
Moreno segera berdiri, mengunci tatapannya pada mata Syasya yang juga menatapnya tanpa rasa berdosa. Syasya belum juga sadar jika kemeja yang dipakainya malah membuatnya keliahatan seksii, apalagi dalam-an atas bawahnya berwarna merah, membuat Moreno semakin pusing memikirkannya. Ditambah lagi suasan kamar pengantin yang begitu romantis. "Ya ampun.. kenapa ini terjadi dimalam pengantin kami? ini benar-benar menyiksa atas bawah. Ahh, berada satu kamar dengan bocil ini sangat berbahaya. " Dengan gerakan lembut Moreno membelai wajah Syasya, ingin rasanya ia mencium bibir ranum berwarna merah muda itu.
"Gawat! Om mulai mesum, nih! apa Om akan melakukan itu sekarang? bisa mati aku jika melakukannya dengan Om. Kata novel yang pernah Syasya baca, itunya akan sakit sampai nggak bisa jalan, ihhh..." Syasya bergidik, "OMG... tolong Syasya... Syasya belum siap.." teriak Syasya dalam hati.
Tuk!
Moreno memukul jidat Syasya dengan jidatnya hingga Syasya tersadar dari lamunannya.
"Aww.. sakit Om?!" Syasya mengusap dahinya yang tidak sakit.
"Dasar gadis nakal! masih kecil sudah berpikiran mesum!" ejek Moreno.
"Eh, kenapa Om bisa tau isi otak gue? apa Om cenayang yang bisa baca pikiran orang? wah.. bahaya nih!!" batin Syasya.
"Mmm.... Om, apa kita akan melakukan malam pertama? biasanya kan semua pengantin akan melakukan itu?" tanya Syasya penasaran. Akhirnya keluar juga unek-unek yang bersarang dikepalanya.
"Kenapa? emangnya kamu pikir aku mau melakukan itu pada anak kecil? lihat ajah tubuh kamu, tidak ada menariknya." Moreno bertanya balik.
Syasya bernapas lega setidaknya Moreno tidak meminta haknya malam ini. "Syukurlah, kalau Om tidak mau melakukannya."
"Tapi, apa dia bilang? tubuhku tidak menarik? oke akan aku buktikan semenarik bagaimana tubuh ini. Aku akan menggodamu Om, tapi jangan harap bisa menyentuhku." batin Syasya.
"Kenapa lagi? kamu sepertinya kecewa, memangnya kamu sudah siap?"
"Nggak Om. Syasya juga belum siap." Syasya menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak siap, nggak usah nanya-nanya. Minggir!" Tiba-tiba saja Moreno menggeser tubuh Syasya kesamping kemudian berjalan.
"Eh, eh, Om mau ngapain?" tanya Syasya mulai panik, takut Moreno melakukan sesuatu padanya.
"Mau mandi! kamu mau ikut?" tanya Moreno balik.
"Enak aja, nggak mau lah, gue kan sudah mandi, sudah wangi. Nggak seperti baum Om, bau acem..!" Syasya menutup hidungnya lalu menjulurkan lidahnya.
Seketika Moreno mengangkat tangan bergantian, mengendus-endus ketiaknya, tidak lupa bagian yang lain yang bisa dijangkaunya. Mungkin saja benar apa dikatakan Syasya. Begitu menyadari tubuhnya masih wangi karena tidak pernah berkeringat, Moreno menatap Syasa dengan tajam.
"Aha hahahaha...." tawa Syasya pecah.
"Bona!!" geram Moreno.
Moreno langsung menghampiri Syasya kemudian mengapit kepalanya diantara lengan dan perutnya, setelah itu mengangkat sedikit tubuh Syasya.
"Nih cium... rasain baunya." ujar Moreno sambil berputar bersamaan tubuh Syasya yang diangkatnya.
"Aaa.... lepasin Om!" berontak Syasya sambil memukul pinggang Moreno.
"Masih berani ngatain aku bau, hem?!"
"Nggak deh Om kapok, sumpah! tapi berhenti dulu, kepala Syasya pusing."
Moreno langsung berhenti. Begitu tangannya terlepas, tubuh Syasya langsung merosot ke lantai.
"Awww....," pekik Syasya sambil memegang pinggangnya. "Om kejam banget sih! pinggang Syasya beneran sakit, bantuin...!" Syasya mengulurkan tangannya agar Moreno membantunya berdiri. Namun Moreno hanya tertawa kemudian meninggalkannya.
"Sudah mainnya, aku mau mandi. Ingat, jangan berisik!" ancam Moreno.
"Hah? apa Om bilang? main? aku bukan anak kecil yang butuh ditemenin main Om." kesal Syasya.
"Dimana-mana main itu harus berpasangan Bona! nggak enak kalau main sendiri," ujar Moreno kemudian menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Oo... jadi, tadi itu Om anggap main-main? padahal gue sakit beneran. Kurang asem!!"
Syasya duduk bersandar ditempat tidur. Setelah Moreno masuk kedalam kamar mandi ia mulai bosan.
Ingin bermain ponsel atau chat dengan teman-temannya tapi tidak bisa karena ponselnya disita oleh Wulan.
"Huff..... Mama bener-bener jahat, tega banget sama anak sendiri. Masa nggak bisa pegang hp sampai besok. Hidup gue sudah kayak di kuburan," gumam Syasya.
Sunyi...
Sepi...
Hening...
Syasya mengambil remot tv kemudian menyalakannya dengan suara keras, kebetulan film Masha and the Bear sedang tayang. Syasya beranjak mengambil cemilan dan minuman dikulkas mini kemudian duduk di tempatnya semula. Sudah berasa di bioskop aja Syasya, padahal kamarnya hampir penuh dengan lilin dan bunga.
Tiga puluh menit kemudian, Moreno keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk dipinggangnya. Syasya tercengang melihat tubuh Moreno. Perutnya sixpeck seperti roti sobek, kulitnya bersih, lengannya berotot, apalagi rambutnya basar dan terdapat tetesan air dari wajah hingga perutnya.
Syasya menggelengkan kepalanya, seperti tubuh Moreno seperti model majalah dewasa yang pernah dilihatnya. Sungguh mempesona, bahkan Syasya sampai tidak berkedip melihatnya.
"Sudah puas liatnya?"
Syasya mengangguk, menit kemudian menggelengkan kepalanya.
"Dasar ABG labil!" ujar Moreno kemudian menuju lemari mengambil celana pendek. Setelah memakainya, ia kembali menuju tempat tidur untuk istirahat, tapi sebelumnya ia mengambil remot tv lalu mengecilkan suaranya.
"Ngapain pakai baju kalau nanti juga dibuka?" tanya Moreno tanpa dosa.
"Ah, terserah Om aja." Syasya kembali fokus pada layar televisi sedangkan Moreno geleng-geleng kepala saat melihat apa yang dinonton Syasya.
"Ternyata kamu suka nonton film kartun? Pantes saja sifat kamu seperti Masha, ternyata nakalnya Masha pindah ke kamu," sindir Moreno membuat Syasya mendelik kesal padanya.
"Dan dinginnya Bear seperti Om!!" balas Syasya dengan telak.
Moreno langsung diam, apa benar yang dikatakan Syasya kalau dirinya bersikap dingin? padahal Moreno merasa biasa aja.
"Om!" panggil Syasya.
"Hm."
"Om tidurnya disofa kan? Syasya nggak bisa tidur kalau tidur berdua."
"Kenapa nggak bisa tidur?"
"Karena sempit, biasanya Syasya suka nendang kiri dan kanan." jelas Syasya.
"Tidur disofa nggak mana enak Bona? lagian tubuhku tidak muat tidur disana. Kenapa bukan kamu aja yang tidur sofa?"
"Om aja deh, ya..." bujuk Syasya memelas.
"Nggak, sana geser dikit," ujar Moreno mendorong tubuh Syasya karena posisinya berada di tengah tempat tidur.
"Om nyebelin banget sih! nggak bisa liat Syasya senang dan tenang." Syasya kesisi tempat tidur, kemudian menyimpan bantal guling ditengah. "Ini garis pembatasnya ya Om... yang melewati pembatas kena hukuman tidur disofa."
"Siapa takut." Ujar Moreno kemudian menarik selimut untuk istirahat. Ia mencoba memejamkan mata meskipun suara Masha tak berhenti bicara dan menjahili bear.
"Hah... kenapa hidupku seperti film Masha and the Bear?" batin Moreno.
Hening....
Syasya bangun dari tempat tidur karena tumitnya masih ngilu akibat lecet.
"Matikan tv-nya, trus tidur," ujar Moreno merasa ada pergerakan diatas tempat tidurnya.
"Kaki Syasya sakit Om." Ringis Syasya mencoba memijit kakinya namun tidak membantu sama sekali.
Moreno berusaha mengabaikannya dengan tidur, namun tetap saja tidak bisa karena Syasya terlalu ribut. Ada-ada saja yang dilakukannya hingga menimbulkan suara gaduh.
"Kamu bisa tenang dikit nggak? aku mau istirahat, " kesal Moreno.
"Hikss.. sakit Om.." Syasya mulai menangis, air matanya sudah berlinang tak tertahankan. Biarlah Moreno bilang dia cengeng tapi memang Syasya sudah tidak bisa menahannya.
Moreno menghembuskan napas kasar, kemudian bangun dari tidurnya. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi resepsionis.
Beberapa menit kemudian dua pelayan hotel mengetuk pintu. Moreno membukanya kemudian membiarkan mereka masuk kedalam, membiarkan menata makanan diatas meja dan satu kotak obat. Setelah pekerjaan mereka selesai, mereka pamit keluar.
Moreno menyalakan lampu agar lebih terang kemudian mengambil kotak obat lalu berjongkok dihadapan Syasya.
Tanpa permisi Moreno meletakkan kaki Syasya diatas pahanya. Ia mengambil obat lalu mengoles lukanya.
"Ahh... sakit Om..!!" teriak Syasya.
"Tahan sedikit, setelah ini nggak sakit lagi." ujar Moreno dengan lembut.
"Ahh...!" teriak Syasya lagi tidak bisa menahan perihnya.
Moreno meniup luka Syasya.
"Enakkan?!"
"Iya Om..."
Tanpa mereka sadari, Keempat orang tua mereka mendengarnya dari luar, bahkan mata mereka saling melirik tidak percaya. Pada saat pelayan keluar, ternyata pintu tidak tertutup rapat. Niat mereka kesana untuk memanggil Syasya dan Moreno itu untuk makan malam, namun mereka dikejutkan dengan suara-suara aneh dari dalam.
"Ayo, sebaiknya kita pergi, jangan ganggu mereka." bisik Vina.
"Dasar ceroboh! kalau mau melakukan itu, kenapa pintu kamarnya nggak di kunci." kesal Dipta.
"Ayo jeng kita pergi aja," ujar Wulan, wajahnya sudah memerah karena malu. Kenapa juga dia ikut malu? Ah, mungkin karena Syasya adalah putrinya.
"Jangan lupa tutup rapat pintunya," ujar Yudi kemudian menarik lengan istrinya untuk pergi.
"Sebentar lagi kita punya cucu, Pah..!" semangat Vina.
.
.
Bersambung......