
Setelah puas menatap wajah damai Syasya, Moreno langsung keluar dari mobil kemudian mengangkat tubuh Syasya ala bridal style masuk kedalam rumah.
Rosalinda yang membuka pintu terkejut melihat Syasya digendong Moreno. Ia salah mengira jika Syasya sedang pingsan hingga Moreno mengangkatnya.
"Non Syasya kenapa Tuan? apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Rosalinda khawatir.
"Nggak usah Bi' dia hanya tidur," jawab Moreno kemudian berjalan menuju kamarnya sambil membawa Syasya.
Saat dikamar, Moreno langsung membaringkan Syasya ditempat tidur. Mengganti pakaiannya dengan baju tidur kemudian menyelimuti tubuh Syasya dengan selimut.
"Hahhh...." Moreno menghela napas lelah menatap Syasa. Tubuhnya berkeringat mengganti pakaian Syasya meskipun AC dalam kamar sudah menyala. Ternyata butuh perjuangan besar untuk menahan hasratnya yang bergairah karena melihat tubuh mungil istrinya namun begitu menggoda iman.
"Kamu sedang tidur atau pingsan sih! kenapa tubuhmu aku bolak balik tapi tidak juga sadar, hem?" Moreno bertanya pada Syasya yang masih terlelap. Ia sudah seperti orang tidak waras karena bicara pada Syasya yang sedang tertidur.
Moreno menuju kamar mandi membersihkan dirinya kemudian berbaring disisi Syasya. Ia kembali menatap Syasya.
"Sya, kalau kamu tidur terus, kapan aku bisa ajarin kamu biar cepat gede?" tanya Moreno dengan frustasi mengusap wajahnya dengan kasar.
Moreno berbalik membelakangi Syasya, lebih baik ia tidak melihat Syasya daripada terus tergoda untuk menyentuhnya. Tidak lama setelahnya Moreno kembali berbalik menatap Syasa, dia begitu gelisah dan tak tenang, matanya sangat sulit untuk terpejam.
"Kamu sungguh meresahkan! dasar gadis kecil nakal!" gumam Moreno.
Moreno menjadikan tangannya bantal untuk Syasya, satu tangannya lagi memeluk Syasya hingga kepala Syasya menyentuh dada bidangnya.
"Begini lebih baik," lirih Moreno kemudian mencoba menutup mata. Beberapa menit kemudian Moreno ikut terlelap tanpa melakukan apa-apa pada Syasya.
Pagi hari begitu cerah seindah mentari masuk disela kaca jendela. Syasya bangun lebih dulu, ia terkejut saat melihat tangan Moreno berada diatas perutnya. Syasya pelan-pelan menyingkirkan tangan Moreno kemudian beringsut turun dari tempat tidur.
"Kenapa aku tidur disini? ini juga, bajuku siapa yang ganti? kok aku nggak nyadar sih!" gumam Syasya kemudian menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit, Syasya keluar dari kamar mandi lalu memakai seragam sekolahnya. Setelah itu ia membangunkan Moreno.
"Om, Om, Om! bangun dong...!" Syasya memanggil Moreno sambil menggoyangkan kakinya. Namun sudah beberapa menit berlalu, Moreno belum juga membuka mata.
Syasya memutar otaknya berpikir cara membangunkan Moreno. Sesaat kemudian ie tersenyum begitu mendapatkan ide brilian dari otaknya yang cerdas.
Syasya berjalan keujung kaki Moreno, kemudian menggelitik kakinya dengan kuku jari tangannya.
"Hehehe..." kekeh Syasya kemudian menutup mulutnya agar tidqk kedengaran Moreno.
"Hmm..." Moreno menggeliat sambil menarik kakinya masuk kedalam selimut. Tapi, lagi-lagi Syasya mengangkat selimut dan menggelitik telapak kaki Moreno.
Tanpa aba-aba tiba-tiba Moreno bangun dan menarik Syasya hingga mereka terjatuh diatas tempat tidur.
Kini posisi Syasya sangat berbahaya karena dibawah kangkungan Moreno. Syasya tidak bisa bergerak karena kedua tangannya dikunci dengan tangan Moreno. Netra mereka bertemu, saling bertatapan tanpa berkedip.
"Om...!" lirih Syasya gugup.
Hembusan napas Moreno menyentuh wajah Syasya.
"Kamu tahu? caramu membangunkanku juga membangunkan ular piton yang sedang tidur, hem?" tangan Moreno mulai membelai wajah Syasya.
Syasya hanya diam terpaku tidak tahu harus melakukan apa. Jantungnya berdebar begitu kencang begitu bibir Moreno menyentuh hangat bibirnya. Ciuman yang begitu lembut membuatnya terbuai dan ikut menikmatinya. Bahkan Syasya membuka mulutnya dan membiarkan Moreno mengekspos isi didalamnya. Tangan Moreno mulai membuka kancing baju Syasya kemudian memegang bukit kembar yang masih berbalut kain warna pink.
"Augghh..." lenguh Syasya membuat Moreno semakin memperdalam ciumannya.
Tok.. tok.. tok...
"Non Syasya..." panggil Paulina dari depan pintu kamar.
Syasya mendorong dada bidang Moreno. Begitu Moreno melepaskannya, Syasya segera beringsut kemudian berjalan menuju pintu kamar.
"Ia Lin.." sahut Syasya sambil mengancing bajunya yang hampir berantakan akibat ulah Moreno.
"Pagi-pagi udah mesum, dasar Om cabul!" gerutu Syasya.
Syasya mengerucutkan bibirnya kemudian membuka pintu.
"Ada apa Lin?" tanya Syasya.
"Non Syasya sudah ditunggu Nyonya untuk sarapan," jawab Paulina.
"Nanti Syasya nyusul," ujar Syasya kemudian kembali masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Paulina kembali turun kedapur.
Syasya menuju walk in closet kemudian mengambil kemeja, celana panjang dan dalam-annya serta dasi lalu diletakkan diatas tempat tidur. Setelah itu ia keluar dari kamar menuju dapur.
"Pagi Mah, Pah," sapa Syasya saat berada disisi meja makan.
Disana sudah ada Vina dan Dipta.
"Pagi juga sayang... lho Reno mana?" balas Vina.
"Sebentar lagi juga selesai Mah," jawab Syasya.
Mereka mengobrol sambil menunggu Moreno. Setelah beberapa menit Moreno turun dari tangga dengan menenteng tas dan dasi ditangannya. Ia meletakkan diatas sofa kemudian menuju meja makan.
"Pagi Mah, Pah!" sapa Moreno sambil menarik kursi untuk duduk.
"Pagi juga sayang.." balas Vina. Sedangkan Dipta hanya tersenyum melihat kedatangan anaknya.
Vina dan Syasya mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian mereka menikmati makan bersama tanpa ada suara.
"Mah, Reno ada proyek di Sumatera selama beberapa hari. Reno titip Syasya ya?" ujar Moreno setelah mereka makan.
Syasya yang mendengarnya langsung bengong. "Kok Om nggak bilang-bilang sih! kebiasaan banget memutuskan sesuatu tanpa ngomong lebih dulu ke gue. Dasar Om nyebelin!" gumam Syasya dalam hati.
"Berapa hari Ren?" tanya Dipta.
"Mungkin seminggu Pah, tapi Reno akan usahakan pekerjaannya cepat beres," jawab Moreno.
"Sya... kamu nggak apa-apa kan aku tinggal seminggu? aku akan selalu menelponmu biar kamu nggak rindu," goda Moreno.
Biar bagaimanapun Moreno harus meminta ijin pada Syasya istrinya.
"Hah?!" Syasya melongo begitu Moreno meminta ijin padanya. "What? rindu? rindu kepala peang!" tentu saja Syasya hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Kok bengong? Jangan khawatir, Mama akan temenin kamu selam Moreno pergi biar kamu nggak kesepian," Vina menggenggam tangan Syasya merasa jika menantunya akan kesepian jika Moreno tidak ada.
Padahal dalam hati Syasya sangat bersyukur jika Moreno pergi. Setidaknya dia masih aman untuk tidak melakukan tugasnya sebagai istri seutuhnya. Kalau bisa Moreno pergi selama beberapa bulan hingga Syasya lulus sekolah.
"I-iya Mas, Syasya nggak apa-apa kok," ujar Syasya membuat Moreno dan kedua orang tuanya merasa tenang.
Moreno mengusap kepala Syasya dengan kasih sayang. Syasya yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa senang.
"Duh, jantungku kayaknya mau copot. Baru diperlakukan seperti ini saja sudah tak karuan. Gimana jika Om semakin perhatian dan manis pada gue? Please Om! jangan lakukan itu lagi, Syasya takut merasa nyaman dan jatuh cinta," gumam Syasya dalam hati.
"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Dipta.
"Jam tiga Pah," jawab Moreno.
.
.
Bersambung.....