Little Wife CEO

Little Wife CEO
Sah



Hari Pernikahan.


Hah?!


Dunia Syasya seakan berhenti berputar, kepalanya mendadak pusing, tubuhnya kaku dan 3L (lemah, letih, lesu) dan tak bertenaga. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat statusnya saat ini.


"Hikss.. kenapa tiba-tiba aku jadi istri Reno? Mama jangan bercanda." tanya Syasya.


"Siapa yang bercanda sayang... Mama kamu benar. Ayo hapus air mata kamu, Tante jamin kamu nggak akan menyesal jadi istri anak Tante. Jika Reno nakal dan macam-macam kamu hubungi aja Tante, biar Tante yang marahin Reno. Oke?"


"Beneran Tante?" Syasya menatap Tante Vina.


"Iya sayang..." Vina tersenyum lalu memeluk Syasya penih kasih sayang.


Dengan berat hati Syasya berjalan keluar dari kamar hotel diantara dua wanita paruh baya, namun masih tetap terlihat cantik. Meskipun sudah Syasya duga pasti ini akan terjadi, namun tetap saja Syasya masih syok dengan status barunya. Istri Reno, bukan lagi gadis jomblo yang bisa melakukan apapun seenaknya. Jantungnya berdebar seakan berpacu dengan melodi musik yang mengiringi langkahnya menuju pelaminan.


Makin tidak bebas aja hidupnya nanti.


Semua mata tertuju pada Syasya saat mereka berjalan memasuki ballroom menuju pelaminan. Gadis cantik itu memakai gaun pengantin berwarna putih yang kontras dengan kulitnya yang putih. Tentu saja Syasya sangat gugup setengah mati. Jantungnya berdetak lebih cepat meskipun bukan seperti ini pernikahan impiannya.


Syasya dapat melihat begitu banyak tamu yang datang, mulai dari keluarga besarnya dan keluarga besar Moreno. Rekan bisnis dan sahabat-sahabat Moreno juga diundang. Tapi, tidak dengan sahabat dan teman sekolah Syasya. Syasya tetap ingin merahasiakan pernikahannya sampai tamat sekolah. Apa kata teman-teman sekolahnya jika seorang Syasya yang pembangkang ternyata menikah karena perjodohan.


Tiba di pelaminan, Mata Syasya bertemu dengan tatapan Moreno. "Oh, my god kenapa dia begitu... tampan, lebih tampan dengan setelan jas putih dengan peci dikepalanya, namun tetap dingin dan datar seperti biasanya." batin Syasya.


Jika yang lainnya sedang memuji kecantikan Syasya, berbeda dengan Moreno. Tatapannya tajam seakan ingin membunuh Syasya.


"Astaga.... kenapa Om seperti ingin menerkamku?" batin Syasya.


"Khemmm.." deham Dipta membuyarkan pandangan keduanya.


Syasya menunduk sementara Moreno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tingkah.


"Astagfirullah... jangan sampai aku terpesona dengannya, ingat Sya, dia itu pria menyebalkan," Syasya menggeleng-geleng kepalanya mencoba menghilangkan pikiran konyolnya. Kenapa juga dia memuji Reno, sudah gila kali ya?


"Sya, kamu kenapa?" tanya Tante Vina. Syasya hampir lupa jika dirinya jadi pusat perhatian. Ralat, tepatnya Syasya dan Moreno.


"Haah? Nggak apa-apa kok Tante," jawab Syasya tersenyum kecut.


"Ingat Sya, sekarang kamu sudah menjadi istri Reno, jaga sikap dan kelakuanmu, jangan malu-maluin keluarga," bisik Wulan.


"Ih, Mama bener-bener durhaka sama anak sendiri, paling hobi ancam anak semata wayangnya ini." batin Syasya.


Syasya mencoba tenang meski jantungnya terus berpacu. Hanya dalam hati ia mengumpat dan melampiaskan kekesalannya.


"Sya, apapun yang dikatakan penghulu dan pembawa acara kamu harus nurut ya?" Kini Tante Vina yang berbisik ikut memberikan wejangan.


"Tante Vina juga ikut-ikutan Mama lagi, nggak ngerti apa situasi jantungku saat ini. Sudah hampir melompat cuyyyy.."


"Nah sekarang mempelai wanitanya sudah datang," ujar pembawa acara. "Sekarang mempelai wanita dipersilahkan duduk disamping mempelai pria." lanjutnya.


Wulan dan Vina masih menuntun Syasya duduk dikursi sesuai instruksi pembawa acara. Reno berdiri menyambut Syasya, tatapannya tajam mengintimidasi. Sementara Syasya ikut melotot tidak mau kalah.


"Coba aja disini nggak banyak orang, sudah ku congkel tuh mata elangnya Om." kesal Syasya.


Kini Syasya duduk berdampingan dengan Moreno. Wulan dan Vina ikut duduk di kursi kosong yang memang sudah disediakan untuk mereka.


"Nah, sekarang mempelai wanitanya tanda tangan dibuku nikah ini." Pak penghulu menyodorkan buku nikah yang sudah ditandatangani oleh Moreno sebelumnya.


Syasya melirik Mama dan Papanya, kemudian menerimanya dengan tangan gemetar. Bukan karena grogi tapi tatapan maut Moreno begitu membuatnya takut. Semua pergerakannya tidak luput dari mata Moreno.


"Nah, sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah dimata hukum dan agama. Jadi, nikmatilah saat-saat bulan madu kalian." ujar penghulu membuat suasana hati Syasya semakin menegang.


"Wah, benar-benar suka jail juga nih Pak Penghulu. Seenaknya saja bilang bulan madu. Lagian siapa juga yang mau bulan madu dengan Om rese ini? Ih, amit-amit deh!" Syasya bergidik ngeri, membayangkannya saja ia tidak mau apalagi jika itu menjadi kenyataan.


Tidak mungkin juga kan jika dia mengatakan jika tidak ada acara bulan madu dihadapan penghulu, bisa bahaya kan? apalagi disana ada Papanya, bisa tidak dapat uang jajan kan?


Setelah urusan dengan Pak penghulu selesai. Sekarang Moreno dan Syasya tukar cincin.


Moreno mengambil cincin berlian dari kotak bludru berwarna hitam, membuat Syasya memicingkan matanya.


"Dasar nggak ada romantis-romantisnya, masa kotak cincin nikah warna hitam? gue juga yakin nih cincinnya pasti kegedean, tapi biar aja, biar si Om Reno malu, hehehe...."


Begitu kotak cincin terbuka, mata Syasya langsung berbinar, cincin kawin bermahkota berlian itu sangat simple namun tetap terlihat mewah sesuai dengan selera Syasya.


"Cincinnya memang bagus dan indah, tapi belum tentu muat dijari gue kan? bersiaplah mempermalukan diri sendiri Om."


Moreno menatap Syasa beberapa menit. Syasya langsung luluh seakan terhipnotis oleh mantra ajaib, Syasya membiarkan tangannya dipegang Moreno, kemudian menyematkan cincin dijari manis Syasya. Begitupun sebaliknya Syasya menyematkan cincin kawin dijari tangan Moreno.


"Tunggu! kenapa cincinnya bisa pas? modelnya unyu-unyu dan manis banget dijari gue. Hmm.. kayaknya mahal, kalau lagi butuh duit buat nongkrong, lumayanlah bisa masuk pegadaian. Hehehe... dasar mata duitan!" Syasya tersenyum sendiri membuat Moreno melotot karena kesal.


"Sya, ayo salim dan cium tangan Reno sekarang," bisik Wulan.


Syasya langsung mentap Mamanya, kepalanya menggeleng tanda tidak setuju, namun lagi-lagi mendapatkan tatapan horor dari Mamanya.


"Ih, apaan sih Mama, masa nyuruh gue cium si beruang kutub alias teddy bear? Eh, tapi dia kan sekarang sudah jadi suami gue. Ih, menyebutnya suami aja rasanya gue geli." Sebelum melakukan perintah Mamanya, Syasya menatap Moreno yang masih setia dengan tatapan mautnya.


Moreno mengulurkan tangannya seakan mengerti keraguan Syasya. Begitu bibir Syasya menyentuh punggung tangan Moreno ada sesuatu yang aneh yang menjalar didalam diri Syasya.


"Eh, kok kayak kesetrum ya? apa teddy bear sudah berubah jadi colokan listrik?"


Jepretan kamera kembali menyala secara bergantian. Entah berapa banyak fotografer yang disewa Tante Vina untuk mengabadikan momen pernikahan ini.


Syasya nggak sempat hitung.


Syasya sampai capek menunduk dengan posisi itu. Syasya ingin menyudahi tapi tangan Moreno menahannya. Mungkin Moreno terlalu nyaman memegang tangan mulus dan mungil Syasya. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul dikepala Syasya.


"Shh.." desis Moreno menahan sakit akibat gigitan Syasya.


"Rasain! siapa suruh mau jadi suami gue." Syasya tersenyum puas dalam hati, kapan lagi bisa mengerjai Moreno tanpa bisa membalas balik, iya kan?


"Ren, sekarang giliran kamu mencium kening Syasya," pinta Vina.


"Hah?! gue nggak salah denger? please Om jangan...!" Syasya melongo mendengar perintah Tante Vina, setelah itu menggelengkan kepalanya menatap Moreno. Tapi Moreno hanya memperlihatkan wajah datarnya.


Moreno mendekatkan wajahnya membuat Syasya segera waspada.


"Oh my god... jangan sampai dia melakukan permintaan Tante Vina, bisa copot jantungku dari tempatnya. Eh, tunggu, eh, eh..."


Syasya jadi kalang kabut dengan pikirannya begitu wajah Moreno semakin lama mendekat semakin tak berjarak.


CUP!!


.


.


Bersambung...