Little Wife CEO

Little Wife CEO
Rencana Kabur



Hari pernikahan.


Syasya duduk didepan cermin yang dihiasi bunga diatasnya, wajahnya ditekuk sambil menatap kosong kedepan. Ingin rasanya Syasya melarikan diri ke tempat yang jauh agar pernikahannya batal, namun Mama dan Papanya selalu mengancam jangan sampai dia melakukan hal yang nekad dan mempermalukan keluarga. Ah, rasanya semua alasan sudah dia coba, mulai dari pura-pura ingin bunuh diri, pingsan saat MUA datang, dan melarikan diri, namun tetap gagal karena Mama dan Papanya terlalu peka akan isi kepala anaknya. Berakhirlah Syasya di kamar hotel bersama MUA didekatnya.


"Ternyata begini rasanya dirias pengantin, didandanin cantik bagai bidadari dan menjadi ratu sehari. Tapi sayang, gue menikah karena terpaksa dan lebih sialnya lagi gue menikahi laki-laki yang nyebelin dan gue benci. Ini semua gara-gara Mama yang nggak mau bantuin Syasya kabur. Duhhh... dosa apasi gue sampai harus nikah dengan Om-om, sudah tua, rese, nyebelin, suka ngatur-ngatur, hidup lagi!" batin Syasya.


"Arghh..!" Syasya berteriak mengingat perkataan Mamanya.


Sontak membuat dua perias yang dari tadi terus berusaha merias wajah Syasya ikut kaget.


"Aduh neng gelis, jangan teriak-teriak atuh, riasannya bisa rusak ini," ujar MUA yang umurnya kira-kira tiga puluh lima tahun.


"Ia neng, masa sudah cantik begini masih teriak-teriak, malu atuh.." ujar MUA yang satu lagi.


Syasya mencebik kesal, tapi beberapa detik kemudian ia menyeringai melirik MUA yang sepertinya seumuran dengan Moreno.


"Aha! Syasya ada ide!" batin Syasya.


"Khemmm..." deham Syasya membuat MUA itu mengalihkan perhatiannya ke Syasya.


"Kalau boleh tau, mbak namanya siapa?" tanya Syasya dengan nada selembut-lembutnya pada MUA yang masih muda.


"Saya Sukma neng." jawab Sukma.


"Mbak Sukma, aku boleh minta tolong nggak?"


"Tolong apa neng?"


"Kamu mau nggak, gantiin aku jadi mempelai wanitanya Reno? Reno itu tampan banget lho? kaya, punya banyak mobil mewah, rumah gede seperti istana, CEO perusahaan besar dan beberapa perusahaan diluar negeri. Nanti kalau Mbak jadi istrinya nggak perlu capek-capek kerja lagi, pokoknya semua biaya hidup Mbak sampai tujuh turunan dan tanjakan terjamin. Mbak bisa shopping dan jalan-jalan tiap hari, dan satu lagi, Mbak nggak perlu kerjain pekerjaan rumah karena sudah ada ART. Gimana mau ya..? please..?!" jelas Syasya kemudian memelas agar permohonannya terkabul.


"Maksudnya neng mau kabur gitu?"


"Ya."


"Dan saya yang duduk pengantin?"


"Ya.. seperti itulah." jawab Syasya


Kedua Mua itu saling melirik kemudian tertawa.


Hahahaha......


"Neng ada-ada aja, kalau calon lakinya sesempurna itu kenapa neng malah mau kabur? sayang banget cowok kayak begitu ditinggal, nanti nyesel lo."


"Aku nggak bakal nyesel Mbak, tolong ya?" Syasya masih berusaha meyakinkan Sukma.


"Kalau calon lakinya nggak mau pengantinnya dirukar gimana? nggak mau ah, bahaya neng." ujar Sukma.


"Itu sih gampang Mbak. Nanti mbak yang stay disini dan saya segera pergi sebelum akad dimulai." ungkap Syasya.


Hahahah....


Mereka kembali tertawa, ide Syasya untuk kabur memang cukup unik namun Sukma tidak mungkin menggantikannya bersanding dengan Moreno.


"Kenapa Mbak tertawa? lucuya?" tanya Syasya.


"Jelas luculah neng, wong Sukma ini sudah punya suami dan satu anak." sela Mua yang lebih tua sambil geleng-geleng kepala.


"Iya neng, mana mungkin saya menikah lagi, sementara saya masih status istri orang?"


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau Mbak Sukma sudah nikah? tau kayak gitu aku juga nggak bakalan tawarin." Kesal Syasya.


"Hehehe, neng ngga tanya status saya. Lagian kenapa sih neng nggak mau menikah dengannya? neng kan jomblo?"


"Siaalan.. pake ngatain gue jomblo lagi." batin Syasya.


"Mbak nggak liat, aku ini masih kecil, masih mau sekolah, kuliah, dan kerja. Belum waktunya mengurus suami dan anak. Tapi Mereka paksa Syasya, makanya bantu Syasya pergi dari sini dong? Syasya bakalan ngasih semua isi tabungan Syasya deh, gimana?" tawar Syasya.


Hahahaha.....


Mereka kembali tertawa.


"Beneran sudah Mbak? kok aku makin gugup ya?" tanya Syasya.


"Itumah wajar neng...! semua pengantin yang akan melaksanakan akad merasa gugup, nanti pada saat akan nikah sudah selesai, baru plong perasaannya. Sudah ya..? kami pamit pulang, semoga neng gelis bahagia mengarungi bahtera rumah tangga." ujar Sukma kemudian mengatur alat make-up dan memasukkannya kedalam koper kecil.


"Kok berasa sedih ya? Mama... tolongin Syasya, Syasya nggak mau nikah." batin Syasya.


Sekarang Syasya semakin bingung, rencana kembali gagal dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah.


"Ma... tolongin Syasya..." Teriak Syasya frustasi.


Tidak lama kemudian Vina dan Wulan masuk kedalam kamar. MUA langsung berpamitan kemudian membiarkan kedua wanita paruh baya itu menghampiri Syasya yang sudah siap dan cantik dengan balutan gaun pengantinnya.


Kamu cantik sekali nak." Wulan memuji kecantikan Syasya sambil memutar tubuh Syasya. Gaun yang kini melekat ditubuhnya begitu pas dan sangat menggemaskan untuk ukuran pengantin. Begitupun dengan riasannya yang tidak terlalu tebal. Sungguh sempurna maha karya MUA dan ciptaan Tuhan ini.


"Iya sayang, Tente begitu pangling melihat kamu. Tante hampir saja tidak mengenal kamu tadi." Vina ikut memuji, tapi bagaimana dengan perasaan gadis kecil yang sedang dipuji ini. Bibirnya mengerucut dengan mata yang memicing tanda tidak suka dengan penampilannya.


"Hikss.. hiks... Ma..." Syasya mulai menangis.


"Ada apa lagi Sya? jangan nangis, nanti make-upnya rusak." tanya Wulan.


"Mama tolongin Syasya, Syasya nggak mau jadi istrinya Reno." Tolak Syasya berusaha kembali membujuk Mamanya.


Wulan geleng-geleng kepala sambil tersenyum begitupun dengan Vina. Mereka hanya bisa saling melirik dengan kelakuan Syasya.


"Tante... tolongin Syasya ya..?" Jika dengan Mamanya Syasya gagal, mungkin dengan Vina calon mertuanya bisa diajak kompromi.


"Maaf sayang, tapi semuanya sudah didepan mata," balas Vina.


Lagi-lagi gagal.


"Tuhan tolongin Syasya.. atau aku pura-pura pingsan aja deh!" batin Syasya.


"Sudah deh Sya, nggak usah banyak drama lagi. Semua tamu undangan sudah datang, penghulu dan Reno sudah ada di ballroom. Jadi nggak usah lebay deh..." ujar Wulan membuat Syasya semakin mencebik kesal. Mamanya benar-benar tidak mengerti perasaannya.


"Hikss.. Syasya nggak mau mah."


"Berhenti nangis dong Sya...! nanti wajah kamu kayak kunti, make-up nya luntur dan kamu tidak cantik lagi. Kamu mau jadi bahan tertawaan semua tamu? nggak kan?" Wulan menghapus air mata Syasya dengan tisu.


"Mama apaan sih, pake ngatain aku kayak kunti segala, kan serem!" batin Syasya.


"Biarin, biar semua orang tau kalau Syasya dipaksa nikah," kesal Syasya.


"Sya, jangan gitu nak, ini sudah akad, malu." bujuk Wulan.


"Pokoknya Syasya nggak mau, titik!" Syasya semakin merajuk. Sebenarnya ia tidak ingin memperlihatkan sisi manjanya pada orang lain, apa lagi di depan Tante Vina, tapi mau bagaimana lagi, perdebatannya dengan Wulan sudah disaksikan sedari tadi oleh calon mertuanya.


"Pokoknya nggak ada pembatalan, titik!"


Drrtt.. drrtt.. drrtt...


Suara dering ponsel Wulan menghentikan tangis Syasya. Ia terdiam saat jari telunjuk Wulan diletakkan dibibir agar Syasya tidak bersuara.


"Halo Pah.." jawab Wulan.


"..."


"Iya Pah, kami segera ke Ballroom." ujar Wulan kemudian mematikam ponselnya.


"Sudah selesai jeng?" tanya Vina.


"Sudah Mbak," jawab wulan kemudian memegang tangan Syasya, "Sekarang ayo kita keluar, kalian sudah resmi jadi suami istri."


"Hah....?!" pekik Syasya, "Duh, pingsan nggak ya?"


.


.


Bersambung....