
Moreno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jarak kantor dari sekolah Syasya memakan waktu tiga puluh menit.
Kriuk, kriuk!
Bunyi perut Syasya minta diisi. Wajahnya merona karena malu.
"Om, kita mampir makan dulu ya? Syasya laper banget nih..! Cacing-cacing Syasya sudah pada demo," melas Syasya sambil mengusap perutnya.
Moreno melihat jam tangan mewah dipergelangan tangannya. Kemudian melirik Syasya yang sedang menatapnya menunggu jawaban.
"Mau makan apa?" tanya Moreno.
"Burger Ting." jawab Syasya karena hanya itu yang ada di isi kepalanya sekarang ini.
"Yang lain aja, kemarin kan udah. Bagaimana kalau makan seafood, lebih sehat." tolak Moreno kemudian menawarkan makanan yang lain.
"Nggak mau." balas Syasya
Moreno menghela napas kasar, percuma saja menasihati gadis kecil disampingnya, Syasya terlalu keras kepala dan tidak gampang merubah pendiriannya. "Oke, tapi drive thru aja ya, sebentar lagi aku harus meeting di kantor."
"Asikkk... makasih ya Om?" Syasya begitu girang, saking senangnya bertepuk tangan dan hampir saja memeluk Moreno yang sedang menyetir.
Moreno hanya geleng-geleng kepala. "Dasar anak-anak, diberi makan favorit aja sangat senang."
"Itu didepan ada Burger Ting, Om." Syasya menunjuk sebelah kanan jalanan. Burger Ting tertulis di papan besar Restoran itu.
Mobil Moreno berbelok, masuk lewat samping Resto kemudian memesan makanan yang Syasya inginkan, setelah itu membayar, lalu mengambilnya didepan.
Mobil Moreno kembali menuju kantor. Syasya yang dasarnya tidak bisa menahan lapar mulai mengambil kentang dan menikmatinya tanpa menawarkan pada Moreno yang sudah membelikannya.
"Kamu yakin makan segitu banyak?" tanya Moreno, dia hanya melirik makanan ditangan Syasya, dua Burger Ting, satu friend frice, satu ayam krispy plus nasi, dan satu minuman cola, kemudian kembali fokus ke jalanan.
"Yakinlah Om!"
Moreno hanya diam, membiarkan Syasya menghabiskan makanannya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di loby kantor.
"Kita sudah sampai, ayo turun!" Moreno membuka seat beltnya kemudian menoleh ke Syasya. Tumben anak itu hanya diam?
"Bona!"
"..."
"Lama-lama kamu menyusahkan juga." kesal Moreno memukul stir mobil.
"...."
"Cil, bocil! bangun, aku harus segera masuk." Moreno menepuk pipi dan lengan Syasya bergantian, namun Syasya tetap bergeming dengan mata tertutup.
"..."
Moreno keluar dari mobil setelah satpam membuka pintu untuknya. Setelah itu, membuka pintu mobil untuk Syasya.
"Arghh..! aku seperti punya anak," gumam Moreno.
Dengan terpaksa Ia mengangkat tubuh Syasya masuk kedalam kantor.
Mereka jadi pusat perhatian para karyawan, baru kali ini mereka melihat Bosnya bersama seorang gadis. Dan yang lebih mengherankan lagi gadis itu memakai seragam sekolah.
Moreno menghentikan langkahnya, kemudian melihat para bawahannya. "Apa yang kalian lihat? lanjutkan pekerjaan kalian, atau saya pecat!" suara lantang Moreno membuat para karyawan ketakutan dan langsung mengalihkan perhatiannya. Tidak ada lagi yang berani melihat Moreno dan Syasya.
Dari kejauhan, Daffa melihat Moreno yang sedang kewalahan mengangkat Syasya ala bridal style. Daffa segera melangkah menghampirinya. "Hehehe... nutuh bantuan Bos?" tanya Daffa tertawa kecil.
"Siaalan lo! bantu bukain lift-nya." perintah Moreno sambil berjalan menuju lift.
"Nih anak berat amat sih! Mulai sekarang, aku nggak akan biarin dia makan di mobil. Ujung-ujungnya aku juga yang repot." gumamnya setelah masuk didalam lift diikuti Daffa.
"Kenapa nggak dibangunin aja Bos?" tanya Daffa.
"Coba aja lo yang bangunin. Gue nyerah Daf, bangunin dia." Kesal Moreno."
"Hehehe... daripada diangkat begitu, apa nggak capek Bos?!"
Pintu lift terbuka kemudian mereka menuju ruang CEO.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Rini sang sekertaris mencoba mendekat, penasaran dengan seorang gadis yang digendong ala bridal style oleh Moreno. Rini heran, untuk pertama kalinya Moreno membawa anak sekolah ke kantornya.
"Nggak usah Rin, siapakan saja bahan untuk meeting."balas Moreno.
"Siapa gadis ini? apa dia adik Pak Reno? ah, tapi kayaknya adik Pak Reno sudah kuliah deh, dan dia juga tinggal di luar negeri." Batin Rini.
Daffa membuka pintu ruangan kemudian Moreno masuk dan meletakkan Syasya di sofa.
Moreno mengambil bantal kursi, meletakkan kepala Syasya diatasnya kemudian membuka jasnya.
"Jangan macam-macam Bos." Daffa memperingatkan Moreno sebelum Bosnya melakukan hal yang aneh-aneh dengan gadis kecil didepannya.
"Emang gue mau ngapain, Daf?" Moreno mengernyitkan keningnya.
"Kali aja Bos khilaf lagi dan menciumnya disaat tidur," ejek Daffa.
Moreno mendelik, menatap tajam pada Daffa. Ia menutup rok Syasya yang pendeknya sebatas paha dengan Jasnya, setelah itu, berdiri menuju kursi kebesarannya.
Sedangkan Daffa sudah duduk di depan meja kerja Moreno menunggu perintah dari Bosnya.
Ponsel milik Moreno terdengar nyaring. Moreno sedang sibuk menandatangani dokumen penting. Ia langsung meletakkan berkas ditangannya keatas meja, lalu meraih benda pipih itu dari saku kemejanya. Dilihatnya nama wanita yang selama ini dirindukannya, namun enggan untuk bicara dengannya. Wanita yang telah memilih partner bisnisnya dibandingkan dirinya. Tapi Moreno tetap mencintainya, dia rela melakukan apa saja demi wanita itu, termasuk mencintai anaknya.
"Milea...." gumam Moreno.
Moreno mendengus kesal membiarkan ponselnya berbunyi diatas meja. Daffa yang duduk dihadapannya melirik penasaran siapa yang sedang menghubungi Bos-nya.
Saat kuliah Moreno mencintai Milea, tapi Milea tidak mau berhubungan dengan siapapun, hingga mereka kembali bertemu saat menangani satu proyek sama. Tapi saat itu Milea sedang hamil dua bulan, laki-laki yang menghamilinya tidak tahu keadaan Milea hingga Milea memutuskan untuk pergi kekota lain dan melahirkan disana.
Setelah anaknya lahir, Milea kembali bertemu Moreno. Moreno menawarkan sejuta cinta untuk Milea dan anaknya. Moreno sangat mencintai mereka hingga Moreno tinggal dikota yang sama selama beberapa bulan.
Moreno mati-matian memenuhi kebutuhan mereka dengan bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta. Moreno juga rela keluar dari rumahnya karena Ayahnya menginginkan Moreno memegang kendali perusahaan tapi Moreno menolak dan lebih mengejar cintanya.
Hingga suatu hari, Milea butuh uang banyak untuk operasi jantung anaknya yang masih kecil. Moreno tidak ada pilihan lain selain menghubungi orang tuanya karena keadaan semakin mendesak. Dengan perasaan kacau, Moreno bernegosiasi dengan orang tuanya agar memberinya uang demi wanita yang dicintainya.
Moreno terpaksa menyetujui permintaan Papanya, kembali ke Jakarta memimpin perusahaan dan bersedia menikah dengan gadis pilihan kedua orang tuanya. Dengan kata lain, mau tidak mau Moreno harus meninggalkan wanita yang dicintainya.
Operasi berjalan lancar dan anak Milea sembuh.
Selama dirumah sakit Moreno hanya diam dengan pikirannya, waktunya sudah tidak banyak lagi bersama Milea, dia harus memastikan perasaan Milea padanya sebelum kembali. Ternyata Milea sulit membuka hati untuknya.
Hancur!
Sakit!
Milea tidak membalas perasaannya.
Moreno tidak bisa berkata-kata lagi. Ternyata apa yang dilakukannya selama ini tidak begitu berarti untuk Milea. Moreno tidak mau jika hubungan mereka hanya sebatas teman tapi itulah kenyataannya.
Milea pikir Moreno melakukan semua itu hanya karena rasa iba dan pertemanan, namun ternyata, tidak! Moreno memiliki perasaan lebih untuknya.
Disaat Moreno masih berusaha berjuang, tiba-tiba laki-laki itu muncul dan menginginkan Milea dan anaknya kembali. Dan yang membuatnya terkejut adalah laki-laki yang menghamili Milea adalah rekan bisnis ayahnya karena mereka pernah berkenalan disalah satu acara perusahaan. Waktu itu Moreno terpaksa menggantikan Dipta untuk hadir karena sedang sakit.
Setelah melihat kebersamaan Milea dan laki-laki itu, Moreno kembali ke Jakarta dan tidak pernah lagi bertemu dengan Milea.
"Nggak usah diangkat Bos," ujar Daffa membuyarkan lamunan Moreno.
"Gue pikir juga begitu. Lebih baik tidak lagi berhubungan dengannya agar gue bisa melanjutkan hidup gue tanpanya." Moreno menatap lurus kedepan. Netranya tertuju pada sosok gadis cantik yang sedang mendengkur halus dengan mata terpejam.
"Bos, kita jadi meeting atau tetap duduk menatap Non Syasya?" sindir Daffa membuat Moreno segera berdiri.
Moreno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Daffa sukses membuatnya salah tingkah karena ketahuan terus malihat Syasya.
Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
.
.
Bersambung....