Little Wife CEO

Little Wife CEO
Pemandangan Indah



Ren, kamu jadi pergi nggak?" tanya Vina membuyarkan lamunan Moreno pada Syasya.


"Eh, Iya Mah, ini juga mau pergi," jawab Moreno kemudian segera keluar dari rumah.


Setelah kepergian Moreno, Syasya naik kekamarnya diantar oleh Paulina. Vina menyuruhnya untuk istirahat dan nanti malam harus turun untuk makan malam.


Saat Syasya masuk kedalam kamar Moreno, Syasya begitu kagum dengan interior yang mewah dan bernuansa abu-abu, ditengah ruangan terdapat ranjang king size dan sofa panjang disudut ruangan. Jendela yang besar dan terhubung dengan balkon. Kamar Moreno bahkan lebih nyaman dari kamarnya.


Hahh... jadi rindu kamar gue," gumam Syasya, mengingat kamarnya yang lebih dominan warna pink.


Syasya membuka Jendela kemudian kebalkon, ternyata pemandangan dibawah begitu indah. Syasya dapat melihat pepohonan yang rindang dan kolam renang, disana juga terdapat gazebo disamping kolam. Sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga.


"Nyonya muda, Paulina atur barang-barangnya di walk in closet ya?" tanya Paulina.


"Nggak usah biar Syasya aja, dan tolong jangan panggil Nyonya, berasa kayak sudah tua gue, panggil Syasya aja," ujar Syasya.


"Mana saya berani Nyonya, takut dimarahin Tuan Reno," ungkap Paulina.


"Mmm.... kalau begitu, Non Syasya aja deh," putus Syasya.


"Tapi..." ucapan Paulina menggantung, ia masih takut dimarahi Moreno dan Vina jika memanggil Syasya dengan sebutan itu.


"Nggak ada tapi-tapian," ujar Syasya.


"Baiklah, Non Syasya, Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Paulina.


"Gue mau istirahat aja," ujar Syasya


"Kalau begitu saya permisi. Silahkan istirahat," ujar Paulina kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu.


Syasya menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur hingga terpental saking empuknya. Tidak lama kemudian ia pun terlelap dalam alam mimpi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Matahari mulai tenggelam dan langit mulai menghitam. Lampu jalanan ibu kota mulai menyala, namun belum menyadarkan Syasya dari tidurnya. Entah sudah berapa jam dia tertidur hingga tidak menyadari jika suaminya sudah pulang dan mandi.


Moreno berdiri sambil berkacak pinggang menatap Syasa. Sudah sepuluh menit Moreno menatap dan menunggunya bangun tapi sepertinya Syasya makin terlelap.


"Hahh.. dasar Bocil! dia tidur atau pingsan sih?!" gumam Moreno. Perutnya sudah lapar, dan tidak mungkin juga dia turun makan tanpa istrinya. Apa kata Mamanya jika meninggalkan Syasya makan malam.


"Bangunin nggak ya? ahhh... bangunin aja deh, dari pada gue kelaparan!" monolog Moreno sudah jengah menunggu Syasya bangun.


"Cil, cil, bangun, udah malam, tidurnya nanti dilanjutkan setelah makan malam." Moreno mencoba membangunkan Syasya, namun Syasya tetap bergeming dengan mulut sedikit terbuka.


Moreno berpikir sejenak, kemudian keluar dari kamarnya. "Paulina..." panggil Moreno.


"Iya Tuan," ujar Paulina setelah berada dihadapan Moreno.


"Ambilin garam, satu sendok aja," titah Moreno.


"Garam, untuk apa Tuan ?" tanya Paulina penasaran. Untuk apa coba garam dibawa kekamar.


"Nggak usah banyak nanya, cepat ambil," titah Moreno kembali.


"I--iya tuan," Paulina segera menuruni tangga kemudian menuju dapur untuk mengambil garam.


"Kamu ambil apa?" tanya Rosalinda.


"Garam, untuk Tuan Reno," jawab Paulina.


"Hah..? untuk apa?" tanya Rosalinda.


"Kepo, mana aku tau?" ejek Paulina.


Paulina segera mengantarnya kekamar Moreno, tapi saat didekat meja makan, Vina melihatnya.


"Itu apa?" tanya Vina melihat garam dan sendok diatas piring kecil.


"Garam Nyonya," jawab Paulina.


"Saya tau itu garam, tapi untuk apa?" tanya Vina.


"Tuan Reno yang minta Nyonya, tapi saya nggak tau untuk apa," jawab Paulina.


"Iya Nyonya, permisi," pamit Paulina kemudian segera kekamar Moreno lalu mengetuknya.


"Ada-ada saja" pikir Vina sambil geleng-geleng kepala. Tapi dia tidak mau pusing, Vina harus melihat situasi didapur. Apakah Rosalinda sudah menyediakan makan malam atau belum.


Tok.. tok.. tok...


Paulina mengetuk-ngetuk pintu kamar Moreno.


"Ssstttt... brisik! sini," Moreno memperingati Paulina agar tidak ribut, kemudian dengan kasar menarik piring dari tangan Paulina, setelah itu pintu kembali tertutup dengan pelan.


Paulina mengernyitkan keningnya, baru kali ini moreno bertingkah seperti anak-anak yang takut ketahuan. Selama tiga tahun bekerja disana, yang Paulina tahu Moreno itu sangat dingin bahkan sangat irit bicara.


Paulina melirik kekiri dan kekanan, merasa tidak ada orang, ia mendekatkan kepalanya didaun pintu dan mencoba untuk menguping, tapi sayangnya tidak dapat mendengar apa-apa dari dalam.


"Tuan Reno dan Nyonya kecil bikin penasaran aja. Mereka lagi ngapain ya? untuk apa juga garam itu?" monolog Paulina kemudian kembali turun kedapur dengan perasaan dongkol karena tidak mendapatkan informasi apapun.


Didalam kamar, Moreno menghapiri Syasya yang masih terlelap dengan mulut terbuka. Moreno menyeringai, kemudian menyendok garam masuk kedalam mulut Syasya.


Catat: hanya seujung sendok.


"Hehehe...." Moreno terkekeh begitu Syasya mengunyah kemudian menelannya. Dengan jahilnya Moreno kembali memasukkan garam kemulut Syasya hingga Syasya terbangun.


Peueettt.. Peueettt..


Syasya menyemburkan garam dimulutnya, rasanya Syasya ingin muntah saat itu juga. Syasya beringsut turun dari tempat tidur kemudian menuju kamar mandi untuk berkumur. Setelah selesai ia keluar dengan wajah ditekuk.


"Hahahaha.... rasain!" Moreno tertawa puas.


"Om! jahat banget sih?!" kesal Syasya sambil mengusap mulutnya dengan tangan.


"Siapa suruh nggak bangun-bangun, kamu enak-enakan tidur sementara suami kamu kelaparan," ujar Moreno.


"Lebay... kalau lapar ya tinggal makan. Rumah ini kan rumahnya Om!" Syasya masih dalam mode marah.


"Mana mungkin aku makan sendiri tanpa kamu? apa kata Mama, Papa, aku nggak mau diomelin sama Mama," ujar Moreno.


"Minggir," Syasya sengaja menyenggol bahu Moreno.


"Eh, mau kemana?" tanya Moreno.


"Mau makan, laper!" ujar Syasya membuat Moreno geleng-geleng kepala.


"Mandi dulu," nasihat Moreno.


"Nggak mau, mulut Syasya rasanya nggak enak, butuh asupan gizi!" geram Syasa, kemudian langsung keluar kamar.


"Apa seperti ini rasanya punya istri yang masih remaja? berasa punya adik perempuan nggak sih?" tanya Moreno pada dirinya sendiri.


Moreno ikut turun menuju dapur. Begitu sampai didapur ternyata semua orang memperhatikan diri. Kecuali Syasya yang cuek dan masih marah padanya.


Remo langsung menarik kursi kemudian duduk disamping Syasya.


Tanpa disuruh Syasya mengambil makanan untuknya. Tidak lupa menaruh sambel yang banyak dipiring Moreno.


"Kamu sengaja mau buat aku sakit perut?" sindir Moreno.


"Mana aku tau kalau Om nggak suka sambel." ujar Syasya.


"Sya... nggak boleh panggil Reno, Om dong sayang..? dia kan suami kamu. Panggil Mas," tekan Vina membuat Syasya tidak bisa menolak.


"Iya, Mah, maaf Syasya kebiasaan, hehehe..." kekeh Syasya, membuat Vina dan Dipta geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Mereka maklum akan sikap Syasya yang belum dewasa. Tapi mereka sangat yakin jika sebenarnya Syasya anak yang baik meskipun sangat manja.


"Nih, piringnya ganti, kamu aja yang makan itu," titah sang suami membuat Syasya mendelik kesal.


Syasya kembali mengisi piring dengan nasi dan lauk dan sambel sesuai keinginan Moreno. Setelah itu, mereka menikmati makanan yang tertata diatas meja makan.


.


.


Bersambung....