Little Wife CEO

Little Wife CEO
Rahasia



"Mmm.. rahasia! hahaha...." Daffa tertawa puas, senang sekali melihat wajah serius ketiga sahabatnya itu. Tapi dia masih tidak ingin mengungkapkan identitas kekasihnya. Daffa sudah berjanji akan merahasiakannya sampai gadis itu cukup dewasa dan kembali ke Jakarta.


"Monyet!"


"Siaalan lo!"


"Brengsek!"


Umpat Andre, Moreno dan Didit. Mereka kembali minum hingga mabuk. Tapi tidak dengan Didit, dia masih bisa membatasi diri karena besok pagi harus bertugas dirumah sakit. Rumah sakit tempatnya bertugas bersama Tasya pacarnya. Seandainya saja dia bisa pindah kerumah sakit lain, dia akan melakukannya, namun Didit masih terikat kontrak sampai akhir tahun.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pulang sekolah aku jemput!" ujar Moreno setelah memarkirkan mobilnya dihalaman sekolah Syasya.


"Nggak bisa Om, Syasa sudah janjian kerja kelompok bareng temen-temen." tolak Syasya masih berada dalm mobil Moreno.


"Kerja kelompok atau nongkrong di Mall?"


"Loh, kok Om tau?" Syasya menutup mulutnya dengan cepat, secara tidak langsung dia sudah mengakui kemana tujuannya yang sebenarnya.


"Tuh kan, ketahuan bohongnya! Apa yang akan kamu lakukan sudah aku lalui dulu jaman sekolah. jadi, kamu nggak bisa bohongin aku."


"Nah, akhirnya ngaku juga kalau Om ini sudah tua."


"Bona!"


"Maaf, masih muda kok Om! gitu aja marah, nggak terima kenyataan banget sih!" gumam Syasya kemudian mengulurkan tangannya untuk berpamitan, sebentar lagi bel masuk berbunyi.


"Mau uang? pake kartu yang kemarin aja. Kamu masih simpan kan?"


"Oh iya, lupa." Syasya memukul jidatnya kemudian mengambil kartu Black card milik Moreno dari dalam tasnya, "Nih kartunya Om."


"Untuk kamu aja. Sesuatu yang sudah kuberikan pada orang lain, tidak akan aku ambil lagi."


"Somboooong...." ejek Syasya.


Tak!


Moreno menyentil kening Syasya.


"Aww... sakit Om, ini namanya penganiayaan anak dibawah umur, gue aduin Kakak gue baru tau rasa lo." ringis Syasya memegang dahinya, padahal tidak sakit sama sekali.


"Hehehe, Kakak kamu siapa?" Moreno terkekeh. Tidak mungkin Syasya memiliki saudara apalagi Kakak. Syasya adalah anak tunggal dari keluarga Yudistira.


"Kak Seta, di komnas perlindungan anak"


"Dasar Bona! sana masuk kelas."


"Ya udah, Syasya masuk sekolah dulu ya Om? kalau nggak mau kartunya, gue simpen lagi ya? tapi jangan diminta lagi." Syasya kembali menyimpannya dalam tas. Kemudian mengulurkan tangannya lagi.


"Mau apalagi Bona... aku nggak ada uang cash."


"Ih Om, uang melulu di otaknya, Papa sudah ngasih disini," dengan polosnya Syasya menunjuk saku seragam sekolahnya. "Sini tangannya." Syasya menarik tangan Moreno kemudian salim dan menciumnya.


Moreno menghembuskan napas kasar karena kecewa, dia pikir Syasya menarik tangannya untuk memegang saku seragamnya yang menonjol, ternyata tidak. Padahal Moreno sudah siap untuk itu.


"Bahaya..! gadis kecil ini mengacaukan isi pikiranku." batin Moreno.


"Sebagai anak manis dan baik hati, Syasya harus menghormati Om sebagai orang yang lebih tua, Bay.. Om..!"


Syasya segera membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Dia harus menyelamatkan diri sebelum Moreno sadar dikatakan tua oleh Syasya.


"Bona..." Teriak Moreno membuat Syasya segera berlari menuju kelas.


Huff.. huff.. huff....


Syasya mengatur napasnya dalam kelas. Dia baru saja berlari dari parkiran menuju lantai tiga kelasnya.


"Sya, kenapa lo keringat pagi-pagi? kayak habis lari marathon." tanya Syifa yang datang lebih dulu dari Syasya.


"Takut dikejar hantu." jawab Syasya asal.


"Hantu? masa sih ada hantu pagi-pagi, mana?" Syifa mulai bergidik sambil memegang lengan Syasya. Diantara mereka bersahabat, Syifa paling takut hantu. Jika diajak nonton film horor dibioskop Syifa langsung banyak alasan. Pernah satu kali dia dipaksa masuk nonton, dan berakhir sakit selama tiga hari. Bayangan hantu difilm selalu mengikutinya hingga takut tidur sendirian. Jadilah mengajak sahabatnya menginap dirumahnya beberapa hari. Semenjak saat itu sahabatnya tidak mau lagi mengajaknya karena ujung-ujungnya mereka sendiri yang akan repot mengurus Syifa.


"Mmm... sepertinya hantunya nggak jadi ngejar."


"Bener, Sya?"


"Iya, sumpah!" Syasya menaikkan angka dua dengan jari tangannya membuat Syifa percaya begitu saja.


"Woiii..." Teriak Dea ditelinga Syifa.


"Ih, apaan sih lo, ngagetin aja!" kesal Syifa.


"Hehehe.... pulang sekolah nge-Mall yuk! BT gue di rumah sendirian." Ajak Dea.


"Shippp, tapi yang traktir kita makan ya?" ujar Syasya.


"No problem lah kalau cuma makan, kecillll..." Dea menyentil ujung jari kelingkingnya.


"Somboooong...." ujar Syifa.


"Ih, nggak percaya? beneran, gue baru dapat transferan dari Bokap gue."


"Percaya..." ujar Syifa kemudian memeluk Dea.


"Eh, kok Fira belum dateng? apa dia nggak masuk?" tanya Syasya.


"Rese' lo! sakit kampret!" kesal Syasya.


"Hehehe... ngomongin apa sih? serius amat," tanya Fira.


"Kita mau nge-Mall pulang sekolah, lo ikut ya?" jawab Dea.


"Asal bukan gue yang traktir aja, ayo!" semangat Fira.


"Giliran gratis aja lo paling semangat." ejek Syifa.


"Gratis itu anugerah Tuhan yang paling indah dan nggak boleh ditolak, Syif.. dosa." ujar Fira.


"Sya, gue mau ngomong!" Tanpa permisi Axel masuk kedalam kelas Syasya dan menariknya keluar.


"Apaan sih lo!" sentak Syasya melepas tangannya, "nggak ada lagi yang perlu kita omongin Xel. Lo, gue, End!" ujar Syasya penuh penekanan sambil menunjuk wajah Axel, dirinya, kemudian menyilangkan pergelangan tangannya tanda selesai.


"Sya, gue pengen kita balikan lagi." melas Axel.


"Sorry Xel, tapi gue sudah punya pacar." tolak Syasya.


"Hehehe... jangan becanda Sya!"


"Siapa yang becanda?"


"Gue tau lo bilang kayak gitu agar gue jauhin lo, iya kan?"


"Nggak tuh, emang itu kenyataannya." ujar Syasya sambil menaikkan kedua bahunya.


"Gue nggak percaya."


"Terserah."


Syasya segera masuk kedalam kelas begitu melihat Bapak guru menuju kelasnya.


"Axel kenapa lagi Sya?" tanya Dea menahan Syasya untuk duduk.


"Ngajak balikan lagi."


"Lo mau?"


"Ya nggak lah! lagian gue sudah ada yang lain."


"Lo punya gebetan lain? siapa Sya? Dimas? Rico? atau Al?" semua cowok yang Dea sebutkan adalah cowok yang naksir dengan Syasya. Tapi, dari dulu Syasya selalu menolaknya.


"Nggak salah satunya." Syasya menggelengkan kepalanya.


"Lalu siapa?"


"Ada deh..."


Mereka kemudian duduk setelah Bapak guru masuk dan memulai pelajaran.


Waktu sudah menunjukkan jam pulang sekolah, mereka keluar dari kelas menuju tempat mobil Dea terparkir.


"Sya, kenapa lo nggak pernah bawa mobil lagi?" tanya Fira.


"Males aja." Jawab Syasya, padahal Moreno yang selalu lebih dulu datang menjemputnya dirumah. Suka tidak suka dia terpaksa ikut karena Wulan yang menyuruhnya ikut Moreno atau jalan kaki ke sekolah jika menolak.


Bip, bip!


Keempat gadis itu menoleh, mobil yang membunyikan klason menghampiri mereka.


"Mati gue" batin Syasya.


Moreno membuka kaca mobil, menampakkan wajahnya yang tampan dengan kacamata hitam yang bertengger dihidungnya.


"Bona, ayo masuk!" Teriak Moreno dikursi kemudi setelah berhenti pas dihadapan keempat gadis itu.


Syasya melotot horor pada Moreno, tapi pria dewasa itu hanya tersenyum manis, membuat ketiga gadis yang baru melihat itu semakin terpesona.


"Sya, lo kenal cowok itu?" tanya Dea.


"Om gue! sorry Girls, gue nggak bisa ikut kalian. Gue duluan ya, have fun..!"


Syasya membuka pintu mobil tanpa menunggu persetujuan sahabatnya, kemudian duduk disamping Moreno dengan wajah ditekuk.


"Kamu nggak lupa dengan perjanjian kita kan? setelah pulang sekolah, kamu harus kekantor aku sebagai hukuman." Moreno mengingatkan Syasya.


"Ia Syasya ingat kok Om. Syasya belum tua, juga nggak amnesia!"


"Kalau ingat kenapa mau pergi dengan mereka?"


"G-gue... gue pikir Om nggak jadi jemput," alasan Syasya.


"Selain jago drama, kamu juga pintar ngeles ya?"


"Makasih pujiannya, Om."


.


.


Bersambung.....