
Suara dengkuran halus mulai terdengar ditelinga Syasya membuatnya mencebik kesal.
"Sudah capek-capek ngomong panjang kali lebar kali tinggi, eh... malah ngomong sama orang tidur. Ngeselin banget sih lo." gerutu Syasya sambil memukul pundak Moreno. Untung orangnya sudah tidur. Jika tidak, mana berani Syasya melakukan itu, hehehe....
Syasya ikut membaringkan tubuhnya. Ia tidak mematikan lampu tidurnya karena tidak suka kegelapan. Berbanding terbalik dengan Moreno yang tidak bisa tidur jika lampu menyala.
Grrhhh.....! Grrhhh.....! Grrhhh.....!
Suara dengkuran Moreno makin lama makin meninggi, membuat Syasya sangat sulit tertidur. Syasya mencebik kesal kemudian bangun menyalakan lampu. Ia menoleh melihat Moreno tidur telentang dengan mulut terbuka, napasnya beraturan mengeluarkan suara dengan nada-nada dengkuran yang aneh.
"Arghh...! ingin sekali menyumpal mulutnya si Om! gue sampai nggak bisa tidur denger dengkurannya yang nggak jelas!" kesal Syasya.
Seandainya saja Syasya punya ponsel, dia akan mengabadikan momen langka itu, tapi sayang ponselnya tidak ada.
Syasya beringsut turun dari tempat tidur. Ia melihat ponsel Moreno diatas nakas kemudian mengambilnya. Mencoba membukanya tapi sayang terkunci.
"Ayo sya... kamu pasti bisa, kira-kira kuncinya apa ya?" monolog Syasya.
Syasya mendekatkan layar ponsel Moreno kejari telunjuknya, siapa tahu aja kuncinya adalah sidik jari Moreno. Dan benar saja, layar ponsel Moreno tiba-tiba terbuka.
"Yeee...." semangat Syasya kemudian segera menutup mulutnya takut Moreno bangun berakhir ketahuan.
Syasya segera mengarahkan kamera ponsel Moreno, kemudian mengambil beberapa foto dan merekam wajah Moreno yang sedang mendengkur dari segala sisi. Setelah itu, ia kirim ke ponselnya lewat aplikasi WA.
"Hehehe..."
Syasya tersenyum puas dengan hasil karyanya. Suatu saat itu akan dijadikannya senjata untuk menyerang balik Moreno jika laki-laki itu mengancamnya. Bukankah Moreno paling suka mengancam? jadi Syasya tidak perlu takut lagi.
Setelah semuanya terkirim dan beres. Syasya menghapusnya kemudian meletakkan kembali ponsel Moreno ditempat semula. Bisa gawat kan jika Moreno tahu ponselnya dibuka sembarangan?
Syasya kembali naik ketempat tidur, menarik selimut kemudian mulai menutup mata. Lagi-lagi suara Moreno kembali mengganggu tidurnya. Syasya mengambil bantal guling kemudian menutup telinganya, sepuluh menit kemudian ia akhirnya bisa tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul delapan Syasya dan Moreno masuk kedalam Restoran. Mereka jadi pusat perhatian keluarga besar dan tamu. Wajah Moreno terlihat lebih fresh dan berseri, sedangkan Syasya matanya bengkak akibat kurang tidur karena suara dengkuran Moreno dan jalannya seperti bebek. Tahu kenapa?"
Tentu saja karena pinggangnya sakit, akibat jatuh dilantai.
Syasya melihat kekiri dan kanan disaat semua mata menatapnya seakan menahan tawa. Ia mulai merasa ada yang aneh dengan dirinya. Matanya memicing karena merasa tidak ada yang salah dengannya, waktu bercermin sebelum keluar kamar hotel penampilannya oke, tidak ada satupun yang kurang atau lebih. Pakaiannya juga termasuk sopan, dress berwarna putih sebatas lutut dan lengan pendek karena Wulan sudah mengirim pakaian kekamarnya.
"Om."
"Hm."
"Om, apa ada yang salah dengan penampilan gue ya?" tanya Syasya sambil berbisik.
"Banyak," jawab Moreno datar tanpa menoleh melihat penampilan Syasya.
"Ih, Om serius, kok gue ngerasa jadi pusat perhatian? tatapan orang-orang aneh sekaligus horor banget." tanya Syasya kembali masih berbisik.
"..."
"Om!!"
"Biarin aja, ayo kita kesana," ujar Moreno kemudian menunjuk kearah meja dimana kedua orang tua mereka duduk sambil makan.
Syasya mengerucutkan bibirnya, kemudian ikut bersama Moreno menghampiri Wulan, Vina, Dipta, dan Yudi.
"Akhirnya, pasangan pengantin baru kita keluar kamar juga, sini sayang duduk deket Mama," semangat Vina menyambut kedatangan menantu barunya.
"I-iya, Tan.. eh, Mah!" Syasya menarik kursi kemudian duduk disusul Moreno disampingnya.
"Mah, kenapa mereka liatin Syasya kayak gitu?" tanya Syasya heran sambil menunjuk beberapa orang dengan dagunya.
"Hehehe... nggak apa-apa sayang, sini gabung, kamu harus sarapan yang banyak biar stamina kamu kembali fit." ujar Vina membuat Syasya menyipitkan matanya, sedangkan Moreno hanya geleng-geleng kepala.
Moreno dan Syasya mulai mengambil makanan kemudian menikmatinya.
"Apanya yang beda Mah, Syasya biasa aja," ketus Syasya.
"Beda dong sayang... wajahnya tuh lebih bersinar dan lebih fresh, cara jalannya juga beda." ujar Wulan.
Moreno dan Syasya saling melirik dengan pikiran masing-masing.
"Pantesan semua orang dari tadi melihat Syasya, ternyata cara berjalannya yang aneh. Baguslah itu lebih baik, dari mereka beranggapan aku belum ngapa-ngapain dengan istriku. Mau ditaro dimana mukaku jika mereka tahu yang sebenarnya." batin Moreno.
"Maksud Mama?" Syasya mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud Wulan.
"Malam pertama kalian. Nggak usah malu sayang, kami ngerti kok," ujar Wulan sambil mengusap bahu anaknya.
"Wah, bahaya sepertinya Mama mulai berpikiran yang tidak-tidak nih, sepertinya ada yang perlu diluruskan disini." batin Syasya.
"Mah, Semalam itu kami..." Mulut Syasya langsung dibekap oleh tangan besar Moreno.
Syasya melotot, kenapa Moreno tiba-tiba menutup mulutnya.
Moreno tidak akan membiarkan Syasya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi antara mereka didalam kamar hotel semalam. Sebagai laki-laki dewasa yang tinggi gengsinya, Moreno akan merasa malu jika ketahuan tidak melakukan apa-apa pada Syasya dimalam pengantinnya, itu akan menurunkan harga dirinya sebagai laki-laki sejati. Biarlah mereka beranggapan apa yang seharusnya terjadi antara pasangan pengantin dimalam pertamanya.
"Apaan sih Om?!" kesal Syasya setelah tangan Moreno lepas.
"Apa? Om? Sya, mulai sekarang nggak boleh panggil nak Reno dengan Om lagi. Kalian itu sudah menikah, itu nggak sopan Sya! Panggil Mas atau cari panggilan sayang terserah kamu, yang penting bukan Om!" Wulan mulai emosi, anaknya yang satu ini memang keras kepala. Kemarin-kemarin ia sudah melarang Syasya memanggil Moreno seperti itu, tapi lihat sekarang, Syasya masih tetap memanggilnya seperti itu.
"Iya Mah," pasrah Syasya, mana berani dia melawan dihadapan Yudi dan Dipta.
"Jangan bicara apapun lagi. Jika mereka bertanya, bilang iya aja," bisik Moreno.
"Mana bisa begitu?" balas Syasya berbisik.
"Nurut aja, nggak usah nanya," bisik Moreno kembali.
"Kenapa kalian bisik-bisik? mau lanjutin lagi yang semalam?" tanya Dipta.
"Iya Pa," jawab Syasya membuat semua orang melihatnya kemudian tertawa.
"Hahahaha...." serentak semuanya tertawa bahkan Syasya juga ikut tertawa.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Moreno.
"Karena kalian tertawa dan itu sangat lucu. Kalian tertawain apa sih?" tanya Syasya balik membuat semuanya semakin tertawa karena Syasya begitu polos dan menggemaskan.
"Hahahaha...."
"Ren, berapa ronde semalam?" tanya Dipta menggoda Moreno.
"Apaan sih Pah," ketus Moreno seketika menghentikan tawanya.
"Hehehe... jangan bilang kalau semalam kamu gagal gol! lain kali kalau mau lakukan yang enak-enak pastikan pintu kamar tertutup rapat. Untung yang denger hanya kita-kita, kalau orang lain bisa gawat kan?" ujar Dipta.
"Hah?! Papa denger? maksudnya kalian?"
Semuanya tersenyum kemudian mengangguk.
Moreno mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan Syasya hanya menikmati makanannya karena masih dilarang bicara oleh Moreno. Syasya hanya boleh bilang 'iya' jika ditanya. Sekalinya menjawah 'iya', dirinya langsung diterwakan. Jelas saja sekarang dia memilih diam karena kapok.
"Astaga... apa yang kalian denger?" gumam Moreno.
.
.
Bersambung .....