
"Sudahlah, intinya kami semua senang karena sebentar lagi bakalan punya cucu." ujar Vina.
"Apa nggak buru-buru jeng? tunggu Syasya lulus sekolah dulu, umurnya juga baru delapan belas tahun," ujar Wulan khawatir, merasa khawatir jika anaknya cepat memiliki anak. Setelah kejadian dikamar Syasya dan Moreno, semalam Wulan tidak bisa tidur karena memikirkan Syasya. Awalnya ia sangat senang jika akan memiliki cucu, tapi setelah dia pikir-pikir itu terlalu cepat karena Syasya masih sekolah. Jika sudah kuliah tidak masalah karena banyak mahasiswi yang hamil sambil kuliah, tapi kasus Syasya berbeda karena masih mamakai seragam putih abu-abu.
"Aku rasa nggak apa-apa diproses mulai sekarang jeng, bukankah tiga bulan lagi Syasya lulus sekolah? iya kan Sya..?" tanya Vina melirik Syasya yang penuh makanan dimulutnya.
"Iya Mah," jawab Syasya sambil mengunyah makanannya.
"Tuh dengerin, Syasya aja nggak keberatan. Kamu memang menantu yang baik," puji Vina.
"Terserahlah, Sya.. ini ponsel kamu." Wulan meletakkan ponsel Syasya disamping piringnya.
"Iya Mah," jawab Syasya.
"Dari tadi jawabannkamu kok iya, iya terus. Kamu nggak lagi sariawan kan?" selidik Wulan.
"Iya," jawab Syasya.
Khuk, khuk, khuk!
Moreno yang sedang minum jadi kesedak dan terbatuk-batuk. Ia melirik Syasya yang sudah selesai makan dengan tatapan tajam. Tanpa aba-aba Moreno menendang kaki Syasa.
"Issshhh.. apaan sih Om? eh, Mas?" ringis Syasya melotot kearah Moreno.
"Kalau ditanya itu ya dijawab!" sengit Moreno.
"Lohh, yang nyuruh jawab 'iya' saja siapa? kan Mas sendiri," balas Syasa.
"Kalian kenapa bisik-bisik?" tanya Yudi.
"Nggak apa-apa Pah," jawab Moreno.
"Sya, habis makan Mama dan Papa harus pulang. Masih banyak yang Mama, Papa harus kerjakan di rumah. Oke?"
"Syasya ikut pulang ya Mah?" melas Syasya, tangannya sudah melingkar dilengan Mamanya.
"Sya... ingat, kamu sekarang sudah menikah. Jadi kamu pulangnya dengan suami kamu dong..? bukan sama Mama, Papa lagi." ujar Wulan.
"Ah, Mama ini kalau bicara memang suka benar. Syasya juga ingat kalau sekarang sudah bersuami, apalagi suaminya nyebelin gini, nggak usah sering-sering diingetin juga kaleeee...." batin Syasya.
"Sya.. kok malah melamun?" tanya Yudi.
"Eh, nggak kok Pah, jadi, beneran nih Syasya nggak bisa ikut pulang? baju-baju dan buku-buku Syasya gimana? besok kan harus masuk sekolah. Syasya ada ulangan harian besok," Syasya masih berusaha mencari alasan untuk ikut.
"Pokoknya Syasya nggak mau ikut pulang Om Bear. ayo dong Sya... mikir! Kenapa otak gue selalu buntu dihadapan Om Bear? padahal selama ini gue yang paling cerdas diantara sahabat gue," batin Syasya sambil menekan pelipisnya untuk berpikir.
"Nanti diantar Reno aja, bisa kan Ren?" sela Dipta.
"Bisa Pah." ujar Moreno.
"Kalian sudah makan kan?" tanya Vina pada Syasya dan Moreno.
"Sudah Mah," jawab Syasya.
"Oke, kalau begitu ayo kita siap-siap. Ren Mama dan Papa tunggu kalian dirumah ya?" ujar Vina.
Moreno hanya mengangguk, kemudian mereka meninggalkan meja dan kembali kekamar masing-masing.
Moreno dan Syasya kembali kekamarnya, Syasya mulai berkemas sedangkan Moreno duduk santai sambil melainkan ponselnya di sofa.
"Om Bear, nggak siap-siap?" tanya Syasya.
"Kamu aja yang siapin semua barang-barangku," jawab Moreno.
Syasya mendelik, menoleh kebelakang menatap Moreno dengan kesal, "Loh, kok gue sih Om Bear?"
"Om Bear, Om Bear pala lo peang? Berhenti panggil suami kamu dengan sebutan itu. Kita nggak lagi main film Masha and the Bear, Syasya...!" geram Moreno.
"Hehehe....tapi aku suka Om, anggap saja itu panggilan sayangku ke Om!" kekeh Syasya.
"Ck, nggak sudi aku disayang bocah tengil kayak kamu," decak Moreno.
Syasya mengerucutkan bibirnya, meskipun dia kesal tapi dalam hati sangat senang membuat Moreno marah.
"Gue kan cuma bilang anggap aja, jangan dianggap serius dong..! Gue sudah selesai nih Om." Syasya menarik kopernya kesamping sofa kemudian duduk dan ikut memainkan ponselnya.
Begitu Syasya membuka layar ponselnya, pesan bertubi-tubi masuk di grup chat sahabat sekolahnya.
"[Iya, lo dicariin Axel tuh, gue sampai bosan ditanyain melulu,]" sambung Fira.
"[Rico juga dateng kesekolah nyariin lo Sya.]" lanjut Syifa.
"[Atau jangan-jangan lo sakit ya, Sya?]" tanya Fira.
Sebenarnya mereka bertiga sangat khawatir pada Syasya, sudah dua hari Syasya tidak masuk sekolah tanpa kabar. Dan hari ini mereka sudah merencanakan untuk kerumah Syasya untuk melihat keadaan sahabatnya.
"[Iya, kami kerumah lo aja ya? nengokin lo sekalian bawa buku catatan hari ini dan kemarin.]" ujar Dea.
"[Lo ada dirumah kan Sya?!]" tanya Syifa.
Dan masih banyak lagi pesan yang tidak sempat Syasya baca.
Syasya diam sejenak kemudian membalas chat dari sahabat-sahabatnya.
"[Sorry the morry Bestie. .. baru dapet signal, gue lagi nggak dirumah, lagi ada acara keluarga diluar kota. Sepertinya besok gue juga sudah masuk sekolah. So, sampai ketemu besok girls...]" isi pesan Syasya.
"Dapet signal apaan? orang gue baru dapet ponsel yang disita Mama. Sorry Bestie... gue sedikit berbohong, hehehehe... tapi mau gimana lagi, gue belum siap bilang ke kalian kalau gue udah nikah." batin Syasya.
"[Syukurlah kalau lo baik-baik aja. Jangan lupa bawa oleh-oleh bernyawa ya? kalau bisa cowok cakep, hehehe....]" uajr Dea.
"[Hehehe... kalian tenang aja, ntar gue bawain, buaya dar-at sekalian!]" balas Syasya.
"[Hahahaha....]" tawa Fira.
"[buayanya bisa ngomong,]" ujar Syifa.
Hahahahaha....
Syasya tertawa sambil membalas pesan, membuat Moreno meliriknya penuh intimidasi.
"Kamu chat siapa?" tanya Moreno.
"Kepo!" balas Syasya.
"Dari pada kamu tertawa seperti orang gila, lebih baik kemasi barang-barangku, sebentar lagi Daffa menjemput kita," perintah Moreno.
"Enak aja nyuruh-nyuruh gue. Om Bear punya tangan dan kaki kan? ya dimanfaatin dong Om!"
"Baru beberapa menit yang lalu dinasihatin, sekarang sudah ngeyel. Kalau kamu nggak mau ikutin kata suami, mau ikutin kata siapa? Papa kamu? Oke, aku akan telpon sekarang!" ancam Mor. Ia mulai menggeser layar ponselnya kemudian mencari nomor HP Papa Yudi.
"Eh, tunggu Om," Syasya menarik tangan Moreno.
"Apa lagi? lepasin, nanti ponsel mahalku jatuh. Kamu nggak punya uang untuk menggantinya kan?" sentak Moreno, rupanya ia tidak main-main dengan ancamannya.
"Oke, Syasya beresin deh, asal jangan telepon Papa," pasrah Syasya.
Moreno tersenyum jahil, akhirnya Syasya berdiri dari tempat duduknya.
"Dasar Om Bear rese, mesum, nyebelin! nggak bisa liat orang nyantai dikit apa? gue kan kangen sahabat-sahabat gue,"
"Kalau ngerjain sesuatu itu yang ikhlas, jangan suka ngomel dalam hati. Nggak berkah!" ejek Moreno.
"Eh, dia tau isi hati gue lagi." batin Syasya. "Biarin aja, biar lo nggak seenaknya nyuruh-nyuruh gue," kesal Syasya.
"Gue suruh istri gue sendiri. Bukan nyuruh-nyuruh orang lain!" balas Moreno telak.
Syasya tidak bisa lagi berkutik. Ia segera memasukkan barang-barang Moreno dengan asal di dalam koper.
"Yang rapi sayang...." ujar Moreno membuat Syasya segera melihatnya. "Kamu kenapa? ada yang salah?"
"Hah?!"
"Nggak salah Om panggil sayang? bukannya, Bona atau Bocil?"
"Telinga kamu masih berfungsi dengan baik kan? terserah aku dong, mau panggil istriku apa saja. Bona, Bocil, Sayang, Babe, Sweety atau apa aja. Sultan mah bebas...!"
.
.
Bersambung.....