
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi yang cerah secerah mentari. Tapi tidak dengan hati Syasya. Ia masih marah karena surat yang dibuatnya sobek. Sangat berbanding terbalik dengan Moreno yang tampak lebih fresh dan tampan.
Aku ini apanya dia sih?! Bukannya membujuk istrinya untuk berhenti marah, malah bersika dingin dan cuek. Dasar Om nyebelin, aku kutuk aja menjadi batu sekalian!" gerutu Syasya dalam hati.
"Om," panggil Syasya.
"Hm,"
"Aku kesekolah naik apa?" tanya Syasya mengingat disini tidak ada mobil untuknya.
"Menurutmu?"
"Om yang antar kan?"
"..."
"Pokoknya Syasya nggak mau naik ojek, titik!" seru Syasya.
Moreno hanya diam sambil berjalan mengambil dasi dilaci lemari. Ia memberikan pada Syasya yang masih terus mengekor dibelakangnya seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.
Syasya yang mengerti langsung mengambilnya, tapi dia kesusahan saat ingin memasangnya.
Moreno langsung mengangkat Syasya seperti karung tanpa aba-aba.
"Eh, Syasya mau dibawa kemana? turunin Om!" ujar Syasya sambil memukul pundak Moreno.
Moreno tidak bicara, ia menurunkan Syasya diatas tempat tidur dengan posisi berdiri.
"Sudah bisa kan?" tanya Moreno mensejajarkan dirinya dengan Syasya agar lebih mudah memasang dasi untuknya.
"Sudah Om," dengan gerakan cepat dasi terpasang dengan rapi di leher Moreno. Moreno tidak percaya jika Syasya mampu melakukan itu.
"Kok kamu bisa?" tanya Moreno.
"Ya elah, kalau pasang dasi itu mah gampang, keccill..." ujar Syasya membagakan dirinya kemudian menyentil jari kelingkingnya.
"Belajar dari mana?" tanya Moreno.
"Mama, siapa lagi?" jawab Syasya.
Moreno mengernyitkan keningnya, ia menatap Syasa seolah tidak percaya dengannya. Setelah itu Moreno hanya diam kemudian mengambil tasnya turun ke bawah untuk sarapan.
"Om,"
"Hm,"
"Syasya mau buat surat yang baru, tapi jangan disobek lagi ya?" ujar Syasya.
Moreno menghentikan langkahnya ditangga. Ia berbalik menatap Syasa dengan sorot mata tajam.
"Berani kamu lakukan itu, maka aku akan menciummu!" ancam Moreno membuat Syasya memegang bibirnya sambil menggelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Syasya berangkat sekolah diantar oleh Moreno. Setelah melewati perdebatan yang tidak ada ujungnya didalam kamar, Syasya akhirnya sampai digerbang sekolah. Syasya mencium punggung tangan Moreno kemudian Moreno mencium kening Syasya. Awalnya Syasya tidak mau tapi Moreno mengancamnya.
"Biasakan bersikap sopan pada suami," nasihat Moreno membuat Syasya mendelik kesal.
"Kalau suami boleh nggak sopan dan mengabaikan istri gitu?" gerutu Syasya dalam hati.
Syasya ingin turun tapi tidak punya uang lagi untuk jajan.
"Om," panggil Syasya sambil mengadahkan tangan kanannya.
"Hm," sahut Moreno.
"Om, lupa?!" tanya Syasya.
"Lupa apa? kan tadi sudah salim," jawab Moreno.
"Ihh, uang jajan Om, masa Syasya nggak jajan disekolah." ujar Syasya.
Moreno mengambil dompet disaku celananya, ia mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu kemudian memasukkan disaku baju Syasya yang berlambang osis.
"Dasar Om mesum! nggak sopan!" gerutu Syasya sambil mengerucutkan bibirnya, sedangkan Moreno terkekeh geli melihatnya.
Prakk!!
Syasya membanting pintu dengan kasar saat keluar mobil. Syasya langsung mendapatkan perhatian dari siswa lain karena datang dengan mobil mewah yang berbeda dari sebelumnya.
"Hebat juga lo, putus dari Axel lo jadi simpanan Om-om sekarang, apa bokap lo sudah jatuh bangkrut hingga lo jual diri, hah?!" ejek Laura.
"Pagi Kak Syasya..." goda Rio adik kelas Syasya saat Syasya memasuki gerbang sekolah. Rio paling suka menyapa Syasya jika bertemu.
"Kak Syasya... mau dong dijadiin pacar," goda teman Rio.
Syasya hanya membalasnya dengan senyuman sambil terus berjalan menuju kelasnya.
"Pagi ayang Syasya..." Goda Ardi teman sekelas Syasya.
"Pagi Beb.." Goda teman kelas Syasya yang lainnya.
"I Love You Syasya..." goda teman sekelas Axel.
Syasya geleng-geleng kepala sambi tersenyum. Setelah beberapa hari tidak masuk sekolah, Cowo-cowok makin berani menggodanya, termasuk teman kelas Axel.
"Eh, ngapain lo goda cewek gue," Bentak Axel begitu mendengar teman-temannya berani menggoda Syasya.
"Yakin Syasya masih cewek lo? bukannya sudah putus ya?" ejek Ardi yang sejak dalu selalu bertentangan dengan Axel.
"Hahahaha... kasian banget, masih ngarep lo? ngaca..." ejek sahabat Ardi.
"Brengsek kalian," geram Axel lalu mengangkat tangannya untuk memberikan bogeman pada Ardi.
Dengan lancang Ardi menahan tangan Axel. Selama ini Ardi selalu diam dan tidak perduli dengan tingkah otoriter Axel disekolah. Tapi setelah mendengar Syasya putus dengan Axel saat balapan, ia begitu bahagia karena masih mempunyai kesempatan untukmu mendekati Syasya.
"Jangan kira selama ini gue diam berarti takut sama lo, itu gue lakukan karena menghargai Syasya sebagai cewek lo, tapi sekarang lo nggak ada apa-apanya dimata gue men! lo pecundang yang tidak mau menerima kekalahan!" Ardi menyeringai sangat puas membalas Axel.
"Lo...!!" tunjuk Axel.
"Jangan berani menunjuk gue, gue juga bisa lakuin hal yang sama. Semua cowok disekolah ini berhak mengejar cinta Syasya. Lo bukan siapa-siapa dia lagi, ck, sampah!" geram Ardi.
Axel tidak menyangka jika putus dengan Syasya membuat cowok-cowok disekolah menghinanya. Tangannya sudah terkepal kuat ingin menonjok wajah Ardi, "Kenapa semuanya jadi kacau begini? seharusnya Syasya yang ngemis-ngemis ke gue, dan gue yang dikejar-kejar cewek-cewek, ahh.. sialan lo Sya, gue nggak akan ngebiarin siapapun dekat dengan lo!" kesal Axel dalam hati.
Kini mereka jadi tontonan siswa lain. Syasya, Fira, Dea dan Syifa juga ada disana, mereka hanya diam menyaksikan cowok-cowok itu menyelesaikan masalah mereka. Sebentar lagi bel berbunyi tapi mereka belum juga berhenti.
Bugh!
Axel sudah tidak tahan dengan hinaan yang keluar dari mulut Ardi, dengan gerakan cepat tangannya yang terkepal melayang sempurna dipipi Ardi.
Ardi mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah, ia menyeringai kemudian membalas Axel.
Bugh!
"Hentikan!"
Tiba-tiba suara Pak Budi menghentikan perkelahian mereka. Ardi segera menarik tangannya yang masih kebas akibat memukul wajah Axel.
"Kalian berdua ikut Bapak kekantor!" Perintah Pak Budi.
Ardi menatap Axel dengan nyalang begitupun dengan Axel. Keduanya sama-sama ketua tim basket namun tidak pernah akur dilapangan. Entah masalah apa diantara mereka hinggaenyeret Syasya didalamnya.
Akhirnya Axel dan Ardi menuju ruang BK mengikuti Pak Budi.
Triiiiiingggg....!!!
Suara bel berbunyi menandakan semua siswa harus masuk kelas.
"Sya.. mereka berdua kenapa berantem?" Tanya Syifa yang paling terakhir datang diantara sahabatnya.
"Kepo!" ujar Syasya kemudian masuk kedalam kelas.
"Ihh.. nyebelin banget sih Lo, Dea, Fira, lo tay nggak?" kesal Syifa.
"Mereka berdua kompak menaikkan bahunya padahal mereka tahu apa yang terjadi.
"Oke, mai sekarang kita main rahasia-rahasiaan!" kesal Syifa.
"Sudahlah jangan dibahas, nggak penting juga, mendingan kita tanya Syasya, kenapa beberapa hari nggak masuk?" ujar Dea.
"Iya, lo kemanasih sebenarnya?" tanya Fira.
"Ada deh..." jawab Syasya membuat sahabat-sahabatnya makin penasaran.
"Kemarin gue kerumah lo tapi nggak ada orang, lo kemanasih Sya?" tanya Dea.
"Mmm... gue keluar kota," jawab Syasya setelah berpikir sejenak.
.
.
Bersambung...