
Tok.. tok.. tok...
Didit mengetuk pintu ruangan kemudian masuk. Ia langsung duduk di sofa dan bergabung dengan mereka.
Tidak lama setelah itu, Daffa juga datang diwaktu yang hampir bersamaan.
"Sorry banget bro, gue telat. Ada operasi mendadak karena salah satu dokter berhalangan datang." ujar dokter Didit sambil tos tinju bersama Andre dan Moreno.
"Dont worry Men.. santai aja.." sambut Andre.
"Widiiihh... ada yang bening ning! mau dong kenalan," goda Didit, kedua bola matanya melirik Syasya.
Didit mengulurkan tangan namun Moreno yang berjabat tangan dengannya dengan paksa.
"Apaan sih lo!" ketus Didit.
"Ck, kaliankan sudah saling kenal saat dipesta. Kenapa kenalan lagi?" Decak Moreno yang sudah tahu akal-akalan teman-temannya untuk mengenal Syasya.
"Hehehe... baru juga kenalan sekali, ya nggak Sya?" tanya Didit.
Syasya hanya tersenyum sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.
Didit duduk di sofa, sedangkan Daffa memilih duduk di kursi depan meja kerja Moreno.
"Kenapa lo duduk disitu?" tanya Andre.
"Lo mau pangku gue?" tanya balik Daffa karena sofa sudah penuh.
"Sudah, jangan berdebat lagi." sela Andre, "Daf, taruk kursi lo kesini, kita makan aja, tuh liat Syasya sudah hampir selesai makannya." ujar Andre.
Daffa menarik kursinya kemudian duduk, mereka kemudian makan bersama diselingi dengan obrolan. Acara Mereka sangat suka berbicara dengan Syasya yang polos. Menjawab pertanyaan sesuka hatinya hingga kadang membuat Moreno kesal dengan sikap istrinya yang hambel, mudah bergaul, nyambung, dan suka bercanda.
"Kalian memang cocok. Yang satu lucu dan satu lagi dingin. Gue kasih lo tantangan Sya, kalau sampai lo bisa buat bucin manusia kaku ini dalam waktu sebulan. Gue bakalan ngasih apapun yang lo minta," tantang Moreno.
"Apapun?" Wah, mata Syasya mulai berbinar. Jika seperti ini Syasya siap.
"Ya apapun," Andre sangat yakin dengan tantangannya.
"Kalau Syasya minta restoran ini juga boleh?" Syasya hanya bercanda tapi dianggap serius oleh Moreno.
"Boleh," jawab Andre tanpa beban.
"Ah, jangan bercanda deh Kak?" Syasya masih yakin jika Andre hanya main-main.
"Serius! tapi buat Reno bucin dulu, gimana deal?" Andre mengulurkan tangannya pada Syasya dan Syasya dengan senang hati membasnya.
"Siaalan lo Ndre! emang gue laki-laki apaan? jadi bahan taruhan? nggak bisa! gue nggak setuju!" tegas Moreno.
"Gue nggak minta pendapat Lo!" Andre meminum air digelasnya kemudian melap mulutnya dengan tisu. Dia sudah selesai makan dan duduk bersandar di sofa.
"Ck," decak Moreno.
Moreno dan yang lainnya juga sudah selesai makan. Setelah selesai, pelayan datang dan membereskan meja mereka. Mereka kembali mengobrol hingga pukul sebelas malam.
Acara makan malam berjalan dengan lancar. Syasya dengan mudahnya akrab dengan sahabat-sahabat suaminya. Padahal sebelumnya Moreno khawatir jika Syasya tidak akan betah berada diantara sahabatnya yang suka ngibul dan bicara sesuka hatinya. Rupanya Syasya tidak mudah tersinggung dan lebih menganggap mereka menyenangkan karena lebih sering bercanda.
Awalnya Syasya kira teman-teman Moreno sama kakunya seperti Moreno
"Sorry Bro, sepertinya gue harus duluan," ujar Moreno.
"Iya kita ngerti kok kalau lo lagi bawa anak kecil," ejek Didit.
Moreno melirik Syasya, dia sudah mengantuk dan matanya tinggal setengah watt.
"Lo benar Dit, tuh anaknya minta dikelonin," Andre ikut mengejek temannya.
"Ren, mau gue antar?" tawar Daffa.
"Nggak usah! Lo disini aja, biar gue bawa mobil sendiri," tolak Moreno.
"Oke," balas Daffa.
"Ia Om." Syasya pun beranjak. Setelah berpamitan dengan sahabat-sahabat Moreno. Mereka kemudian keluar dari ruang kerja Andre.
Ini sudah tengah malam. Pasti Vina menghawatirkan mereka. Seandainya saja mereka sudah pindah dirumahnya sendiri. Tentu Moreno tidak akan berpikir dua kali untuk pulang kapan saja. Tapi mereka masih menumpang dirumah orangtuanya. Tentu semuanya dalam pengawasan Dipta.
Tanpa Moreno sadari jika dirinya sedang menarik Syasya terlalu cepat untuk berjalan, hingga Syasya kewalahan untuk mensejajarkan langkahnya dengan Moreno.
"Om, jangan cepet-cepet dong..!" melas Syasya. Dia sudah seperti orang mabuk karena kakinya masih dlsangat dan mengantuk. Terlalu banyak makan rupanya membuatnya ingin segera tidur.
Moreno berbalik kemudian melepaskan tangan Syasya, ia membuang napas dengan keras, kemudian berjongkok membelakangi Syasya.
"Cepat naik," Moreno menepuk pundaknya membuat Syasya melotot.
"Nggak mau," tolak Syasya sambil menggelengkan kepalanya.
"Cepetan, kalau nggak mau, aku tinggal," ancam Moreno.
Syasya memutar bola matanya malas, suka tidak suka ia terpaksa memeluk leher Moreno dari belakang.
Moreno kemudian berdiri dan mengangkatnya, Moreno menahan kaki Syasya dengan kedua tangannya disisi kiri dan kanan. Moreno sepert sedang membawa tas ransel besar, bedanya yang ini bisa bergerak dan mengumpat dalam hati.
Sebenarnya Moreno tidak perlu menggendongnya karena Syasya masih bisa berjalan. Cukup dengan berjalan pelan pasti Syasya masih bisa. Tapi, dasar Moreno yang tidak suka orang lambat. Ia dengan cepat menawarkan bahunya.
"Kamu kecil-kecil berat juga. Apa karena terlalu banyak makan?" tanya Moreno membuat Syasya semakin kesal.
"Makanku memang banyak Om! Masih dalam masa pertumbuhan. Kalau nggak ikhlas gendong, turunin aja, gue bisa jalan sendiri," ketus Syasya.
"Kalau mau cepat besar, aku bisa ajarin caranya," ujar Moreno penuh misteri.
"Udah tau, caranya dengan makan dan olahraga kan?"
"Salah, cara ini lebih cepat dari itu."
"Salah?" Syasya menautkan kedua alisnya.
"Hm, mau tau nggak caranya gimana?" Moreno mulai memutar otak Syasya hingga Syasya kebingungan.
"Caranya gimana Om?" tanya Syasya dengan polosnya.
"Aku ajarin kalau kita sudah sampai didalam kamar," jawab Moreno.
"Oke, awas kalau nggak ya Om!" ancam Syasya, menurut Syasya dia memang harus menaikkan berat badannya sedikit karena merasa terlalu kurus padahal makannya selalu banyak.
"Pasti aku ajarin, kamu cukup diam dan mengikuti arahanku."
"Siap Om!" dengan jahil Syasya meletakkan jempolnya dihidung Moreno. Moreno kesal dan mendelik, suasana romantis yang berusaha ia buat dihancurkan dengan keisengan Syasya. Menit kemudian ia tersenyum, ada sesuatu yang membuat hatinya bahagia jika Syasya bersikap manja dengannya.
Moreno menggelitik telapak kaki Syasya.
"Hahaha... berhenti Om geli," ujar Syasya sambil memberontak.
"Berhenti bergerak kalau nggak mau kita sama-sama jatuh," ancam Moreno sukses membuat Syasya menghentikan pergerakan kakinya yang naik turun.
Beruntung keadaan sudah sunyi karena sudah tidak ada lagi karyawan di restoran. Hanya mereka berdua yang ada disana hingga Moreno dapat melakukan apapun pada Syasya termasuk menawarkan diri untuk menggendongnya.
Setelah sampai diparkiran, Moreno membuka pintu mobil kemudian memasukkan Syasya duduk dikursi depan. Setelah itu, ia juga masuk dikursi kemudi.
Moreno melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang menuju rumah. Setelah dua puluh lima menit, mereka akhirnya sampai dirumah Vina.
Moreno melirik Syasya yang sudah tidur. Ia menyalakan lampu kemudian menatap wajah Syasya yang cantik dan imut meski sedang tertidur.
"Cantik! tapi, kenapa kau selalu menyusahkanku, hem?!" Moreno mencapit dagu Syasya dengan jari telunjuk dan jempolnya. Ia memandangi wajah Syasya begitu lekat. Tidak ada ada yang salah dengan pernikahannya dengan Syasya, tapi kenapa hatinya masih tertinggal untuk Milea. Bukankah seharusnya ia berusaha untuk menerima pernikahannya dengan Syasya dan belajar mencintainya?
.
.
Bersambung.....