
Satu jam berlalu, akhirnya Moreno dan Daffa selesai meeting, mereka kemudian menikmati makanan yang baru saja diantar pelayan. Setelah makan mereka kemudian berpamitan.
Moreno menghampiri Syasya yang duduk membaca komik detektif konan diponsel pintarnya.
"Bona, ayo pergi!" Suara Moreno mengagetkan Syasya, hampir saja ponselnya jatuh kelantai jika dia tidak segera menahannya.
"Ih, Om ngagetin aja." Kesal Syasya.
"Memangnya apa yang kamu lakukan? jangan-jangan kamu nonton film dewasa ya?" tanya Moreno sambil melirik ponsel Syasya.
"Enak aja main nuduh-nuduh. Mana mungkin Om, Syasa masih keci," ketus Syasya.
Syasya kemudian berdiri mengikuti Moreno yang berjalan lebih dulu keluar. Kakinya hampir tersandung kaki meja karena harus mempecepat langkahnya mengejar Moreno.
"Dasar batu nggak berperasaan!" geram Syasa.
Mereka masuk kedalam mobil kemudian menuju butik langganan keluarga Moreno, lebih tepatnya Adik Mama Moreno, Tante Bianca.
Saat sampi di depan butik mereka langsung turun.
"Daf, mana kunci mobil." Moreno mengadahkan tangannya meminta kunci mobil.
"Ini bos." Daff menyerahkan kunci mobil milik Moreno.
"Lo pulang aja." perintah Moreno.
Daffa berpikir sejenak kemudian melirik Syasya, menit kemudian ia mengangguk.
"Bona, ayo masuk!" perintah Moreno kemudian berjalan lebih dulu.
"Ih, Om tungguin!" kesal Syasya.
Kenapa Moreno senang sekali meninggalkan dirinya? tidak bisakah sedikit saja menunggunya?
Sya mengerucutkan bibirnya, kakinya tersentak-sentak mengikuti Moreno, tapi begitu didalam butik, matanya langsung berbinar melihat gaun pesta dan pengantin yang terpajang di manekin, begitu indah dan menakjubkan bagi kaum hawa yang melihatnya. Sangat berbanding terbalik dengan tatapan Moreno, pria itu tetap kaku dan datar.
"Ren, kamu sudah sampai nak?" sambut Tante Bianca.
"I-iya Tan." jawab Moreno sambil mencium tangan Tante Bianca.
"Nah, kalau ini pasti calon kamu kan? cantik banget Ren, kamu pinter pilih calon istri." puji Tante Bianca.
"Cantik apanya Tan, yang ada dia paling nyebelin!" batin Moreno.
Moreno hanya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.
"Syasya Tante," Syasya mengulurkan tangannya kemudian mencium tangan Tante Bianca.
"Ih lucu banget sih kamu, Tante jadi pengen punya anak perempuan lagi." Gemas Tante Bianca bahkan tangannya sudah mencubit pipi Syasya saking gemasnya.
"Oiya, Mama mana Tante?" tanya Moreno. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mamanya.
"Ada didalam ruangan Tante, bersama Tante Wulan juga." jawab Tante Bianca.
"Mama ada disini juga ya Tante?" tanya Syasya tidak percaya.
"Iya sayang.." jawab Tante Bianca.
Tidak lama kemudian Vina dan Wulan keluar ruangan menghampiri mereka. Mereka tersenyum dan puas dengan gaun pilihan mereka.
"Ini dia nih, calon pengantinnya, sini sayang, Tante pengen liat kamu coba gaun ini." ujar Vina sambil menyerahkan gaun pengantin pada Syasya.
"Cobain sekarang ya Tante? Mah?" tanya Syasya memperlihatkan senyum terpaksanya.
"Iya dong sayang, masa tahun depan. acara kalian kan beberapa minggu lagi." jawab Vina diikuti anggukan kepala oleh Wulan.
"Ya sudah." Syasya segera menuju ke ruang ganti dibantu beberapa karyawan butik untuk mengganti bajunya dengan gaun pengantin.
Beberapa menit kemudian Syasya keluar dengan balutan gaun putih lengan panjang dengan model empire west dress. Dibaguan pinggang terdapat payet dan mutiara. Model bajunya memang cantik, namun sepertinya ada yang salah!
Semua mata tertuju padanya, mereka melongo hampir tak berkedip. Sungguh Syasya tidak suka dalam posisi ini.
Tidak lama kemudian suara manusia batu itu menggelegar memecahkan gendang telinga, wajahnya memerah, bahkan Moreno sampai memegang perutnya yang tegang karena tidak tahan.
"Hahahaha... kamu lucu banget, seperti kucing dalam karung," ejek Moreno membuat Syasya mencebik kesal.
"Ren, kenapa kamu tertawa? nggak lucu ah!" sentak Vina.
"Sumpah Mah, dia lucu banget!" Moreno geleng-geleng kepala.
"Eh, tunggu sayang, jangan ngambek gitu dong? Tante ukur dulu, bagian mana yang harus dikecilin," Tante Bianca menahan Syasya kemudian mengukur lengan, pinggang dan dad@.
"Maaf sayang, gaun itu pilihan Tante. Meskipun ukurannya besar tapi modelnya sangat cocok untuk gadis seumuran kamu." ujar Vina.
"Iya, nggak apa-apa, cuma tiga hari saja selesai kok. Sebenarnya Tante bisa buatkan yang lain. Tapi Mama dan Tante kamu sukanya yang ini. Jadi ya tinggal dikecilin," jelas Tante Bianca.
"Gimana Sya.. kamu suka nggak?" tanya Wulan.
"Terserah Mama aja deh. Sekarang Syasya mau ganti," kesal Syasya kemudian menuju ruang ganti.
Setelah Syasya mengganti pakaian, kini giliran Moreno yang mencoba jasnya. Begitu Moreno keluar semuanya langsung diam. Moreno sangat mempesona dengan balutan jas berwarna putih, apalagi postur tubuh yang tinggi dan atletis semakin mendukung penampilannya. Wajah tampan dengan rahang tegas ditumbuhi bulu halus, serta hidup mancung dan alis tebal.
Hening....
Tidak ada komentar termasuk Syasya yang hanya melongo melihat ketampanan Moreno.
"Sadar Syasya, masih banyak cowok yang lebih keren dan tampan dari dia. Dia itu hanya manusia batu yang nyebelin, jangan sampai lo terpesona dan jatuh cinta padanya. No, big No!" batin Syasya.
"Wow... anak Mama memang perfecto.." puji Vina sambil menaikkan jempolnya pada Moreno, "Sya, gimana menurut kamu?" tanya Vina meminta pendapat Syasya.
Syasya hanya diam melamun. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.
"Sya... ditanya sama Tante Vina tuh..!" Wulan menyenggol lengan Syasya dengna siku membuat Syasya langsung sadar.
"Eh, kenapa Tante?" tanya Syasya bingung.
"Gimana pendapat kamu? jasnya cocok nggak dengan Reno?" ulang Vina.
Syasya melirik Wulan kemudian mengangguk. Bagaimana tidak jika Mamanya sudah melotot seolah memaksanya setuju."
"I-Iya Tante." jawab Syasya.
"Oke, kalau begitu, jas untu pria sudah deal ya? sisa gaun kamu sayang, tiga hari lagi kalian kesini fitting baju." ujar Vina.
"Tante, Syasya mau ke toilet sebentar, boleh?" tanya Syasya.
"Boleh dong sayang... " jawab Vina.
Syasya menuju toilet diantar salah satu karyawan. Ia tidak ingin berlama-lama disana melihat Moreno yang ketampanannya bak pangeran dinegeri dongeng.
"Mah, apa sekarang Moreno boleh ganti jasnya?" tanya Moreno.
"Gimana Ca?" tanya Vina pada Bianca.
"Sudah, sepertinya tidak ada lagi yang perlu dirubah. Semuanya sudah pas, klop deh." jawab Bianca.
Moreno kemudian masuk ke ruang ganti karena tidak ingin berlama-lama di hadapan ibu-ibu yang sedang menguliti penampilannya. Meskipun ia sadar saat bercermin dirinya memang sangat tampan memakai jas itu, tapi tetap saja ada rasa malu dihatinya.
"Oke kalau begitu. Kami pamit pulang ya Ca? jangan lupa selesaiin baju pengantin Syasya tepat waktu." pamit Vina.
"Iya Kak, jangan khawatir, semuanya pasti beres ditangan aku." ujar Vina.
"Bayarannya Kakak transfer ya?" ujar Vina.
"Nggak, kali ini aku nggak mau dibayar Kak, anggap saja ini hadiah pernikahan dariku untuk ponakanku yang paling tampan." tolak Tante Bianca.
"Bener nih? tumben kamu baik banget."
"Ya elah Kak, dari dulu juga aku baik kan?"
"Iya deh, tapi beneran nih nggak mau dibayar?" tanya Vina lagi memastikan.
"Iya Kak, beneran,"
"Ya udah, kami pamit pulang dulu ya? masih banyak yang harus kami urus. Mulai dari WO dan juga gedung." ujar Vina.
"Jeng, kami pamit pulang ya," ujar Wulan ikut pamit.
"Iya Jeng, hati-hati dijalan."
Mereka kemudian berpelukan kemudian keluar menuju mobil tanpa menghiraukan dua sejoli yang belum keluar dari tadi.
.
.
Bersambung.....