Little Wife CEO

Little Wife CEO
Axel Pamit



Keesokan harinya Moreno sudah lengkap dengan setelan jas kantornya. Syasya baru saja keluar dari kamarnya dan ikut sarapan dimeja seperti biasanya. Suasana menjadi hening, hanya ada suara sendok dan garpu diatas piring yang saling bersahutan.


ART yang bekerja di rumah mereka ada tiga, satu orang khusus untuk membersihkan isi dalam rumah, satu orang tukang kebun, dan satu lagi sebagai koki. Mereka hanya datang jam enam pagi hingga sore setelah pekerjaan mereka selesai.


Setelah sarapan Moreno beranjak dengan membawa tas kantornya. "Aku ke kantor dulu, jangan kemana-mana jika tidak terlalu penting." tegas Moreno dengan wajah datar dan dingin.


"Iya," balas Syasya singkat, lebih memilih diam dari pada berdebat di pagi hari.


Dengan terpaksa Syasya mencium tangan Moreno kemudian Moreno mencium keningnya sebagai balasan.


Moreno langsung keluar meninggalkan Syasya yang masih mematung duduk dikursinya. Rupanya meskipun marah Moreno masih memperlakukannya dengan manis.


Sekarang Syasya dilema, antara melanjutkan kuliahnya di luar negeri atau tidak. Tapi sayang jika di lepaskan karena dia sudah mempersiapkan semuanya. Syasya mengambil ponselnya kemudian menghubungi Wulan. Dia meminta pendapat Wulan dan Mamanya meminta Syasya menurut pada suaminya.


"Hahh..." Syasya menghela napas panjang begitu sambungan ponselnya mati. Tidak mendapatkan dukungan dari keluarga membuatnya merasa kecewa.


Syasya beranjak dari kursi menuju kamar, setelah itu membersihkan diri kemudian memasukkan beberapa pakaiannya kedalam koper. Setelah beres, Syasya meletakkan kopernya didalam almari.


Syasya duduk didepan meja rias, memoles sedikit wajahnya dengan bedak dan lip-balm agar tampak lebih fresh.


Setelah kejadian Axel memaksanya pulang, Syasya tidak pernah lagi menginjakkan kaki di sekolah, bahkan pengumuman kelulusan sekolahpun ia hanya tahu dari teman-temannya.


"Semoga aja gak ketemu Axel," gumam Syasya kemudian keluar dari kamarnya.


Sebelum pergi, Syasya mengirim pesan pada Moreno.


"Om, Syasya ke sekolah sebentar ambil ijazah, habis itu langsung pulang kok." send.


Syasya terus menatap ponselnya, ia melihat centang biru dua tapi tidak ada balasan dari Moreno.


"Ihh.. nyebelin banget sih! gue dikacangin lagi! dibaca doang tapi gak dibales!" kesal Syasya kemudian keluar dari rumah.


Kening Syasya mengernyitkan begitu melihat sedan BMW putih parkir dan seseorang berdiri didepan pintu rumahnya.


"Non Syasya mau keluar kan? mari saya antar," sapa supir menundukkan sedikit kepalanya yang disuruh Moreno mengantar Syasya.


"Eh," Syasya terkejut begitu pintu mobil terbuka lebar di kursi belakang. Bahkan Syasya bengong tidak tahu harus berbuat apa.


"Silahkan non," ujar supir kembali.


Syasya kemudian masuk kemudian duduk dengan nyaman dibelakang. Mobilpun melaju dengan kecepatan rata-rata. Bola matanya terus berputar menyisir interior mewah didalam mobil.


Sepanjang perjalanan hati Syasya terus gelisah, kebaikan Moreno yang tak dia duga sebelumnya mulai meluluhkan hatinya. Tapi egonya masih lebih besar dari pada perasaannya.


"Sudah sampai Non," ucapan supir membuyarkan lamunan Syasya.


"Ehh.." Lagi-lagi Syasya terkejut, pandangannya keluar jendela untuk memastikan jika dirinya memang sudah disekolah.


"Bapak pulang aja, aku akan pulang dengan teman-teman ku," ujar Syasya saat membuka pintu mobil.


"Maaf Non, saya di suruh Tuan menunggu Anda," jawab supir sambil memperlihatkan senyum ramahnya.


"Dasar otoriter!" kesal Syasya kemudian menghentakkan kakinya lalu keluar dari mobil.


Prakkk


Syasya membanting pintu mobil dengan keras.


Supir hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah majikan barunya. Sungguh kekanak-kanakan dan sangat berbeda dengan Moreno yang penih wibawa, dingin dan angkuh. Membayangkan wajah Moreno saat mengintimidasi dirinya membuatnya bergidik, ia pun keluar dari mobil menuju warung kecil di depan sekolah sambil menunggu Syasya pulang.


"Sya.." teriakan Syifa, Dea, dan Fira membuat Syasya menoleh kearah mereka. Syasya tersenyum kemudian menghampiri sahabat-sahabatnya.


"Kalian kok masih disini?" tanya Syasya, dia pikir sahabat-sahabatnya sudah pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas.


Bukannya menjawab, sahabat-sahabatnya malah sibuk melihat mobil Syasya, "mobil baru lagi Sya? biar gue tebak, pasti dari Om Reno ya kan? ohh... sweet banget sih suami lo!" terka Dea.


Syasya memang sudah menceritakan semuanya pada sahabat-sahabatnya tentang pernikahan dadakannya dengan Moreno.


"Stt... jangan keras-keras nanti ada yang denger!" Syasya menutup mulut Dea dengan telapak tangannya.


"Nggak apa-apa kali Sya, santuyy... toh kita sudah lulus. Jadi kapan nih resepsinya?" Goda Fira sambil menaik turunkan alisnya.


"Bareng dong Sya, kami juga belum ambil ijazah," ujar Syifa.


"Ayo, tunggu apalagi?" ujar Syasya kemudian mereka menuju ruang guru.


Setelah satu jam di ruang guru, akhirnya mereka selesai dengan urusan masing-masing.


"Jalan yuk! mumpung gue dan Syasya belum berangkat ke London," ajak Dea.


"Oke," Syifa dan Fira menaikkan kedua jempolnya.


"Sya, tadi Axel nyariin lo, mau pamit katanya," ujar Dea yang tiba-tiba ingat dengan Axel.


"Gue gak ada urusan lagi dengannya, dan jangan nyebut nama dia lagi didepan gue," tegas Syasya.


"Gue cuma sampaiin aja Sya, sepertinya dia bakal pindah ke Jerman ikut orangtuanya. Mungkin dia cuma pengen pamit ama lo," ujar Dea.


"Semenjak putus dari lo, Axel jadi lebih pendiam dan makin kurus. Apa segitunya efek putus cinta?" tanya Fira polos.


"Gak usah dibahas, males gue, kita naik mobil Dea atau mobil Gue?" tanya Syasya.


"Mobil baru lo dong..! kita juga pengen rasain jadi nyonya besar? hehe..." ujar Syifa kemudian terkekeh.


"Lo ini!" Syasya memukul lengan Syifa kemudian mereka menuju parkiran.


Begitu mereka membuka pintu mobil, Axel tiba-tiba datang dan memegang tangan Syasya.


"Sya, bisa kita bicara?" melas Axel dengan nada suara lembut.


"Maaf Xel, sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan," tolak Syasya, ia tidak mau Moreno semakin marah padanya.


"Plisss.." Axel memohon dengan menangkup kedua telapak tangannya.


Syasya menoleh pada sahabat-sahabatnya, mereka segera masuk kedalam mobil dan membiarkan Syasya dan Axel bicara.


"Si@l! kenapa mereka malah masuk? gue kan pengen dibelain!" kesal Syasya dalam hati.


Axel tersenyum kemudian menggenggam tangan Syasya. Syasya segera menarik tangannya mengingat dirinya sudah menikah.


"Sya, Gue cuma mau pamit, mungkin ini pertemuan terakhir kita, gue berangkat ke Jerman besok bersama keluarga gue. Gue akan menetap disana. Mmm.. maaf untuk semua sikap kasar gue sama lo. Sebenarnya itu karena gue terlalu cinta dan takut kehilangan lo, tapi ternyata sikap posesif gue malah menghancurkan hubungan kita. Sekarang gue sadar kalau selama ini gue egois. Sekali lagi maaf Sya, gue gak akan ganggu lo lagi. Selamat ya atas pernikahan lo, meskipun berat tapi gue berusaha ikhlas. Lo berhak bahagia meski bukan dengan gue." Axel menahan air matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Masih bisakah kita berteman?" tanya Axel penuh harap.


Syasya hanya diam, netranya mengintimidasi mata Axel yang tergenang air mata, melihat Axel dengan tulus meminta maaf membuat hatinya yang beku mulai mencair. Akhirnya Syasya mengangguk.


"Boleh gue peluk lo untuk yang terakhir?" lanjut Axel, ia sangat berharap bisa memeluk gadis yang sangat dicintainya sebelum benar-benar pergi. Sebagai pengobat rindu jika teringat masa-masa sekolahnya.


Syasya tidak menjawab hanya diam.


"Baiklah, gue nggak maksa. Gue harap lo bahagia dengan pernikahan lo, gue.. pamit," Axel menatap netra Syasa begitu dalam. Mata indah itu tidak akan pernah dia pandang lagi. Butuh kekuatan besar untuk berpisah dengan Syasya. Hatinya begitu hancur melihat gadis dicintainya kini milik orang lain. Semua salahnya, bahkan sampai saat ini Axel masih menyalahkan dirinya sendiri.


Syasya ikut meneteskan air mata, sebenarnya dia juga tidak tega melihat keadaan Axel saat ini. Laki-laki yang dulu mengisi hatinya kini lebih kurus dan berantakan. Sangat berbeda dengan Axel yang dulu selalu tampil perfect.


"Sampai jumpa, lo juga harus bahagia," balas Syasya sambil menghapus air matanya kemudian tersenyum.


Brugg!


Axel langsung memeluk Syasya dengan erat, air mata yang ditahannya akhir mengalir begitu saja.


"Jaga diri lo dan jaga kesehatan. Lo harus sukses dan bahagia juga," ujar Syasya dengan suara serak dan bergetar.


"Bagaimana gue bisa bahagia Sya, lo adalah sumber kebahagiaan itu. Gadis yang sangat gue cintai namun tak dapat gue miliki," gumam Axel dalam hati.


"Woiii.. sadar Xel, bini orang tuh!" teriakan Dea dari dalam mobil membuat Axel segera melepaskan pelukannya.


"Gue pamit, bay semuanya..." ujar Axel kemudian melambaikan tangannya pada Dea, Fira dan Syifa yang ada didalam mobil.


Bersambung...