
Setelah sarapan Moreno dan Syasya berangkat dengan mengendarai mobil Moreno. Moreno mengantar Syasya lebih dulu ke sekolah.
Sebenarnya Moreno tidak mau berangkat ke Sumatera karena tidak ingin meninggalkan Syasya. Selama mengenal Syasya, kekosongan dihatinya sedikit terisi karena tingkah Syasya yang tidak bisa diam dan menggemaskan. Dia ingin membawanya, namun Syasya harus sekolah karena beberapa minggu lagi ujian nasional. Berpisah sehari dengan Syasya saja rasanya sudah ingin cepat pulang, apalagi seminggu pasti Moreno sangat merindukan Syasya.
"Om," Syasya melirik Moreno yang sedang fokus menyetir mobil.
"Hm," sahut Moreno. Jika Syasya sudah memanggilnya seperti itu pasti ada sesuatu yang akan dia minta.
"Syasya nginep dirumah Mama aja ya?" melas Syasya.
Tuh kan? sudah Moreno duga.
Moreno tidak menghiraukan permintaan Syasya. Ia tetap fokus pada jalanan yang sedikit macet didepannya.
"Om!" Syasya menaikkan nada suaranya satu oktaf.
"Hm," balas Moreno balik.
"Boleh ya?" bujuk Syasya kembali sambil memasang wajah memelasnya. Kedua tangannya sudah mengguncang lengan Moreno yang sebelah kiri.
Moreno menghela napas kasar. Dia tahu jika istrinya kecilnya itu tidak akan berhenti merengek jika kemauannya tidak dituruti.
"Kenapa kesana? kamu nggak betah tinggal dirumahku? atau mau bebas dan melakukan hal sesuka hatimu lagi? jangan harap! karena akan ada orang yang selalu mengawasimu dua puluh empat jam," tegas Moreno.
"Ihhh.. bukan begitu Om. Syasya rindu Mama, Papa. Lagian Om kan perginya lama, boleh ya?" sergah Syasya.
"Bener hanya itu alasannya? bukan karena ingin ikut balapan atau bebas ketemu dengan mantan pacar kamu, hem?" selidik Moreno membuat Syasya mati kutu.
Hampir semua yang ditanyakan Moreno benar, kecuali ketemu dengan Axel. Seandainya bisa Syasya pindah sekolah agar tidak ketemu Axel, Syasya akan melakukannya. Tapi, karena tidak lama lagi mereka akan lulus, jadi menurutnya tidak masalah bertahan. Syasya cuma perlu menjauh dari jangkauan Axel maka semuanya akan aman.
"Beneran Om, Syasya janji nggak akan macem-macem. Nggak akan buat ulah dan tidak deket-deket dengan cowok. Suwerrr..." Syasya menaikkan angka dua dengan jari tangannya.
"Awas saja kalau kau berani!" ancam Moreno.
"Beneran Om, nggak percaya banget sih sama istri sendiri. Gini-gini Syasya juga tau kalau dosa jika berbohong, apalagi pada suami," Syasya harus bisa meyakinkan Moreno. Syasya masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama orang tuanya, tapi malah dinikahkan secepat kilat.
Moreno berpikir sejenak, ada baiknya juga jika Syasya dirumah orangtuanya agar tidak bosan.
"Baiklah tapi nanti aja, kamu dirumahku dulu tiga hari baru boleh nginep disana sampai aku pulang," tutur Moreno.
"Yeee... makasih ya Om," Syasya bersorak ria. Saking senengnya, ia langsung berhambur memeluk Moreno dari samping.
Moreno terkejut mendapatkan sikap manja Syasya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Membalas pelukannya? Ingin sekali Moreno melakukannya namun dia sedang menyetir mobil. Jika seperti ini, makin berat saja hatinya untuk pergi.
"Tapi ada syaratnya," Moreno menyeringai dengan senyum licik diwajahnya.
"Apa Om?" semangat Syasya. Dia tidak peduli apapun syaratnya asalkan diijinkan menginap dirumah orang tuanya. Syasya pasti akan setuju.
"Pulang sekolah kamu kekantorku. Supir akan menjemputmu. Ingat jangan kemana-mana biar supir tidak mencarimu. Aku akan mengatakannya disana." jelas Moreno.
"Iya, Syasya janji tunggu diparkiran," ujar Syasya.
Syasya sangat bahagia karena akan menginap dirumah orangtuanya. Ia tersenyum sambil melihat arah luar jendela.
Moreno geleng-geleng kepala melihatnya.
"Kamu begitu bahagia Sya, apa sesederhana itu cara membuatmu tersenyum? kenapa kamu tidak seperti wanita lain? yang lebih senang menghabiskan waktu belanja di Mall dari pada berkumpul dengan keluarga? padahal kamu memiliki suami yang bisa memberimu apa saja yang kamu inginkan." gumam Moreno dalam hati.
Tidak lama kemudian Moreno memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah. Syasya mencium tangan Moreno kemudian Moreno mencium keningnya. Ini kebiasaan yang selalu Mamanya ajarkan agar Syasya menjadi istri yang lebih baik. Setelah itu Syasya mengadahkan tangannya.
"Uang lagi?" tanya Moreno.
Moreno mengeluarkan uang seratus ribu lima lembar dari dompetnya kemudian memberikan pada Syasya. Moreno memang sudah menyediakan uang cash didompertnya karena Syasya sering minta uang sebelum turun dari mobil. Moreno sudah seperti seorang ayah yang memberi uang jajan pada anaknya sebelum masuk sekolah.
"Maksih Om, gue turun ya, bayyy...." ujar Syasya.
Sebelum membuka pintu mobil, Syasya melihat kekiri dan kekanan.
"Aman..." Syasya mengelus dadanya kemudian membuka pintu mobil. Setelah itu ia turun dan segera berlari menuju kelasnya.
Moreno tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Ia tidak berhenti menatap istrinya hingga menghilang dibalik tembok. Syasya seperti maling yang takut ketahuan habis mencuri. Tepatnya mencuri hati dan perhatian Moreno.
"Astaga... apa yang aku pikirkan? apa aku sudah jatuh cinta pada bocah tengil itu? ada apa denganku? kenapa rasanya berat berpisah dengannya?" lirih Moreno.
Moreno mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah merasa tenang, ia melajukan mobilnya menuju kantor.
Saat sampai dikantor Moreno langsung masuk diruang meeting. Disan sudah ada klien, Daffa dan juga Rini.
"Selamat pagi Pak Ren," sapa semuanya.
"Pagi," balas Moreno kemudian duduk di kursi paling depan sebagai pemimpin perusahaan.
Setelah semua bahan meeting di bagikan oleh Rini. Daffa mulai membuka meeting dan menjelaskan apa saja yang akan mereka kerjakan hingga proyek pembangunan apartemen di Sumatera selesai.
Begitu semuanya setuju dengan ide-ide yang diungkapkan Daffa, semua klien bertepuk tangan kemudian mereka saling tanda tangan kontrak. Meeting selesai dan mereka akan memulai hari itu juga menuju lokasi proyek.
Satu persatu klien keluar dari ruang meeting, setelah baru Moreno, Daffa dan Rini keluar menuju ruangannya.
"Rin, apa semua berkas sudah kamu siapkan?" tanya Moreno. Dia harus memastikan jika semuanya sudah beres sebelum berangkat ke Sumatera.
"Sudah Pak, semuanya sudah saya serahkan ke pak Daffa," jawab Rini membuat Moreno begitu puas dengan pekerjaan sekertaris dan asistennya itu.
Meskipun Asisten dan sekertarisnya sering berdebat entah karena masalah apa, tapi jika menyangkut dengan pekerjaan mereka sangat profesional dan selalu bisa diandalkan.
Moreno langsung masuk kedalam ruangannya, begitupun dengan Daffa dan Rini.
Moreno langsung duduk dikursi kebesarannya. Menyandarkan bahu dan mencari posisi ternyamannya. Ia menarik sedikit dasinya turun kemudian memejamkan mata untuk menghilangkan rasa lelahnya.
"Om.." tiba-tiba wajah Syasya muncul dihadapannya sambil memanggilnya dengan manja. Syasya langsung duduk dipangkuannya kemudian mengalungkan tangannya dileher Moreno.
"Sya... jangan nakal!" lirih Moreno sambil menatap wajah Syasya yang hampir tak berjarak dari wajahnya.
Moreno langsung mencium bibir Syasya dan menahan tengkuknya. Syasya membalasnya dan membiarkan Moreno mengekspos setiap inci didalamnya. Setelah puas dengan bibir Syasya, Moreno mulai mencium leher Syasya kebawah. Ia mengangkat Syasya naik keatas meja kerjanya. Tangan Moreno mulai membuka pakaian Syasya satu-persatu hingga menyisakan dalam-an saja.
Pranggg!!
Moreno kaget dan langsung membuka matanya. Ia terkejut melihat Syasya berdiri dihadapannya dengan pakaian seragam sekolahnya.
"Bona! kau?!" Moreno menunjuk Syasya dengan bingung, bukankah dia sudah membuka pakaian Syasya?
"Ia ini gue, Om pikir siapa? apa jangan-jangan Om ada affair?" selidik Syasya dengan mata memicing. Jika itu benar maka Syasya akan angkat senjata untuk membasmi pelakor.
"Jangan menatapku seperti itu," kesal Moreno. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya kesadarannya sudah kembali setelah Syasya membangunkannya dari alam mimpi.
Moreno melihat jam dipergelangan tangannya. "Ini baru jam sebelas kenapa kamu sudah pulang? kamu bolos lagi ya?"
.
.
Bersambung.....