu doang? Ya ampun... gue pikir dia bakalan tawarin gue istirahat atau duduk, tapi ternyata...." Syasya mencebik kesal, kemudian menyeringai begitu matanya tertuju pada meja yang penuh dengan kue. Seketika Syasya menelan air liurnya yang hampir menetes. Rupanya cacing diperutnya juga sudah meronta minta diisi. Dari pada terus berdiri dalam keadaan sakit mending dia makan, iya kan...?
Tanpa pamit Syasya mengangkat ujung gaun pengantinnya menuju meja yang berisi bermacam-macam kue. Kebetulan tamu sudah tidak banyak, hanya keluarga besar Moreno dan Syasya yang tinggal, jadi Syasya bisa mengambil kue dengan leluasa.
Setelah mengambil kue Syasya duduk dikursi kemudian menikmatinya seorang diri. Tanpa ia sadari seorang pria yang berdiri diatas pelaminan sedang menatapnya tajam.
"Sikat mang... hhmmm...enak banget kuenya". Sebenarnya masih banyak pasang mata yang menatapnya heran. Masa bodo lah! yang penting sekarang Syasya bisa makan enak agar cacing diperutnya berhenti meronta. Perut kenyang hatipun senang.
Tiba-tiba...
"Sya!"
"Mama, ngagetin aja." Syasya melengos kesal. Bayangin aja lagi enak-enaknya makan malah dikagetin.
"Pengantin baru kok makan sendirian, suami kamu ya diajak Sya.." ujar Wulan sambil menarik kursi dan duduk disamping Syasya.
"Emang kenapa kalau Syasya makan sendiri Mah, sah-sah aja kan?" Syasya mengunyah makan dimulutnya.
"Liat Reno ngeliatin kamu terus tuh."
"Biarin aja Mah, nanggung lagi laper banget nih, mana kuenya enak-enak lagi."
"Dasar anak kecil! Sya mulai sekarang kamu nggak boleh pikirin diri sendiri. Ingat, kamu sudah menikah, harus berpikir lebih dewasa dan tidak boleh melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan suami kamu."
Syasya tidak menjawab, lebih baik dia menghabiskan kue dipiringnya dari pada membalas omongan Mamanya yang pasti ujungnya dia juga yang salah.
"Denger nggak apa yang Mama omongin?"
"Iya, Syasya denger kok Mah."
"Denger, tapi mulut nggak berhenti makan."
"Trus, Syasya harus gimana lagi, Mah? Syasya sudah lakuin semua keinginan Mama Papa. Setidaknya biarkan Syasya makan, Syasya belum makan dari pagi didandanin ini itu dan nggak dikasi makan minum. Syasya lapar, Mah!" Syasya mengeluarkan kekesalannya kemudian mendorong piring yang masih berisi beberapa potong cake coklat kesukaannya. Rasa laparnya seketika menghilang, bukan karena kenyang tapi karena seseorang sudah berdiri di belakang Mamanya.
"Tapi belum waktunya, Sya.. masih banyak tamu. Kamu harus menghargai mereka."
"Bodo amatlah! daripada Syasya pingsan." kesal Syasya.
"Papa!" pekik Syasya mulai gugup, takut semua yang baru saja keluar dari mulutnya terdengar oleh Yudi.
"Kalian kenapa duduk disini?" tanya Yudi.
"Syukurlah, Papa tidak denger." batin Syasya.
Wulan menoleh kemudian tersenyum pada suaminya. "Syasya katanya lapar Pah."
"Jangan lama-lama Sya, kasian Reno berdiri sendirian disana. Kamu lihat, dia sudah seperti kue yang dikerumuni semut." Maksud Yudi, sekarang ini Moreno sedang dikerumuni gadis-gadis untuk berfoto dengannya.
Syasya menoleh, seketika sorot matanya tajam menatap Moreno dari kejauhan. Bukan karena dia cemburu, tapi lebih kepada sikap Moreno yang tersenyum dan saat berfoto dengan mereka.
"Dasar ganjen! tebar pesona sana sini, ambil kesempatan mepetin cewek. Mau aja dibodohin sama Om, belum tau aja kalian jika dia itu rese dan menyebalkan." batin Syasya.
"Sya, kamu mikirin apa sih?" tanya Wulan membuyarkan lamunan Syasya.
"Cemburu kali, Mah," Yudi sengaja mengejek Syasya untuk menggodanya.
"Idih.. amit-amit deh Pah, masa Syasya cemburu sama Om-om." Syasya langsung membungkam mulutnya dengan satu tangan. Sudah pasti dia akan dimarahi jika memanggil suaminya dengan sebutan Om.
"Nggak sopan! lain kali Mama nggak mau dengar kamu panggil nak Reno dengan sebutan Om, dia suami kamu, hormati dia." nasihat Wulan.
"I-iya, iya Mah."
"Makannya sudah selesai kan? sekarang kamu kembali keatas temani Reno." pinta Yudi.
"Iya Pah." pasrah Syasya kekudian berjalan menuju pelaminan.
"Anak baik kan gue, selalu nurut apa kata orang tua? tapi kalau mengubah panggilan gue untuk si Om, sorry layyauwww... tidak semudah itu fulgozoooo..."
Sampai di pelaminan, Moreno susah menyambutnya dengan tatapan tak bisa diartikan. "Dari mana aja kamu?" kutus Moreno tapi dengan suara pelan karena tidak mau jika ada tamu yang mendengarnya.
"Nah kan? kalau sama gue bawaannya dia itu ketus melulu, seakan gue ini musuh yang harus disingkirkan tanpa belas kasih. Gue sumpahin kedua kalinya lo bucin sebucin bucinnya sama gue.."
"Heh, kalau ditanya itu ngomong, malah bengong!"
"Sudah tau nanya, Om liat sendiri kan apa yang gue lakuin dibawah sana. Makan!" Syasya menekan kata 'makan'.
"Kenapa lama?"
"Terserah gue dong..? kalau belum kenyang ya nambah."
"Setelah ini, kamu akan aku hukum dikamar. Kali ini kamu terlalu banyak melakukan kesalahan," tegas Moreno membuat Syasya bergidik.
"H-hukuman?! gawat! apa maksud Om, haknya yang itu? ihh... serem banget. Mama, Papa... tolongin Syasya..." Wajah Syasya seketika panas memikirkan apa yang aka Moreno dan dirinya lakukan didalam kamar.
"Kenapa wajah kamu memerah? mikirin apa?" Moreno menyeringai, sudah dapat ia tebak apa diisi kepala Syasya saat ini.
"Nggak mikirin apa-apa." sergah Syasya.
"Yakin?"
"Hmm.."
"Oke, ingat hukumannya hanya bisa dilakukan dikamar setelah acara berakhir," ancam Moreno membuat Syasya semakin ketakutan. Ah, Senang sekali Moreno membalas Syasya yang sengaja menggigit tangannya pada saat setelah akad. Biarlah Syasya berpikir bagaimana nasibnya malam ini. Apakah Moreno akan melakukannya malam ini? hanya Moreno yang tahu.
"Siapapun tolongin Syasya..."
.
.
Bersambung.....