Little Wife CEO

Little Wife CEO
Sahabat



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Di Club Max.


Tung, tung, tung ,tung..!


Suara dentuman musik begitu nyaring menggema disetiap sudut ruangan, Empat pria dewasa sedang merayakan kedatangan Andre dari Jerman. Andre sedang mengembangkan bisnis di Jerman, karena terlalu sibuk, dia hanya bisa kembali ke Jakarta setiap enam bulan sekali. Mereka duduk didampingi wanita cantik dan seksi yang sedang melayani mereka minum, bahkan memberikan servis lebih.


Hahahaha.....


Tawa ketiga sahabat Moreno meledak membuat Moreno tidak berhenti mengumpat. Bahkan mereka sampai memegang perut begitu tahu jika Moreno akan menikahi gadis umur delapan belas tahun. Sangat berbanding dengan seleranya yang lebih menyukai wanita yang lebih dewasa darinya.


"Jadi, lo terima begitu aja? kenapa nggak lo tolak?" tanya Andre disela tawanya.


Moreno menyulut rokoknya dengan api, kemudian melempar koreknya ke arah Andre karena kesal melihat Andre begitu bersemangat menertawainya.


"Diem, Nyet!" kesal Moreno.


Moreno meneguk minuman yang baru saja dituang wanita disampingnya. Hanya dengan sekali tegungan minuman itu tandas tanpa sisa.


"Apa istimewanya tuh bocah hingga lo nggak bisa berkutik!" kini giliran Didit yang bertanya, dokter muda dan tampan itu juga penasaran. Kenapa sahabatnya menerima perjodohan sedangkan dia mencintai wanita lain.


"Sangat istimewa melebihi martabak asin! saking istimewanya dia bisa membentak dan membalas omongan Reno, gila nggak tuh?!" sela Daffa.


Hahahaha.....


"Lo takut Ren?" tanya Didit.


"Ck! bukannya takut, tapi gadis itu terlalu bahaya." Moreno mendengus kesal. Jika Moreno sangat dingin dan datar pada orang lain, maka dihadapan sahabat-sahabatnya dia sangat terbuka bahkan saling membuka rahasia.


Tawa Andre, Daffa dan Dokter Didit semakin meledak, bahkan wajah mereka memerah, tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya aura Moreno jika sedang marah melawan gadis kecil.


"Satu lagi, tadi sore dia ikut balapan liar." lanjut Daffa.


Prok, prok, prok!


Andre bertepuk tangan kemudian menaikkan kedua jempolnya. "Benar-benar gadis langka. Jadi pengen kenalan,"


"Nggak boleh, nanti aja dihari pernikahan gue."


"Lo posesif banget sih! kita penasaran aja, ya nggak Dit?" kesal Andre.


Moreno menghembuskan asap rokoknya lewat mulut dan hidungnya. Membayangkan bagaimana manisnya Syasya jika tersenyum dan betapa menggemaskannya jika sedang kesal.


"Kalian nggak tau aja gimana tuh bocah memacu adrenalin gue, darah gue naik turun menghadapinya. Ngeselin, bahaya, dan ngangenin."


"Widiiihh.. sudah pake kangen nih!" ejek Andre.


"Kangenin lo bilang? lo apain emangnya? paling juga dadanya rata, ya kan Ren?" Didit geleng-geleng kepala.


"Segini men! Pas bangetlah buat tangan gue." Moreno memperlihatkan tangannya.


"Anjrt! sudah sejauh itu?" Andre meletakkan gelas minumannya dengan kasar diatas meja.


"Itu baru nebak, belum sampai pegang. Lo pada tau nggak apa yang sudah gue lakuin?"


Ketiga temannya menggelengkan kepala, bahkan mereka mendekatkan wajahnya karena Moreno memelankan suaranya, melirik ke kiri dan kekanan seolah yang akan dikatakannya sangat rahasia.


"Gue cium tuh bocah saat tidur, rasanya beehhhhh... manis banget men...!" Moreno mengingat kejadian didalam mobil, mungkin dia memang sudah gila mencium Syasya penuh gairah didepan rumah calon mertuanya.


"Nggak waras lo Ren! pedofil akut!" Didit geleng-geleng kepala.


Moreno hanya tersenyum getir, dengan santainya mengisap rokoknya kembali. "Gimana rasanya jika dia bangun ya?" gumam Moreno penasaran, pikiran liarnya kembali membuncah.


"Daf, sepertinya Bos lo butuh psikiater!" usul Didit.


"Gimana dengan yang dibawah, nyutnyut nggak?" Andre yang gaya bicaranya sudah biasa mengarah ke hal mesum semakin penasaran.


"Yang itu jangan ditanya lagi, petrik sudah menegang! untung tuh bocah menggeliat dan membuat gue sadar. Gue ngelakuin itu didepan rumahnya men?!"


"Gila lo Ren, mainin anak kecil sampai segitunya." ujar Didit.


Moreno mematikan rokoknya diatas asbak. "Entahlah, gue juga nggak ngerti dengan isi kepala gue. Tiba-tiba saja pengen nyerang tuh bocah padahal gue kesel banget, seharian bocah itu membuat kepala gue pusing tujuh keliling." Moreno menekan pelipisnya.


"Kenapa nggak lo bawa ke hotel aja? mumpung dia lagi tidur, lo bisa enak-enak?" usul menyesatkan dari Andre, seorang kasanova yang jam terbangnya sudah tidak diragukan lagi. Apalagi sekarang dia menetap diluar negeri. Makin tidak terkontrol aja kelakuannya.


Daffa geleng-geleng kepala kemudian meminum wisky digelasnya. Sedangkan Didit menahan tawa mendengar ide Andre.


Moreno mengambil bungkus rokoknya kemudian melempar kewajah Andre. "Siaalan lo! lo pikir gue nggak waras! dia masih polos dan kecil, belum waktunya. Bisa digantung gue sama bokapnya jika merusak anaknya sekarang! tunggu sampai halal men."


"Itu kalau lo nggak khilaf."


Hahaha....


Suara tawa mereka kembali meledak. Sungguh kali ini Moreno jadi sasaran buli mereka.


"Tertawa aja terus, gue sumpahin kisah cinta kalian lebih aneh dari gue!" kesal Moreno kembali menyesap wisky digelasnya.


Andre mengalihkan perhatiannya pada Didit, Dokter itu mengambil brandy di gelas lalu meminumnya.


"Masih minum juga lo? kirain sudah tobat!" ejek Andre.


"Sekali aja untuk menghilangkan dahaga," jawab Didit.


"Gimana dengan lo Dit? kapan nikahnya?" tanya Andre.


"Entahlah, gue belum yakin dengan perasaan gue. Sudah dua tahun bersama tapi gue nggak ada rasa cinta, beberapa sifat gadis itu tak gue sukai. Tapi gue harus tetap menjaga hubungan baik dengan ayahnya bukan?" Kini giliran Didit yang galau. Ternyata dia juga butuh hiburan untuk melupakan masalah pribadinya. Membahas tentang Tasya calon tunangannya, pikiran Didit mulai tidak tenang.


"Jangan bilang kalo lo masih ngejar istri orang?" selidik Daffa. Daffa tahu apa yang selama ini mengganggu pikiran sahabatnya. Susah mencintai pacarnya, namun mencintai wanita bersuami.


"Perasaan itu tumbuh begitu saja, kadang gue berpikir kenapa gue nggak cinta ke Tasya aja? Malah cinta dengan pasien sendiri, istri orang lagi." Geram Didit mengambil miniman lagi lalu menyesapnya sedikit.


"Dasar dokter cabul!" Sungut Moreno.


"Bukannya fokus menyembuhkan pasien, malah sibuk menarik perhatiannya. Lupakan wanita itu." nasihat Daffa.


"Seandainya saja gue bisa, gue sudah lakukan, tapi yang ada dipikiran gue cuma dia doang. Dia mirip banget mantan istri gue." Didit memukul meja saking kesalnya tidak bisa menghilangkan istri orang dari pikirannya.


"Lo nggak sakit hati kebayang gimana suaminya mengerang kenikmatan bersama wanita itu?" tanya Andre.


"Anjrt! siaalan! sakitlah, tapi bodo amat! cepat atau lambat gue harus putusin Tasya. Biar jomblo aja sekalian." Didit kembali minum, yang katanya hanya untuk melepas dahaga sekarang sudah tiga gelas.


Hahahaha....


"Akhirnya sebentar lagi lo ada temen Daf." ujar Moreno.


"Siaalan lo! gue bukan jomblo tapi LDR-an. Tunggu ayang beb gue pulang dari luar negeri, langsung lamar gue." Daffa tidak terima jika dirinya dikatakan jomblo.


"Siapa sih pacar lo? perasaan lo nggak pernah jauh-jauh dari gue deh." Pertanyaan itu selalu Moreno tanyakan, tapi Daffa tidak pernah menjawabnya.


"Ia siapa? bikin penasaran orang aja lo." Andre ikut penasaran begitu juga dengan Didit.


Mereka bertiga berhenti minum fokus menunggu jawaban Daffa. Pacar yang selalu disembunyikannya, tapi sahabatnya yakin jika perempuan itu memang ada, karena Daffa selalu menolak jika ditawari gadis cantik. Bahkan Daffa bilang 'ayang beb gue jauh lebih cantik dan sempurna'. Itu yang membuat mereka penasaran siapa perempuan yang dipanggilnya 'ayang beb' itu.


.


.


Bersambung....