
Setelah puas makan eskrim, mereka kembali masuk kedalam mobil menuju rumah orangtua Moreno.
Daffat mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Sepuluh menit kemudian mereka tiba disalah satu perumahan yang sangat elit.
Begitu pintu gerbang terbuka lebar, mata Syasya melongo saat melihat rumah Moreno sangat besar dan luas bahkan menyerupai istana yang megah. Jika Syasya bandingkan dengan rumahnya, rumah Moreno dua kali lebih besarnya.
"Om..!" panggil Syasya, namun Moreno tetap fokus pada layar ponselnya.
"Hm"
"Ini rumah Om?" tanya Syasya.
Moreno masih sibuk sendiri dengan ponselnya.
"Ih, Om!" panggil Syasya kembali.
"Rumah Mama," jawab Moreno.
"Wah... bagus banget, apa aku juga akan tinggal disini?" semangat Syasya.
"Nggak kamu tinggal dikolong jembatan!" Ketus Moreno.
"Astagfirulloh... sama istri sendiri tega amat Om! Syasya nggak mau ah, mending Syasya balik kerumah Mama aja," tolak Syasya.
Daffa yang duduk didepan hanya geleng-geleng kepala, meskipun tatapannya fokus memarkirkan mobil, tapi telinganya digunakan sebagai pendengar yang baik.
Setelah memarkirkan mobil, Daffa turun membuka pintu mobil untuk mereka berdua. Dengan cekatan Daffa mengeluarka koper milik Moreno dan Syasya.
Moreno langsung keluar mobil disusul Syasya dibelakangnya. Moreno langsung berjalan menuju pintu rumah, tiba-tiba saja langkahnya terhenti merasa Syasya tidak ada disampingnya. Moreno menengok kebelakang, kemudian menghempaskan napasnya dengan kasar.
"Ayo buruan...! malah bengong," ketus Moreno yang baru sadar ternyata Syasya masih berdiri disamping mobil dan terus menatap kagum rumah besar dihadapannya.
"Ah, iya, ayo!" ujar Syasya kemudian mempercepat langkahnya menuju Moreno.
Rupanya Mama Vina sendiri yang membuka pintu untuk menyambut menantunya. Saat mendengar suara mobil dari jendela kamarnya, ia langsung melihat mobil Moreno terparkir. Dengan semangat ia keluar membuka pintu untuk anak dan menantunya.
"Syasya.. anak Mama...." Teriak Vina menyambut Syasya dengan pelukan dan cipika-cipiki. Padahal baru tadi pagi mereka sarapan bersama dihotel, ini malah seperti anak dan Mama yang tidak pernah bertemu selama setahun.
"Nggak usah lebay deh Mah, pelukannya biasa aja," ketus Moreno saat melihat mereka berpelukan seperti teletabis.
"Biarin, sirik tanda tak mampu!" sindir Vina.
Syasya mendelik kearah Moreno lalu menjulurkan lidahnya. Sedangkan Moreno membalasnya dengan tatapan tajam dan mematikan.
"Awas kau!!" ancam Moreno kemudian langsung masuk menuju kamarnya yang terletak dilantai dua.
"Hehehe.. Ayo sayang, selamat datang dikeluarga kami, mulai sekarang rumah ini juga rumah kamu. Kamu bisa lakukan apa saja dirumah ini, jika butuh sesuatu panggil ART aja," ujar Vina sambil membawa Syasya duduk di sofa.
Tidak lama kemudian salah satu ART datang membawa jus diatas nampan.
"Silahkan Nyonya muda," ujar Paulina.
"Makasih," ujar Syasya tersenyum manis.
"Ini namanya Paulina, kalau yang didapur itu Rosalinda dan sopir Papa namanya Fernando," jelas Vina membuat Syasya langsung tertawa.
"Hahaha.. Fernando hose? Mama bercanda ya? tapi sangat lucu Mah, namanya seperti pemain telenovela," ujar Syasya disela tawanya.
Vina hanya tersenyum tapi berbeda dengan Paulina dan Rosalinda, mereka mengerucutkan bibirnya karena istri kecil dari majikannya menertawakan mereka. Tapi mereka tidak marah karena memang itu kenyataannya. Nama mereka seperti pemain film.
"Sungguh?!" Syasya berbalik bertanya pada Paulina.
"Iya Nyonya Muda. Itu memang nama asli kami. Mama kami bersaudara dan pada saat hamil mereka suka nonton telenovela, jadilah nama kami seperti itu. Hehehe... bisa dibilang korban telenovela," jelas Paulina wanita berumur tiga puluh tahun itu.
"Oo... Jadi kalian sepupu?" tanya Syasya.
"Iya," jawab Paulina.
"Nama kalian bagus, aku suka," ujar Syasya membuat Paulina tersenyum senang. Padahal Paulina dan Rosalinda sempat khawatir jika istri Moreno adalah gadis yang sombong dan angkuh karena kekayaannya. Dari yang mereka dengar, Moreno dijodohkan dengan keluarga sahabatnya. Dan pasti bukan dari kalangan biasa. Pacar Moreno yang dulu saat SMA dan kuliah aja ditolak Dipta karena tidak jelas bibit, bebet, dan bobotnya. Apalagi untuk dijadikan istri Moreno, Dipta memiliki standar yang tinggi untuk wanita yang menjadi menantunya.
"Paulina, bawa keatas koper Syasya dan Moreno," perintah Vina.
"Baik Nyonya," ujar Paulina kemudian mengambil koper majikannya lalu membawanya ke kamar Moreno.
"Kasihan banget Paulina, Rosalinda, dan Fernando hose dijadiin ART dirumah ini, padahal mereka kan pemeran utama, hehehe.... ada-ada aja, tapi gue seneng ada mereka, mungkin bisa jadi hiburan dirumah ini." batin Syasya.
Moreno turun dari tangga menuju dapur. Moreno mengambil air dibotol kemudian menuang air es ke dalam gelasnya. Ia melirik Syasya yang masih betah duduk berbincang bersama ibunya. Sesekali mereka tertawa bersama dan itu semakin membuat Moreno penasa, "Apa yang mereka bicarakan? kenapa Syasya dan Mama begitu akrab? sudah seperti anak sendiri. Ah, disini kan aku yang anaknya, kenapa aku dicuekin dari tadi?" batin Moreno kesal.
Rosalinda melihat arah pandangan Moreno ke ruang keluarga, rupanya Moreno sedang memperhatikan istrinya. Menit kemudian matanya melotot saat air digelas Moreno penuh dan merembes dimeja makan.
"Tuan.." panggil Rosalinda.
"..."
"Ya ampun... Tuan! itu airnya satu botol sudah habis," teriak Rosalinda histeris, membuat Moreno tersentak dan meletakkan botol air minum diatas meja.
Moreno segera minum air didalam gelasnya kemudian menghampiri Syasya dan Vina. "Mah, Moreno kekantor dulu ya?" ijin Moreno.
"Kok ke kantor? Ren, jangan masuk kantor dulu, kalian itu baru menikah. Harus meluangkan waktu untuk bulan madu," ujar Vina membuat Syasya merona, sedangkan Moreno salah tingkah.
"Hanya sebentar Mah, meeting dengan klien aja habis itu pulang, janji!" ujar Moreno kemudian mencium tangan Mamanya dan melangkah keluar rumah.
"Ren, kamu lupa punya istri ya?" ujar Vina membuat langkah moreno berhenti.
"Eh," Syasya yang sudah senang karena Moreno akan pergi seketika merasa aneh saat Moreno mendekatinya.
"Aku ke kantor sebentar," ujar Moreno.
"Lama juga nggak apa-apa, sekalian nggak pulang juga nggak masalah," tentu saja Syasya hanya bisa mengucapkannya dalam hati. Mana berani didepan Vina, Mama mertua kesayangannya.
Seandainya saja Vina tidak disana, sudah pasti semua kata-kata itu keluar dari mulut Syasya. Kalau perlu dicabein biar makin pedas.
Moreno kemudian memberikan tangannya. Syasya yang peka mencium tangan Moreno dan Moreno membalasnya dengan kecupan lembut dikening Syasya.
Catat: hanya kecupan.
"Wah... benar-benar nih Om, ambil kesempatan dalam kesimpulan! Jika tidak ada Mama disini, udah gue tonjok biar nya' ho'!" geram Syasa dalam hati. "Eh, wajahku kenapa tiba-tiba panas ya? apa AC dirumah ini mati? Gawat! malu-maluin aja?"
Moreno tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang putih, ia merasa mendapat jackpot begitu mencium Syasya. Apalagi pipi Syasya sudah memerah seperti buah cerry, sepertinya kali ini Moreno sangat sulit untuk melangkah keluar. Masih belum puas melihat wajah yang merona itu.
"Ini baru cium dahinya, bagaimana dengan bibir dan yang lainnya?" batin Moreno.
.
.
Bersambung......