
Syasya mengucek matanya, bangun dari tidurnya kemudian duduk bersandar disofa. Ia mengedarkan pandangannya dengan mata menyipit. Sebuah ruangan besar bergaya clasik dan modern terkesan begitu nyaman bagi siapa saja yang berada didalamnya. Netranya tertuju pada Meja besar dan kursi putar empuk berada diujung ruangan, didepannya terdapat satu kursi yang dianyakini itu untuk karyawan.
"Tunggu, apa gue dikantor Om galak?" gumam Syasya. Lagi-lagi Syasya memberi nama baru yang aneh untuk Moreno.
Syasya berdiri kemudian berjalan menuju pintu untuk keluar, begitu pintu terbuka, kepalanya menyembul keluar, matanya melirik ke kiri dan kekanan, mencari sosok yang selalu ingin dia hindari.
"Ahh.. aman!" gumamnya sambil memegang dad@ dan bernapas dengan lega.
Dengan buru-buru Syasya masuk kedalam lift menuju loby, sebelumnya memsan taksi online menuju Mall. Sahabat-sahabatnya masih nongkrong di salah satu cafe menunggu kedatangannya.
"Bestie...."
Teriak Syasya berlari sambil merentangkan kedua tangannya, seakan mereka baru ketemu selama bertahun-tahun padahal baru juga satu jam. Mereka berpelukan seperti teletabis kemudian duduk di kursi.
"Lama banget sih lo!" Kesal Fira.
"Ya elah, sorry... gue ketiduran. Sebagai permohonan maaf gue, kali ini gue yang traktir. Kalian pesan apa aja yang kalian mau. Bebas!"
"Beneran nih?" Semangat Dea.
"Serius gue." ujar Syasya.
"Oke kalo gitu, kita pesan lagi aja, mumpung Syasya lagi dielus malaikat baik hati." ujar Fira.
Mereka kembali memesan, makanan diatas meja saja belum habis, sekarang bertambah beberapa piring lagi.
Syasya ikutan makan, setelah itu membayarnya dengan kartu yang diberikan oleh Moreno.
"Sya, lo nyolong black card Papa lo ya?" tanya Dea berbisik saat mereka berada di depan kasir.
"Enak aja nuduh-nuduh, pencemaran nama baik tau. Ini punya Om gue."
"Maksudnya, lo nyolong kartu Om lo? kok bisa?" Syifa melongo tidak percaya.
"Ini lagi satu, gue nggak nyolong o-on.." geram Syasa.
"Kalau nggak nyolong dari mana kamu dapat itu?"
"Dikasi lah..!" jawab Syasya dengan santainya. Memasukkan tanggal lahirnya dimesin kemudian mengambil kembali kartunya.
Mereka kembali berbelanja, tapi Syasya mulai gelisah. Ia mengambil ponselnya kemudian sibuk mengetik sesuatu.
"Sya... lo kenapa sih? kenapa lo nggak ikutan belanja?" tanya Fira.
"Nggak ah, kalian aja. O iya, sepertinya gue harus cabut duluan deh." Syasya melihat jam tangannya, sudah hampir dua jam dia pergi meninggalkan kantor Moreno.
"Jangan bilang lo lagi janjian sama Om-om lo itu?" ejek Fira.
"Eh, bukan, gue harus pulang sekarang, mau nemenin Mama arisan." jawab Syasya asal, tapi temannya begitu polos dan percaya begitu saja.
"Ya udah, gue anterin lo pulang ya?" tawar Dea pada Syasya, "kita juga sudah selesai kan?" tanya Dea pada temannya yang lain.
"Nggak usah, gue sudah pesen taksi online. Kayaknya sebentar lagi sampai, gue duluan ya..?" tolak Syasya berbohong jika sudah memesan taksi online. Padahal dia tidak mau temannya tahu kemana tujuannya yang sebenarnya. Dia tidak mau temannya tahu tentang hungannya dengan Moreno.
Belum waktunya.
Syasya segera pergi dari Mall kemudian kembali kekantor Moreno dengan mengendarai ojek online biar lebih cepat sampai.
Saat didepan gedung, Syasya turun dari motor, membuka helm, kemudian memberikan ongkos pada tukang ojek.
"Makasih ya Pak." ujar Syasya menyerahkan uang lima puluh ribu.
"Kembaliannya, Neng?" tanya Tukang ojek karena Syasya langsung mau pergi.
"Buat Bapak aja." tolak Syasya.
"Makasih Neng, jangan lupa bintang lima ya neng?"
"Siip... kalau perlu gue kasih bintang tujuh Pak, heheh...."
"Neng bisa aja." Tukang ojek geleng-geleng kepala kemudian melajukan motornya meninggalkan lobi kantor.
Syasya segera masuk dan menuju lift, tidak ada yang berani menegurnya termasuk resepsionis. Mereka sudah melihatnya tadi saat digendong Moreno, tapi baru melihat dengan jelas wajah Syasya saat keluar dari lift dan pergi. Dengan pakaian seragam yang dipakai Syasya, itu sudah meyakinkan mereka jika dia orang yang sama.
Ting!
Begitu lift terbuka Syasya segera masuk, naik kelantai dimana ruangan Moreno. Tidak lama kemudian lift kembali terbuka. Syasya langsung kearah ruangan Moreno, ia mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian langsung masuk tanpa dipersilahkan.
Tahu kenapa?
Tentu saja karena tidak ada orang didalam.
Syasya kembali berbaring di sofa, menunggu kedatangan Moreno sambil bermain game cacing.
Diruang Meeting.
Moreno sedang fokus dengan perencanaan proyek rumah sakitnya. Satu persatu para klien menjelaskan penawaran yang terbaik dari perusahaannya.
Moreno hanya diam menyimak, sesekali mengangguk dan melirik Daffa. Begitu satu pesan masuk di ponselnya, konsentrasinya langsung buyar. Ingin segera mengakhiri meeting dan menyusul Syasya, namun tidak bisa ia lakukan.
Bagaimana tidak, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin, jika setengah jam yang lalu dia meninggalkan Syasya diruangannya masih dalam keadaan tidur pulas. Sekarang gadis itu sedang menggunakan kartunya di cafe. Moreno geleng-geleng kepala kemudian menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Gadis nakal!" gumam Moreno.
"Khemmm!" Daffa memberikan kode agar Moreno fokus. Daffa sangat yakin jika bosnya itu sedang memikirkan hal yang lain.
Dua jam berada di ruang meeting, akhirnya semuanya selesai. Moreno bernapas lega kemudian meninggalkan meeting terlebih dahulu. Dia harus menyusul Syasya di Mall sebelum gadis itu membuat ulah disana.
Ceklek!
Moreno membuka pintu ruangannya, ia menghentikan langkahnya saat melihat gadis yang mengganggu pikirannya dengan santai berbaring disofa dengan ponsel ditangannya.
"Bona! kenapa dia bisa disini? bukannya dia sedang diMall?" batin Moreno.
"Sudah bangun?" tanya Moreno pura-pura tidak tahu jika Syasya habis pergi.
"Om kemana aja sih! masa ninggalin Syasya sendirian?" ketus Syasya balik bertanya.
"Kalau ditanya itu dijawab, bukannya balik nanya?" kesal Moreno. "Aku habis meeting, sekarang jawab aku dengan jujur, kamu dari mana?" tanya Moreno, ia duduk di sofa berhadapan dengan Syasya.
Syasya langsung bangun dan duduk, dengan susah payah ia menelan salivanya.
"Kenapa Om bertanya seperti itu? apa dia tau kalau aku dari Mall?"
"Loh, kan dari tadi gue tidur disini?"
"Jangan bohong! kalau nggak jujur, aku tambah hukumannya, mau?"
Syasya mulai gugup, wajahnya menjadi pucat pasi seperti maling keciduk warga se-RT.
"Eh, eh, jangan dong Om...! ia deh, gue ngaku, habis dari Mall makan bareng temen-temen, itu doang, sumpah!"
Moreno diam, netranya tajam mencari kebohongan dimata Syasya.
"Oke, kali ini aku percaya, sekarang buatkan aku kopi di pantri. Kopinya setengah sendok teh, sushu dua sendok, krim setengah sendok. Ingat! jangan sampai salah. Pokoknya kamu harus kembali dalam waktu sepuluh menit," perintah Moreno membuat mata Syasya seketika membola tidak terima. Mulutnya komat-kamit tanpa suara mengikuti perkataan Moreno.
"Om, kenapa nggak suruh OB? atau sekertaris Om?" protes Syasya.
"Kamu kan lagi aku hukum? mereka semua juga sedang sibuk, cepat! lakukan apa yang aku suruh. Kalau nggak mau, aku telpon Papa kamu sekarang, Mau?" Moreno beralih kemejanya, mengecek dokumen yang bertumpuk diatas meja.
"Eh jangan Om," Syasya langsung menggelengkan kepalanya, "Mmm... Om, pantrinya dimana?" tanya Syasya pada akhirnya, mau tidak mau harus mulai menerima hukumannya dari pada ketahun Papanya.
"Dari ruangan ini belok kanan, terus, baru kiri, mentok, kiri lagi." jelas Moreno tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang dipegangnya.
Syasya bergumam mengikuti kata-kata Moreno sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Moreno.
"Belok kanan, terus, baru kiri, mentok, kiri lagi." gumam Syasya
"Belok kanan, terus, baru kiri, mentok, kiri lagi." gumanya lagi.
Begitu didepan pintu, ia bertemu dengan Daffa.
"Non Syasya, apa Reno didalam?" tanya Daffa basa-basi menyapa, padahal dia sudah tahu jika Moreno ada didalam.
"Ih, Om... siapa nama Om?" Syasya berpikir.
"Daffa, panggil aja Daffa," jawab Daffa dengan sopan.
"Mana bisa seperti itu? nggak sopan."
"Nggak apa-apa Non." Daffa menunduk, "Karena gue nggak mau dipanggil Om seperti Reno."
"Terserahlah. Syasya mau pergi." pasrah Syasya.
"Non Syasya mau kemana?" tanya Daffa.
"Pantri, tuh kan jadi lupa, gara-gara kamu nih, waktuku sepuluh menit habis, mana tidak ingat pantrinya dimana lagi." Kesal Syasya sambil menghentakkan kakinya. Mencoba mengingat kembali ucapan Moreno, tapi sepertinya otaknya kali ini jadi buntu saking kesalnya.
.
.
Bersambung.....