
Syasya langsung memeluk Wulan ketika pintu rumah terbuka. Ia tidak menyangka jika Mamanya akan menyambut kedatangannya bersama Moreno.
"Ma, Syasya kangen banget," ujar Syasya dengan nada manja.
"Mama juga kangen sayang, bagaimana kabar kamu?" tanya Wulan membalas pelukan Syasya. Mereka saling berpelukan hingga melupakan keberadaan seseorang.
"Baik Mah," jawab Syasya.
"Khemmm.." Moreno berdehem membuat kedua wanita dihadapannya tersadar.
Begitu melepaskan pelukannya, Wulan segera menyapa menantu yang sedang berdiri dibelakang anaknya.
"Nak Reno, ayo masuk!" ajak Wulan sambil tersenyum.
"Nggak usah Mah, Reno langsung balik ke kantor aja. Selama tiga hari Reno titip Syasya disini karena ada pekerjaan diluar kota. Nggak apa-apa kan Mah?" tanya Moreno.
"Nggak apa-apa dong, jangan khawatir, malah Mama seneng karena rumah ini akan ramai lagi kalau ada Syasya," balas Wulan.
"Kalau begitu Reno langsung pamit. Maaf nggak sempat pamitan dengan Papa," ujar Moreno.
"Iya nak, Papa pasti ngerti," jawab Wulan.
Moreno langsung berpamitan dan mencium tangan Wulan. Setelah itu ia menghampiri Syasya kemudian mencium keningnya.
"Jangan bandel selama Mas pergi. Kesekolahnya diantar supir aja. Pulang sekolah langsung balik kerumah, nggak pakai nongkrong apalagi ikut balapan, ngerti?" pesan Moreno membuat Syasya seketika mencebik kesal.
"Iya," jawab Syasya pasrah sambil mencium tangan Moreno. Ia terpaksa pura-pura menurut dan mesra dihadapan Mamanya.
"Istri pintar," Moreno mengusap kepala Syasya.
Setelah berpamitan, Moreno langsung keluar kemudian mengendarai mobilnya menuju kantor.
Sementara Syasya menghirup udara banyak-banyak karena sangat senang. Setidaknya untuk beberapa hari dia bebas dari suaminya yang menyebalkan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Wulan curiga. Matanya memicing seolah tahu apa yang ada di otak anaknya.
"Hehehe.. nggak ada Mah, Syasya kekamar dulu ya? capek," Syasya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian berjalan menuju kamarnya dilantai dua.
Wulan geleng-geleng kepala melihat tingkah Syasya yang masih seperti anak-anak padahal sudah punya suami. Kapan anak itu bisa dewasa? pikirnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keesokan harinya Syasya berangkat ke sekolah diantar supir. Jika saja Wulan tidak ikut mendengar pesan Moreno, pasti Syasya mengendarai motornya kesekolah.
"Gara-gara Om Bear nih, Syasya nggak pernah lagi naik motor. Tapi nggak apa-apa, gue harus tenang dan jadi anak yang baik. Kan ada motor Boby, hehehe..." Syasya turun dari mobil kemudian mengedarkan pandangannya. Bibirnya langsung tersenyum melihat Boby yang juga melihatnya, tapi entah kenapa sikap Boby seolah menghindarinya, Boby melangkah pergi namun Syasya segera mengejarnya.
"Bob, Boby tunggu!" Teriak Syasya.
Boby tetap pergi dan mengabaikan panggilan Syasya.
"Lo kenapa sih Bob? kenapa menghindari gue?" tanya Syasya mulai kesal.
"Siapa yang menghindar? gue cuma nggak mau telat masuk kelas," elak Boby.
"Eh, pulang sekolah ikut balapan yuk! tapi pake motor lo ya? gue bayar dua kali lipat deh, gimana?" bujuk Syasya.
"Nggak!" tolak Boby dengan nada ketus.
"Loh, jangan gitu dong? masa sama teman sendiri pelit!" Syasya masih berusaha membujuk.
Boby menghela napas kasar. Ia sudah tidak mau lagi memberikan motor pada Syasya.
"Sekali nggak, tetap nggak Sya!" sentaknya.
"Kenapa? lo marah ke gue?" Syasya mulai menyadari sikap Boby yang aneh ke dia.
"Nggak, siapa bilang? gue cuma nggak mau lo ikut balapan lagi, bahaya Sya!"
"Hahahaha... sejak kapan lo ngelarang gue? sepertinya lo sakit." Syasya menempelkan telapak tangannya dikening Boby, "nggak panas kok," lirih Syasya.
"Apaan sih lo! jangan pegang-pegang!" Boby menyingkirkan tangan Syasya dengan kasar.
Teman-temannya hanya diam melihat Boby dan Syasya.
"Bob, plisss..." melas Syasya sambil menangkup kedua tangannya. Sebenarnya jika sudah dalam mode memelas seperti ini, biasanya Boby yang keras kepala akan luluh karena tidak tega melihat Syasya memohon.
"Udah deh Sya, percuma lo kayak gitu, nggak mempan!"
"Kalau begitu katakan kenapa lo nggak mau? lo marah ke gue kan?"
"Alah... nggak usah bohong! kita temenan sudah tiga tahun. Mending lo jujur aja deh, ada masalah apa sih?" tanya Syasya penasaran.
"Nggak ada apa-apa," sergah Boby. Ia mengeluarkan buku dan pulpen dari dalam tasnya karena Ibu Wati sudah masuk kedalam kelas.
Melihat guru sudah berdiri didepan kelas, semua siswa duduk di kursi masing-masing.
"Sya, kalian ada masalah?" bisik Fira kemudian melirik Boby.
"Mana gue tau? tanya aja si Boby. Perasaan gue nggak pernah ngelakuin kesalahan apa-apa deh! gue cuma pinjem motornya doang, tapi balasannya jutek jutek gitu!" kesal Syasya.
"Nanti aja lanjutinnya, ntar pulpen Bu Wati melayang ke jidat kita lagi," timpal Dea, membuat semuanya kembali fokus untuk belajar.
Mata pelajaran berjalan dengan lancar hingga bell pulang sekolah berbunyi. Satu persatu siswa keluar dari kelas masing-masing.
"Bob, tunggu!" Teriak Syasya saat melihat Boby keluar dari kelasnya.
"Ck, apa lagi Sya?! gue ada urusan!" decak Boby.
Boby sudah mau lagi meminjamkan Syasya motor. Beberapa hari yang lalu sebelum Moreno berangkat ke luar kota, ia mengancam Boby agar tidak meminjamkan motor pada Syasya lagi. Ia juga meminta Boby untuk mengawasi Syasya jangan sampai ikut balapan. Jika terjadi sesuatu pada Syasya disekolah, maka nyawa Boby menjadi taruhannya. Rasanya Boby ingin bersembunyi saja dari dunia Syasya saat ini, Moreno benar-benar menakutkan dan dingin saat mengancamnya meskipun wajahnya sangat tampan. Apalagi ada beberapa pengawal yang berpakaian hitam lengkap dengan setelan jas hitam selalu mengikuti Moreno.
Jika mengingatnya Boby bergidik ngeri.
"Gue ikut!"
Rasanya Boby ingin menelan Syasya saat itu juga. Syasya benar-benar menyusahkan hidupnya.
"Lo bareng geng ladies lo aja, gue nggak mau berurusan dengan Om lo, auranya sangat dingin dan menyeramkan!" tolak Boby kemudian segera pergi sebelum Syasya benar-benar mengikutinya.
Syasya mematung melihat kepergian Boby, "Ih, ada apa dengannya? aneh!" gumam Syasya.
Syasya akhirnya ikur bersama, Dea, Fira, dan Syifa menuju parkiran mobil. Disana sudah ada Axel yang menunggunya. Syasya menghela napas kasar kemudian mengabaikan Axel seolah tidak melihatnya.
"Aww.." ringis Syasya.
Tangan Axel langsung menariknya, ia memaksa Syasya masuk kedalam mobilnya.
Fira, Dea dan Syifa tercengang, "Gawat! kita ikutin mereka De, gue takut Axel berbuat kasar lagi," pekik Fira kemudian mereka segera masuk kedalam mobil.
"Lepaskan, brengsek!" berontak Syasya, tapi Axel dengan kasar membuka pintu mobil dan mendorongnya masuk kedalam.
Axel langsung mengitari mobil kemudian duduk dikursi kemudi, setelah itu mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
"Lo gila ya Xel!" teriak Syasya sambil memegang seat beltnya.
"Iya, gue memang sudah gila karena lo!" bentak Axel.
Axel melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Begitu tiba di depan rumah, Axel turun dan membuka pintu untuk Syasya.
"Xel, kita mau ngapain di sini?" tanya Syasya heran. Untuk apa Axel membawa ke rumahnya sementara mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.
"Ayo masuk, nanti kamu juga tau." Axel menggenggam tangan Syasya kemudian membawanya masuk kedalam rumah.
"Lepasin Xel," ujar Syasya, ia tidak mau orang melihatnya menjadi salah paham atas hubungan mereka.
"Oke, Beb," Axel melepaskan tangannya karena tidak ingin berdebat dengan Syasya.
\=\=\=\=\=\=\=
Disekolah
Supir yang menjemput Syasya panik karena tidak melihat Syasya diparkiran, apalagi sekarang sekolah sudah mulai sunyi.
"Pak, jemput Syasya ya?" tanya Syifa dari dalam mobil yang dikendarai Dea, mereka hendak keluar gerbang sekolah.
"Ia Non, apa kalian melihat dimana Non Syasya?" tanya supir.
"Syasya baru saja pergi Pak, ini juga mau dikejar. Bapak ikut aja," jawab Syifa.
Mereka akhirnya mengikuti mobil Axel, namun mereka kehilangan jejak saat dilampu merah.
"Duh gimana nih? kita kehilangan Syasya girls!" Dea memukul stir mobil karena kesal. Kenapa juga lampu merah menyala setelah mobil Axel lewat.
.
.
Bersambung...